Wednesday, 9 November 2016

Cerpen: Sang Dukun Bijak Tak Shalat







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak
Cerpen. Pak Kyai mengajariku shalat, katanya shalat itu wajib bagi semua muslim. Jika tidak sholat, maka akan masuk neraka. Waktu aku bermain di halam bersama teman-teman, banyak yang mengingatkan kalau sudah tiba waktunya shalat. Kami yang membandel akan kena marah oleh banyak orang. Kami pun ikut shalat berjamaah di musholla bersama orang-orang.

Tetapi di desa ini ada yang aneh. Ada satu orang tua yang pakaiannya seperti kyai, sikapnya juga sangat bijaksana, juga dihormati oleh masyarakat. Tapi aku tak pernah melihatnya ikut shalat di musholla. Atau beliau sholat di rumahnya? Atau karena beliau seorang dukun yang kerjaannya membantu orang sakit dan orang yang mendapat masalah, sehingga mendapat keringanan dari Allah untuk tidak shalat?

"Coba anda baca surat al Waqiah tujuh kali setiap sehabis shalat ashar," aku mendengar percakapan beliau saat bermain di teras rumah beliau bersama ponakannya. "InsyaAllah dlancarkan rizkinya. Khususannya pada Rasulullah, sahabat yang empat, Malaikat yang empat, syeikh Abdul Qadir, almarhum Kyai Sanak, Lora Santo, dan Pak Rahmat." Kyai juga sering menyarankan santrinya agar rajin membaca surat al Waqiah dan Yaasiin, katanya biar orang tua dilancarkan rizkinya. "Jimat ini direndam dalam air, lalu percikkan airnya pada barang dagangan anda."

Setiap tamu beliau yang datang akan mencium tangannya, tak beda dengan tamu kyai. Saat berbicara dengan beliau mereka juga menundukkan kepala. Orang-orang di sini juga begitu, bersikap hormat pada beliau. Orang yang sedang bersepeda, kalau ada beliau lewat berjalan kaki, maka harus turun. Bukan disuruh turun oleh beliau, tapi begitulah yang sayay tahu: harus turun. Dalam penilaianku, status sosial beliau sama dengan kyai.
***
Terdengar suara orang menjerit-jerit di daerah selatan, sepertinya daerah RT 07, kulihat temanku lari ke sana, aku pun ikut. Ada banyak orang berkerumun di rumah Buk Sabia. Buk Sabia yang menjerit-jerit histeris. Kami mendekat. Pak Sabia, suami Buk Sabia habis jatuh dari pohon kelapa dan patah tulang kaki kanannya.

"Tolong ada yang manggil Pak Salman...!!" teriak salah seorang. Orang-orang pada bingung.

Pak Salman adalah dukun yang kuceritakan di atas. Pak Rahbini segera berangkat setengah berlari. Orang-orang yang berkerumun membaca bacaan-bacaan sholawat, istighfar, ada yang membaca al Quran, mereka mendoakan Pak Sabia agar tertolong.

Tak lama kemudian Pak Salman datang membawa daun pepaya. Orang-orang yang berkerumun langsung memberinya jalan. Begitu beliau menangani Pak Sabia, orang-orang langsung diam, hanya bibir mereka tampak komat-kamit membaca sesuatu.

Setelah sekitar 15 menit diperciki air, Pak Sabia pun sadar, "Ada apa?" tanyanya. "Sampean, Pak," sapanya pada Pak Salman.

"Habis terbang?" kata Pak Salman, mencandai Pak Sabia yang masih kebingungan.

"Apa yang terjadi pada saya?"

"Tidak apa-apa."

"Kaki saya sakit."

"Sudah saya obati. Besok juga sudah sembuh. Tidur saja dulu."

Pak Salman memanggil Buk Sabia dan Mbak Sabia, lalu menuturkan resepnya. Beliau menyebutkan makanan-makanan yang harus dimakan dan yang tidak boleh dimakan. "Ini dibaca setiap sehabis maghrib, yang ini sehabis sholat malam, atau dibaca jam 10 ke atas kalau tidak biasa shalat malam."

Seminggu kemudian Pak Sabia sudah bisa berjalan. Berapa ongkosnya, tak pernah ada tarif khusus. Mau dikasih uang atau tidak, terserah. Pak Salman tak pernah keberatan. Kata Pak De, seorang yang punya keahlian mengobati dengan ilmu-ilmu gaib, juga yang punya ilmu-ilmu kesaktian, memang tak boleh memikirkan hal keduniawian. Katanya harus total mengabdikan hidup untuk Allah.

Kalau dihitung-hitung, jika satu orang yang beliau tolong memberi uang Rp 10.000, jika dalam sehari ada 10 orang, berarti Rp 100.000 per hari. Beliau sudah cukup sepuh. Sekarang, mungkin usia beliau sudah hampir 60 tahun atau lebih. Setiap saya lewat depan rumah beliau, belum pernah tidak ada tamu di sana. Tetapi beliau tetap hidup di rumah berdinding anyaman bambu, sering tidur di gubuk buatannya di samping rumahnya bersama kucing hitam kesayangannya.

Satu hal yang mengganjal pikiranku, aku belum pernah melihat beliau mengerjakan shalat, tak pernah terlihat ke musholla, kecuali untuk acara slametan saja. Aku juga mendengar dari beberapa orang kalau beliau memang tidak shalat, dan juga tidak ke masjid saat hari Jumat. Saat lebaran juga tidak ikut shalat. Kenapa orang yang tidak mengerjakan kewajiban Tuhannya dihormat banyak orang? Apakah orang-orang yang menghormatnya yang salah? Berarti semua orang di desa ini salah? Tidak.

Lebih aneh lagi, menurutku, di desa ini juga ada banyak ustadz, salah seorang dari mereka ada yang tidak disukai oleh masyarakat. Katanya, beliau sering pinjam uang dan biasanya mengulur-ngulur waktu untuk melunasinya. Dua bulan lalu, salah seorang warga RT 06, Buk Fatma, marah besar pada beliau. Katanya dia ditipu beliau, beliau menjual benda bertuah palsu. Katanya benda tersebut bisa menyembuhkan sakit gigi, ternyata tidak ada efeknya. Padahal harganya sangat mahal. "Penipu...!! Kalau orang jujur kayak Pak Salman, cuma dikasih jimat, selembar kertas, sembuh...!! Ini, cuma menang mahalnya. Orang tidak mau beli, dipaksa beli...!!!" kata Buk Fatma membentak-bentak.

"Pak ustadz adalah orang berilmu dan mengajarkan ilmu agama. Pak dukun tak berilmu, kecuali ilmu perdukunan, dan tak mengajarkan ilmu."

"Beliau itu bukan tidak berilmu, Man."

"Ilmu perdukunan, kan?!"

"Bukan, tapi ilmu akhlak yang diamalkan. Itu yang membuat beliau dihormat. Beliau bermanfaat bagi orang lain."

"Apa beliau akan masuk surga meskipun tidak shalat?"

"Masuk surga atau tidak, itu urusan Allah. Kita juga tidak tahu secara pasti beliau shalat atau tidak. Kita laksanakan saja yang Allah wajibkan, dan jauhi yang dilarang."
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment