Tuesday, 8 November 2016

Biarkan Masjidku Sepi







_____________________________________________________________________________
cerita anak islami, cerita islam, Cerita Fiksi, kisah islam, kisah teladan nabi muhammad,
Rumah Pak RT petang ini ramai dikerumuni banyak orang. Beberapa duduk melingkar di dalam, di ruang depan. Terlihat dari luar mereka sedang berdiskusi serius membahas sesuatu. Tidak ada tawa. Semua tampak serius. Sebagian terdengar berkata-kata dengan nada tinggi dan kasar. Wajah Pak RT tampak amat serius menyimak, sangat hati-hati menanggapi. Sedangkan mereka yang di luar menebak-nebak pembicaraan mereka, berbisik-bisik satu sama lain.

“Masjid kita mau direbut, ini tidak bisa dibiarkan...!!“ kata Pak Ardian geram.

“Kalau dibiarkan, bisa-bisa kita kehilangan tempat ibadah,“ imbuh Pak Kosim. “Keberadaan mereka bisa merusak generasi kita, cara ibadah mereka beda. Mereka membawa aliran sesat...!!“

“Ya, benar...!!“

Pak RT menarik nafas dalam. Seakan baginya, masalah ini sangat sulit diselesaikan. Beliau memandang Pak Rahmadi, “Maaf, kalau boleh tahu, katanya ponakan Pak Rahmadi ikut?” semua yang berada di ruangan itu menoleh pada Pak Rahmadi. Dengan tenang Pak Rahmadi mengiyakan.

“Sampean biarkan, Pak?!” tanya Pak Samin tampak geram.

“Maaf, saya kurang paham kalau hal itu akan jadi masalah. Kata Indra, ponakan saya itu, agar masjid tidak sepi. Jadi mereka ingin memakmurkan masjid. Jadi saya biarkan saja. Menurut saya itu bagus.”

“Tapi cara ibadah mereka beda, Pak?!”

“Maaf, saya kurang paham tentang hal itu. Pengetahuan agama saya sangat sedikit.”

Munculnya kelompok yang suka berkumpul di masjid memang tanpa seijin kerabat desa setempat. Mereka datang dari kota, sebagian ada yang masih mahasiswa, kebetulan salah satu anggotanya ada pemuda desa, si Indra. Beberapa warga memang ikut beribadah rutin bersama mereka: sholat jamaah lima waktu, duha, dan sholat malam.

“Pokoknya, mereka harus diusir...!!“ Pak Malik yang mulai tadi diam, bersuara geram. “Kalau Pak RT setuju, besok subuh mereka sudah tidak beribadah di masjid kita...!!“

Pak Rahmadi terdiam dan menunduk. Tidak ia kira akan seperti ini. Menurutnya, apa yang dilakukan sekelompok orang kota tersebut baik, kajian rutin keislaman yang dilakukan pun sangat baik, menurutnya. Tetapi, ternyata hal itu tidak dikehendaki oleh masyarakat yang mayoritas alumni pesantren. Menurut mereka, ajaran yang diajarkan sesat.

Jam sembilan malam Pak RT berhasil membujuk warga yang berkumpul di rumahnya agar tenang dan menyelesaikan masalah dengan cara bijak. Warga yang sedang berkumpul di sana pun membubarkan diri. Pak RT akan menemui pimpinan kelompok itu besok pagi.

***

“Tidak ada jalan dakwah yang tanpa rintangan,“ jawab Ustadz Hari, pimpinan kelompok tersebut, dengan nada tegas namun sambil tersenyum.“Kami akan terus mengajak semua orang, yang muslim khususnya, untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan kajian-kajian keislaman. Apapun resikonya. Nyawa pun akan kami korbankan, jika memang harus begitu.“

Baru kali ini Pak RT bertemu orang semacam itu. Menurut beliau, urusan sepele tak perlu begitu bicaranya. Seperti mau perang dengan penjajah saja, pikir beliau. Ingin tertawa sebenarnya, tapi beliau tahan.“Saya berterima kasih sekali, Ustadz. Itu memang kewajiban kita semua.“

“Alhamdulillah, alhamdulillah.“

“Tapi mungkin caranya perlu dipertimbangkan lagi.“

“Apa ada cara kami yang melanggar syariat? Bertentangan dengan tuntunan Quran dan Sunnah?“

Pak RT menghela nafas dalam, diam. Baru kali ini bertemu orang macam itu. Beliau tak paham apa maksudnya. Beliau tak paham harus bagaimana cara menghadapi orang seperti Ustad Hari. Tetapi jika dibiarkan, masalah akan semakin besar. Beliau segera pamit saja dulu dan segera menemui Pak lurah.

“Etikanya, mereka, pimpinannya, datang dulu menemui pimpinan desa ini dan para tokoh agama di desa ini,” jelas Pak Lurah. “duduk bersama membahas tentang kegiatan di masjid. Kalau langsung-langsung begitu, itu kan sama dengan menganggap kita tidak peduli masjid. Padahal mereka itu tamu di sini. Memang salah saya juga membiarkan, tak pikir, kegiatan keagamaan tak akan jadi masalah. Begini saja, coba sampean undang ke sini Kyai Harun sama Bindhereh Fatoni, sekarang!”

Pak RT segera ke dalem Kyai Harun dan dalemnya Bindhereh Fatoni. Keduanya adalah tokoh sepuh desa yang menjadi panutan dalam urusan agama. Bindhereh Fatoni meskipun sudah menjadi kyai, tapi masyarakat sudah terlanjur akrab memanggil Bindhereh yang biasa digunakan untuk memanggil menantu kyai yang masih muda. Beruntung sekali beliau berdua memang sedang tidak ada urusan, sehingga bisa langsung ke rumah Pak Lurah.

“Maaf, Kyai, merepotkan jenengan untuk datang ke sini, soalnya ada pembicaraan yang perlu agak dirahasiakan.“

“Masalah apa, ya, Pak?“ tanya Bindhereh Fatoni.

“Di masjid kita itu kan ada sekelompok orang yang rajin ibadah dan menyelenggarakan kajian di sana…”

“Oh, itu, memang lagi ramai dibicarakan masyarakat.”

“nah, masyarakat kita marah dan ingin mengusir mereka, Kyai...“

“Astaghfirullah. Saya dengar-dengar, pemahaman agamanya memang beda dengan kita, katanya.“

“Bagaimana kalau Kyai dan Bindhereh Fatoni berbicara langsung dengan pimpinannya? Saya undang ke sini?“

“Sekarang?“

“Iya, sekarang.“

“Bisa.“

Masyarakat Desa Kuleman memang lebih akrab dengan mushollah dibanding masjid, kecuali yang rumahnya dekat dengan masjid saja. Bagi mereka, terlalu lama untuk berjalan ke masjid untuk sholat lima waktu. Sehingga, masjid menjadi sepi. Bahkan mereka yang alumni pesantren pun juga tidak ke masjid, apalagi kesibukan mereka sejak pulang dari pesantren bukan mengajar, tapi bertani di sawah.

***

“Senang sekali silaturahim dengan anda,“ kata Ustad Hari. “Saya yakin kita seperjuangan.“ Ceria sekali wajahnya, penuh semangat.

“Anda belajar agama dimana dulu?” tanya Kyai Harun.

 “Boleh dibilang saya terlambat, umur 22 tahun saya baru tertarik untuk belajar agama. Waktu itu tidak sengaja mendengar ceramah di masjid kampus. Lalu ketagihan. Akhirnya banyak baca buku-buku agama. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa menjalankan syariat islam dan mengajak orang lain untuk mengamalkan ajaran-ajaran islam.“

“Subhanallah, anda sungguh luar biasa,” kata Bindhereh Fatoni. “Luar biasa, luar biasa.“

“Sudah banyak orang yang anda ajak melakukan kebaikan ya?“ tanya Kyai Harun.

“Alhamdulillah, boleh dibilang begitu. Saya juga terus menghafal al Quran dan Hadits, Hadits-hadits shohih tentunya.“

Bindhereh Fatoni dan Kyai Harun jadi malas sekali untuk berucap. Merasa akan percuma berdialog dengan Ustadz Hari. Seakan beliau berdua sedang berhadapan dengan anak kecil yang belum mau memahami orang lain, bukan belum bisa, tapi belum mau memahami orang lain, dan masih sangat bersemangat unjuk kebolehan diri, pamer keberhasilan sana-sini.

“Perjuangan anda, insya Allah kami dukung,“ kata Kyai Harun.

***

Masih belum ada keputusan pasti. Warga memanas. Sore ini sambil menunggu waktu sholat maghrib di musholla Kyai Harun dan Bindhereh Fatoni berunding mencari cara penyelesaian yang bijak. “Saya kagum pada Ustadz Hari, kagum pada semangatnya mengajak orang pada kebaikan,“ kata Kyai Harun. Bindhereh Fatoni mengangguk-ngangguk. “Tetapi, cara berdakwahnya yang kurang pertimbangan, tanpa ilmu berdakwah, juga cara belajar agamanya yang rentan kesesatan karena tidak belajar dari sumber ilmu atau ulamak yang benar-benar bagus pemahaman agamanya.”

“Jaman sekarang, urusan dakwah disamakan dengan lawak yang semua orang boleh melakukannya,” kata Bindhereh Fatoni. “Padahal pendakwah itu sama seperti dokter, mereka dokternya penyakit sosial, dokternya penyakit hati, penyelamat dari penyakit kesesatan. Tidak sembarangan untuk jadi dokter. Dokter salah resep, pasien mati, hanya pasiennya yang mati. Tetapi jika pendakwah salah memahamkan ajaran agama, umat bisa saling bunuh, kesesatan meraja lela.”

Tiba-tiba terdengar suara orang teriak-teriak. Kyai harun dan Bindereh Fatoni kaget, warga sekitar juga terkejut dan segera berlari menuju lokasi kegaduhan. Rupanya keributan terjadi di masjid. Kyai Harun dan Bindereh Fatoni juga ke sana Beliau berdua menyaksikan dengan mata sendiri, beberapa orang sudah tewas bersimbah darah. Mereka adalah warga yang tidak setuju dengan keberadaan kelompok dari kota yang rajin beribadah di masjid, dari pihak mereka pun juga banyak yang tewas, termasuk ponakannya Pak Rahmadi, Indra.

Kyai Harun menangis.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment