Friday, 4 November 2016

Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah (1)







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, cerpen baru, cerpen Indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia, contoh cerpen bahasa indonesia,
Ada 15 ekor sapi limousin setiap pagi bertandang di halaman berumput seluas 300 x 400 meter persegi, yang berada 10 meter di sebelah timur rumah Alfan. Sapi-sapi tersebut milik Alfan. Waktu SMP ia memelihara kambing bersama orang tuanya. Sejak lulus SMP tiba-tiba ia tertarik untuk memelihara sapi seperti pak Samad, salah seorang pelanggan susu kambingnya dari Kalimantan yang sudah mempunyai ratusan ekor sapi.

Alfan baru saja naik kelas XI SMA jurusan IPA di SMA 5 Bondowoso. Dia anak keenam dari tujuh bersaudara. Adiknya baru kelas VIII SMP di Tapen. Satu kakaknya masih kuliah di UGM, yang lain sudah selesai kuliah semua. Alfan tergolong siswa yang biasa-biasa. Dulu waktu kelas satu ia suka pelajaran Biologi, terutama tentang hewan. Tetapi sekarang tidak lagi.

Teman-teman yang akrab dengannya hanya anak-anak yang malas belajar, yang suka bolos dan jarang mengerjakan PR. Namun Alfan hampir tidak pernah ikut akivitas mereka di luar sekolah. Alfan tidak suka keluyuran, tidak suka pacaran, tidak suka main game, dan semacamnya. Aktivitasnya mengurus sapi sepulang sekolah bersama pak lek-nya.

"Masih muda hobinya kok ngarit, kayak kakek-kakek saja, Fan," ledek Dicky, salah seorang teman sekelasnya.

"Yang penting uangnya, Dick," jawabnya. "Tidak lama lagi aku akan beli mobil, beli rumah, dan segera menikah."

"Nikah?!"

"Ya, nikah."

"HahahhHahahah ... Udah kebelet lo...!! Cari janda kaya Bro..."

"Yang penting solehah, Bro."

Sejak SMP Alfan memang sudah mandiri. Ayahnya sudah mengajarinya berbisnis, manajemen bisnis, serta pemasarannya. Sekarang Alfan sudah banyak kenal dengan para pebisnis, terutama para peternak sapi dan kambing. Ayahnya anggota kelompk ternak, Alfan pun juga ikut kelompok tersebut.

"Rencana kuliah dimana, Fan?" tanya salah seorang rekan ayahnya.

"Maunya berhenti sekolah, Lek."

"Loh, eman, Fan. ilmu itu penting."

"Ilmu apaan...!! Yang dipelajari ya itu itu aja, tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata..."

"Tapi ijazahnya penting, Fan, buat kerja."

"Ah, buktinya, kakak tu, kerja gajinya minim, sering pinjam bapak. Mas Irfan juga masih belum dipanggil-panggil interview, sudah banyak masukkan lamaran. Guru-guru juga pada ribut soal gaji."

"Kok tahu kamu kalau guru begitu?"

"Di group Facebook, Lek. Group guru."

"Memangnya siswa boleh masuk group guru?"

"Ya bisa aja, kan bisa nyamar jadi guru. Biar tahu dunia mereka."

***

Malam Minggu tiba-tiba Alfan ingin ikut teman-temannya keluar. "Lagi dimana Bro?" ia inbox di BBM Andre.

"Lagi tidak ada acara, Bro. Keluar yuk...!!"

Mereka pun keluar bersama. Tak ada yang spesial bagi Alfan, hanya untuk mempererat persahabatan saja. Sekali-kali mau traktir teman-teman, sekalian belajar bisnis kuliner, kalau bisa. Mereka menuju pusat kota, tetapi di perjalanan mereka melihat warung makan baru terletak di tengah pekarangan yang masih banyak pohonnya. Andre menghentikan motornya, "Sepertinya tempatnya menarik, Bro. Ada wifi-nya juga." Mereka pun sepakat mampir, tempat makannya juga terbuat dari bambu, tampak alami.

Tak banyak orang di warung tersebut, hanya dua orang penjaga: yang satu sudah tua dan yang satunya kira-kira usia tiga puluhan lebih. Aroma masakannya sangat lezat. Warung sederhana, yang masak juga seperti ibu-ibu kampung, tapi aroma masakannya sangat menggoda.

"Tempat ini romantis, sayangnya cowok semua," komentar Riko.

"Ibu itu cantik banget ya..."

"Mmak mmak lo bilang cantik...!!"

"Lihat, Bro. Cantik banget."

"Sepertinya dia yang punya," ibu itu mengambil sesuatu di mobil yang parkir di depan warung. "Sudah janda belum ya?"

"Aneh...!! Udah tua gitu... Yang tua cari yang muda, eh, yang muda malah melirik yang tua."

"Yang tua lebih bijaksana, Bro."

Bersambung ke...
Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah 2
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment