Saturday, 5 November 2016

Cerpen: Cinta Tak Mensyaratkan Harta







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta
Cerpen. ...lanjutan dari... Kepala Sekolahku Cantik

"Bagaimana kabar hari ini, sehat kan," bapak guru yang satu ini memang selalu ceria. "Ayo kalau mau ikut bisnis." Aku hanya tersenyum. "Segera nikah biar semangat."

"Ide bagus."

"Ayo segera. Udah ada calon?"

Calonnya sedang mendengarkan perbincangan kami. Dia di dalam ruangan yang berada di samping kami duduk, ruang kepala sekolah. Tidak seorang pun yang tahu perasaanku, mungkin setan juga belum tahu. Hanya Tuhan dan aku yang tahu. Semoga cinta ini selalu dalam lindunganNya.

"Sudah ada, belum pede aja."

"Kenapa? Karena belum kaya?" Aku tersenyum. "Allah itu menjamin rizki hamba-Nya. Menikah itu memperlebar pintu rizki." Aku menghayal bu kepala sekolah mendengarkan dan mengharap aku segera melamarnya. "Saya dulu cuma unya gaji seratus lima puluh waktu melamar istri. Saya bilang terus terang gajiku segitu. Alhamdulillah, dia tidak minta barang yang mahal-mahal. Dia mengerti keadaan saya."

Pak Nanang, Waka Kurikulum juga ikut nimbrung. "Yang penting itu yakin," katanya. Sayangnya bu kepala sekolah tidak keluar dari ruangannya dan ikut berbincang bersama kami. Aku ingin mendengar komentarnya. Beliau memang jarang ngobrol dengan guru-guru. Padahal beliau ramah sekali dan disukai oleh semua guru. Bijasana.

"Sambil bisnis apa pak Arman?" tanya Pak Nanang.

"Cuma bantu ibu ngurus sawah. Hasilnya tak kasihkan ibu."

"Bapak?"

"Sudah tidak ada."

"Anak tunggal, Pak," imbuh Pak Budi.

"Kalau ada istri, kan ada yang bantu ibu."

Kalau aku menikah dengan wanita yang tidak bekerja, mungkin begitu. Tetapi, aku sedang jatuh cinta pada wanita karir, kepala sekolah yang sibuk. Aku tidak yakin wanita seperti dia mau hidup di desa. Seperti pungguk merindukan bulan. Apalah aku ini baginya.

"Di sini kan banyak guru muda. Masak, tidak ada yang cocok, Pak?" Sudah kupilih. Tetapi aku yang tidak pede. Dia terlalu istimewa. "Tidak usah mengkhawatirkan rizki. Yang kaya kadang mendadak jatuh miskin. Yang sudah punya kerjaan mapan pun kadang kena PHK. Gantungkan hidup pada Yang Maha Kuasa."

"Pak Nanang benar. Rizki itu tidak ketahuan dari mana datangnya. Saya sekarang sudah bisa beli sawah, bisa beli motor. Kalau ingat waktu baru nikah sama istri, pernah saya bilang sudah makan meski sebenarnya belum makan. Hanya ingin melihat istri tidak kelaparan. Itulah masa-masa perjuangan dulu. Sekarang, mau makan enam kali sehari, asal muat aja ni perut."

"Wah, Pak Budi, mengingat masa romantisnya," Bu Rahma nyeletuk ikut perbincangan kami. "Pak Arman mau nikah?" tanyanya.

"Masih maju mundur, Bu."

"Langsung tancap gas saja. Siapa calonnya? Guru sini juga, Pak?" Aku tidak menjawab. "Siapa, Pak? Mau tak lamarkan tah? Saya kenal semua sama orang tua guru-guru muda di sini." Aku hanya tersenyum.

"Nunggu kaya, katanya, Bu," kata Pak Nanang.

"Nikah dulu biar cepat kaya. Suami saya dulu sering pinjam uang ke saya. Sekarang gajinya empat juta sebulan, belum ceperannya."

Andai bu kepala sekolah juga seperti beliau-beliau ini, dan andai aku tahu hatinya, sekarang juga ingin kuungkapkan bahwa aku mencintainya dan ingin menikahinya. Tetapi mustahil aku tahu isi hatinya. Aku bukan orang sakti yang bisa membaca pikiran orang.

***

"Kamu tidak mau menikah?" tanya ibu. "Teman-temanmu sudah pada punya anak."

"Sudah ada calonnya, Bu."

"Orang mana?"

"Dia janda beranak satu. Kepala sekolah di tempat aku najar."

"Kenapa tidak cari yan masih perawan?"

"Aku mencintainya, Bu. Aku menyukainya."

"Umur berapa dia?"

"Mungkin delapan tahun lebih tua dari Arman."

"Kamu mau menikah dengan perempuan yang lebih tua?"

"Iya. Aku menyukainya."

"Dia mau sama kamu?"

"Arman belum tahu itu."

"Kenapa tidak bilang sama dia? Kalau keduluan orang lain, bagaimana?"


...Bersambung... Cerpen Malam Pertamaku Bersamanya


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment