Monday, 7 November 2016

Cerpen: Mimpi Besar Sang Peternak







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta
Cerpen. "Tes, satu, dua... tes, suara dicoba. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," terdengar salam dari loud speaker musholla milik Pak Haji Latif. "Bismillahirrahmanirrahim, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, telah meninggal dunia seorang pemuda tampan, sopan, baik hati dan tidak pelit... ...," orang-orang yang sudah tak sabar menunggu nama siapa yang meninggal mendadak tertawa. Pasalnya, aneh, menyiarkan berita kematian kok pake nyebut 'tampan, sopan, baik hati dan tidak pelit' banyak orang yang marah, "Siapa yang nyiarkan itu, kok begitu...!! Main-main...!! Kurang ajar...!!" kata Pak Sakir. "Mati beneran tah?! Kok ngawur...!! Kok suaranya kayak orang tua?!" tambah Pak Saiful geram.

Tak lama kemudian datang Pak Salim. "Pak Rahbini tidak beres," katanya. "Dasar orang stres, sinting...!!" Orang-orang menanggapinya dengan gelengan kepala. Pak Rahbini, sebenarnya, orang baik, tapi sejak empat bulan lalu dia suka berbuat yang aneh-aneh. Berawal waktu sholat maghrib di musholla. Tiba-tiba dia berdiri di tempat imam. Pak Haji Latif yang sudah biasa jadi imam membiarkannya dan berdiri di belakangnya jadi makmum.

Pada rakaat kedua orang-orang kaget dan bingung, setelah membaca surat Al Fatihah dan disahut Aamiin oleh jamaah, Pak Rahbini tiba-tiba menyanyikan lagunya Rhoma Irama, "Hanya gitar tua ini, yang menjadi saksi, saksi cintaku padamu, cintamu padaku," katanya dengan lagu mirip Rhoma Irama. Semua seketika berhenti sholat. Pak Haji Latif tercengang. Semua jamaah saling pandang, tak mengerti apa yang terjadi.

Satu minggu kemudian, pas hari Jumat, Pak Sarbini merebut mikrofon yang dipegang khotib dan bernyanyi lagu Indonesia Raya. Padahal masjidnya berada di desa sebelah. Orang-orang sekampungnya segera menghentikannya. Penduduk di sekitar masjid tidak tahu tentang Pak Sarbini. Diantara mereka ada yang marah, tetapi segera dijelaskan oleh tetangganya.

***
Jalanan di desa ini sangat indah dipenuhi tumbuhan menghijau. Jika memandang ke arah timur di pagi hari, indah hamparan sawah menghijau bertepi gunung berwarna kemerahan sinar matahari pagi. Tanaman bunga juga tumbuh menghiasi dengan beragam warna. Desa ini tak banyak penghuninya, hanya ada 20 rumah sederhana. Penduduknya hidup dari hasil pertanian dan ternak. Tak ada yang menarik dari desa ini selain kealamiahannya. Tak seperti kehidupan di kota dengan sekelumit permasalahan. Suasananya tenang dan damai, tak ada bising, tak ada polusi. Segar udaranya. Airnya jernih, keluar langsung dari mata air.

Saman adalah keturunan orang kaya, terkaya di kampungnya, tetangga dan neneknya yang cerita. Tetapi semua itu sudah tinggal kisah. Sudah tidak tersisa, kecuali ceritanya saja. Namun, Saman merasa bisa mengembalikannya. Ia yakin dirinya memiliki keistimewaan. Dalam dirinya mengalir darah manusia luar biasa. Dia bandingkan semua tetangganya dengan dirinya. Ada beberapa yang setara kekayaannya, bahkan ada yang lebih kaya dari dirinya, namun tidak terlalu jauh selisihnya. "Istriku harus lebih cantik dari istri semua pria di kampung ini," batinnya.

Ia pun seketika berubah menjadi pemuda yang pekerja keras, lebih semangat dari semua pria di kampungnya. Semua itu demi reputasi, agar ia menjadi yang terkaya. Jika yang lain sudah pulang dari sawah atau dari penggembalaan, Saman masih bertahan meski hanya merancang strategi pengembangan usaha. Dia juga mulai mengurangi pengeluaran. Saat teman dan tetangganya membeli sesuatu, ia tidak tertarik untuk menirunya, kecuali barang yang dibutuhkan saja. Ia ingin terus menambah jumlah sapinya hingga banyak. Dengan begitu, hasil ternaknya akan meningkat.

***
Sulastri adalah gadis tercantik di kampungnya. Semua pemuda mendambakannya. Sudah banyak yang melamarnya, tapi ditolak. Saman belum melamarnya meski suka, ia merasa tak pantas mendapatkannya. Tetapi kini ambisinya membara lagi. "Aku bisa...!!" batinnya. "Tidak lama lagi aku akan menjadi yang terkaya di kampung ini." Tetapi secepat apapun tidak secepat detik jarum jam, mungkin butuh satu tahun atau lebih. Ia khawatir ada pria yang mendahului.

Pagi ini Saman berkunjung ke rumah Pak De-nya yang ahli ilmu perdukunan di desa Sumpilan, kecamatan Cerme. Desa tersebut berada di pinggiran Kabupaten Bondowoso, berbatasan dengan hutan yang juga merupakan batas paling barat Kabupaten Banyuwangi. Sapinya ia serahkan pada Sutomo, pemuda yang biasa menjadi suruhan orang-orang dengan upah tetentu.

Daerah tersebut merupakan daerah pegunungan. Jarak satu rumah ke rumah lainnya berjauhan, bahkan ada yang berjarak 2 kilometer dengan tetangganya. Kadang cuma ada tiga rumah dalam satu komplek. Jalannya menyusuri tebing, naik turun. Dengan mengendarai motor trail Saman terus memacu motornya menantang jalanan yang cukup sukar dilalui.

Akhirnya ia tiba di rumah Pak De-nya, berada tepat di tepi hutan bersama tiga rumah lainnya. Rumahnya berdinding anyaman bambu. Bagian depannya tidak berkaca, hanya berbatas anyaman bambu setinggi 1 meter. Tidak ada kursi di ruang depan, melainkan tikar untuk para tamu. Saman memberi salam. Ada 12 orang di ruang depan. Mereka pasti tamu Pak De-nya. Saman menyalami mereka semua lalu masuk ke ruang tengah. Semua orang kaget, bertanya-tanya siapa pemudua itu.

"Pak De," sapa Saman.

Pak De-nya yang sedang mengobati pasiennya kaget dan menolehnya. "Eh, kamu, Man. Sama bapakmu?"

"Sendirian, Pak De. Saya tak ke belakang Pak De."

"Iya, ada Bu De-nya di belakang."

Usai sholat duhur para tamu sudah pulang. Saman, Pak De dan Buk De-nya duduk di ruang depan. "Pak De, Saman minta tolong."

"Minta tolong apa? Mau lamar perempuan?" ledeknya.

"Pak De tahu aja."

"Anak mana, Man?" tanya Bu De-nya.

"Tetangga, Bu De."

"Anaknya siapa?"

"Itu, anaknya Pak Salim yang nomor dua."

"Yang katanya jadi idaman pemuda sekampung itu?"

"Iya, Pak De. Makanya, pake pelet super Pak De. Kalau perlu yang Pak De pake buat Buk De dulu."

"HahahaHHahahaha...," Pak De-nya tertawa. "Kalau mau pake yang itu, cintamu harus benar-benar kuat."

Bu De-nya sewot, tapi tersanjung. "Awas loh, Man. Jangan mainin anak orang," nasehatnya.

"Pasti Buk De. Insya Allah Saman lebih penyayang dari Pak De."

"Buktikan itu."

***
Saman melakukan ritual sebagaimana yang diperintahkan Pak De-nya. Katanya setelah tiga minggu akan terlihat hasilnya. Sudah satu minggu Saman melakukannya, masih kurang dua minggu lagi. Siang hari Saman puasa, katanya agar tambah mantap jami-jampinya.

"Assalamualaikum, Man."

Saman kaget, tidak mengenal yang memberi salam padanya. Dia seperti bintang film di TV bersama wanita sangat cantik dan berpenampilan sangat menarik. Sulastri tak ada apa-apanya dibanding dia. Saman terpana oleh kecantikan wanita itu. "Waalaikumsalam," jawabnya. "Kamu?"

"Ini aku, Buaman."

Saman kaget. Tidak nyangka anak miskin itu sekeren itu sekarang, istrinya ditemani cewek cantik lagi. "Baru pulang dari Malaysia?"

"Iya, baru sampek."

"Istrimu?"

"Iya."

Cinta untuk Sulastri memudar dan hilang. Saman masih terbayang wajah istri Buaman. Malam sudah larut, sudah sepi. Saman belum bisa tidur, "Aku harus mendapatkan wanita yang lebih cantik dari istri Buaman," batinnya.

***
Tiga tahun berlalu. Usaha Saman sudah tampak hasilnya. Ia ternak burung dan sukses. Usaha ternak sapinya juga bekembang bagus. Saman yakin itu semua berkat wirid sholawat nariyah yang diijazah oleh Pak De-nya. Saman sudah menjadi yang terkaya di kampungnya. Tetapi sayang, belum ada wanita yang ia pilih untuk jadi pendampingnya. Ia ingin yang tercantik.

Tetangganya banyak yang iri melihat kesuksesan Saman. Bahkan Buaman yang pernah kerja ke Malaysia kalah. Wajar jika ia mencari wanita yang sempurna kecantikannya. Tetapi, pencarian cinta Saman tak seperti kisah Arjuna. Kata tetangga Saman disantet Pak Firdaus, tetangganya yang iri padanya. Saman meninggal dunia.

baca juga: Kisah Cinta Ustadz Tugas
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment