Wednesday, 9 November 2016

Cerpen: Sarjana Menganggur, Santri Tak Jadi Kyai







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak
Cerpen. "Katanya Si Firman sudah sarjana, kok kerjanya cuma melamun gitu? Kok tidak seperti Arif dan saudara-saudaranya: kerja enak, gaji besar"

"Itu bukan urusan kita. Anak kita juga tidak kerja."

"Anak kita kan mondok, tidak sekolah. Memang bukan untuk cari kerja"

Segelas teh sudah tersaji. Nasinya belum matang. Sayurnya juga belum diagkat ke panci. Baru ikan yang satu per satu dicelupkan ke wajan untuk digoreng. Aromanya sedap. Pak Rahman sudah terbiasa membantu masak Buk Rahman. Selama belajar di pesantren dulu dia masak sendiri. Makanya tak heran jika ia pintar masak.

"Kalau tidak kerja, ngapain kuliah mahal-mahal ya?"

"Mungkin belum rejekinya. Rejeki itu Allah yang ngatur."

Terdengar suara motor di depan, "Mau ke mana Si Rahman?" Pak Rahman hanya melihat sebentar dari pintu dapur. Terlihat Rahman memakai celana jean dan jamper merah, sudah memakai helm. "Anak pondok jaman sekarang kok tidak ada bedanya sama anak sekolahan." Pak Rahman tidak menanggapi. "Sarung sama kopyah sudah tidak laku."

Waktu Rahman masih jadi santri, beliau pernah menegurnya karena memakai celana dan jamper bergambar artis. "Biar tidak kalah sama anak sekolahan, Buk. Biar mereka tahu, anak pondok tidak kalah," sahutnya.

"Belajar agama itu bukan untuk pamer, tapi menata hati. Ikhlas beramal karena Allah." Rahman diam. "Allah tidak memerintahkan kita bertanding. Tidak ada yang tahu amal kita diterima atau tidak olehNya. Tujuan hidup kita untuk meraih ridhoNya, bukan pujian mahlukNya."

Rahman diam tidak merespon. Sepertinya ia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menanggapinya. Lama keduanya saling diam. Rahman menunduk. Begitulah seharusnya seorang santri, menunduk di hadapan yang lebih tua, terutama ibu, itu adalah ahlak mulia, dan tak menjawab saat diberitahu oleh yang lebih tua, sekalipun sudah tahu.

***
"Kamu belum mau berumah tangga?"
"Belum ada yang cocok, Buk."

"Di pondokmu kan ada 5000 santri putri, masak tidak ada yang cocok?!"

Rahman menunduk. Sangat berbeda dengan santri jaman dahulu, jika orang tua atau kyai sudah memilihkan, maka itu adalah yang terbaik. Sebab dalam ajarannya, akal tak mampu menentukan takdir, sedangkan doa orang tua dan guru itu mudah terkabulnya. Pak Rahman sempat mendengar kabar bahwa putranya ingin menikah dengan wanita modern. Wanita modern yang dimaksud adalah wanita yang tidak mondok, alias wanita yang belajar di sekolah umum dan hidup bebas, kalau perlu wanita karir. Beliau tahu, pesantren memang lebih dulu ada, makanya dianggap kuno alias tak modern.

Firman sudah sering membawa pacarnya. Banyak pemuda desa yang iri, tak sedikit juga cewek kampung yang kecewa karena tak dipilih olehnya. Dahulu, membonceng lawan jenis yang belum dinikahinya itu perbuatan maksiat yang tak disukai masyarakat. Tetapi sekarang sudah berubah menjadi kebanggaan.

Apakah santri juga tak mau kalah? Ingin dipuji dalam hal ini juga?

Motor Rahman dimodif sedemikian rupa. Keren. Sangat jelas, itu bukan cara untuk memikat wanita sholehah yang terdidik di pesantren, bukan wanita yang alim dalam urusan agama, bukan wanita yang kesehariannya mengaji. Buk Rahman kadang melamun mendapat menantu yang suka menuntut hal keduniawian, menantu yang pandai menghitung uang belanja. Tetapi doanya mengalahkan lamunannya.
***
Sudah setahun Firman menikah. Istrinya tak bisa masak. Padahal kebutuhan sehari-harinya masih numpang sama orang tua karena Firman belum juga mendapat pekerjaan yang diinginkannya. Seharusnya istrinya bantu mertua masak. Teman-temannya di kampung mengajaknya kerja kasar, tapi itu memalukan, terutama malu pada istrinya dan mertua. Gadis-gadis desa yang belajar di pesantren merasa unggul darinya. Dalam urusan rumah tangga mereka jauh lebih terampil. Sudah terbiasa hidup mandiri di pesantren. Bahkan beberapa dari mereka ada yang jualan kue membantu suaminya yang jadi kuli tani atau berdagang.

Kebanyakan dari mereka ikut mengajar di Madratsah Diniyah pada sore hari di kampung yang diasuh oleh Kyai Lutfi. Beliaulah yang mendidik mereka waktu kecil dulu, sebelum berangkat ke pesantren. Orang tua mereka juga merupakan santri dari ayahanda Kyai Lutfi dulu. Malamnya mereka juga ikut mengajar membaca Al Quran di sana, juga di musholla-musholla lain, ada yang dipercaya masyarakat untuk mendirikan musholla sendiri.

Rahman tidak ikut bersama mereka. Dia memilih jalan lain. Ada beberapa santri yang memilih jalan sepertinya. Belakangan mereka dikenal sebagai santri modern. Mereka kurang menerima hal-hal yang tak sesuai logika.

"Pak, Buk, saya mau melamar seseorang."

"Mondok di mana?" tanya ibuknya.

"Mahasiswi keperawatan semester akhir," ibunya menghela nafas, tak menampakkan raut bahagia. "Dia mau asal saya bisa jadi pengusaha."

"Usaha apa? Takut miskin kalau tidak bersuami pengusaha?"

"Hidup kan butuh makan, Buk."

Beliau menanggapi dengan diam, tak mau berdebat. Dan diamnya lebih mampu menjelaskan pada Rahman bahwa bapak dan ibuknya dulu tak begitu. Mereka pasrah pada Yang Maha Pemberi. Tak ada yang bisa menjamin selainNya. Yang kaya raya pun bisa saja mendadak jadi miskin. Mereka yang hari-harinya mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi di Madratsah tak begitu berambisi menumpuk harta. Masa depan generasi mereka utamakan di atas kepentingan pribadi. Tetapi, nyatanya mereka bisa hidup, bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
***
"Kalau penghasilan sedikit, terus bagaimana memenuhi kebutuhan hidup? Kalau sakit, bayar kamar rumah sakit saja sudah berapa?"

"Hidup ini untuk bekerja. Kalau tidak bekerja, tidak bisa hidup."

Mereka tak sepakat lagi dengan nasehat guru (kyai) mereka dulu, "Rizki itu mengejar kita, maka dari itu jangan terlalu memforsir diri untuk mengejarnya, nanti salipan, tidak ketemu." Begitu nasehat guru mereka dulu. Maksudnya, agar sebagai manusia tak perlu meragukan jaminanNya.

Rahman terjun ke dunia bisnis, full time, pagi siang malam memikirkan bisnis. Itu ia lakukan demi cintanya, si cewek modern. Tak kenal waktu, tak kenal lelah: semangat. "Meski anak pondok, Rahman semangat ya," puji para tetangga. Kebanyakan santri yang sudah pulang ke masyarakat memang tak berambisi mencari rizki. Menurut kebanyakan orang, itu sama dengan memiskinkan diri.

Ustadz Anwar merupakan salah seorang ustadz senior di kampung. Bersama istrinya, Ustadzah Ifa, beliau menghabiskan banyak waktunya di madratsah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau jualan kripik singkong, juga dari penghasilan bertani di beberapa petak sawahnya.

Sebulan yang lalu beliau baru saja selesai membangun warung makan di pasar Bondowoso. Beliau tidak menjaga sendiri, tapi mempekerjakan orang agar beliau bersama istri bisa fokus mengabdi di madratsah. Rahman merasa iri. Diam-diam ia mengamati perkembangan warung makan Ustadz Anwar. Semakin hari tambah ramai saja. Tentu saja penghasilannya lumayan banyak. Salah satu buktinya, lima hari yang lalu beliau beli motor baru.

Rahman heran dan bertanya-tanya, bertanya pada diri: tak mengerti tentang hidup. Dirinya yang siang malam mengejar kesuksesan, seakan menemui jalan buntu. Sedangkan ustadz Anwar yang kesehariannya menghabiskan waktu mengajar, malah membaik perekonomiannya. Tetapi, para pebisnis besar itu semangat dan fokus jalankan bisnis, Rahman tahu itu. Tapi, kenapa dirinya tidak bisa? Entah ada di mana jawabannya.
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment