Friday, 4 November 2016

Cerpen: Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah (2)







_____________________________________________________________________________
Lanjutan dari Cerpen Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah (1)

Alfan...

Skill apa yang bisa kudapat dari sekolah? Bahasa Inggris hanya dua pertemuan dalam seminggu. Cara merawat sapi juga tidak ada pelajarannya. Di sekolahku, tak usah belajar pun bisa naik kelas. Pelajarannya itu itu saja. Nilai bahasa Inggrisku dan teman-teman lumayan bagus, tapi nyatanya tak ada yang bisa bahasa Inggris. Banyak pelajaran harus dipelajari, tapi nyatanya banyak yang lupa. Bapak ibu guru pun hanya mengajar satu pelajaran. Saat piket gantikan guru yang tidak masuk, jarang sekali ada guru yang bisa menggantikan mengajarkannya, kecuali hanya memberi tugas di LKS.

Melakukan sesuatu yang sudah jelas tidak bisa itu hanya buang umur. Bahkan kakak-kakakku tidak mampu mandiri sepenuhnya, lebih parah lagi mereka tak pandai bersosial. Apa-apa masih curhat ke orang tua, padahal pendidikan mereka sudah sarjana. Seharusnya mereka yang membantu masalah orang tua. Ilmu apa yang dipelajari...?!

Aku dan teman-teman memang pandai menjawab soal ujian, tapi tak pandai menjawab persoalan hidup. Bahkan bapak dan ibu guru pun begitu. Mereka teriak-teriak minta ditingkatkan kesejahteraannya. Mereka teriak pada pemerintah, bukannya kesejahteraan itu hak Tuhan. Yang katanya kaum terpelajar itu juga tidak peka sosial.

Bahkan banyak dari mereka yang lemah iman. Nikah saja takut. Padahal, yang tak sekolah SD saja berani dan hidup bahagia, tidak kelaparan. Mereka bisa bertahan hidup tanpa ijazah. Ada kelebihan mereka yang takut menikah, yaitu berani berhubungan dengan lawan jenis sebelum menikah. Itu beraninya. Padahal mereka tahu itu dosa. Begitu kelakuan orang yang katanya terdidik.

Aku jadi tidak tertarik untuk terus sekolah, sedikit gunanya.

***
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak

"Kok tidak masuk, Fan." Andre inbox di BBM Alfan.

"Malas, Dre."

"Mau kawin...??"

"Mungkin."

"HahaHaha... Dasar, sahabat gua yang satu ini, udah kebelet kawin beneran rupanya. Janda apa perawan, Bro? Perawan lebih semangat, Bro."

"Janda lebih bijaksana, Kawan."

"HahahHahAhah... Besok masuk kan?"

"Sepertinya tidak, Bro. Sibuk ngurus sapi."

"Sapi lo urus, mending ngurus janda."

"HahaHAhaha... Ketularan lo..."

Alfan sangat malas untuk masuk sekolah. Menurutnya, ijazah tidak penting. Apalagi dia tahu ijazah bisa dibeli. Pak De-nya yang jadi DPR juga beli ijazahnya. Ayahnya tidak punya ijazah, tapi jadi bos ternak. "Sukses tak butuh ijazah, tapi butuh ilmu dan semangat. Sekolah hanya jadi penghalang untuk belajar," pikirnya.

Tetapi sulit bagi Alfan untuk memutuskan berhenti sekolah. Meskipun dia sudah mandiri, orang tua dan saudara-saudaranya pasti tidak setuju. Apalagi harga sapi tidak stabil. Import sapi juga menjadi momok yang menakutkan bagi para peternak.

Bersambung Cerpen Exporir Sapi ke Australia
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment