Friday, 4 November 2016

Cerpen: Exportir Sapi ke Australia







_____________________________________________________________________________
... kelanjutan dari "Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah 2"

Tanpa sengaja Alfan mendengar perbincangan ayah dan ibunya yang membicarakan pak lek-nya, adik kandung ibunya. Katanya dia baru saja dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja. Padahal istrinya hanya seorang ibu rumah tangga, anaknya tiga sudah sekolah semua. Katanya dia mau pinjam uang untuk belajar usaha.

"Teman itu berharga, sama berharganya dengan jaringan bisnis," pikir Alfan. "Beban menjadi ringan jika dipikul bersama. Sedekah adalah investasi."

Sepertinya Alfan semakin mantap untuk berhenti sekolah. Menurutnya, belajar di alam nyata itu lebih penting. Tetapi ia belum mempunyai alasan yang kuat untuk meyakinkan orang tua dan saudaranya. Padahal dia sudah ingin sekali fokus bisnis saja. Ia ingin memaksimalkan bisnisnya, ingin segera menjadi peternak besar.

Hari-harinya banyak ia habiskan menghitung-hitung perkiraan keuntungan besar hasil bisnis peternakan sapi. Mobil, rumah, dan istri cantik memenuhi ruang hayalannya. "Aku ingin menjadi pengusaha muda yang kaya," pikirnya. Hampir ia lupa sekolahnya, hampir sama sekali tidak ingat. Sebenarnya ia butuh teman curhat, tetapi curhat pada peternak, jawabannya ya itu itu saja, pada sarjana, ia kurang yakin.

***
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak

Alfan berencana menjual seekor sapinya untuk membeli tanah. Ia ingin bisnis pertanian juga. Ia coba musyawarah dengan pak lek-nya, yang setiap hari mengurus sapi bersamanya. "Rencana yang bagus," respon pak lek-nya. "Tapi ingat, Fan. Sekolahmu. Jangan sampai kamu putus sekolah." Alfan menghela nafas panjang. Ia bingung. Semua orang tidak sepaham dengan dirinya. "Kehidupan semakin rumit, semakin canggih. Sekarang berbeda dengan jaman dulu. Dulu tidak perlu ijazah untuk hidup bahagia."

"Iya, saya ingin belajar bisnis pertanian. Tanaman kan tidak harus diurus setiap hari, tidak seperti sapi."

"Boleh. Kamu sudah bilang bapakmu?"

"Belum."

"Kamu kan juga dapat bagian warisan."

"Iya, sih. Tapi itu tidak baik. Tidak bebas."

"Kapan hari teman pak lek ada yang mau jual tanah, haji Fauzi di Wonosari."

"Lek tahu sawahnya?"

"Katanya di pinggir jalan, dua petak."

"Sip."

Esok harinya mereka ke rumah pak haji Fauzi, katanya benar mau jual sawahnya yang di pinggir jalan di daerah Wonosari.

"Ini, ponakan yang mau beli tanah."

Pak haji Fauzi kaget, sambil tersenyum menatap Alfan. "Sudah berkeluarga?" tanyanya.

"Masih sekolah, kelas dua SMA."

"Wah, hebat...!! Masih sekolah sudah mampu beli sawah. Ini yang bapaknya ternak kambing itu?"

"Iya. Dia sendiri ternak sapi limousin sekarang."

"Tidak mengganggu sekolahnya?"

"Tidak," jawab Alfan.

Seorang gadis menghampiri mereka membawa teh di atas nampan. Alfan memandanginya. Cantik. Pak lek-nya tersenyum dan menepuk paha Alfan, memberi tanda agar menghentikan pandangannya. Alfan menoleh pak lek-nya sambil tersenyum.

"Itu anak saya yang kuliah di Malang."

"Ambil fakultas apa?"

"Pendidikan."

"Cocok. Perempuan memang lebih cocok jadi guru," kata pak lek-nya Alfan.

"Perawat juga," sahut pak haji Fauzi.

"Iya. Kamu tidak mau cari istri perawat, Fan?"

Alfan tersenyum. "Perawat jarang di rumah, Lek," jawab Alfan.

Pak H. Fauzi dan pak lek-nya tertawa. "Cari yang kerasan di rumah saja," kata pak haji Fauzi. "Mau kuliah dimana nanti, kalau sudah lulus? Ke IPB?"

Alfan belum pernah mendengar IPB sebelumnya. Maklum, ia terlalu sibuk ngurus sapi, tak begitu paham urusan pendidikan. "Dimana itu?"

"Di Bogor, Institut Pertanian Bogor, kampus pertanian favorit di Indonesia. Atau cari beasiswa ke Australia."

"Nah, iya. Indonesia banyak import sapi dari sana. Itu yang bikin melas peternak kecil," kata pak lek-nya Alfan. Alfan baru tahu, tapi tak begitu paham. "Kalau kamu bisa kuliah peternakan ke Australia, kamu pasti bisa menyaingi peternak-peternak Australia."

"Katanya lahannya juga luas di Australia. Jadi sapinya diumbar di padang rumput. Peralatannya juga canggih-canggih. Jadi tidak repot meski pelihara ribuan ekor sapi," jelas pak haji Fauzi.

Alfan terdiam. Seolah-olah ia sangat terbelakang dan hanya merasa sudah menguasai tentang bisnis peternakan. Masih banyak yang harus ia pelajari.

Sudah larut. Sudah sepi. Orang-orang sudah pada tidur. Hanya suara hewan malam di luar dan angin malam gemerisik. Alfan belum bisa tidur, membayangkan memiliki 10.000 ekor sapi yang dieksport ke Australia. Smartphone di sampingnya masih menyala. Jarang sekali ia menggunakannya, sibuk ngurus sapi.

Ia mencoba membuka grup-grup peternak sapi di Facebook. Sudah lama Facebooknya tidak dibuka, pemberitahuannya banyak. Ada yang tag gambar sapi belgian yang sangat besar. Ada yang share pakan fermentasi untuk sapi. Ada yang share foto istri yang ikut merumput, membuat ia teringat pada ana pak haji Fauzi: cantik. Ia tersenyum membayangkan negeri kangguru.

Bersambung... Sepasang Merpati di Dahan Angsana


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment