Friday, 4 November 2016

Anak Kades Jatuh Hati Pada Ibu Guru Muda







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, Cerita Fiksi, Cerita Fiksi, cerita romantis, cerpen romance, cerpen cinta romantik,
Hari ini sekolah pulang lebih awal. Murid-murid berteriak kegiranan. Pulang pagi merupakan hadiah buat mereka. Tandanya ada lebih banyak waktu bermain. Ibu kepala sekolah yang menginstruksikan pulang lebih awal karena semua guru dan staff sekolah akan ada rapat bersama beliau.

Sejak aku mengajar di sekolah ini, sebulan lalu, ini yang kedua kalinya aku ikut rapat dengan beliau. Masih aku ingat pesan beliau dulu, "Ingat, ini sekolah agama, berada di lingkungan masyarakat budaya. Kita wajib menjaga nilai-nilai luhur masyarakat sekitar." Aku memperhatikan penampilan beliau. "Pak guru dan bu guru yang bukan suami istri jangan berboncengan. Di sekolah ini ada kelas putri dan kelas putra. Harapannya, pak guru hanya mengajar di kelas putra dan bu guru hanya mengajar di kelas putri. Tetapi karena kita kekurangan guru, sementara tidak apa-apa ada sebagian pak guru yang mengajar di kelas putri."

Bagiku terasa berlebihan. Tetapi aku tidak berani menyanggah beliau karena aku hanyalah guru baru yang gajinya belum seberapa. Tidak mungkin rasanya guru suka sama murid yang masih usia 12 atau 13 tahun. Tetapi, di sekolah ini nyata terjadi. Aku menggantikan guru yang dipecat karena pelecehan seksual terhadap siswi kelas VIII D. Padahal di kelas tersebut, semua siswi masih berwajah anak-anak. Anak kecil.

Aku sudah duduk duluan di kursi yang menghadap kursi pimpinan rapat. "Monggo silahkan duduk bapak dan ibu guru sekalian, dan para taff," beliau mempersilahkan bapak dan ibu guru yang belum duduk di tempatnya.

Sebagian guru berseloroh berbisik menebak agenda rapat, "Kenaikan gaji, paling." Aku tersenyum mendengarnya. Kabar yang memang ditunggu-tunggu guru yang belum berstatus PNS, termasuk aku.

Memandang wajah Ibu kepala sekolah, tiba-tiba aku teringat pesan kakek dulu waktu aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. "Nak, kalau kau besar nanti, jangan menikah sama perempuan yang bekerja," nasehatnya. "Lihat gurumu, ngurus anak orang, tapi anak sendiri dibiarkan di rumah." Aku tersenyum bila ingat itu. Yaa, wawasan kakek memang sempit. Beliau segera memberitahukan tujuan diadakannya rapat mendadak.

Rupanya ada ancaman terhadap sekolah. Sekolah ini memang berdekatan dengan rumah kepala desa dan rumah salah seorang tokoh agama desa. Beliau berdua sama-sama mempunyai putra yang sudah cukup dewasa. Saya memang pernah melihatnya kedua putra tokoh tersebut berdiri di gerbang sekolah dan menggoda rekan guru perempuan yang belum bersuami.

Masalah ini cukup rumit. Kami hormat kepada dua tokoh desa tersebut. Kami pernah bersilaturahim ke rumah beliau berdua. Kita semua pemelihara nilai luhur. Tetapi, dua putra tokoh membuat aib. Cinta yang tak terkendali. Sebenarnya akan lebih aman bila semua ibu guru dibonceng bapak guru. Tetapi, hal tersebut menodai aturan adat masyarakat sekitar. "Kita tidak bisa gegabah menghadapi masalah ini, perlu ada pendekatan kepada dua putra tokoh tersebut," kata bu kepala sekolah. Padahal, keduanya merupakan alumni pesantren besar, tapi kenapa kelakuannya begitu.

***

Di dekat gerbang sekolah ada warung nasi milik Bu Topo. Di situ dua putra tokoh tersebut biasa nongkrong pada jam pulang sekolah, kadang pagi. Aku mencoba nongkrong dulu sepulang sekolah. Kebetulan, beliau berdua pas di situ. Mereka tampak curiga melirikku. Saya duduk di samping bu Topo. Beliau sudah mengenalku.

"Guru baru, Mas?"

Salah seorang dari mereka menyapaku. Aku tidak tahu namanya. Aku juga tidak tahu yang mana yang putra pak kepala desa dan yang mana yang putra kyai. "Iya, baru sebulan, Mas," jawabku.

"Kenal sama Bu Vita?" tanyanya.

Aku sangat mengenalnya. Guru Matematika yang memang masih single. "Tahu, tapi belum akrab, Mas," jawabku.

"Itu masih single ya, Mas?"

Aku tersenyum. "Setahu saya, masih single."

"Mas-nya sendiri, sudah punya belum?"

"Alhamdulillah, sudah ada calon."

"Ngajar di sini juga, Mas?"

Sebenarnya aku bohong. "Tidak." Aku hanya ingin menggali informasi.

"Salam, ya, Mas, sama Bu Vita. Eh, Dek Vita," kata mereka lalu tertawa.

Mas yang satunya diam saja. Tetapi aku yakin dia juga sedang mengincar guru yang masih single atau siswi. Sebagian besar siswa juga mengaji pada kyai yang anaknya sedang di depanku. Seharusnya beliau malu berulah begitu di sini. Tetapi, seakan beliau sudah dibutakan cinta.

"Oya, mas. Salam juga sama Bu Guru yang pake motor Beat biru. Dari Lora Rakib, gitu mas. Mau dijadikan bu nyai katanya."

Rupanya yang suka sama Bu Vita anak pak kepala desa. Mungkin Lora Rakib memang tidak nakal, mungkin hanya karena diajak anak pak lurah saja.

***
Malam sepi. Aku masih nonton film di laptop. Tiba-tiba BBM-ku berbunyi. Jarang sekali ada yang menghubungiku lewat BBM. Kulihat. Rupanya ada yang mau berteman, "Vita Lestya Dewi" namanya. Kuterima saja. Beberapa saat kemudian dia inbox, "Pak, besok berangkat bareng ya ke sekolah...!!"

Aku menghela nafas. Rumah Bu Vita memang dekat rumahku. Tetapi jika berangkat bareng, bisa menimbulkan kecurigaan banyak orang. Apalagi dia disukai anak pak kepala desa. Tapi kasihan juga jika membiarkan dia berangkat sendirian.

Pagi sudah tiba. Kutunggu dia di depan gang. Tak lama kemudian ia datang. Kami berangkat bareng. Dia di depanku. Beruntung, sebelum sampai di sekolah, ada Bu Lia dan Bu Fera. Aku pun menjauh di belakang mereka.

...Bersambung... Kepala Sekolahku Cantik
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment