Thursday, 24 November 2016

Cerpen: Penguasa Negeri Ini Bukan Presiden







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak

Cerpen. "Presiden negeri ini udah tumpul taringnya, Mon."

"Ah, lho...!! kita anak SMP tahu apa soal politik."

"Aku ini sering nguping bokap diskusi politik sama kakek di rumah."

"Wuih, keren....!! Mertua sama menantu jadi pengamat politik."

"Ah, itu nggak penting."

Mereka berdua tidak sadar di kelas sudah ada Pak Latif, Guru Matematika yang terkenal galak. Asyik saja mereka ngobrol di belakang kelas, di bawah pohon jambu. Pak Latif memang terlambat tadi sehingga banyak siswa yang keluar kelas, termasuk Doni dan Mones. Tempat ini memang favorit bagi keduanya. Tempatnya rindang dan sejuk.

"Menurut kakek gua, Mon, penguasa suatu negeri itu ada 3 golongan, yaitu pemimpin yang kuat, seperti raja, bukan presiden, yang kedua pebisnis yang menguasai perekonomian, dan yang ketiga adalah paranormal."

"Paranormal...??" Mones agak bingung dan menatap Doni, "Dukun maksud lho...!!"

Doni mengangguk.

"Kok bisa?" sambil garuk-garuk kepala. "Kakekmu yang bilang begitu?"

"Iya. Masak orang tua salah?"

"Iya sih. Tapi bagaimana caranya ya?"

"Kita kan anak SMP, belum paham politik."

Mones tertawa terbahak sampai terdengar ke kelas. "Dasar lho...!!"

***

Mones dan Doni dihukum berdiri di lapangan yang panas keesokan harinya. "Mon, aku sudah tahu kenapa paranormal termasuk salah satu dari tiga penguasa negeri," kata Doni. Doni agak merengut karena kepanasan dan menoleh ke Doni. Sepertinya dia agak enggan merespon, tapi Doni semangat untuk bercerita. Mungkin agar tidak terasa capek dan panasnya.

"Bagaimana caranya?"

"Paranormal itu kan sakti, Mon. Orang waras bisa jadi gila, orang jujur jadi pembohong, begitu juga sebaliknya."

"Terus? Itu bukan pekerjaannya setan?!"

"Ah, bukan. Kalau panglima perang dibuat gila, Mon, terus menyuruh prajuritnya menyerbu, mati semua, Mon."

Mones tertawa. "HaAAhahahahHAhah....!!! Logika ingusan..." Teman-temannya yang di kelas menolehnya. Mungkin mereka mengira Mones senang dijemur meskipun kulitnya udah gelap. "Tapi masuk akal juga. Berarti Doraemon termasuk."

"Jadi, paranormal itu bisa menghipnotis para pejabat negeri agar bertindak sesuai kehendaknya, Mon."

"Misalnya paranormalnya bilang begini, 'Telanjang...!!' maka merekak semua telanjang... HahahHhhhhhhhhAhahahahahah.....!!!!" Mones tak kuasa menahan tawa membayangkan.

Kali ini Pak Latif tidak tahan, beliau keluar mendekati Doni dan Mones. "Doni, masuk!" Doni pun masuk kelas "Angkat kaki kananmu!!" perintahnya pada Mones.

Tinggallah Mones sendirian. "Apes gua. Yang cerita kan si Doni, kenapa gua yang kena?! Sial...!! Kalau saja aku sakti, kusuruh telanjang orang ini...," dia membayangkan Pak Latif melakukan yang ia inginkan. Ia tertawa lagi.

Pak Latif yang hendak ke kelas menghentikan langkahnya. "Kenapa ketawa?!" Bentaknya.

"Tidak. Tidak, Pak." Gemetaran.

"Apanya yang tidak...!!" Pak Latif mendekat dengan wajah geram.

"Tidak sengaja, Pak."

"Angkat kedua tanganmu...!!"

Sepertinya guru juga termasuk salah satu penguasa negeri, pikir Mones. Guru bisa seenaknya nyuruh siswa. Kalau semua guru nyuruh siswanya tidur, berapa persen dari penduduk negeri yang tidur dalam waktu bersamaan? Atau disuruh teriak semua, pasti rame sekali negeri ini.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment