Saturday, 5 November 2016

Cerpen: Kepala Sekolahku Cantik







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta
...lanjutan dari... Cerpen Anak Kades Jatuh Hati Pada Ibu Guru Muda

Cerpen. Bu Vella, kepala sekolahku, rupanya tahu aku ngobrol sama dua pemuda anak tokoh desa itu. Beliau memintaku menemuinya sehabis jam istirahat nanti. Mungkin untuk rapat berdua mengenai ulah dua pemuda itu. Tadi pagi aku melihatnya di warung Bu Topo, tapi kali ini mereka tidak menggoda Bu Ina. Bahkan mereka tidak menyapaku. Apa mungkin Bu Vella sudah menemui mereka? Entahlah.

Perlahan aku memasuki ruang kepala sekolah. Semua guru sudah menuju kelas. Dengan hati-hati sekali kulangkahkan kaki. Ada rasa ragu dan gugup. Beliau memandangku, isyarat agar aku terus masuk dan duduk di kursi berhadapan dengannya. Kututup lagi pintunya. Beliau bersama anaknya yang masih kecil. "Putranya, Bu?" tanyaku.

Adik kecil itu menatapku. "Iya," jawab beliau sambil tersenyum.

Kami bertiga di ruangan berukuran 5 x 6 meter itu. Berdebar-debar rasanya. Ini yang kedua kalinya aku bertatapan begitu dekat dengan beliau. Sangat tidak aku hendaki perasaan ini. Wajahnya nampak amat menawan di mataku. Aku hanya terpaku. Ini aneh. Sejak pertama kali aku melihat beliau, dunia terasa lain. Rasanya aku ingin keluar saja, tapi beliau ada perlu sama aku.

Beliau begitu anggun. Mataku seakan tak mau beranjak menatapnya yang sedang nyuapin anaknya. "Sebentar ya Pak Arman," katanya. "Adik ini memang begitu. Sering minta disuapin." Aku menghela nafas panjang. Seakan aku sedang berhadapan dengan bidadari. Tak tahan rasanya, ingin kulamar dan kunikahi.Tak peduli meski statusnya sudah janda. Aku jatuh cinta padanya. Seperti apapun penampilannya, wanita ini selalu menarik hatiku.

Usianya pun mungkin sudah delapan tahun lebih tua dariku. Tetapi hati ini terasa sangat terpaut dengannya. "Pak Arman." Suasana ruangan ini terasa begitu indah. Tak pernah kurasakan keindahan semenawan ini. "Pak Arman," Aku terkejut. "Kok menatap saya begitu...?" kata beliau sambil tersenyum. Begitu anggun.

"Oh, maaf, Bu," tak sadar lidahku melontar kata maaf. "Putra ibu?"

"Tadi sudah tanya...," beliau tersenyum menatapku.

Aku sungguh bingung. Hilang ingatan rasanya. Hampir tak bisa kubedakan mahluk di depanku ini dengan bidadari.

"Begini Pak Arman, beberapa waktu lalu saya melihat pak Arman ngobrol sama anak pak kades dan anak pak kyai di warung Bu Topo. Pak Arman kenal mereka berdua?"

"Tidak, Bu. Waktu itu saya penasaran ingin tahu maksud mereka godain guru-guru di sini."

"Terus?"

"Rupanya anak pak kades itu suka sama Bu Ina. Kalau Lora Rakib hanya diam saja."

"Ow, gitu."

"Bu Vella sudah bicara sama mereka?"

"Belum. Kirain anda kenal. Ya sudah kalau begitu. Terima kasih informasinya."

Sebenarnya aku masih ingin di dekatnya. Tetapi waktuku sudah habis. Aku harus meninggalkan ruangannya. Berat rasanya untuk melangkah keluar. Sangat jarang ada kesempatan seperti ini. Seakan badanku remuk diremas-remas rasa cinta. Kalau saja aku kaya, sekarang juga aku ungkapkan perasaan ini. Aku tidak ingin orang lain mendahuluiku.

***

Di halaman ini dulu aku bermain dengan hewan-hewan kecil: kelinci, marmut, bebek, anak ayam, kucing, kura-kura. Masa kecil. Saat malam begini, senangnya menyaksikan anak kucing bergurau silat-silatan. Tidak terasa sekarang aku sudah menjadi pria dewasa. Saat sepi begini, ingin rasanya ada wanita di sampingku. Kepala sekolah itu memang cantik. Cantik yang bukan karena bentuk. Rasanya, seakan ada aura kuat yang menguasai hatiku. Tanpa kutatap bentuk wajah dan tubuhnya pun aku terpana. Sudah sekian kali aku jatuh cinta, tapi tidak begini.

Mungkin aku memang harus segera melamarnya. Tapi... Beliau sudah PNS dengan gaji tetap yang cukup lumayan. Sementara gajiku tak cukup untuk makan seminggu. Untuk beli sepotong baju saja tidak cukup. Menjadi guru memang susah. Penghasilanku kalah sama penjual kue di terminal, bahkan sama Bu Topo yang jualan nasi di gerbang sekolah pun kalah. Profesi ini hanya menang penampilan. Robi yang tidak sekolah saja sekarang sudah beli motor sport. Dia hanya ternak kambing.

Teriak-teriak minta naikkan gaji, percuma. Curhat pada tetangga, hanya akan jadi hinaan. Orang pintar, sudah sarjana, cari uang saja tidak bisa. Sekolah tinggi-tinggi, tapi tidak mampu menghidupi diri. Padahal, seharusnya guru mendidik muridnya agar mampu bertahan hidup. Lah, gurunya saja belum bisa mandiri meski sudah sarjana.

Pak Budi sudah tiga kali ngajak jualan. Aneh rasanya jika guru nyambi kerja berdagang. Mendidik siswa itu tidak gampang. Siswa butuh perhatian. Rasanya, lebih baik aku jadi pengusaha. Pengusaha yang masih peduli pendidikan itu lebih baik daripada pendidik yang mikir uang terus.

Ah, begtulah hidup.

Nomor hape dia sudah tersimpan di hapeku. Otomatis akun line-nya berteman. Akun Whatsapp-nya aktif terus, tapi aku tidak berani chat dia. Aku ingin tahu akun Facebook-nya agar aku bisa sering melihat aktivitasnya meski hanya lewat status Facebook-nya.

Seperti anak SMA saja aku ini. Pria seusiaku seharusnya sudah bisa datang langsung ke rumahnya dan katakan dengan jujur kalau mau melamarnya. Sudah bukan masanya intip-intip di Facebook. Tetapi...

...Bersambung... Cinta Tak Mensyaratkan Harta
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment