Tuesday, 8 November 2016

Cerpen: Bilang Aja Kakek Meninggal







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak
Cerpen. "Pembohong, pembohong, pembohong...!!"

Terdengar suara anak-anak teriak-teriak "bohong" di halaman. Terlihat di teras musholla, tidak jauh dari lokasi anak-anak bermain, sedang asyik ngerumpi ibu-ibu sambil makan Jug-gerjuk, makanan tradisional mirip rujak, tapi tanpa lontong. Seorang anak berlari mendekati mereka dan menangis. "Saya dibilang pembohong," katanya sambil menangis.

Salah seorang wanita paruh baya menggendongnya, "Sudah, jangan nangis. Mereka hanya bohongan," bujuknya. "Makan jug-gerjuk aja."

Anak tersebut pun diam di pangkuannya. Ibu-ibu itu melanjutkan perbincangan mereka: tentang aktor-aktor ganteng film India. Aldi, anak yang tadi menangis, mendengar perbincangan mereka. Seru ceritanya. Katanya film itu bohongan, pikir Aldi. "Kamu tahu, Bu De, Salman Khan yang main sama Kareena Kapoor, serasi banget, pakaiannya bagus."

"Orang india gagah-gagah ya."

"Maco."
baca juga: 
***
3 tahun berlalu...

"Tidak boleh ijin pulang, Buk," Aldi yang sudah ingin sekali pulang merengek-rengek dilihatin teman-temannya."Aldi ingin pulang." Tetapi peraturan harus dipatuhi.

"Anak yang mandiri itu siap hidup sendiri tanpa orang tua," jelas Ustadz Fahmi. "Lihat teman-temannya yang lain."

"Tapi dia minta pulang, Ustad," Ibunya mencoba melobi Ustadz Fahmi.

"Santri yang sering keluar pesantren, sekalipun ke rumah, akan mudah terpengaruh lingkungan yang kurang baik di luar. Dan itu akan berdampak tidak baik pada lingkungan pendidikan di dalam pesantren."

Ibunya Aldi gagal membawa anaknya pulang. Aldi menangis, tetapi karena malu dilihatin teman-temannya, ia pun berhenti menangis. Tetapi esok harinya ia kembali lagi. "Bilang aja, kakekmu ninggal," sarannya. "Kalau ada keluarga yang meninggal dunia, katanya boleh pulang." Aldi agak bingung karena kakeknya sudah lama tiada. Tetapi ia ingin pulang. Ia pun mengikuti saran ibunya. Dan ustadz pun mengijinkan.

Aldi bersama ibunya jalan-jalan ke kebun binatang. Sejak belajar di pesantern, ia tidak pernah mengunjungi kebun binatang, hanya kucing-kucing liar di pesntren yang jadi temannya, yang ia rawat untuk menyalurkan kesukaannya tersebut.

Usai dari kebun binatang, Aldi diajak ke alun-alun. Di sana banyak orang jualan hewan peliharaan seperti tupai terbang, kelinci, kucing persia, burung yang bisa bicara, dll. Aldi melihat-lihat. Senangnya. Ia jadi ingin sekali bermain dengan binatang-binatang itu. Tetapi tidak boleh membawa binatang ke pesantern.

"Aldi...!! Kamu kok di sini?!"

Aldi menoleh, "Hei, Hendra."

"Katanya mondok?"

"Iya, ijin. Ingin refreshing. Kamu sekolah di SMP mana?"

"Aku sekolah di SMP 01, bagus sekolahnya, ceweknya cantik-cantik. Hehe... Nge-game yuk...?"

"Game?"

"Iya, di warnet. Mumpung lagi bebas, puas-puasin."

"Ayo."

Ibunya Aldi mengijinkan anaknya bermain game di warnet bersama Hendra, teman waktu SD dulu. "Nanti Aldi tak antar," kata Hendra. Ia bawa motor sendiri.

"Wah, vulgar gitu?"

Aldi kaget karena game yang dibuka oleh Hendra adalah game dewasa berupa kartun-kartun telanjang. Tetapi ia tidak protes dan ikut petunjuk Hendra untuk memainkannya. "Kamu pernah nonton film ginian?"

"Maksudnya?"

Aldi dibawa ke alam bebas oleh teman lamanya. Ia dibawa terbang jauh menyusuri alam tanpa batas, menikmati kebebasan. Mereka hampir lupa waktu. Menjelang maghrib ia baru sampai di rumah. "Kemana saja?" tanya ibunya. Dengan santai Aldi menjawab sharing ilmu dengan teman-teman Hendra.

***
Buk, ada kegiatan bimbingan belajar, semua santri wajib ikut. Biayanya Rp 400.000.

Aldi sms ibunya menggunakan HP pondok. Ibunya pun segera mengirimnya ke rekening pesantren. Malamnya, sekiar jam 23.00 Aldi mengajak Reza, teman sekamarnya untuk keluar pondok lewat pagar belakang. Ada lubang di bagian pojok pagar dan kata Aldi bisa dilebarin untuk jalan keluar. Temannya tertarik dengan cerita Aldi tentang game yang pernah ia mainkan bersama Hendra, juga tontonan begituan begituan.

Tapi nahas, setelah keluar pagar, Aldi melihat sebuah istana megah di depannya dan bingung. Memang ceritanya, di daerah tersebut ada kerajaan jin yang sewaktu waktu menampakkan diri. Aldi mendekat dan tak menghiraukan panggilan temannya yang tak tahu apa yang dilihat Aldi.

Aldi terbang, lalu terjatuh dan pingsan.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment