Monday, 7 November 2016

Saya Hanya Telat Mengumpulkan PR







_____________________________________________________________________________
cerpen baru, cerpen Indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia, contoh cerpen bahasa indonesia
Terlihat dari arah utara dua pengamen berambut kriting. Jalanan mulai sepi. Sudah banyak toko yang tutup. Udara dingin semakin menusuk-nusuk kulit. Lampu lalu lintas hanya menyala yang berwarna kuning saja. Malam semakin gelap. Dua pengamen itu semakin mendekat. Angga memandang ibunya. Ibunya hanya menghela nafas dalam lalu melihat isi dompet. Ia hitung dengan wajah tampak khawatir. Belum selesai ia hitung, dua pengamen itu sudah melantunkan lagu di hadapannya. Sudah sangat dihafal sebagian liriknya, "...walau sedikit asal halal, walau letih asal makan, tak senang uang banyak kalau ngutang..." Tetapi itu hanya lirik lagunya. Dengan sikap garangnya, pengamen tersebut menghargai lagunya Rp 20.000,- per satu lagu. Dan selalu menyanyikan tiga hingga empat lagu. Jika tidak diberi, mereka mengancam.

Angga sudah tidak punya siapa-siapa selain ibunya. Ayahnya sudah tiada. Ia anak tunggal, satu-satunya harapan ibunya. Badannya kurus sekali. Anak ini seharusnya sedang asyik main game di kamarnya. Tetapi faktanya tidak begitu. Anak ini terrbiasa tidur larut dan harus bangun di awal pagi untuk bantu ibunya. Tak jarang ia tidur lagi dan terlambat masuk sekolah. Semua guru yang mengajarnya sudah paham bahwa dia tidak akan mengerjakan PR. Karena itu ia selalu diberi tugas khusus saat KBM. Atau disuruh mengerjakan tugas saat jam istirahat sekolah.

Pagi ini agak mendung. Hari seperti masih sangat pagi. Semua siswa segera masuk ke kelas. Tetapi Angga malah ke kamar mandi, "Ijinkan aku," katanya pada Aldi. "Aku kebelet. Mungkin aku telat masuk." Lima menit lagi semua guru yang mengajar pada jam pertama tiba di kelas dan memulai pelajaran. Angga segera mengunci kamar mandi dan mengintip kelasnya melalui lubang kunci pintu kamar mandi. Kamar mandi siswa nomor 6 tempat Angga berada tepat menghadap ke kelasnya. Terlihat olehnya Bu Aulia, guru Matematikanya, yang sedang berdiri di depan kelas.

Bu Aulia merupakan guru yang paling rajin memberi PR. Belum pernah ia lupa memberi PR, bahkan ketika tidak masuk pun selalu memberi dua tugas: satu tugas diselesaikan di kelas, satunya diselesaikan di rumah. Waktu beliau baru mengajar kelas Angga, kelas VIII C, hampir 90% siswa tidak mengerjakan PR. Dengan tegas beliau menyuruh mereka keluar dan berdiri di halaman kelas yang panas hinga jam pelajaran Matematika selesai. Beliau memang super disiplin, perfeksionis, dan kelewat semangat kata teman-teman Angga.

Angga duduk berjngkok dan bersandar pada dinding kamar mandi. Ia sandarkan kepalanya dan melamun. "Kalau saja aku jadi orang kaya yang bebas berbuat semauku dan bisa membeli ini dan itu, alangkah senangnya," batinnya. Jarang sekali ia rasakan kesempatan bersantai seperti ini, meski dengan rasa bersalah dan khawatir. Saat teman-temannya istirahat, ia mengerjakan tugas.

Dibantu WAKA Kesiswaan Bu Aulia ke kamar mandi. Dilihatnya satu per satu kamar mandi siswa hingga kamar mandi yang nomor enam. Dengan keras ia ketuk pintunya, "Angga kamu di dalam...!!!" teriaknya. Angga kaget dan bingung. Bu Aulia terus gedor-gedor pintu dengan keras sambil teriak menyuruh Angga keluar. Angga diam saja kebingungan.

Angga menyerah dan keluar. "Ngapain kamu di sini...!!! Bolos...!! Tidak ngerjakan PR..!! Dasar malas...!!"

"Angga, ngapain kamu di kamar mandi?" tanya pak Dani, WAKA Kesiswaan.

Angga memandang beliau sejenak dan menunduk lagi. "Tidak ngapa-ngapain, Pak," gumamnya.

"Kenapa tidak ikut pelajarannyay Bu Aulia?"

"Pasti tidak ngerjakan PR, Pak...!!" sambung Bu Aulia.

"Maaf, Pak," Angga menangis. "Angga kerja bantu ibu siang malam, agar ibu tak terlambat lagi bayar kontrakan rumah dan listrik."

Pak Dani memandanginya. Angga terus menangis. Bu Aulia kembali ke kelas, meninggalkan mereka. Pak Dani bingung. Menyuruhnya masuk kelas bukanlah solusi bijak. Mengajaknya ke kantor juga tidak tepat. "Angga, sini duduk," beliau mengajaknya duduk di kursi antrian. "Sudah, jangan nangis, Nak, kamu akan jadi orang hebat kelak. Semoga kamu jadi orang sukses yang kaya raya." Beliau paham betapa sulitnya hidup seperti dia. Dia anak yang pantang menyerah.

Bel berbunyi, tanda pergantian pelajaran. Biasanya banyak siswa keluar kelas dan ke kamar mandi. Pak Dani mengajak Angga ke kelasnya. Sambil memegang bahu Angga beliau menguatkan hatinya, "Sabar," katanya diulang-ulang. Sang pejuang kecil, menurutnya, lebih gigih dari dirinya. Beliau pernah mampir ke warung milik orang tua Angga dan bertemu Angga di sana sedang sibuk bekerja.

Anak itu kerja keras membantu ibunya, katanya agar tak terlambat bayar kontrakan rumah dan listrik. Pak Dani mau tertawa mendengarnya. Bukan menertawakan hidup mereka, tapi kehidupan yang menurutnya tampak lucu. Pak Dani dan guru yang belum PNS banyak mengeluh. Setiap saat menyalahkan pemerintah, menyalahkan kebijakan. Katanya pejabat negerilah penyebab hidup mereka tak sejahtera. Bukan hanya kontrakan dan listrik yang nunggak, bahkan makan pun sering ditunda, kredit motor sudah berkali ditagih.

Pak Dani tidak punya jam ngajar hari ini. Pelan langkahnya beliau berjalan memantau kelas, mengamati masing-masing kelas hingga kamar mandi. Pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang tangis sang peuang kecil tadi. Anak itu yang sudah akrab dengan kerasnya hidup, yang sudah kebal dengan dinginnya malam, yang sudah biasa hidup dalam tekanan dan tak suka mengeluh.

Cerita singkat di pagi hari.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment