Saturday, 5 November 2016

Cerpen: Malam Pertamaku Bersamanya







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta
Cerpen...lanjutan... Cinta Tak Mensyaratkan Harta

Pagi ini seakan tak biasa. Wajah matahari seakan tak sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Atau hanya perasaanku saja. Di gerbang sekolah tadi kulihat dua pemuda itu, tapi aku tidak menghiraukan keberadaannya. Pikiranku tak sempat mengingat mereka. Ada sesuatu yang amat istimewa menguasai pikiranku.

Di ruang guru, bapak dan ibu guru sedang membahas dua pemuda anak tokoh desa itu. Rupanya belum tuntas urusan dengan mereka. Bosan rasanya mendengarnya. Kadang merasa kesal pada dua pemuda itu, kenapa tidak segera mereka putuskan saja: lamar ke orang tuanya. Jika diterima, kan bisa langsung nikah. Jika ditolak, kan bisa segera cari lagi.

Hari ini aku ngajar dua kelas, empat jam pelajaran semuanya. Tetapi aku sungguh tidak semangat. Pikiranku terbebani sesuatu yang harus segera kutuntaskan. Tetapi kupaksakan masuk kelas meski merasa seakan muridku tidak ada di kelas. Aku seperti bengong. Aku mengajar seadanya. Mungkin murid-muridku merasakan itu.

Akhirnya dua jam pelajaran usai. Aku segera keluar kelas. Aku ingin segera istirahat menenangkan diri. Aku duduk di kursiku di ruang guru, ada beberapa guru yang datang lalu pergi lagi menuju kelas berikutnya. Aku diam saja.

Ada beberapa guru yang berdiam di ruang guru, mungkin tidak ada jam ngajar seperti aku. Tetapi aku enggan sekali untuk ngobrol dengan mereka. Kubulatkan tekad, kuketuk pinta kepala sekolah. Beliau mempersilahkanku masuk. Aku pun masuk ruangannya dan langsung duduk.

"Ada perlu apa?"

Aku diam, bingung, tapi aku sudah tak bisa menahan lidahku. "Maaf, Bu Vella, ada urusan pribadi. Boleh?"

Dia sedikit terkejut dan memandangku dengan mengerutkan kening. "Pribadi? Boleh."

"Maaf, Bu Vella. Saya ingin melamar Bu Vella untuk jadi istri saya."

Lega rasanya sudah kulontarkan. Tetapi wanita di depanku ini tampak sangat terkejut. Mungkin ia merasa ada petir menyambar, atau merasa dunia seperti terbalik. Entahlah. Kutatap wajahnya, menunggu responnya.

"Pak Arman...," seakan sulit baginya untuk berucap. Seakan sesak dadanya.

"Saya serius. Sudah lama saya ingin mengatakannya, tapi baru kali ini saya beranikan diri."

"Gimana ya..., saya bingung."

"Tenanglah, tidak usah terburu-buru. Saya akan sabar menunggu keputusan anda."

***

Janur kuning sudah melengkung. Bu Vella masih seperti setengah sadar, seakan pesta ini bukan acara pernikahannya. Tetapi jiwa raganya seakan terbawa arus. Ia ikuti prosesi pernikahannya dengan Pak Arman hingga usai. Ia temui semua tamu dengan wajah bahagia.

Malam tiba. Para tamu sudah pada pulang. Lantunan musik mulai melirih pelan. Sangat romantis suasananya malam ini. Pak Arman dan Bu Vella sudah berada di kamar pengantin. Bu Vella duduk di tepi ranjang, tak tahu harus berbuat apa. Hatinya sangat binging. Seakan jiwanya tidak menyatu dengan raganya. Pak Arman duduk di sampingnya.

"Vella," Bu Vella kaget dan menunduk. Biasanya ia dipanggil 'Bu Vella', kali ini tidak. "Tidak ada yang bisa menghalangi takdir Tuhan. Tuhan mentakdirkan kita bersatu. Pernikahan sudah usai: pernikahan kita." Bu Vella memandang wajah suaminya. "Kita sudah menjadi sepasang suami sitri." Ia pegang tangan istrinya. Diangkatnya dan dipindahkan ke atas angkuannya. Bu Vella hanya memandanginya.

"Saya...,"

Pak Arman duduk di lantai, di depan Bu Vella. Ia pegang kedua tangan Bu Vella. "Aku sudah menjadi suamimu. Dan kau adalah istriku, sayang." Air mata Bu Vella menetes. Diusapnya oleh Pak Arman. Lama sekali mereka saling tatap.

"Semoga saya bisa menjadi istri yang baik dan berbakti pada suami."

"Mas sayang kamu." Ia belai wajah istrinya. Dikecupnya kening istrinya. "Malam sudah semakin larut." Istrinya tersenyum menatapnya, tanda izinnya pada suami.

***
Pagi sudah tiba. Burung-burung berkicauan di dahan pohon bermain kilau cahaya matahari. Hari ini dunia berbeda. Rian tak hentinya memandangi istrinya. Istrinya tersenyum. Dirangkulnya, ia ciumi pipinya. Ia peluk tubuhnya. "Sudah siang, ayo keluar," pinta istrinya. "Jangan di kamar terus."


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment