Tuesday, 8 November 2016

Cerpen: Wanita Cantik di Warung Bambu (1)







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta
Cerpen. "Bagai lentera di malam kelabu. Kuhiasi hidup dengan senyum dan aku dikenal sebagai wanita paling ramah. Mereka senang melihatku. Mereka mengenalku sebagai wanita paling ceria. Terima kasih Tuhan telah Kau jadikan aku sebab bahagianya mereka."

"Tuhan, maafkan hamba. Cinta ini belum kuberikan pada siapa-siapa, bahkan tidak pada suamiku. Hanya Engkau yang tahu. Aku wanita pendamba cinta, tapi tak tahu pada siapa cinta ini harus kuberikan. Hari-hariku bagai mimpi, kujalani hidup di balik bayang-bayang keindahan cinta. Dunia ini bagai tak nyata."

"Mbak mau buka warung, Dek."

"Hah, apa? Mbak mau buka warung? Serius?!" adik iparku ini memang periang, wajahnya lucu dan gemesin, sikapnya ekspresif. Dia adalah teman, sahabat terbaikku. Dia selalu ada untukku. "Mbak mau jualan?!" tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil tertawa melihat ekspresinya. "Apa tidak dikasih belanja sama mas? Mbak, sawah dan kebuh luas, rumah mewah, mobil mewah, mau apa saja ada, ini punya mbak semuanya." Aku hanya tersenyum. Mungkin aneh menurutnya. "Kita ini keluarga terhormat. Kita mampu beli tanah sekabupaten." Aku tersenyum saja. "Kalau mbak mau, mba bisa dirikan restoran di tiap kota di Jawa Timur ini."

"Mbak hanya bosan aja di rumah terus."

Keluarga suamiku memang sangat kaya. Hartanya sudah tidak terhitung. Anaknya hanya dua: suamiku dan adik iparku, Sofia. Keluarga ini terhormat dan menjadi tokoh agama di desa ini. Mertuaku sebagai pengasuh sekolah madratsah ibtidaiyah. Suamiku alumni pesantren besar di Jawa Timur. Aku dipanggil "Nyai" oleh masyarakat. Mereka berhenti berjalan jika berpapasan denganku, berdiri menunduk sebagai penghormatan. Suamiku orang terhormat, banyak wanita mendamba untuk jadi istrinya, bahkan rela jadi istri kedua, ketiga, atau keempat. Entah apa maunya dia memilihku jadi istrinya, bahkan sekalipun dengan keras aku menolaknya dan hingga saat ini aku tidak punya cinta untuknya. Islam memang tidak menjadikan cinta sebagai syarat syahnya nikah. Dan menurutnya aku sudah menjadi istrinya yang syah meski tanpa cinta.

Aku menyerah begitu saja pada takdir, seperti air di sungai yang tak kuasa melawan arus kehidupan. 13 tahun sudah pernikahan ini dan masih bertahan tanpa cinta. Aku sudah sangat mengenal suamiku dan keluarganya. Memang tak ada yang menarik bagiku. Dia bukan pria yang kudambakan. Tuhan sudah menitipkan lima anak kepada kami: Sahrir, Fahri, Aulia, Risma, dan Iva. Mereka lahir tanpa cinta. Maafkan aku Tuhan.

Usiaku sudah 36 tahun, sudah menjadi ibu dari lima anak. Tuhan, Engkau Yang Maha Tahu, Engkau Yang Mencita dunia ini, Sang Pemilik segalanya. Jujur, aku mendamba cinta. Aku rindu pria pemilik cinta ini. Aku tak bisa menolak ingin ini, rasa ini mencahaya cerah di hatiku. Hampa tak berdaya olehnya. Tuhan, hamba ingin cinta.

***

Setiap sore aku berkunjung ke warungku. Kadang sendrian kadang ditemani anakku, kadang ditemani si Sofia mengendarai mobil. Ada tiga pelayan di sana: Bu Sani, Bu Daa, dan Bu Rahma. Mereka seperti keluarga baru yang sangat menyayangiku. Dan warunggku, meski hanya terbuat dari bambu, seperti istana yang dihuni seorang ratu, akulah ratu itu. Kunjunganku bukan untuk mengawasi mereka, tapi ingin menikmati suasana di luar rumah, barang kali kutemukan cinta sejati di sana. Aku juga membantu pelayanku menghidangkan makanan pada pembeli. Kadang cemburu hati melihat pasangan sangat mesra makan di warungku. 13 tahun menikah, belum pernah aku rasakan kemesraan seperti mereka. Pernikahanku tanpa cinta.

Terkadang aku sadar betapa diri ini durhaka pada suami, pada anak, pada mertua, juga pada orang tua dan pada semua orang. Sofia sudah cukup dewasa, dia sudah menjadi mahasiswa, usianya sudah 20 tahun. Meski tak pernah terucap dari lidahnya, tapi aku tahu dia memahami perasaanku. Dialah satu-satunya sahabat yang menjadi teman curhatku. Mungkin dia juga tahu kalau aku sedang berburu cinta ke warung. Dia sering memperhatikanku. Tetapi kasih sayangnya tak pernah berubah. Dia sahabat terbaikku.



_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment