Wednesday, 9 November 2016

Ikhlas Di Atas Jalan Cinta







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, Cerita romantis, cerita islam, cerpen cinta romantik, cerpen romance
...lanjutan dari... Cinta Bersemi di Pesantren Tempatku Ditugaskan

"Begini ya lingkungan kampus, kayak nggak ada yang tua; muda semua," kata Ustadz Mahfud saat jalan-jalan ke daerah kampus.

"Banyak bidadari, Ustadz."

"Bebas paling ya mau ngapain aja?"

"Yang tidak beriman begitu, Ustadz."

"Masak ada yang alim? Kok kelihatannya kayak yang bergaul bebas semua."

"Yang hafal Quran tidak sedikit, Ustadz, seperti Ustadzah Diah," beliau tersenyum. "Justru lebih mudah nyari yang baik di lingkungan bebas seperti ini. Di pesantren tampak baik semua, tapi sulit yang mengetahui yang baik karena iman atau karena takut hukuman. Di sini? Di dunia yang bebas, mereka kerasan di masjid, padahal mereka bebas berbuat apa saja, bebas mau berzina, mau mabuk, mau telanjang, terserah, tak ada orang tua yang melarang, tapi mereka memilih memakmurkan masjid dengan kegiatan-kegiatan keagamaan."

Lewat di depan kami dua muda mudi berjalan beriringan, tangan kanan yang laki melingkar ke bahu kanan si cewek. "Lihat itu," kata Ustadz Mahfud. Kusampaikan pada beliau kalau di kampus jugau sudah banyak yang menikah. "Di masjjidnya juga banyak yang berduaan ya...?"

"Dari pada di kamar kost atau hotel, lebih baik di masjid. Di masjid mereka tidak berani lebih, kecuali hanya duduk bareng. Mereka belajar bersama di serambi masjid. Kalau belajar bersama di kamar kost atau kontrakan, wah... bahaya, lebih besar mudhoratnya."

"Dulu di daerah saya pernah ada sarjana, menantu kyai. Alim. Beliau yang gantikan kyai mengisi acara-acara keagamaan di desa. Beliau lebih dihormati daripada kepala desanya," cerita Ustadz Mahfud. "Saya kira semua calon sarjana begitu, bisa mimpin umat dengan berbagai keahlian."

***
Tahun berganti...

Lamaran Ustadz Mahfudz ditolak oleh orang tua Ustadzah Diah karena faktor pendidikan beliau yang hanya lulusan SD, meski ilmu agamanya lebih tinggi dibanding sarjana agama yang hanya belajar di perguruan tinggi islam. Orang tua Usadzah Diah tak yakin di jaman seperti sekarang bisa bertahan hidup tanpa ijazah.

"Mungkin memang bukan jodohnya," kata beliau. "Sudahlah, Allah menghendaki yang lebih baik."

"Bagaimana denan pilihan kyai, Ustadzah Silfi? Calon sarjana kedokteran, Ustadz."

"Kalau kuliahnya belum selesai, bagaimana? Kedokteran itu... sibuk sekali ya?"

"Setahu saya, iya. Tapi saya kurang tahu agamanya, tidak begitu kenal."

Ustadzah Fatimah bilang, katanya, Ustadzah Diah terpukul dengan penolakan orang tuanya. Ia sering nangis dan kadang tampak murung. Kukira penghafal Quran tak akan galau oleh urusan asmara. Ah, manusia. Apalagi sejak tersebar kabar kyai memilihkan ustadzah yang lain untuk Ustadz Mahfud, bagaimana sakitnya hatinya. Saya juga mendengar kalau beliau sering tidak ngajar, katanya sakit, sakit yang tak bisa disembuhkan oleh dokter.

Rumit membayangkannya. Kalau saya yang jadi Ustadz Mahfudz, betapa sulitnya: memilih wanita yang belum dikenal, belum yakin dengan kebaikannya, dan memilihnya berarti menyakiti temannya, rekan ustadzah yang telah lama hidup bersama mengabdikan diri di sini.

"Atau niru Ustadz Razaq," kata Ustadz Firman saat kami ngumpul bersama di lantai atas. "Cinta jalannya memang tak selalu mulus..."

"Romantisnya...," komentar Ustadz Fatoni.

Ustadz Razaq adalah ustadz tugasan yang cukup lama mengabdi di pesantren ini. Beliau mengakhiri masa abdinya dengan cara yang tak sama dengan ustadz-ustadz lainnya: kawin lari bersama Ustadzah Faizah. Beberapa ustadz kecewa pada mereka dan menilai perbuatan itu sungguh tercela, tetapi ustadz dan ustadzah yang lain tidak mempermasalahkan karena memang tak semua ulamak melarang. Tetapi, kami semua merasa malu karena menyangkut nama baik pesantren.

Menurut ulamak Syafi’iyyah dan Malikiyyah, tidak syah menikah tanpa wali. Berbeda dengan kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah, wali hanya wajib ada dalam pernikahan bocah laki-laki atau perempuan dan orang gila laki-laki atau perempuan meskipun ia telah dewasa. Sedangkan untuk wanita dewasa yang normal akalnya boleh menikah dengan pilihannya sendiri yang memang sepadan. Tidak ada wali yang berhak menghalanginya. (Sumber Piss-KTB, klik di sini untuk baca keterangan selengkapnya).

"Saya kurang yakin dengan agamanya," jelas Ustadz Mahfudz. "tetapi bukan berarti saya meragukan kyai yang memilihkan dia untuk saya." Sepertinya beliau sudah terlanjur cinta pada Ustadzah Diah. "Tetapi saya tidak akan kawin lari, saya punya tanggung jawab untuk menjaga nama baik pesantren ini khususnya, dan nama baik seluruh pesantren."

***
Ustadzah Diah ditunangkan, tetapi kabar tak jelas yang kudengar, beliau menolak perjodohan tersebut meskipun jodoh yang dipilihkan orang tuanya juga hafal Al Quran dan seorang Sarjana Ekonomi. Tentu masa depannya lebih jelas. Biasanya pekerjaan sarjana ekonomi gajinya mahal-mahal. Tak khawatir akan jadi miskin.

Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad membolehkan perjodohan paksa. Tetapi berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
“Seorang gadis Tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya, begitu juga seorang janda tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya. Seorang sahabat bertanya “bagaimana mengetahui persetujuannya (umumnya mereka malu)?” Rasulullah s.a.w. menjawab “Izinnya adalah ketika ia diam dan tidak menolak”. Shan’ani penulis kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maraam bahwa hadist ini juga menunjukkan kaharaman nikah paksa (Sumber: Piss-KTB).
"Kayak Pak Lek saya," kata Ustadz Mahfudz melihat beberapa tamu berjalan menuju ruang kantor. "Ayo ke sana," ajak beliau.

Aku diajak ikut menemui keluarga Ustadz Mahfudz. Aku dikenalkan pada mereka. Ustadz Mahfudz juga cerita kalau aku punya calon istri orang Rusia. "Tadi di dalem ketemu sama Ustadzah Silfi," cerita ibunya Ustadz Mahfudz. "Tidak bisa Bahasa Madura. Kalau sudah jadi istrimu, ajari Bahasa Madura. Biar bisa bicara sama ibuk."

Bagaimana dengan Ustadzah Diah? Menangiskah dia?

"Dia itu anak orang kaya ya? Kyai cerita biaya kuliahnya, mahal sekali" lanjut Ibunya Ustadz Mahfudz. "Tapi kok mau orang tuanya. Katanya, kalau sudah kyai yang milihkan, sudah pasrah, sudah yakin pada Allah katanya. Tapi ibu kok kurang yakin karena kamu tidak sepadan pendidikannya dengan dia, dia juga dari keluarga yang berada."

Ustadz Mahfudz diam saja mendengarkan, entah sebagai bentuk hormat kepada ibunya atau bingung menghadapi masalah ini. Aku yakin beliau tidak akan tega meninggalkan Ustadzah Diah. Tetapi, mungkin juga sudah sulit untuk menolak perjodohan dengan Ustadzah Silfi pilihan kyai. Ustadz Mahfudz sangat menghormati ulamak.

***
"Kok jadi rumit begini," aku diam saja, siap jadi pendengar curhatan. "Padahal saya sangat cuek dengan urusan asmara. Jadi kayak sinetron. Tapi saya tidak tega membiarkan perempuan menangis, tapi saya juga tidak bisa mengecewakan guru saya, kyai."

"Semoga segera ditunjukkan jalan keluarnya, Ustadz."

"Aamiin."

Ustadz mahfudz mengambil kertas dan bolpen, ia menulis. Kubiarkan saja. Mungkin beliau menulis surat untuk Ustadzah Diah. Tak lama kemudian beliau menyodokan kertas itu padaku. "Minta tolong koreksikan, barangkali saya keliru menyampaikan ini pada mereka."

"Mereka?"

"Ustadzah Diah dan Ustadzah Silfi."

Berikut isi tulisan beliau:

Wahai dua bidadari
tak ada yang lebih kuasa terhadap diri ini
Dialah Pemilik Segala
Segala perbuatan seharusnya untuk mencari ridhoNya

kita terjebak dalam urusan yang rumit
ada tiga hati berlainan keadaannya
ada yang bersedih
ada yang, mungkin, lagi ceria

Wahai dua bidadari,
maaf, beribu maaf
semoga 'ku tak salah
bukan maksud untuk tak adil

Bukankah termasuk ahlak mulia
kita bersikap hormat terhadap guru
Bukan bahagia akibatnya 
membuat guru dan orang tua kecewa

bersambung: 

_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment