Kentang Lokal Lebih Bagus, Indonesia Impor Kentang

kentang goreng, donat kentang, masakan kentang,

Andai saya petani kentang, mangkel juga jika melihat kentang impor beredar di pasaran. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan bukan hanya petani kentang, tetapi juga konsumen di negeri ini. Kata Pak Manteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, impor kentang yang diijinkan itu hanya untuk industri, karena memang belum banyak diproduksi di negeri sendiri, sedangkan yang beredar di pasaran itu ilegal. (Detik Finance https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3366770/petani-minta-setop-impor-bibit-kentang-ini-respons-mendag Kamis 08 Dec 2016)

Berikut beberapa komentar pembaca di situs Detik

masker kentang, diet kentang, perkedel kentang

masakan kentang, masker kentang,

Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2012 mencatat rata-rata konsumsi kentang di Indonesia mencapai 1.027.845 ton per tahun. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, Indonesia pada 2008 terpaksa mengimpor sebanyak 76.420 ton. Sementara produksi dalam negeri setiap tahunnya 1.004.041 ton.

Kentang yang diimpor sebagian besar untuk kebutuhan industri. Kentang yang biasa digunakan untuk industri adalah jenis atlantik. Namun, jenis tersebut tidak ditanam di Indonesia. Yang banyak ditanami di Indonesia adalah kentang sayur (granola). Dengan demikian untuk kebutuhan industri, terpaksa harus mengimpor kentang atlantik.

Untuk mendapatkan kualitas kentang terbaik untuk olahan, sejak 2013, Badan Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Kementerian Pertanian telah mengembangkan beberapa varietas kentang. Ketiga varietas yang kini masih diteliti adalah kentang varietas amabile, medians, maglia. Ketiga varietas tersebut memiliki keunggulan produktivitas tinggi dan tahan penyakit utama kentang (Phytopthora infestans).
... ... ...

Akan tetapi, petani belum bisa menikmati keuntungan dari menanam kentang tiga varietas terbaru Balitsa. Menurut Liferdi, paling cepat dibutuhkan waktu lima tahun dari satu varietas sebelum dilepas ke masyarakat. Waktu yang lama itu dibutuhkan untuk mendapatkan varietas terbaik. (Sumber Balitsa, Thursday, 04 September 2014 07:35 Written by Humas Balitsa)
Sekarang baru tahun 2016, berarti belum 5 tahun. Artinya, Indonesia belum bisa menghentikan impor kentang atlantik. Namun berbeda dengan saran Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung Barat, Ida Nurhamida tahun 2011 lalu. Menurutnya kentang lokal lebihh baik dibanding kentang impor. Hal itu karena dataran rendah di Indonesia sangat bagus untuk pertumbuhan kentang lokal yang berkwalitas. Berikut kutipan beritanya di situs Pikiran Rakyat.
NGAMPRAH, (PRLM).- Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung Barat, Ida Nurhmida mengimbau para petani tidak menanam benih kentang impor, karena belum tentu kualitasnya baik. Bahkan, kentang impor juga berpotensi menyebabkan tersebarnya penyakit nematoda sista kuning (NSK) yang merusak tanaman.

“Jangan tergoda dengan bentuk kentang impor yang bagus, seperti ukurannya yang besar dan tampak segar. Kentang impor sebenarnya harus dikarantina dulu agar kualitasnya terjamin,” katanya saat ditemui di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (3/11). (Sumber: Pikiran Rakyat , 4 November, 2011 - 06:51)
Kata Hasan Johnny Widjaja, ketua Umum AESBI (Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia) kepada DetikFinance (Jumat, 8/12/2016), rasa kentang lokal lebi lezat dibanding kentang impor karena tumbuh di tanah vulkanik. Komentar warga Batam yang tertulis di Antaranews berikut sesuai dengan pendapat di atas.
Walaupun kentang impor membanjiri Batam, namun pedagang mengaku warga cenderung lebih memilih kentang lokal.
     
"Pembeli lebih memilih kentang lokal, karena mereka tahu kualitasnya lebih bagus," kata pedagang sayur-mayur di Pasar Mitra Raya Batam Centre, Sulaiman.
(Sumber: Antara News  Kamis, 20 Oktober 2011 13:14 WIB)
Kelebihan kentang impor adalah harganya yang lebih murah. Ini sangat cocok bagi kalangan bawah seperti pengecer. Tetapi, kentang impor, katanya, bukan untuk pengecer, tapi untuk industri. Mungkin ini kentang ilegal yang mungkin dilegalkan untuk beredar.
Menurut pengakuan salah satu pedagang Pasar Kramat Induk Kramatjati yang menjual kentang impor, Santi, kentang impor jauh lebih murah ketimbang kentang petani lokal asal Dieng.

Santi mengungkapkan, dirinya menjual kentang impor ke pembeli yang rata-rata pedagang sayur eceran pasar sebesar Rp 7.000/kg. Sementara untuk kentang lokal dijualnya Rp 13.000/kg. (DetikFinance, Jumat 09 Dec 2016, 11:58 WIB)
 Semoga segera menemukan solusi.

Sri mulyani: Pendidikan Sekarang Tak Bisa Diandalkan

lulusan SMK, Sekolah menengah Kejuruan, Lowongan kerja SMK,

Sekedar beropini.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, jika hanya mengandalkan sekolah yang berjalan sekarang, sulit untuk mengatasi masalah tenaga kerja di negara ini. Menurutnya, lulusan SMA masih kesulitan beradaptasi dengan dunia kerja. (Sumber: Detik Finance  Kamis 08 Dec 2016, 14:18 WIB)

Pengetahuan dan skill yang dimiliki lulusan SMA, MA, dan SMK masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri. Untuk SMK sudah lumayan karena memang sudah ada penjurusan, misalnya Teknik otomotif, teknik informatika, pertanian, tata boga, dsb. Siswa-siswi SMK sudah memiliki skill khusus sesuai minat bakatnya.

Saya sendiri lulusan SMK jurusan listrik pemakaian. Tetapi tidak bekerja di bidang kelistrikan. Menurut saya masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Banyak sekola SMK mempromosikan lembaganya sebagai lembaga yang mencetak lulusan siap kerja, atau lulusan yang terampil. Tetapi pada kenyataannya, benarkah lulusan SMK sudah siap untuk terjun ke dunia kerja di bidangnya setelah 3 tahun menempuh pendidikan?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2015 angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tertinggi, yakni sebesar 12,65%. Kenapa ini bisa terjadi?

Dalam laporan terakhirnya pada Agustus 2015, BPS mencatat angka pengangguran Indonesia mencapai 7,56 juta orang, atau meningkat 320.000 orang dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,24 juta orang. (berita di News Detik  Jumat 06 Nov 2015, 10:28 WIB)
Tetapi kata Pak Menteri saat itu, Anies Baswedan, mengklarifikasi bahwa hal itu waar karena pada bulan Agustus baru saja lulusan, sehingga alumni SMK masih proses pencarian kerja. Kata Pak Anies, menurut data BPS, jumlah penduduk yang bekerja semakin meningkat. Syukurlah jika memang begitu.

Berbeda dengan berita di print.kompas.com 17 Oktober 2016 yang menyebutkan bahwa jutaan lulusan SMK menganggur (Berita di Kompas)

Begitu juga yang diterbitkan oleh beritasatu.com, Rabu, 07 Oktober 2015 | 23:21
Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menyatakan, kualitas dan daya daya saing tenaga lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) masih rendah sehingga tidak terpakai dunia industri. (Berita Satu)
Kwalitas lulusan terkait dengan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah serta sistem atau metode evaluasi hasil belajarnya. Alat ukur untuk mengukur keberhasilan pembelajaran harus akurat. Jika tidak akurat, peringkat satu hanya ada di sekolah, siswa hanya lulus ujian sekolah, tapi belum tentu lolos seleksi penerimaan tenaga kerja, atau bahkan menjadi yang paling lema di dunia kerja. Apalagi memang sengaja diberi nilai bohongan atau nilai kasihan.

Ada cerita dari kenalan di Group Lowongan Kerja di Facebook. Dia lulusan SMK jurusan komputer dan sudah mempunyai kemampuan di bidangnya. Karena sulit diterima kerja di bidang komputer, akhirnya dia memutuskan melamar jadi tenaga cleaning service di rumah sakit. Suatu ketika, atasannya mendengar dari rekan kerjanya bahwa dia punya keahlian di bidang komputer. Akhirnya, ia pun diposisikan sesuai keahliannya.

Untuk mendapatkan pekerjaan, skill dan pengetahuan memang kadang tidak cukup, relasi, kenalan, orang dalam di perusahaan juga menjadi faktor diterimanya pelamar kerja. Perilaku atau sikap pelamar kerja juga menjadi pertimbangan. Lulusan SMK, meskipun sudah punya skill, tapi jika kepribadiannya belum matang, maka sulit untuk diterima kerja. Apalagi saingan banyak.

Semoga dimudahkan semua urusannya oleh Tuhan Sang pencipta.

5 Peluang Bisnis di Tahun 2017

peluang usaha, kerja online, bisnis modal kecil, usaha modal kecil, bisnis online

Ladang Cerita-Pebisnis itu merdeka. Sedangkan pegawai itu seperti budak. Begitu katanya. Tetapi hidup pegawai lebih terjamin dan tak perlu banyak mikir, gaji sudah pasti rutin tiap bulan. Berbeda dengan pengusaha, tak ada yang menjamin usahanya akan terus bisa menghidupinya. Tetapi, sebagian besar orang kaya itu pebisnis, bukan pegawai. Dari itu, bagi anda yang ingin kaya, berikut beberapa jenis usaha yang bisa anda jalankan untuk tahun 2017.

Jadi Artis Di YouTube

Ini serius. Tetapi tidak harus menjadi penyanyi ya. 5 Peluang Bisnis di Tahun 2017, sala satunyay adalah bisnis di YouTube. YouTube masih melebihi Facebook pengunjungnya. Cukup banyak kan yang mengunjungi. Nah, berarti itu peluang untuk bisnis. Apa saja yang yang bisa anda lakukan di YouTube? Anda bisa membuat video tutorial, bisa berceramah, bisa bernyanyi, bisa bermain musik, bisa menawarkan produk. Ini termasuk bisnis modal kecil karena hanya butuh koneksi internet dan komputer.

Anda juga bisa berbisnis periklanan bersama google dengan Google Adsense. Sistemnya, Google Adsense akan menampilkan iklann di video yang anda upload di YouTube, jika ada penonton yang klik iklan tersebut, maka anda mendaptkan bayaran sekian dolar. Caranya bisa anda baca di Google atau di group bisnis Adsense di Facebook.


Bisnis Peternakan

Peluang usaha peternakan cukup menanjikan. Banyak jenis hewan yang bisa diternak, konsep bisnisnya pun juga beragam. Ada hewan yang diternak untuk dijual dagingnya, susunya, bulunya, kulitnya, atau dijual untuk dipelihara sebagai hewan peliharaan di rumah (pet). Ada juga yang dijual untuk dipekerjakan, misalnya untuk kendaraan, untuk berburu (anjing atau elang), dsb.

Hewan yang diternak untuk dikonsumsi, contohnya seperti sapi dan kambing. Kedua hewan tersebut laris di pasaran baik dagingnya, susunya, atau kulitnya. Baik dijual dalam kondisi hidup atau dijual dagingnya. Anda juga bisa bisnis penggemukan sapi dengan membeli anakan sapi lalu dibesarkan dan kemudian dijual. Bisnis susu sapi atau kambing juga tak kalah menguntungkan. Begitu juga dengan usaha ternak unggas, ada ternak unggas pedaging dan unggas petelur. Daging ayam dan bebek merupakan kebutuhan konsumsi masyarakat banyak, begitu juga dengan telurnya. Anda bisa menjual ayam yang siap potong, atau menjual dagingnya, begitu juga dengan telurnya, bisa dijual langsung atau ditetaskan dahulu.

Sedangkan bisnis hewan sebagai peliharaan (pet), anda perlu pandai-pandai membaca peluang. Sebab bisnis ini menyesuaikan minat masyarakat. Ketika jenis hewan tertentu sedang buming, harganya bisa meroket, tetapi bisa anjlok turun seketika.

Penghasilan bisnis peternakan cukup lumayan, dan hasil produksi ternak seperti daging dan telur terus dibutuhkan untuk konsumsi, artinya permintaan tidak pernah berhenti. Kecuali bisnis

Bisnis Online

Bisnis online adalah bisnis yang dialankan melalui internet. Bisnis online banyak macamnya, salah satunya bisnis di Youtube. Bisnis online bisa dijadikan bisnis utama atau dijadikan bisnis sampingan. Bisnis online ada yang hanya promosinya saja yang online, artinya bisnisnya memang benar-benar ada di dunia nyata, misalnya, mempromosikan produk peternakan lewat Facebook, YouTube, Instagram, website, dll. atau produk pertanian, fahion, kuliner, jasa seperti jasa teremahan, dsb. Ada bisnis yang memang murni hanya dijalankan di dunia online, seperti bisnis periklanan (Adsense, Chitika, Clixense, dll).

Bisnis Properti

Bisnis properti seperti menyediakan tempat kost atau kontrakan bisa menjadi pasif income. Anda tidak perlu bekerja setiap hari, uang akan terus mengalir ke saku anda. Bentuk lain bisnis properti seperti tanah, ruko, bangunan, dll. Bisnis properti buming sepanjang tahun, dan diperkirakan kedepan juga akan terus menjadi bisnis yang cukup menanjikan. Hal itu karena harganyay yangn terus naik.

Hanya saja, bisnis properti dikenal sebagai bisnis modal besar. Jadi, bagi anda yang ingin memulai bisnis ini perlu mikir-mikir. Tetapi jika anda mempunyai tanah atau membeli tanah sekarang, maka jika dijual tahun berikutnya, harganya akan naik. Pasti ada asil walau sedikit, kecuali ada faktor tertentu.

Usaha Kuliner

Tidak ada orang yang bosan makan. Begitu logikanya. Maka bisnis makanan atau kuliner adalah bisnis yang tidak akan ada matinya. Bisnis ini cukup menjanjikan. Banyak jenis makanan yang bisa anda jual, seperti bakso, rujak, nasi, es, kue, dsb. Bisnis kuliner ada di mana-mana. Selama di daerah tersebut masih ada manusia, bisnis kuliner ini selalu ada.

Jika anda mempunyai keahlian memasak, anda bisa segera memulainya. Tetapi jika memang tidak punya keahlian memasak, anda bisa mempekerjakan orang yang padai memasak. Untuk menjalankan bisnis kuliner, anda tidak harus mengerjakan sendiri semuanya. Bisa masak, jika tidak bisa mengaturu usahanya dengan baik, bisa aja bangkrut.

Cerpen: Penguasa Negeri Ini Bukan Presiden

cerpen sosial

CERPEN SOSIAL, cerpen bertema sosial.


CERPEN SOSIAL. "Presiden negeri ini udah tumpul taringnya, Mon."

"Ah, lho...!! kita anak SMP tahu apa soal politik."

"Aku ini sering nguping bokap diskusi politik sama kakek di rumah."

"Wuih, keren....!! Mertua sama menantu jadi pengamat politik."

"Ah, itu nggak penting."

Mereka berdua tidak sadar di kelas sudah ada Pak Latif, Guru Matematika yang terkenal galak. Asyik saja mereka ngobrol di belakang kelas, di bawah pohon jambu. Pak Latif memang terlambat tadi sehingga banyak siswa yang keluar kelas, termasuk Doni dan Mones. Tempat ini memang favorit bagi keduanya. Tempatnya rindang dan sejuk. CERPEN SOSIAL.

"Menurut kakek gua, Mon, penguasa suatu negeri itu ada 3 golongan, yaitu pemimpin yang kuat, seperti raja, bukan presiden, yang kedua pebisnis yang menguasai perekonomian, dan yang ketiga adalah paranormal."

"Paranormal...??" Mones agak bingung dan menatap Doni, "Dukun maksud lho...!!"

Doni mengangguk.

"Kok bisa?" sambil garuk-garuk kepala. "Kakekmu yang bilang begitu?"

"Iya. Masak orang tua salah?"

"Iya sih. Tapi bagaimana caranya ya?"

"Kita kan anak SMP, belum paham politik."

Mones tertawa terbahak sampai terdengar ke kelas. "Dasar lho...!!"

***

CERPEN SOSIAL. Mones dan Doni dihukum berdiri di lapangan yang panas keesokan harinya. "Mon, aku sudah tahu kenapa paranormal termasuk salah satu dari tiga penguasa negeri," kata Doni. Doni agak merengut karena kepanasan dan menoleh ke Doni. Sepertinya dia agak enggan merespon, tapi Doni semangat untuk bercerita. Mungkin agar tidak terasa capek dan panasnya.

"Bagaimana caranya?"

"Paranormal itu kan sakti, Mon. Orang waras bisa jadi gila, orang jujur jadi pembohong, begitu juga sebaliknya."

"Terus? Itu bukan pekerjaannya setan?!"

"Ah, bukan. Kalau panglima perang dibuat gila, Mon, terus menyuruh prajuritnya menyerbu, mati semua, Mon."

Mones tertawa. "HaAAhahahahHAhah....!!! Logika ingusan..." Teman-temannya yang di kelas menolehnya. Mungkin mereka mengira Mones senang dijemur meskipun kulitnya udah gelap. "Tapi masuk akal juga. Berarti Doraemon termasuk."

"Jadi, paranormal itu bisa menghipnotis para pejabat negeri agar bertindak sesuai kehendaknya, Mon."

"Misalnya paranormalnya bilang begini, 'Telanjang...!!' maka merekak semua telanjang... HahahHhhhhhhhhAhahahahahah.....!!!!" Mones tak kuasa menahan tawa membayangkan.

Kali ini Pak Latif tidak tahan, beliau keluar mendekati Doni dan Mones. "Doni, masuk!" Doni pun masuk kelas "Angkat kaki kananmu!!" perintahnya pada Mones. CERPEN SOSIAL.

Tinggallah Mones sendirian. "Apes gua. Yang cerita kan si Doni, kenapa gua yang kena?! Sial...!! Kalau saja aku sakti, kusuruh telanjang orang ini...," dia membayangkan Pak Latif melakukan yang ia inginkan. Ia tertawa lagi.

Pak Latif yang hendak ke kelas menghentikan langkahnya. "Kenapa ketawa?!" Bentaknya.

"Tidak. Tidak, Pak." Gemetaran.

"Apanya yang tidak...!!" Pak Latif mendekat dengan wajah geram.

"Tidak sengaja, Pak."

"Angkat kedua tanganmu...!!"

Sepertinya guru juga termasuk salah satu penguasa negeri, pikir Mones. Guru bisa seenaknya nyuruh siswa. Kalau semua guru nyuruh siswanya tidur, berapa persen dari penduduk negeri yang tidur dalam waktu bersamaan? Atau disuruh teriak semua, pasti rame sekali negeri ini.

Kisah Nyata: Siapa Yang Merubah Nasib: Kita atau Tuhan?

Kisah, Kisah nabi adam, kisah malam pertama, kisah 25 nabi dan rasul, kisah nabi yusuf, kisah nabi muhammad

Kisah Nyata. Jaman sekarang ini sangat mudah untuk mendapatkan ilmu. Tidak perlu jauh-jauh mencari sekolah atau guru. Hanya lewat HP, TV, pengeras suara di masjid dan musholla, dll. Banyak. Ilmu agama pun begitu. Tetapi perlu hati-hati. Saya punya pengalaman yang tak ingin saya ulangi mengenai cara belajar agama. Berubah.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di masa para ulamanya masih banyak dan tukang ceramahnya sedikit. Dan akan datang suatu masa setelah kalian dimana tukang ceramahnya banyak namun ulamanya amat sedikit.” (lihat Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama, hal. 40) sumber
Tentang ayat ini:

"Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka merubah nasib mereka sendiri ".(Ar Ra’ad: 11)

Dulu saya langsung yakin karena itu ayat Al Quran. Al Quran itu psti benar kan. Pasti benar dan wajib diikuti, wajib percaya. Begitu saya dulu. TETAPI ternyata saya keliru. Tahun 2012 saya sedikit mendalami tentang "Reading Comprehension", bahasa Indonesianya, kira-kira, 'Pemahaman membaca'. Ilmu tersebut tentang kemampuan seseorang memahami sebuah teks. Ditambah sebelumnya di kampus saya sempat belajar tentang metode terjemahan.

Ayat al Quran yang tertulis di atas menggunakan bahasa Indonesia, artinya, sudah dialihbahasakan dari Bahasa aslinya, yakni Bahasa Arab. Dunia terjemahan bukanlah dunia yang matematis (4+1 pasti 5 hasilnya), di dunia terjemahan tidak begitu. Kemampuan penerjemah memahami teks berbeda tingkatannya.

Di jaman sekarang, mudah sekali orang menjadi da'i. Bahkan artis pun bisa menjadi da'i. Tetapi hingga kini belum banyak orang yang berani buka praktek kedokteran semacam klinik pribadi hanya dengan bekal ilmu yang didapat dari nonton video kesehatan, membaa majalah atau buku-buku kesehatan. Mungkin alasannya, "Salah resep, pasien mati". Bagaimana dengan agama, "Salah ajaran, berapa orang yang akan disesatkan???"

Al Quran pasti benar, tapi pemahaman manusia yang membacanya belum tentu benar. Contohnya, jika ada orang bodoh yang bru saja belajar membaca, lalu dia membaca al Quran, kemudian menyampaikan apa yang dipahaminya dari al Quran, apakah anda akan percayay begitu saja.

Di dunia terjemahan kita mengenal istilah Sworn Translator (Penerjemah Bersumpah), entah dalam urusan gama, adakah standrd penerjemah Al Quran dan Hadits. Ada yang bilang, yang standrd itu 4 madzhab: Syafii, Maliki, Hambli, Hanafi.

Kembali ke ayat di atas, saya menemukan penjelasan di situs PISS-KTB yang menurut saya pengelolanya cukup kredible. Berikut penjelasannya:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗإِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗوَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Qs Ar-ro'du : 11).

Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan : (Baginya) manusia (ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran) para malaikat yang bertugas mengawasinya (di muka) di hadapannya (dan di belakangnya) dari belakangnya (mereka menjaganya atas perintah Allah) berdasarkan perintah Allah, dari gangguan jin dan makhluk-makhluk yang lainnya. (Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum) artinya Dia tidak mencabut dari mereka nikmat-Nya (sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) dari keadaan yang baik dengan melakukan perbuatan durhaka. (Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum) yakni menimpakan azab (maka tak ada yang dapat menolaknya) dari siksaan-siksaan tersebut dan pula dari hal-hal lainnya yang telah dipastikan-Nya (dan sekali-kali tak ada bagi mereka) bagi orang-orang yang telah dikehendaki keburukan oleh Allah (selain Dia) selain Allah sendiri (seorang penolong pun) yang dapat mencegah datangnya azab Allah terhadap mereka. Huruf min di sini adalah zaidah. Wallohu a'lam. [Santrialit]
Penjelasan yang lain saya temukan di akun Facebook bernama Nawawi Hakimis dengan profil sebagai berikut:
  • Pimpinan di Pon Pes Nihayatul Muhtaj
  • Beljar di Darussalam Labuhan Haji Aceh
  • Tinggal di Manggeng, Aceh, Indonesia
  • Dari Manggeng, Aceh, Indonesia
Membaca komentar-komentar di statusnya, menurut saya cukup bisa dipercaya. Berikut penjelasannya di akun Facebook pribadinya:

Link sumber asli
Kajian | Tafsir QS. Ar-Ra'du : 11 (Tentang Nasib...?)
9 August 2011 at 00:43
Ar Ra’ad: 11 berbicara tentang merubah nasib ..?
=============================

Ada (bahkan banyak) yang berceramah di atas mimbar dengan mengatakan: “Tuhan tidak bisa merubah nasibmu jika kamu sendiri tidak merubahnya”. Untuk mempertegas dakwahnya mereka menyandarkan dengan firman Allah:

إنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Dengan mengartikan مَا pada perkataan مَا بِقَوْمٍ dan مَا pada perkataan مَا بِأَنْفُسِهِمْ dengan makna nasib, sehingga makna lengkap ayat di atas adalah : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka merubah nasib mereka sendiri ".(Ar Ra’ad: 11)

PADAHAL

مَا dalam ayat di atas secara bahasa adalah isim maushul yang berarti sesuatu, apa saja. Dalam kamus belum kita jumpai “ma” bermakna nasib.

Apalagi kalau kita terjemahkan seperti di atas, sungguh bertentangan dengan kenyataannya. Ada terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari, misalnya orang tidak berusaha apa-apa untuk mendapatkan lekayaan tetapi tiba-tiba dia menjadi orang yang kaya, tanpa diduga-duga, dia mendapat hadiah dari seseorang, warisan berlimpah dan lain-lain.
sebaliknya, ada orang yang berusaha siang dan malam dengan kerja keras banting tulang tetapi Allah tidak menghendakinya kaya. dan lagi pula itu bertentangan dengan rukun iman yang ke-enam, percaya kepada qadha dan qadar datang dari Allah.

Ilmu-ilmu alquran mengatakan bahwa ada sebagianAyat al-Qur’an adakalanya ditafsirkan dengan ayat lain.

Mari kita perhatikan ayat yang lain yang mirip dengan ayat ini, yaitu dalam Surat al-Anfal : 53
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : Yang demikian itu (siksaan Allah) adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri (dengan berbuat maksiat) dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. al-Anfal : 53)

“Yakni: Allah swt menganugerahkan ni’mat kepada penduduk Makkah dengan mengenyangkannya dari rasa lapar, memberi keamanan dari rasa takut, dan membangkitkan kepada mereka (Rasulullah) Muhammad saw . Kemudian mereka menerima ni’mat ini dengan meninggalkan syukur, mendustakan Rasulullah saw, dan mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, sehingga Allah swt mencabut kembali ni’mat-Nya dan menimpakan azab atas mereka. Assidi berkata: (yang dimaksud) ni’mat Allah (di sini) adalah Muhammad saw. Allah memberikan ni’mat Rasulullah Muhammad atas kaum Quraisy, kemudian mereka memungkiri dan mendustakannya. Kemudian Allah memindahkannya kepada kaum Anshar. (Tafsir Khazin)

Tafsir Khazin mengatakan:
“Dan Firman Allah (sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu ............ dari suatu kaum); ayat ini ditujukan kepada ‘Amir bin Thufail dan Arbad bin Rabi’ah, yakni tidak merubah sesuatu dari kesehatan dan ni’mat yang telah diberikan kepada mereka, (sehingga mereka merubah apa yang ada pada mereka sendiri); yakni dari tingkah-tingkah yang baik kemudian mereka berma’siat kepada Tuhannya, dan mereka mendustakan ni’mat-ni’mat-Nya atas mereka, sehingga halal murka Allah kepada mereka”.(Tafsir Khazin juz 4 halaman 4).

Apabila kita sesuaikan dengan maksud ayat 53 Surat al-Anfal di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa مَا pada perkataan مَا بِقَوْم adalah bermakna ni’mat, bukan berma’na nasib. Ini akan lebih jelas lagi apabila kita perhatikan ayat 11 Surat ar-Ra’d di atas secara lengkap, yaitu :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah nikmat sesuatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Tafsir Jalalain mengatakan:
“(sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu ......... dari suatu kaum) Allah tidak mengambil kembali ni’mat-Nya dari mereka (sehingga mereka merubah apa yang ada pada mereka sendiri); yakni dari kelakuan-kelakuan yang baik dirubah menjadi kelakuan-kelakuan ma’siat”. (Tafsir Jalalain jilid II halaman 249).

KESIMPULAN
“Bahwasannya Allah tidak akan mengambil kembali ni’mat yang telah diberikan kepada seseorang kecuali jika orang itu sudah mendurhakai Allah, yakni tidak memakai ni’mat menurut semestinya sesuai dengan kehendak-Nya yang memberikan ni’mat itu”.

Untuk memperjelas tafsir ayat ini, Allah berfirman:
“Hal itu (terjadi) disebabkan karena Allah tidak merubah ni’mat yang telah diberikanNya kepada sesuatu kaum, kecuali jika kaum itu sudah merubah hal mereka sendiri (dari taat menjadi durhaka)”. (Al Anfal: 53)
Banyak perbedaan dalam pemahaman. Saya pernah mendengar ceramah dari Gus Sep (panggilan akrab), beliau seorang kyai di Jember, Jawa Timur. Kata beliau jangan keterlaluan mengejar rizki, karena rizki itu yang mengejar kita. Kalau kita terlalu berambisi mengejarnya, entar kesalip sama rizki. Ibadah jangan diabaikan.  

WhatsApp and Its New Feature: Video Call

WhatsApp, WhatsApp Video Call, Android, Free Apps
Good news for WhatsApp users. It’s one of popular Apps people love to use on mobile devices. Now welcome the new feature which will make you love it more as you can video call through it. The company writes on its company's blog saying that text and voice aren't enough. That's right. We need to see with whom we are talking with. It's more enjoyable. With video call feature, we can talk with friends like in real by seeing each other.

I use video call for learning foreign languages. I can practice the language I learn with many people around the world. Having a video call is like in real life conversation.

The WhatsApp video call can be used in iPhone, Android, and Windows Phone devices. This new feature will make WhatsApp more competitive. Then you don’t need to install other Apps on your phone just for video call.
“Today we’re excited to announce the next step in our efforts to connect people – WhatsApp video calling,” the statement read.

“We’re introducing this feature because we know that sometimes voice and text just aren’t enough. There’s no substitute for watching your grandchild take her first steps, or seeing your daughter’s face while she’s studying abroad. And we want to make these features available to everyone, not just those who can afford the most expensive new phones or live in countries with the best cellular networks.” - Independent News
Based on a study conducted by Digital Vision, WhatsApp users are 55.6% of the world. That’s huge number. WhatsApp mostly used in 109 countries like Brazil, India, Mexico, and other South America countries. Most people in Asia, Europe, and Africa also used WhatsApp. It outnumbers its competitors: messaging app from Facebook which is only popular in 49 countries. It mostly used in Canada, US, and Australia. The third one is Viber; mostly used in 10 countries: Eastern Europe and some Asian countries like Iraq, Libya and Sri Lanka

It’s a chance for you as WhatsApp users to connect with many people across the world like in real, like face-to-face conversation.

Kisah Nyata: Kumpulan Cerita Hantu Serrem

Kisah, Kisah nabi adam, kisah malam pertama
Kisah Nyata. Berikut Ladang Cerita menyajikan beberapa cerita hantu dari orang-orang dekat penulis. Cerita ini ada yang diceritakan langsung oleh yang mengalami, ada yang sudah dari lidah kedua. Berikut kumpulan cerita hantu.

Cerita pertama terjadi sekitar 26 tahun silam. Waktu itu saya dan keluarga tinggal di rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah sederhana tersebut berada di pinggir jalan yang belum di aspal. Waktu itu, lampu listrik dari PLN belum masuk desa. Sekitar 10 meter di sebelah barat ada tiga rumah berjajar, di depannya ada dua rumah menghadap ke utara. Sebelah kanan, sebelah timur, sawah, kemudian rumpun bambu, kandang kuda, lalu rumah. Lumayan gelap.

Bapak punya bisnis buah pinang waktu itu bersama teman karibnya. Suatu ketika bapak pulang duluan dari pasar, temannya menyusul dan kealeman. Pagi harinya dia mampir ke rumah, "Dari mana?" tanya bapak.

"Ngambil sandal. Tadi malam tertinggal di sungai ombul," jelasnya. Sungai tersebut memang terkenal lumayan angker. "Tadi malam ada kelapa jatuh, saya ambil. Sampai di tembok itu kok bersuara, saya lihat, ternyata yang saya pegang rambut. Langsung tak lempar, aku lari...!!"

Cerita kedua dari beberapa orang. Sudah biasa bagi masyarakat desa bahwa seriap menjelang lebaran/hari raya idul fitrih harimau-harimau (hantu) keluar dari kuburan dan berkeliaran di kampung. Orang-orang biasanya berkunjung ke rumah mertua dan rumah guru. Waktu itu, ibu berkunjung ke rumah nenek yang sekaligus guru ngajinya.

Pagi harinya, salah seorang saudara yang rumahnyay berada di belakang rumah, berseberangan dengan kuburan, cerita bahwa tadi malam ada harimau di terasnya, tapi dibiarkan. Harimau-harimau hantu ini kadang menggoda orang yang sedang membersihkan daging sapi yang baru disembelih siang harinya.

Cerita yang ketiga dari teman. Salah seorang tetangga wudhu di kamar mandinya yang berada di samping dapurnya. Dia sendirian. Tiba-tiba airnya berubah jadi darah. Dan dia pingsan.

Cerita yang kelima dari teman sekolah. Di salah satu rumahnya, waktu tiduran di tempat tidurnya, katanya, tiba-tiba ada tangan keluar dari dinding.


Hukum Menulis Cerita Fiksi (Hayalan)

Cerita Fiksi, Hukum Menulis Cerita Fiksi, Hukum Menulis Fiksi,
Cerita fiksi itu cerita hayal, hampir semua orang sudah tahu kalau itu cerita bohongan, memang masih ada beberapa orang yang belum tahu, mungkin orang yang tidak pernah sekolah atau tidak pernah nonton TV. Berbohong itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji.

Lalu bagaimana dengan penulis cerita fiksi? Bahkan ada penulis yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menulis, berdosakah mereka?

Waktu saya mengajar tentang "Ahlak/tata krama terhadap orang tua" di kelas, saya tidak membawa orang tua siswa saya ke kelas, tapi saya hanya membuat gambar sketsa di papan. Tujuannya agar mereka bisa membayangkan, dan lebih mudah memahami. Saya juga membuat perumpamaan-perumpamaan, "Misalnya begini, misalnya begitu, maka..." demikian saya sampaikan pada siswa, dan itu tidak nyata terjadi. Waktu saya mengajar tentang tema "Wisata" di kelas, saya hanya membawa gambar ke kelas, saya tidak membawa gunung, pantai, pulau bali, dll dalam wujud aslinya ke kelas, hanya pantai bohongan, gunung bohongan berupa gambar saja.

Untuk mengajarkan cara hidup, tatkrama, moral dan aturan-aturan hidup di masyarakat pada anak, mungkinkah mencari cerita-cerita nyata yang sudah terjadi untuk disampaikan pada anak? Membuat cerita fiktif (hayal) tentu lebih mudah. Cerita fiksi tersebut akan menjadi Ladang Cerita bagi anak untuk belajar hidup di kehidupan sosial yang nyata.

Saya pernah membaca sebuah nasehat agar jangan memberi contoh teladan menggunakan orang yang masih hidup, karena khawatir sifat orang yang dijadikan teladan tersebut berubah. Dalam hal ini, cerita fiksi lebih baik dalam memberikan teladan.

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, hukum menulis fiksi adalah boleh. Berikut beberapa keterangan dari situs Piss-KTB:
Dalam Tuhfah al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan

ﻭَﻣِﻨْﻪُ ﻳُﺆْﺧَﺬُ ﺣِﻞُّ ﺳَﻤَﺎﻉِ ﺍﻟْﺄَﻋَﺎﺟِﻴﺐِ ﻭَﺍﻟْﻐَﺮَﺍﺋِﺐِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞٍّ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻴَﻘَّﻦُ ﻛَﺬِﺑَﻪُ ﺑِﻘَﺼْﺪِ ﺍﻟْﻔُﺮْﺟَﺔِ ﺑَﻞْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺘَﻴَﻘَّﻦُ ﻛَﺬِﺑَﻪُ ﻟَﻜِﻦْ ﻗَﺼَﺪَ ﺑِﻪِ ﺿَﺮْﺏَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺜَﺎﻝِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮَﺍﻋِﻆِ ﻭَﺗَﻌْﻠِﻴﻢَ ﻧَﺤْﻮِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺎﻋَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻟْﺴِﻨَﺔِ ﺁﺩَﻣِﻴِّﻴﻦَ ﺃَﻭْ ﺣَﻴَﻮَﺍﻧَﺎﺕ

Artinya: Dari itu dipahami boleh mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik berupa cerita-cerita yang tidak diyakini kebohongannya dengan tujuan hiburan. Bahkan boleh juga mendengar cerita-cerita yang sudah diketahui secara pasti kebohongannya, akan tetapi dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat seperti berani, baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan. Allohu A'lam

Nabi SAW bersabda :
حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إسْرَائِيلَ وَلَا حَرَج
َ
Artinya : Ceritakanlah cerita dari Bani Israil dan itu tidak mengapa. (H.R. Abu Daud. al-Shakhawi mengatakan, asalnya shahih)

Pada riwayat Ibnu Muni’, Tamam dan al-Dailami ada tambahan :
فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمْ أَعَاجِيبُ

Artinya : karena pada cerita mereka ada unik dan menarik

Nabi SAW membolehkan menyampaikan cerita- cerita dari Bani Israil, padahal kita memaklumi bahwa cerita- cerita itu sulit dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kebolehan itu karena cerita itu menjadi i’tibar dan tentunya ini dengan syarat tidak menganggap cerita itu adalah benar. 
Dalam Tuhfah al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitamy yang mengatakan :
وَمِنْهُ يُؤْخَذُ حِلُّ سَمَاعِ الْأَعَاجِيبِ وَالْغَرَائِبِ مِنْ كُلٍّ مَا لَا يَتَيَقَّنُ كَذِبَهُ بِقَصْدِ الْفُرْجَةِ بَلْ وَمَا يَتَيَقَّنُ كَذِبَهُ لَكِنْ قَصَدَ بِهِ ضَرْبَ الْأَمْثَالِ وَالْمَوَاعِظِ وَتَعْلِيمَ نَحْوِ الشَّجَاعَةِ عَلَى أَلْسِنَةِ آدَمِيِّينَ أَوْ حَيَوَانَاتٍ

“Dari itu dipahami boleh mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik berupa cerita-cerita yang tidak diyakini kebohongannya dengan tujuan hiburan. Bahkan boleh juga mendengar cerita-cerita yang sudah diketahui secara pasti kebohongannya, akan tetapi dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat seperti berani, baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan” Sumber: Piss-KTB
Dari sumber lain:
Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai hukum membuat kisah fiksi (qashsash khayaaliyyah); Pertama, ada ulama yang mengharamkan, karena dianggap membuat kebohongan (al kadzib). Kitab Fatawa Lajnah Da`imah (12/187) menyatakan, “Haram bagi seorang Muslim untuk menulis kisah-kisah bohong (fiksi), karena dalam kisah-kisah Alquran dan hadits Nabi dan yang lainnya yang menceritakan fakta dan merepresentasikan fakta, sudah cukup sebagai pelajaran dan nasihat yang baik.”

Kedua, sebagian ulama membolehkan, seperti Syeikh Ibnu Utsaimin, dengan syarat isi cerita fiksi menggambarkan hal-hal yang boleh (jaiz) menurut syara’, tidak menggambarkan hal-hal yang diharamkan, dan secara jelas menyampaikan kepada pembaca bahwa yang disampaikan adalah fiksi bukan kenyataan, agar tidak jatuh dalam kebohongan. (Lihat : Ibnu Utsaimin, Fatawa  Muwazhzhafiin, soal no. 24).

Pendapat yang rajih (kuat), adalah yang membolehkan membuat cerita fiksi asalkan terikat dengan syarat-syarat syar’i agar tidak terjatuh dalam kebohongan atau keharaman.

Dalil yang membolehkan membuat cerita fiksi adalah dalil As Sunnah. Dalam hadits yang menjelaskan bahwa orang yang melakukan yang syubhat (tak tegas halal atau haramnya) dapat terjerumus kepada keharaman, Rasulullah SAW telah membuat perumpamaan dengan bersabda : “Seperti seorang penggembala yang menggembalakan [ternaknya] di sekitar tanah larangan (himaa) yang hampir-hampir dia masuk ke dalam tanah larangan itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata, "Di antara faidah hadits ini adalah, bolehnya membuat perumpamaan dalam rangka memperjelas suatu perkara maknawi (tak konkret) dengan perumpamaan sesuatu yang yang inderawi (konkret). Artinya, menyerupakan sesuatu yang ma’quul (obyek pikiran) dengan yang mahsuus (obyek terindera) untuk mendekatkan pemahamannya.” (Syeikh Ibnu Utsaimin, Al Arba’uun An Nawawiyyah bi Ta'liqaat Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 4). Sumber: MediaUmat
Itulah beberapa penjelasan tentang hukum menulis cerita fiksi. Jika ada yang punya sumber lain, monggo dishare.

Cerpen: Bilang Aja Kakek Meninggal

cerpen pesantren

CERPEN PESANTREN berkisah tentang sepenggal cerita tentang kehidupan di pesntren.


CERPEN PESANTREN. "Pembohong, pembohong, pembohong...!!"

Terdengar suara anak-anak teriak-teriak "bohong" di halaman. Terlihat di teras musholla, tidak jauh dari lokasi anak-anak bermain, sedang asyik ngerumpi ibu-ibu sambil makan Jug-gerjuk, makanan tradisional mirip rujak, tapi tanpa lontong. Seorang anak berlari mendekati mereka dan menangis. "Saya dibilang pembohong," katanya sambil menangis.

Salah seorang wanita paruh baya menggendongnya, "Sudah, jangan nangis. Mereka hanya bohongan," bujuknya. "Makan jug-gerjuk aja."

Anak tersebut pun diam di pangkuannya. Ibu-ibu itu melanjutkan perbincangan mereka: tentang aktor-aktor ganteng film India. Aldi, anak yang tadi menangis, mendengar perbincangan mereka. Seru ceritanya. Katanya film itu bohongan, pikir Aldi. "Kamu tahu, Bu De, Salman Khan yang main sama Kareena Kapoor, serasi banget, pakaiannya bagus."

"Orang india gagah-gagah ya."

"Maco."
baca juga:


***
3 tahun berlalu...

"Tidak boleh ijin pulang, Buk," Aldi yang sudah ingin sekali pulang merengek-rengek dilihatin teman-temannya."Aldi ingin pulang." Tetapi peraturan harus dipatuhi. CERPEN PESANTREN.

"Anak yang mandiri itu siap hidup sendiri tanpa orang tua," jelas Ustadz Fahmi. "Lihat teman-temannya yang lain."

"Tapi dia minta pulang, Ustad," Ibunya mencoba melobi Ustadz Fahmi.

"Santri yang sering keluar pesantren, sekalipun ke rumah, akan mudah terpengaruh lingkungan yang kurang baik di luar. Dan itu akan berdampak tidak baik pada lingkungan pendidikan di dalam pesantren."

Ibunya Aldi gagal membawa anaknya pulang. Aldi menangis, tetapi karena malu dilihatin teman-temannya, ia pun berhenti menangis. Tetapi esok harinya ia kembali lagi. "Bilang aja, kakekmu ninggal," sarannya. "Kalau ada keluarga yang meninggal dunia, katanya boleh pulang." Aldi agak bingung karena kakeknya sudah lama tiada. Tetapi ia ingin pulang. Ia pun mengikuti saran ibunya. Dan ustadz pun mengijinkan. CERPEN PESANTREN.

Aldi bersama ibunya jalan-jalan ke kebun binatang. Sejak belajar di pesantern, ia tidak pernah mengunjungi kebun binatang, hanya kucing-kucing liar di pesntren yang jadi temannya, yang ia rawat untuk menyalurkan kesukaannya tersebut.

Usai dari kebun binatang, Aldi diajak ke alun-alun. Di sana banyak orang jualan hewan peliharaan seperti tupai terbang, kelinci, kucing persia, burung yang bisa bicara, dll. Aldi melihat-lihat. Senangnya. Ia jadi ingin sekali bermain dengan binatang-binatang itu. Tetapi tidak boleh membawa binatang ke pesantern.

"Aldi...!! Kamu kok di sini?!"

Aldi menoleh, "Hei, Hendra."

"Katanya mondok?"

"Iya, ijin. Ingin refreshing. Kamu sekolah di SMP mana?"

"Aku sekolah di SMP 01, bagus sekolahnya, ceweknya cantik-cantik. Hehe... Nge-game yuk...?"

"Game?"

"Iya, di warnet. Mumpung lagi bebas, puas-puasin."

"Ayo."

Ibunya Aldi mengijinkan anaknya bermain game di warnet bersama Hendra, teman waktu SD dulu. "Nanti Aldi tak antar," kata Hendra. Ia bawa motor sendiri. CERPEN PESANTREN.

"Wah, vulgar gitu?"

Aldi kaget karena game yang dibuka oleh Hendra adalah game dewasa berupa kartun-kartun telanjang. Tetapi ia tidak protes dan ikut petunjuk Hendra untuk memainkannya. "Kamu pernah nonton film ginian?"

"Maksudnya?"

Aldi dibawa ke alam bebas oleh teman lamanya. Ia dibawa terbang jauh menyusuri alam tanpa batas, menikmati kebebasan. Mereka hampir lupa waktu. Menjelang maghrib ia baru sampai di rumah. "Kemana saja?" tanya ibunya. Dengan santai Aldi menjawab sharing ilmu dengan teman-teman Hendra.

***
Buk, ada kegiatan bimbingan belajar, semua santri wajib ikut. Biayanya Rp 400.000.

CERPEN PESANTREN. Aldi sms ibunya menggunakan HP pondok. Ibunya pun segera mengirimnya ke rekening pesantren. Malamnya, sekiar jam 23.00 Aldi mengajak Reza, teman sekamarnya untuk keluar pondok lewat pagar belakang. Ada lubang di bagian pojok pagar dan kata Aldi bisa dilebarin untuk jalan keluar. Temannya tertarik dengan cerita Aldi tentang game yang pernah ia mainkan bersama Hendra, juga tontonan begituan begituan.

Tapi nahas, setelah keluar pagar, Aldi melihat sebuah istana megah di depannya dan bingung. Memang ceritanya, di daerah tersebut ada kerajaan jin yang sewaktu waktu menampakkan diri. Aldi mendekat dan tak menghiraukan panggilan temannya yang tak tahu apa yang dilihat Aldi.

Aldi terbang, lalu terjatuh dan pingsan.

Biarkan Masjidku Sepi

cerita anak islami, cerita islam, Cerita Fiksi, kisah islam, kisah teladan nabi muhammad,
Rumah Pak RT petang ini ramai dikerumuni banyak orang. Beberapa duduk melingkar di dalam, di ruang depan. Terlihat dari luar mereka sedang berdiskusi serius membahas sesuatu. Tidak ada tawa. Semua tampak serius. Sebagian terdengar berkata-kata dengan nada tinggi dan kasar. Wajah Pak RT tampak amat serius menyimak, sangat hati-hati menanggapi. Sedangkan mereka yang di luar menebak-nebak pembicaraan mereka, berbisik-bisik satu sama lain.

“Masjid kita mau direbut, ini tidak bisa dibiarkan...!!“ kata Pak Ardian geram.

“Kalau dibiarkan, bisa-bisa kita kehilangan tempat ibadah,“ imbuh Pak Kosim. “Keberadaan mereka bisa merusak generasi kita, cara ibadah mereka beda. Mereka membawa aliran sesat...!!“

“Ya, benar...!!“

Pak RT menarik nafas dalam. Seakan baginya, masalah ini sangat sulit diselesaikan. Beliau memandang Pak Rahmadi, “Maaf, kalau boleh tahu, katanya ponakan Pak Rahmadi ikut?” semua yang berada di ruangan itu menoleh pada Pak Rahmadi. Dengan tenang Pak Rahmadi mengiyakan.

“Sampean biarkan, Pak?!” tanya Pak Samin tampak geram.

“Maaf, saya kurang paham kalau hal itu akan jadi masalah. Kata Indra, ponakan saya itu, agar masjid tidak sepi. Jadi mereka ingin memakmurkan masjid. Jadi saya biarkan saja. Menurut saya itu bagus.”

“Tapi cara ibadah mereka beda, Pak?!”

“Maaf, saya kurang paham tentang hal itu. Pengetahuan agama saya sangat sedikit.”

Munculnya kelompok yang suka berkumpul di masjid memang tanpa seijin kerabat desa setempat. Mereka datang dari kota, sebagian ada yang masih mahasiswa, kebetulan salah satu anggotanya ada pemuda desa, si Indra. Beberapa warga memang ikut beribadah rutin bersama mereka: sholat jamaah lima waktu, duha, dan sholat malam.

“Pokoknya, mereka harus diusir...!!“ Pak Malik yang mulai tadi diam, bersuara geram. “Kalau Pak RT setuju, besok subuh mereka sudah tidak beribadah di masjid kita...!!“

Pak Rahmadi terdiam dan menunduk. Tidak ia kira akan seperti ini. Menurutnya, apa yang dilakukan sekelompok orang kota tersebut baik, kajian rutin keislaman yang dilakukan pun sangat baik, menurutnya. Tetapi, ternyata hal itu tidak dikehendaki oleh masyarakat yang mayoritas alumni pesantren. Menurut mereka, ajaran yang diajarkan sesat.

Jam sembilan malam Pak RT berhasil membujuk warga yang berkumpul di rumahnya agar tenang dan menyelesaikan masalah dengan cara bijak. Warga yang sedang berkumpul di sana pun membubarkan diri. Pak RT akan menemui pimpinan kelompok itu besok pagi.

***

“Tidak ada jalan dakwah yang tanpa rintangan,“ jawab Ustadz Hari, pimpinan kelompok tersebut, dengan nada tegas namun sambil tersenyum.“Kami akan terus mengajak semua orang, yang muslim khususnya, untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan kajian-kajian keislaman. Apapun resikonya. Nyawa pun akan kami korbankan, jika memang harus begitu.“

Baru kali ini Pak RT bertemu orang semacam itu. Menurut beliau, urusan sepele tak perlu begitu bicaranya. Seperti mau perang dengan penjajah saja, pikir beliau. Ingin tertawa sebenarnya, tapi beliau tahan.“Saya berterima kasih sekali, Ustadz. Itu memang kewajiban kita semua.“

“Alhamdulillah, alhamdulillah.“

“Tapi mungkin caranya perlu dipertimbangkan lagi.“

“Apa ada cara kami yang melanggar syariat? Bertentangan dengan tuntunan Quran dan Sunnah?“

Pak RT menghela nafas dalam, diam. Baru kali ini bertemu orang macam itu. Beliau tak paham apa maksudnya. Beliau tak paham harus bagaimana cara menghadapi orang seperti Ustad Hari. Tetapi jika dibiarkan, masalah akan semakin besar. Beliau segera pamit saja dulu dan segera menemui Pak lurah.

“Etikanya, mereka, pimpinannya, datang dulu menemui pimpinan desa ini dan para tokoh agama di desa ini,” jelas Pak Lurah. “duduk bersama membahas tentang kegiatan di masjid. Kalau langsung-langsung begitu, itu kan sama dengan menganggap kita tidak peduli masjid. Padahal mereka itu tamu di sini. Memang salah saya juga membiarkan, tak pikir, kegiatan keagamaan tak akan jadi masalah. Begini saja, coba sampean undang ke sini Kyai Harun sama Bindhereh Fatoni, sekarang!”

Pak RT segera ke dalem Kyai Harun dan dalemnya Bindhereh Fatoni. Keduanya adalah tokoh sepuh desa yang menjadi panutan dalam urusan agama. Bindhereh Fatoni meskipun sudah menjadi kyai, tapi masyarakat sudah terlanjur akrab memanggil Bindhereh yang biasa digunakan untuk memanggil menantu kyai yang masih muda. Beruntung sekali beliau berdua memang sedang tidak ada urusan, sehingga bisa langsung ke rumah Pak Lurah.

“Maaf, Kyai, merepotkan jenengan untuk datang ke sini, soalnya ada pembicaraan yang perlu agak dirahasiakan.“

“Masalah apa, ya, Pak?“ tanya Bindhereh Fatoni.

“Di masjid kita itu kan ada sekelompok orang yang rajin ibadah dan menyelenggarakan kajian di sana…”

“Oh, itu, memang lagi ramai dibicarakan masyarakat.”

“nah, masyarakat kita marah dan ingin mengusir mereka, Kyai...“

“Astaghfirullah. Saya dengar-dengar, pemahaman agamanya memang beda dengan kita, katanya.“

“Bagaimana kalau Kyai dan Bindhereh Fatoni berbicara langsung dengan pimpinannya? Saya undang ke sini?“

“Sekarang?“

“Iya, sekarang.“

“Bisa.“

Masyarakat Desa Kuleman memang lebih akrab dengan mushollah dibanding masjid, kecuali yang rumahnya dekat dengan masjid saja. Bagi mereka, terlalu lama untuk berjalan ke masjid untuk sholat lima waktu. Sehingga, masjid menjadi sepi. Bahkan mereka yang alumni pesantren pun juga tidak ke masjid, apalagi kesibukan mereka sejak pulang dari pesantren bukan mengajar, tapi bertani di sawah.

***

“Senang sekali silaturahim dengan anda,“ kata Ustad Hari. “Saya yakin kita seperjuangan.“ Ceria sekali wajahnya, penuh semangat.

“Anda belajar agama dimana dulu?” tanya Kyai Harun.

 “Boleh dibilang saya terlambat, umur 22 tahun saya baru tertarik untuk belajar agama. Waktu itu tidak sengaja mendengar ceramah di masjid kampus. Lalu ketagihan. Akhirnya banyak baca buku-buku agama. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa menjalankan syariat islam dan mengajak orang lain untuk mengamalkan ajaran-ajaran islam.“

“Subhanallah, anda sungguh luar biasa,” kata Bindhereh Fatoni. “Luar biasa, luar biasa.“

“Sudah banyak orang yang anda ajak melakukan kebaikan ya?“ tanya Kyai Harun.

“Alhamdulillah, boleh dibilang begitu. Saya juga terus menghafal al Quran dan Hadits, Hadits-hadits shohih tentunya.“

Bindhereh Fatoni dan Kyai Harun jadi malas sekali untuk berucap. Merasa akan percuma berdialog dengan Ustadz Hari. Seakan beliau berdua sedang berhadapan dengan anak kecil yang belum mau memahami orang lain, bukan belum bisa, tapi belum mau memahami orang lain, dan masih sangat bersemangat unjuk kebolehan diri, pamer keberhasilan sana-sini.

“Perjuangan anda, insya Allah kami dukung,“ kata Kyai Harun.

***

Masih belum ada keputusan pasti. Warga memanas. Sore ini sambil menunggu waktu sholat maghrib di musholla Kyai Harun dan Bindhereh Fatoni berunding mencari cara penyelesaian yang bijak. “Saya kagum pada Ustadz Hari, kagum pada semangatnya mengajak orang pada kebaikan,“ kata Kyai Harun. Bindhereh Fatoni mengangguk-ngangguk. “Tetapi, cara berdakwahnya yang kurang pertimbangan, tanpa ilmu berdakwah, juga cara belajar agamanya yang rentan kesesatan karena tidak belajar dari sumber ilmu atau ulamak yang benar-benar bagus pemahaman agamanya.”

“Jaman sekarang, urusan dakwah disamakan dengan lawak yang semua orang boleh melakukannya,” kata Bindhereh Fatoni. “Padahal pendakwah itu sama seperti dokter, mereka dokternya penyakit sosial, dokternya penyakit hati, penyelamat dari penyakit kesesatan. Tidak sembarangan untuk jadi dokter. Dokter salah resep, pasien mati, hanya pasiennya yang mati. Tetapi jika pendakwah salah memahamkan ajaran agama, umat bisa saling bunuh, kesesatan meraja lela.”

Tiba-tiba terdengar suara orang teriak-teriak. Kyai harun dan Bindereh Fatoni kaget, warga sekitar juga terkejut dan segera berlari menuju lokasi kegaduhan. Rupanya keributan terjadi di masjid. Kyai Harun dan Bindereh Fatoni juga ke sana Beliau berdua menyaksikan dengan mata sendiri, beberapa orang sudah tewas bersimbah darah. Mereka adalah warga yang tidak setuju dengan keberadaan kelompok dari kota yang rajin beribadah di masjid, dari pihak mereka pun juga banyak yang tewas, termasuk ponakannya Pak Rahmadi, Indra.

Kyai Harun menangis.

Cerpen: Tuhanku Bukan Orang Tuaku

cerpen perjodohan paksa

CERPEN PERJODOHAN PAKSA kisah tentang perjodohan dan hukumnya.


CERPEN PERJODOHAN PAKSA. "Semua yang bapakmu lakukan ... untuk kebahagiaanmu...!!"

Bapak marah. Wajahnya merah. Kasar sekali. Ibu menangis, tersedu di kamar. Aku diam mendengarkan. Ibu tidak tega melihatku dimarahi. begitulah ibu. Padahal aku tidak menangis. Aku marah, tapi tak bersuara, membisu. Aku yakin walau tanpa bukti, ini pasti ajaran Ustadz Hamdan Fawaid. Aku tidak suka pengajiannya.

"Aku dan ibumu dulu juga dijodohkan. Hidup rukun sampai sekarang! Yang milih sendiri banyak yang cerai...!"

Aku diam saja. Mungkin itu benar. Tetapi yang dijodohkan juga banyak yang tak bahagia. Jaman sudah begitu jauh kemajuannya, masih saja perjodohan mau dierapkan. Aneh. Aku berpendidikan, mestinya diajak musyawarah. CERPEN PERJODOHAN PAKSA.

Bukan sekali aku mendengar bapak dan bapak-bapak pengajian yang lain diskusi soal ahlak anak kepada orang tua. Katanya anak harus diajari nurut sama orang tua, apapun kehendak orang tua. Katanya, jika anak membuat orang tua kesal, tidak akan bahagia hidupnya. Ada benarnya, tapi aku tak sepakat jika orang tua berkehendak semaunya dan sesukanya.

Sejak bapak ikut pengajian Ustadz Hamdan Fawaid, bapak rajin memberi nasehat kepada ibu dan anak-anaknya termasuk aku. Padahal, bapak baru dekat dengan hal-hal berbau agama sejak Ustadz Hamdan mengadakan pengajian rutin di masjid. "Istri yang berbakti pada suami itu dibalas dengan surga," ibu mendengar dengan kepala menunduk sebagai bentuk penghormatan. Bapak jadi hakim: ini salah, itu salah, hampir semua salah. Hampir setiap hari menyampaikan Hadits dan ayat suci al Quran.

Seakan semua yang dikehendakinya atas istri dan anaknya akan berbuah surga. Pilihannya adalah yang terbaik. Jika aku atau ibu menghendaki sesuatu, sedang bapak menghendaki sesuatu yang lain, maka pilihannya adalah surga dan pilihan kami adalah neraka. Diharamkan olehnya mengutamakan pilihan kami. Katanya seorang suami atau ayah adalah pemimpin. Suami ibarat sopir yang akan mengantar ke surga, katanya. CERPEN PERJODOHAN PAKSA.

Mas Herman adalah lelaki baik, menurutku. Waktu pertama kali kenal dulu, di ruang BEM Fakultas Sastra, aku sungguh terpesona. Ia cerdas, otak briliant. Ia bijaksana. Ia ramah, pengertian. Seakan semua sifat baik ada pada dirinya. Siang itu aku mengenalnya, malamnya ia nyatakan cinta padaku. Entah apa yang membuat ia yakin. Mungkin sudah lama memperhatikanku. Katanya, jika sukses akan langsung menikahiku. Tetapi, hingga kini ia belum juga sukses: 3 tahun sudah.

Tahun lalu ia chat via Facebook minta maaf karena belum bisa menikahiku. Katanya, ayahnya akan senang jika anak-anaknya menikah setelah sukses, sebab dengan begitu tidak akan merepotkan orang tua lagi. Walau tidak diucapkan, kata Mas Herman, itu adalah suatu kewajiban. Makanya dia berusaha keras untuk sukses, dan aku merasa terabaikan walau kami terus menjalin komunikasi.

Ujian datang. Bapakku menjodohkanku dengan lelaki yang belum mapan hidupnya, bahkan masih dibantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Aku tidak bertanya apa alasan bapak menjodohkanku dengannya. Mencari tahu hal tersebut adalah sikap durhaka, katanya. Kewajibanku adalah patuh dan menuruti kemauannya agar bapak senang. CERPEN PERJODOHAN PAKSA.

Mas Herman mempersilahkanku untuk memilih. Katanya tak boleh mengganggu wanita yang sudah dilamar lelaki lain.

Tetapi, aku tidak bisa diam dengan pertunangan ini. Aku menolak, aku katakan tak suka. Kuceritakan hubunganku dengan Mas Herman. Bapak marah dan memukulku. Katanya aku anak durhaka. Katanya aku telah jadi teman setan.

Tak tahan menahan amarah, aku ke rumah Ustadz Hamdan. Aku kesal. Aku disambut ramah oleh istri beliau, Ustadzah Maryamah, yang sedang menemani anaknya bermain di halaman depan rumah. Tanpa menanyakan keperluanku, beliau langsung menyuruhku masuk. Kusampaikan pada beliau kalau aku perlu sama Ustadz Hamdan.

Tak lama kemudian beliau keluar dan duduk bersama kami. "Maaf, Ustadz, mengganggu waktunya," Ustadz Hamdan bilang tidak apa-apa karena memang sedang tidak ada urusan. Aku disuguhi camilan oleh Ustadzah Maryamah, tapi tidak selera untuk mencicipi. Kupasang wajah ketus. "Begini Ustadz, saya ingin konsultasi mengenai hukum agama," mereka berdua menatapku serius, "Mungkin ustadz sudah tahu, saya dijodohkan oleh orang tua saya dengan orang yang tidak saya sukai. Apa perjodohan paksa memang dibolehkan?"

CERPEN PERJODOHAN PAKSA. Beliau berdua diam, mungkin mempertimbangkan cara menjawab pertanyaanku, "Anak harus patuh sama orang tua," beliau memulai dengan kalimat yang sangat tidak aku suka. "Orang tua telah berkorban banyak untuk anak. Anak yang tidak patuh sama orang tua dan suka menyakiti hati orang tua, itu durhaka. Neraka ancamannya." Beliau menyampaikan beberapa Hadits Nabi saw. "Dalam Kitab Fathul Qorib karya Al-Imam Asy-Syeikh Muhammad bin Qasim Al Ghazy dijelaskan bahwa ayah boleh memaksa anak gadisnya menikah walau anaknya tidak suka."

Aku sangat marah mendengarnya, tapi diam saja.

Beliau melanjutkan penjelasannya, "Suatu ketika seorang gadis datang menemui Rasulullah s.a.w. mengadu kepada Rasulullah bahwa ayahnya menikahkannya dengan seseorang yang ia tidak menyukainya, lalu Rasulullah s.a.w. memberinya pilihan: boleh melanjutkan dan boleh menolak. Hadits ini riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Jika Rasulullah memberinya pilihan, itu menunjukkan bahwa pernikahannya sah, walau dengan paksa. Begitu juga dengan hadits riwayat Daraqutni, yang menyebutkan bahwa seorang gadis, walinyalah yang menikahkan."

Dadaku terasa sesak. Aku tidak tahan dan segera berdiri, "Assalamualaikum, Ustadz." Aku berlari sambil menangis. Aku marah pada semuanya, mungkin juga pada Tuhan. Aku tidak suka takdir ini.

Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Aku tidak masuk kuliah. Makan pun hanya karena dipaksa ibu. Sholat pun juga karena dipaksa. Biarlah semua kulakukan karena terpaksa. Kumulai perang dingin dengan bapak.

***

CERPEN PERJODOHAN PAKSA. Minggu 15 Mei 2016 sore hari, Rina, teman karibku datang. "Kapan datang?" tanyaku. Dia ikut program Students Exchange ke Swiss enam bulan lalu.

"Kemarin, Fa. Teman-teman yang cerita kalau kamu sudah hampir dua bulan tidak ke kampus."

Aku merangkulnya dan menangis. Kuceritakan semua padanya. "Insya Allah ada jalan. Jangan menyerah," nasehatnya. Ia mengajakku jalan-jalan, tapi aku tidak mau. "Jangan sampai kamu lemah, Fa, jika memang tidak suka, katakan tidak. Kamu tahu kakak tingkat kita, Fatimah, dia sudah punya anak dua, tapi sering curhat padaku kalau dia masih merindukan mantannya dan kadang menghayal punya anak bersamanya. Jangan sampai kamu seperti itu." Aku diam saja. Dunia seakan sudah gelap bagiku.

Menjelang maghrib ia pamit pulang. Kehadirannya sedikit mengobati perasaanku.

Hari berikutnya Rina datang lagi membawa banyak buah-buahan. "Ayo rujakan," katanya. "Aku bawa kabar gembira." Aku diam saja berusaha tersenyum walau berat. Dia mengambil piring dan pisau di dapur. Sambil mengiris-iris mangga ia bercerita, "Tadi malam aku memaksa Pak De untuk ke rumah Ustadz Hamdan. Aku pernah mendengar anak Ustadz Hamdan suka sama sepupuku. Aku meminta Pak De bertanya hukum perjodohan paksa." Aku mengerutkan kening, mencoba menebak kisahnya. "Pak De akhirnya mau setelah kupaksa. Ia bertanya pada Ustadz Hamdan, bolehkah ia menjodohkan anaknya dengan laki-laki pilihannya meski anak gadisnya tidak suka." Aku semakin penasaran. "Ustadz hamdan bilang itu tidak boleh. Katanya nikahnya tidak sah."

"Kok bisa?!"

"Pak De merekam jawaban Ustadz Hamdan," Rina mengeraskan suara Handphone di tangannya.

"Dalam menjodohkan anak, orang tua harus mempertimbangkan maslahat dan mafsadatnya yaitu tentang baik buruknya. Jika itu hanya akan berakibat buruk, sebaiknya jangan. Sebagai orang tua harus bijak, jangan menuruti nafsu. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda, 'Seorang gadis Tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya, begitu juga seorang janda tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya.' Seorang sahabat bertanya, 'Bagaimana mengetahui persetujuannya?' Rasulullah s.a.w. menjawab 'Izinnya adalah ketika ia diam dan tidak menolak.' Shan’ani penulis kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maraam mengatakan bahwa hadits ini juga menunjukkan kaharaman nikah paksa."

Hati ini gembira mendengarnya. Air mata bahagia mengalir di pipiku. Rina melanjutkan rekaman tersebut:

"Habibah binti Sahl datang kepada Rasulullah SAW. Dia berkata, 'Kalau bukan karena takut kepada Allah ketika dia masuk, niscaya sudah kuludahi mukanya.'

Habibah mengungkapkan kekecawaannya pada Rasul, 'Ya Rasulullah, aku mempunyai wajah yang cantik sebagaimana engkau lihat, sedang Tsabit adalah laki-laki yang buruk rupanya.' Inilah yang telah membuat Habibah tidak bisa sepenuhnya menerima Tsabit sebagai suaminya, tentu masih dengan masalah klasik : wajah.

'Wahai Rasulullah, kepalaku tidak dapat bertemu dengan kepala Tsabit selamanya. Aku pernah menyingkap kemah, lalu aku melihat dia sedang bersiap-siap, ternyata ia sangat hitam kulitnya, sangat pendek tubuhnya, dan sangat buruk wajahnya. Ya Rasulullah, aku tidak mencela akhlak maupun agama suamiku. Tapi aku tidak menyukai kekufuran dalam Islam,' tukas Habibah.

Rasulullah SAW bertanya, 'Maukah engkau mengembalikan kebun pemberian suamimu?'

Habibah menjawab, 'Ya,'

Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Terimalah kebun itu hai Tsabit, dan jatuhkanlah talak satu kepadanya!'

"Beberapa hadits lain yang menjadi dasar ketidakbolehan perjdohan paksa adalah hadits shohih berikut:

'Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya. Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya? Beliau menjawab, Dengan ia diam. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.'

Hadits berikutnya berbunyi, 'Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya. hadits riwayat Muslim.

Yang terakhir adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang artinya:

'Bukankah jiwa yang tidak saling mengenal akan cepat berselisih, sedangkan jiwa yang sudah mengenal, ia akan senantiasa lunak."

Aku bahagia mendengarnya. "Terima kasih, Rin." Kurangkul ia, sahabat terbaikku. Aku sangat bahagia. CERPEN PERJODOHAN PAKSA.

"Semoga Tuhan menunjukkan jalan. Tetaplah hormat pada orang tua, Fa."

Aku mengangguk.

***
Malam ini tampak indah, tapi rembulan sesekali tertutup awan. Hati ini masih gelisah, bingung untuk menyampaikan pada bapak. Khawatir ia tidak menerimanya. Mengkritik orang tua itu tak sopan, tak pantas; apalagi aku anak perempuan. Menunggu bapak memahami sendiri, itu bukan solusi. Mengharap Ustadz Hamdan menjelaskan pada bapak, sepertinya itu mustahil.

Bersambung Restu Tuhan: Suami Sah tapi ILegal

__________
Referensi:
piss-ktb com
Catatan Ilmu
Terjemah Kitab Fathul Qarib

Kisah Nyata: Sahabat Yang Memilih Janda

Kisah, Kisah nabi adam, kisah malam pertama, kisah 25 nabi dan rasul, kisah nabi yusuf, kisah nabi muhammad

Kisah Nyata. Kisah cinta memang menarik hati, bagi banyak pemuda tak ada yang lebih indah darinya. Hampir di seluruh negeri, kisah cinta tak pernah absen. Cerita cinta bagai bunga-bunga yang hiasi taman para pecinta. Siapa yang tidak terpesona dengan keindahannya.

Kisah pencarian cinta telah berjuta terukir di alam kehidupan umat manusia di bumi fana ini. Ada kisah sedih, ada kisah mengharukan, ada yang penuh ketegangan, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang penuh darah mencekam. Berbagai cerita cinta mengisi kehidupan ini.

Ada cerita cinta yang tidak sengaja dicipta, tokohnya biasanya berkata, "I am falling in love with you" atau "Aku jatuh cinta padamu". Mereka jatuh cinta, terjatuh, bukan sengaja menjatuhkan diri. Dan cerita cintanya dimulai dari musibah berupa jatuh tersebut. Tetapi ada cinta yang diniatkan diukir kisahnya, "Loving without fall", 'Mencintai tanpa jatuh'.

Tokoh pencinta memilih beragam pilihan, ada yang memilih yang cantik, ada yang memilih yang berilmu, ada yang memilih anak orang kaya atau orang besar, ada yang memilih yang dekat atau sebaliknya, ada yang memilih yang perawan atau janda. Niatnya pun beragam: ada yang demi harta, demi golongan, demi agama, demi menjaga pandangan, demi melindungi diri dari maksiat, dan semacamnya.

Berikut ini adalah satu kisah cinta yang diniatkan, "Loving without fall". Kisah ini tentang seorang pria yang menikahi wanita pendidik generasi. Kejadiannya pada tahun ketiga Hijriah, sebelum perang Dzat ar-Riqa’. Beliau adalah Jabir ibnu Abdullah al-Anshari.

Jabir menikahi seorang janda bernama Suhaimah binti Mas’ud bin Aus sepeninggal ayahnya yang gugur dalam Perang Uhud.
Jabir menceritakan, "Ketika pada suatu malam menjelang Perang Uhud, ayah memanggilku dan berkata, 'Sungguh aku tidak melihat diriku, kecuali terbunuh bersama sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan sesungguhnya, demi Allah, aku memiliki utang kepada seseorang. Kau lunasilah utangku, sayangilah saudara-saudara perempuanmu, dan berikanlah wasiat kebaikan kepada mereka."

Ketika waktu sudah pagi, ayahku menjadi orang pertama yang terbunuh di Perang Uhud. Ketika ingin menguburkannya, aku mendatangi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, ayahku telah membebankan utangnya kepadaku. Dan aku tidak memiliki sesuatu pun untuk melunasinya, kecuali apa yang dapat dipetik dari pohon kormanya. Kalau aku mengandalkan pohon itu untuk melunasi utangnya, maka aku akan melunasinya selama beberapa tahun, sedangkan saudara-saudara perempuanku tidak memiliki harta untuk dinafkahkan kecuali dari pohon itu."

Rasulullah berdiri dan pergi bersamaku ke tempat penyimpanan korma kami. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, "Panggillah orang-orang yang berpiutang kepada ayahmu."
Maka aku pun memanggil mereka. Beliau masih saja menakar hingga Allah melunasi utang ayahku dengan korma. Aku melihatnya seperti sediakala, seakan-akan tidak berkurang satu biji korma pun. (Sumber: jadipintar,com)

Dari cerita di atas Jabir memiliki saudara perempuan yang ditinggal ayahnya, dan ayahnya sudah mengamanahkan mereka padanya agar diurus. Maka untuk mengurus kesembilan saudara perempuannya, Jabir memilih wanita janda untuk menjadi istrinya.

Berikut ini salah satu matan dari hadits yang disebutkan oleh syaikh Utsaimin rahimahullah,
، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ، وَتَرَكَ تِسْعَ بَنَاتٍ - أَوْ قَالَ سَبْعَ - فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا جَابِرُ، تَزَوَّجْتَ؟» قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «فَبِكْرٌ، أَمْ ثَيِّبٌ؟» قَالَ: قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبٌ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «فَهَلَّا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ» ، أَوْ قَالَ: «تُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ» ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ، وَتَرَكَ تِسْعَ بَنَاتٍ - أَوْ سَبْعَ -، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ آتِيَهُنَّ أَوْ أَجِيئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَجِيءَ بِامْرَأَةٍ تَقُومُ عَلَيْهِنَّ، وَتُصْلِحُهُنَّ، قَالَ: «فَبَارَكَ اللهُ لَكَ» أَوْ قَالَ لِي خَيْرًا،

"Dari Jabir bin Abdullah dia berkata; Bahwasanya Abdullah telah meninggal dunia dan meninggalkan sembilan anak perempuan, atau dia berkata; Tujuh. Lantas saya menikah dengan seorang janda. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadaku: "Wahai Jabir, apakah kamu sudah menikah? Dia (Jabir) berkata; Saya menjawab; Ya. Beliau bertanya kembali: "Dengan seorang gadis atau janda?" Dia (Jabir) berkata; Saya menjawab; Dengan seorang janda, wahai Rasulullah! Beliau bersabda: "Kenapa tidak dengan seorang gadis, agar kamu bisa bercumbu rayu dengannya dan dia bisa bercumbu rayu denganmu? -Atau beliau bersabda: - Kamu bisa bersenda gurau dengannya dan dia bisa bersenda gurau denganmu?" Dia (Jabir) berkata; Saya berkata; Sesungguhnya Abdullah (ayah Jabir) telah meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan anak perempuan atau tujuh anak perempuan, dan saya tidak suka jika saya menikah dengan orang yang sepadan dengan mereka, namun saya lebih suka menikah dengan wanita yang bisa mengurus mereka dan bisa membuat mereka baik. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Semoga Allah memberkahimu." atau beliau mendo'akan kebaikan kepadaku". (HR. Bukhari no.5367 dan Muslim, no.715, lafadz ini adalah lafadz Muslim) - Sumber: salamdakwah.com

Sumber lain:
Apakah kamu baru saja menikah, Wahai Jabir?' Saya menjawab; 'Ya.' Beliau bertanya: 'Gadis atau janda.' Saya menjawab; 'Janda.' Beliau bertanya: 'Kenapa kamu tak menikahi gadis saja. Kamu bisa bermain-main dengannya & dia bisa bercanda denganmu.' Saya menjawab; 'Wahai Rasulullah, Abdullah telah meninggal & meninggalkan tujuh anak perempuan atau sembilan. Saya datang (menikahi istrinya) agar bisa mengurus mereka'. (Jabir bin Abdullah) berkata; Kemudian beliau mendoakanku. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, & Ka'ab bin Ujrah. Abu Isa berkata; Hadits Jabir bin Abdullah merupakan hadits hasan sahih. [HR. Tirmidzi No.1019]. (Sumber: mutiarahadits.com)

Sabda Nabi saw., "Innama‘l a’malu binniyat, wa innama likulli ‘mri‘in ma nawa" yang artinya 'Sesungguhnya perbuatan itu bergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkannya.'

Jabir menikahi seorang wanita janda dengan niat menghadirkan pendidik yang bisa membimbing dan mengayomi saudara perempuannya. Sungguh niat yang mulia. Ini adalah cerita cinta yang diukir dengan sadar, bukan cinta yang terkisah karena terjatuh. Betapa indahnya jika mendapat istri yang bisa menjadi pendidik bagi anak sendiri, anak saudara, dan anak-anak umat islam.

Berikut hadits tentang niat:
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits) - Sumber: muslim.or.id

Bagaimana dengan pembaca yang belum menikah dan sudah ingin menikah, apa niat kalian menikah?

baca juga: Rumah Abu Ayyub al-Anshari

Kisah Nyata: Tak Perlu Rumah Mewah atau Jabatan Tinggi

Kisah, Kisah nabi adam, kisah malam pertama, kisah 25 nabi dan rasul, kisah nabi yusuf, kisah nabi muhammad
Kisah Nyata. Pernahkah pembaca mendengar cerita pemuda atau pemudi yang sedang mencari jodoh dan berusaha memikat mangsanya dengan memamerkan penampilan, harta, atau jabatan, atau status sosialnya di masyarakat? Ada yang pamer sebagai anak ustadz, anak kyai, anak da'i, anak pejabat, atau anak konglomerat, bahkan ada yang pamer keturunan bule.

Berbagai usaha dilakukan demi hadirnya dewa cinta, demi memikat hati sang dewi cinta agar istananya tak sepi. Begitulah cinta. Bukan hanya soal cinta, urusan mencari teman, rekan bisnis, tim kerja pun juga tak jauh beda. Yang kaya, yang berparas menarik, tak jarang lebih mudah memikat.

Berikut cuplikan kisah terkait hal di atas.

Usai bersembunyi di Gua Tsur Rasulullah saw. dan Abu bakar ra. hijrah ke Madinah. Kaum muhajirin dan anshar, juga ibu-ibu Bani Najjar menyambut dengan suka cita kedatangan insan mulai cahaya bagi seluruh alam ini. Mereka dengan riangnya menyambut sang pujaan. Mereka menyanyikan lagu yang hingga kini terus dilantunkan.

Telah terbit bulan purnama
Dari celah bukit ke tengah-tengah kita
Kita wajib bersyukur senantiasa
Selama penyeru Allah masih ada

Wahai yang diutus kepada kami
Kau datang bawa perkara yang harus ditaati
Kau datang agungkan Madinah yang suci
Selamat datang, wahai sebaik-baik penyeru ilahi

Pembesar-pembesar Anshar berebut mendekati unta Rasulullah saw. Mereka ingin Rasulullah tinggal bersama mereka. Dipamerkannya kekayaan dan status sosial mereka agar Rasulullah tertarik. Diantara mereka ada paman-paman Rasulullah dari jalur ibu, dari Bani Najjar.

Akan tetapi Allah Maha Adil, Allah Maha Tahu mana yang pantas dan lebih berhak. Rasulullah saw. bersadba, "Biarkan unta berjalan, biarkan ia. Unta ini ada yang menuntun, dan aku akan tinggal di mana aku ditempatkan Allah nantinya." Jika dipandang dari status sosial, paman-paman Rasulullah tentu lebih berhak. Tetapi Allah Yang Maha Tahu menghendaki lain.

Unta Rasulullah berjalan disaksikan ratusan mata penuh harap dan rasa penasaran. Hingga akhirnya unta tersebut berhenti tepat di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari. Itulah rumah pilihan Allah untuk Rasul-Nya. Rumahnya tidak luas, hanya ada dua kamar: satu di lantai atas, dan satu di lantai bawah.Dindingnya lempung, tiangnya batang kurma, atapnya pelepah daun kurma yang rapuh.

Jika dibanding dengan para pemuka Quraisy yang berebut agar Rasulullah tinggal di rumahnya, siapalah Abu Ayyub al-Anshari. Ia sadar, tak ada yang bisa ia banggakan. Akan tetapi, siapakah yang bisa mencegah jika Allah sudah berkehendak memberi kepada siapa yang dipilih-Nya.

Kisah tersebut mengingatkan kita agar tidak sombong: sekaya apapun, betapapun mulianya di mata masyarakat, betapa pun tingginya status sosial kita, Allah memuliakan siapa yang Ia kehendaki. Hanya iman dan takwalah yang membedakan kita dengan muslim lainnya.

Sumber: Bilik-Bilik Cinta Muhammad, karya Dr. Nizar Abazhah

Cerpen: Wanita Cantik di Warung Bambu (2)

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta

...lanjutan dari... Cerpen Wanita Cantik di Warung Bambu (1)

Ada beberapa pemuda mengendarai motor besar berhenti tepat di depan kasir. Aku kaget, takut mereka pemuda nakal. Aku terdiam ketakutan. "Andi, Toni,dari mana?" Sofia keluar menyambut mereka. Syukurlah.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Toni.

"Nemeni mbakku. Ini warung mbakku." Aku keluar menyapa mereka. "Ini mbakku, wanita entrepreneur," kata Sofia.

"Cantiknya," kata Andi. Mungkin dia keceplosan. "Eh, maaf. Tidak sengaja." Aku hanya tersenyum.

Lalu mereka duduk di salah satu meja. "Tempatnya asri, alami, segar suasananya," kata Andi.

Warung ini berbentuk huruf L, dapur dan kasir berada di bagian huruf L yang pendek, menghadap ke utara. Tempat makannya beralas bambu dan berdinding anyaman bambu setinggi 0,5 meter. Samping kanan kiri warung ini masih dipenuhi pohon sengon dan rumput. Dari jarak 10 meter di belakang warung terdengar gemercik air sungai. Kalau sore ramai oleh kicauan burung-burung di dahan pohon.

Dari tempat kasir kuperhatikan mereka. Sepertinya mereka hanya teman, tak nampak kemesraan, tapi masih lebih mesra dibanding hubunganku dengan suami. Sesekali Toni sama Andi melirikku, segera kupalingkan pandangan. Tetapi tak nyaman rasanya berkali-kali terjadi. "Mbakmu cantik banget," walau samar-samar aku mendengarnya dengan jelas, entah suara si Andi atau si Toni. "Masku masih kuat...!!" sahut Sofia. Kulirik mereka. Toni sama Andi sedang memandangku. Lirikanku ketangkap lagi. Jika salah satu dari mereka adalah kekasih Sofia atau cowok idamannya, ini akan merusak hubunganku dengan sahabat baikku Sofia. Aku memilih ke belakang saja, menikmati suasana senja.

Hari-hari berlalu. Warungku sudah menghadirkana banyak cerita baru dalam hidupku meski hanya sebentar-sebentar saja aku mengunjunginya. Tetapi aku semakin tak mengerti hidup ini. Ada rasa bersalah bercampur bahagia dan menyiksa batinku. Aku wanita bersuami, sudah jadi ibu, tapi matanya masih jelalatan mencari cinta di warung bambu. Tetapi Tuhan, Engkau yang ciptakan cinta. Hamba menginginkannya. Andi dan Toni semakin sering berkunjung ke rumah. Aku yakin mereka tidak mengunjungi Sofia. Mereka selalu mengajak dua teman wanitanya, tapi itu bukan untuk pamer cinta di depanku. Mereka tak tampak mesra kok. Tuhan, apa mereka datang untukku? Tidak. Tidak. Tuhan, betapa hamba seperti orangn gila.

"Ibu ... Ibu nangis," aku kaget, Iva anak bungsuku memergoki aku di kamar dengan air.mata mengalir.

Aku berusaha tersenyum dan tertawa mencubit pipinya, "Tidak sayang. Sini gendong umi," tetapi anak ini tak mudah tertipu. Dia menghapus air mataku yang tersisa di pipi, lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku.

Kasihan anak-anakku. Mereka butuh kasih sayang ibu. Mereka butuh seorang ibu yang benar-benar mencintai dan menyayangi mereka, bukan wanita seperti aku yang sedang haus cinta lelaki. Seakan tanpa sadar aku melahirkan kelima anakku. Maafkan ibu, Nak. Kugendong dia. "Mi...," dia mengajakku keluar. Tangannya menunjuk ke Arah Sofia dan teman-temannya. Mungkin dia ingin aku bergabung dengan mereka bersenda gurau. Aku pun nurut.

"Adek...," sapa teman Sofia. "Gendong kak Rina, sini," Iva hanya memandanginya.

Aku mendekati mereka. Andi dan Toni memandangiku. Mereka tidak memandang anakku.

"Lucu ya. Sini sama kak Izah." Iva hanya tersenyum saja sambil merebahkan kepalanya di pangkuanku.

"Lagi sakit tah, Mbak?" tanya Izah padaku.

"Tidak. Lagi minta digendong saja. Biasanya minta diajak jalan-jalan kalau dah begini."

"Jalan-jalan sama kak Izah yuk," Izah mencoba mengambil Iva dari pangkuanku. "Ayo, gendong kak Izah." Iva pun nurut. "Nah, sini. Lucunya."

Air mataku hendakjatuh. Seakan aku wanita yang sangat kejam. Anak muda ini seakan lebih pantas menjadi ibu anakku. Rasanya aku belum pernah memanjakann anakku seperti itu. Aku segera ke dalam, melanjutkan tangisku. Sekilas kulihat si Andi memandangku. Mungkin dia tahu aku menangis. Aku menangis di kamar. Tetapi belum puas kutumpahan tangis, Iva memanggilku. "Umi...!! Umi...!!" terdengar suara Iva memanggilku. Tangis ini semakin jadi. Mereka tak boleh tahu. Cukup Tuhan yang tahu.

"Mbak," aku terkejut. Ternyata Sofia sudah duduk di sampingku dan merebahkan kepalaku di bahunya. Dia membiarkan aku menangis di dekapannya. Sofia memang sahabat terbaikku, sahabat yang mengerti aku.

Dia tidak menanyaiku kenapa aku menangis. Mungkin karena sudah terlalu sering melihatku menangis, atau diamku lebih dipahami olehnya? Di dunia ini tak ada orang yang mengerti aku melebihi Sofia. Tetapi, aku adalah wanita yang sedang berencana jahat terhadap kakaknya. Aku wanita yang sedang berencana menyakiti kakak dan orang tuanya. Aku wanita yang sedang berencana merusak kedamaian keluarga ini: demi cinta. Aku adalah wanita jahat budak nafsu.


...bersambung... Wanita Cantik di Warung Bambu (3)

Cerpen: Wanita Cantik di Warung Bambu (1)

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta

Cerpen. "Bagai lentera di malam kelabu. Kuhiasi hidup dengan senyum dan aku dikenal sebagai wanita paling ramah. Mereka senang melihatku. Mereka mengenalku sebagai wanita paling ceria. Terima kasih Tuhan telah Kau jadikan aku sebab bahagianya mereka."

"Tuhan, maafkan hamba. Cinta ini belum kuberikan pada siapa-siapa, bahkan tidak pada suamiku. Hanya Engkau yang tahu. Aku wanita pendamba cinta, tapi tak tahu pada siapa cinta ini harus kuberikan. Hari-hariku bagai mimpi, kujalani hidup di balik bayang-bayang keindahan cinta. Dunia ini bagai tak nyata."

"Mbak mau buka warung, Dek."

"Hah, apa? Mbak mau buka warung? Serius?!" adik iparku ini memang periang, wajahnya lucu dan gemesin, sikapnya ekspresif. Dia adalah teman, sahabat terbaikku. Dia selalu ada untukku. "Mbak mau jualan?!" tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil tertawa melihat ekspresinya. "Apa tidak dikasih belanja sama mas? Mbak, sawah dan kebuh luas, rumah mewah, mobil mewah, mau apa saja ada, ini punya mbak semuanya." Aku hanya tersenyum. Mungkin aneh menurutnya. "Kita ini keluarga terhormat. Kita mampu beli tanah sekabupaten." Aku tersenyum saja. "Kalau mbak mau, mba bisa dirikan restoran di tiap kota di Jawa Timur ini."

"Mbak hanya bosan aja di rumah terus."

Keluarga suamiku memang sangat kaya. Hartanya sudah tidak terhitung. Anaknya hanya dua: suamiku dan adik iparku, Sofia. Keluarga ini terhormat dan menjadi tokoh agama di desa ini. Mertuaku sebagai pengasuh sekolah madratsah ibtidaiyah. Suamiku alumni pesantren besar di Jawa Timur. Aku dipanggil "Nyai" oleh masyarakat. Mereka berhenti berjalan jika berpapasan denganku, berdiri menunduk sebagai penghormatan. Suamiku orang terhormat, banyak wanita mendamba untuk jadi istrinya, bahkan rela jadi istri kedua, ketiga, atau keempat. Entah apa maunya dia memilihku jadi istrinya, bahkan sekalipun dengan keras aku menolaknya dan hingga saat ini aku tidak punya cinta untuknya. Islam memang tidak menjadikan cinta sebagai syarat syahnya nikah. Dan menurutnya aku sudah menjadi istrinya yang syah meski tanpa cinta.

Aku menyerah begitu saja pada takdir, seperti air di sungai yang tak kuasa melawan arus kehidupan. 13 tahun sudah pernikahan ini dan masih bertahan tanpa cinta. Aku sudah sangat mengenal suamiku dan keluarganya. Memang tak ada yang menarik bagiku. Dia bukan pria yang kudambakan. Tuhan sudah menitipkan lima anak kepada kami: Sahrir, Fahri, Aulia, Risma, dan Iva. Mereka lahir tanpa cinta. Maafkan aku Tuhan.

Usiaku sudah 36 tahun, sudah menjadi ibu dari lima anak. Tuhan, Engkau Yang Maha Tahu, Engkau Yang Mencita dunia ini, Sang Pemilik segalanya. Jujur, aku mendamba cinta. Aku rindu pria pemilik cinta ini. Aku tak bisa menolak ingin ini, rasa ini mencahaya cerah di hatiku. Hampa tak berdaya olehnya. Tuhan, hamba ingin cinta.

***

Setiap sore aku berkunjung ke warungku. Kadang sendrian kadang ditemani anakku, kadang ditemani si Sofia mengendarai mobil. Ada tiga pelayan di sana: Bu Sani, Bu Daa, dan Bu Rahma. Mereka seperti keluarga baru yang sangat menyayangiku. Dan warunggku, meski hanya terbuat dari bambu, seperti istana yang dihuni seorang ratu, akulah ratu itu. Kunjunganku bukan untuk mengawasi mereka, tapi ingin menikmati suasana di luar rumah, barang kali kutemukan cinta sejati di sana. Aku juga membantu pelayanku menghidangkan makanan pada pembeli. Kadang cemburu hati melihat pasangan sangat mesra makan di warungku. 13 tahun menikah, belum pernah aku rasakan kemesraan seperti mereka. Pernikahanku tanpa cinta.

Terkadang aku sadar betapa diri ini durhaka pada suami, pada anak, pada mertua, juga pada orang tua dan pada semua orang. Sofia sudah cukup dewasa, dia sudah menjadi mahasiswa, usianya sudah 20 tahun. Meski tak pernah terucap dari lidahnya, tapi aku tahu dia memahami perasaanku. Dialah satu-satunya sahabat yang menjadi teman curhatku. Mungkin dia juga tahu kalau aku sedang berburu cinta ke warung. Dia sering memperhatikanku. Tetapi kasih sayangnya tak pernah berubah. Dia sahabat terbaikku.


Cerpen: Tak Tergantikan

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta

Cerpen. Masih teringat masa SMA dulu. Masih belum bisa kulupakan lawakan Pak Sukam, tukang parkir sekolah kita, yang tak pernah lucu, namun kita selalu berusaha tertawa. Itu saranmu, kan? Tentu kau masih belum lupa itu. Kamu memang sangat perhatian pada orang lain. Kau baik.

Nenek Supira, penjual bakso di kantin sekolah, yang hampir menjadi nenek kita sendiri. Beliau begitu baik. Tahun 2000, enam belas tahun lalu kenangan itu. Pagi itu, saat istirahat, kau lupa tidak membawa uang. Sebenarnya cinta belum hadir saat itu. Aku hanya terpesona kecantikanmu. Dan kupinjam uang pada teman-temanku, masing-masing Rp 1000,- hingga cukup untuk membayar semangkok bankso.

Kau berlebihan mengungkap terima kasihmu, dan kau kira aku cowok yang baik. Namun prasangkamu telah menyadarkanku dan aku berubah menjadi insan bermoral. Kutinggalkan perilaku buruk demi kamu. Lalu kuberanikan diri nyatakan cinta padamu dan kau terima aku. Jadilah kita sepasang kekasih.

Banyak pelajaran kudapat. Menjalin hubungan cinta ternyata tak gampang, jalannya tak selalu mulus. Kadang suka, kadang benci, kadang menjengkelkan, bahkan pernah ingin kutinggalkan kau, dan kita berjauhan sekian bulan. Tetapi masalah mendewasakan kita dan kita jalin hubungan lagi dengan jiwa yang lebih matang. Kau ingat itu kan?

Nenek Supira yang menyadarkan kita dengan kisahnya. Kulihat kau meneteskan air mata mendengar cerita itu. Aku pun tak tahan mendengarnya. Beliau sungguh bijaksana.

Tahun 2008 aku kenalkan saudaraku dengan kakak perempuanmu agar hubungan keluarga kita semakin erat. Dan mereka pun menikah. Pada pesta pernikahan mereka, kukenalkan kau pada semuau keluarga dan kerabat. Kau bagai menantu yang sudah resmi di rumah. Akan tetapi, seakan dunia terbelah saat ayahmu menolakku menjadi menantu. Entah apa sebabnya kau tak pernah cerita. Kau menikah dengan orang lain dan membuatku hampir gila.

Dalam frustasi aku bagai orang kalap yang lupa ingatan. Seakan aku benci perempuan dan ingin menyakiti semua perempuan. Tetapi iman menguatkanku dan kutenangkan diri. Kuikuti saran keluarga: segera cari ganti. Aku pun mendapatkannya, seorang wanita yang jauh lebih cantik darimu, yang baru beberapa menit kukenal. Kulamar dia dan segera menikah.

Ayu Afriliana, kenangan kita tak terlupakan. Kau tak tergantikan. Kau yang kucintai dengan niat yang lurus, dengan cinta yang penuh kesadaran, bukan cinta yang lahir dari nafsu sesaat. Cinta kita sudah berkali teruji dan kokoh. Sayang, kini kau jadi istri orang. Dan aku menikahi wanita yang sama sekali tidak kukenal kecuali wajahnya yang cantik, entah apa niatku menikahinya, kecuali hanya membalas sakit hatiku.

Cerpen: Mimpi Besar Sang Peternak

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta

Cerpen. "Tes, satu, dua... tes, suara dicoba. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," terdengar salam dari loud speaker musholla milik Pak Haji Latif. "Bismillahirrahmanirrahim, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, telah meninggal dunia seorang pemuda tampan, sopan, baik hati dan tidak pelit... ...," orang-orang yang sudah tak sabar menunggu nama siapa yang meninggal mendadak tertawa. Pasalnya, aneh, menyiarkan berita kematian kok pake nyebut 'tampan, sopan, baik hati dan tidak pelit' banyak orang yang marah, "Siapa yang nyiarkan itu, kok begitu...!! Main-main...!! Kurang ajar...!!" kata Pak Sakir. "Mati beneran tah?! Kok ngawur...!! Kok suaranya kayak orang tua?!" tambah Pak Saiful geram.

Tak lama kemudian datang Pak Salim. "Pak Rahbini tidak beres," katanya. "Dasar orang stres, sinting...!!" Orang-orang menanggapinya dengan gelengan kepala. Pak Rahbini, sebenarnya, orang baik, tapi sejak empat bulan lalu dia suka berbuat yang aneh-aneh. Berawal waktu sholat maghrib di musholla. Tiba-tiba dia berdiri di tempat imam. Pak Haji Latif yang sudah biasa jadi imam membiarkannya dan berdiri di belakangnya jadi makmum.

Pada rakaat kedua orang-orang kaget dan bingung, setelah membaca surat Al Fatihah dan disahut Aamiin oleh jamaah, Pak Rahbini tiba-tiba menyanyikan lagunya Rhoma Irama, "Hanya gitar tua ini, yang menjadi saksi, saksi cintaku padamu, cintamu padaku," katanya dengan lagu mirip Rhoma Irama. Semua seketika berhenti sholat. Pak Haji Latif tercengang. Semua jamaah saling pandang, tak mengerti apa yang terjadi.

Satu minggu kemudian, pas hari Jumat, Pak Sarbini merebut mikrofon yang dipegang khotib dan bernyanyi lagu Indonesia Raya. Padahal masjidnya berada di desa sebelah. Orang-orang sekampungnya segera menghentikannya. Penduduk di sekitar masjid tidak tahu tentang Pak Sarbini. Diantara mereka ada yang marah, tetapi segera dijelaskan oleh tetangganya.

***
Jalanan di desa ini sangat indah dipenuhi tumbuhan menghijau. Jika memandang ke arah timur di pagi hari, indah hamparan sawah menghijau bertepi gunung berwarna kemerahan sinar matahari pagi. Tanaman bunga juga tumbuh menghiasi dengan beragam warna. Desa ini tak banyak penghuninya, hanya ada 20 rumah sederhana. Penduduknya hidup dari hasil pertanian dan ternak. Tak ada yang menarik dari desa ini selain kealamiahannya. Tak seperti kehidupan di kota dengan sekelumit permasalahan. Suasananya tenang dan damai, tak ada bising, tak ada polusi. Segar udaranya. Airnya jernih, keluar langsung dari mata air.

Saman adalah keturunan orang kaya, terkaya di kampungnya, tetangga dan neneknya yang cerita. Tetapi semua itu sudah tinggal kisah. Sudah tidak tersisa, kecuali ceritanya saja. Namun, Saman merasa bisa mengembalikannya. Ia yakin dirinya memiliki keistimewaan. Dalam dirinya mengalir darah manusia luar biasa. Dia bandingkan semua tetangganya dengan dirinya. Ada beberapa yang setara kekayaannya, bahkan ada yang lebih kaya dari dirinya, namun tidak terlalu jauh selisihnya. "Istriku harus lebih cantik dari istri semua pria di kampung ini," batinnya.

Ia pun seketika berubah menjadi pemuda yang pekerja keras, lebih semangat dari semua pria di kampungnya. Semua itu demi reputasi, agar ia menjadi yang terkaya. Jika yang lain sudah pulang dari sawah atau dari penggembalaan, Saman masih bertahan meski hanya merancang strategi pengembangan usaha. Dia juga mulai mengurangi pengeluaran. Saat teman dan tetangganya membeli sesuatu, ia tidak tertarik untuk menirunya, kecuali barang yang dibutuhkan saja. Ia ingin terus menambah jumlah sapinya hingga banyak. Dengan begitu, hasil ternaknya akan meningkat.

***
Sulastri adalah gadis tercantik di kampungnya. Semua pemuda mendambakannya. Sudah banyak yang melamarnya, tapi ditolak. Saman belum melamarnya meski suka, ia merasa tak pantas mendapatkannya. Tetapi kini ambisinya membara lagi. "Aku bisa...!!" batinnya. "Tidak lama lagi aku akan menjadi yang terkaya di kampung ini." Tetapi secepat apapun tidak secepat detik jarum jam, mungkin butuh satu tahun atau lebih. Ia khawatir ada pria yang mendahului.

Pagi ini Saman berkunjung ke rumah Pak De-nya yang ahli ilmu perdukunan di desa Sumpilan, kecamatan Cerme. Desa tersebut berada di pinggiran Kabupaten Bondowoso, berbatasan dengan hutan yang juga merupakan batas paling barat Kabupaten Banyuwangi. Sapinya ia serahkan pada Sutomo, pemuda yang biasa menjadi suruhan orang-orang dengan upah tetentu.

Daerah tersebut merupakan daerah pegunungan. Jarak satu rumah ke rumah lainnya berjauhan, bahkan ada yang berjarak 2 kilometer dengan tetangganya. Kadang cuma ada tiga rumah dalam satu komplek. Jalannya menyusuri tebing, naik turun. Dengan mengendarai motor trail Saman terus memacu motornya menantang jalanan yang cukup sukar dilalui.

Akhirnya ia tiba di rumah Pak De-nya, berada tepat di tepi hutan bersama tiga rumah lainnya. Rumahnya berdinding anyaman bambu. Bagian depannya tidak berkaca, hanya berbatas anyaman bambu setinggi 1 meter. Tidak ada kursi di ruang depan, melainkan tikar untuk para tamu. Saman memberi salam. Ada 12 orang di ruang depan. Mereka pasti tamu Pak De-nya. Saman menyalami mereka semua lalu masuk ke ruang tengah. Semua orang kaget, bertanya-tanya siapa pemudua itu.

"Pak De," sapa Saman.

Pak De-nya yang sedang mengobati pasiennya kaget dan menolehnya. "Eh, kamu, Man. Sama bapakmu?"

"Sendirian, Pak De. Saya tak ke belakang Pak De."

"Iya, ada Bu De-nya di belakang."

Usai sholat duhur para tamu sudah pulang. Saman, Pak De dan Buk De-nya duduk di ruang depan. "Pak De, Saman minta tolong."

"Minta tolong apa? Mau lamar perempuan?" ledeknya.

"Pak De tahu aja."

"Anak mana, Man?" tanya Bu De-nya.

"Tetangga, Bu De."

"Anaknya siapa?"

"Itu, anaknya Pak Salim yang nomor dua."

"Yang katanya jadi idaman pemuda sekampung itu?"

"Iya, Pak De. Makanya, pake pelet super Pak De. Kalau perlu yang Pak De pake buat Buk De dulu."

"HahahaHHahahaha...," Pak De-nya tertawa. "Kalau mau pake yang itu, cintamu harus benar-benar kuat."

Bu De-nya sewot, tapi tersanjung. "Awas loh, Man. Jangan mainin anak orang," nasehatnya.

"Pasti Buk De. Insya Allah Saman lebih penyayang dari Pak De."

"Buktikan itu."

***
Saman melakukan ritual sebagaimana yang diperintahkan Pak De-nya. Katanya setelah tiga minggu akan terlihat hasilnya. Sudah satu minggu Saman melakukannya, masih kurang dua minggu lagi. Siang hari Saman puasa, katanya agar tambah mantap jami-jampinya.

"Assalamualaikum, Man."

Saman kaget, tidak mengenal yang memberi salam padanya. Dia seperti bintang film di TV bersama wanita sangat cantik dan berpenampilan sangat menarik. Sulastri tak ada apa-apanya dibanding dia. Saman terpana oleh kecantikan wanita itu. "Waalaikumsalam," jawabnya. "Kamu?"

"Ini aku, Buaman."

Saman kaget. Tidak nyangka anak miskin itu sekeren itu sekarang, istrinya ditemani cewek cantik lagi. "Baru pulang dari Malaysia?"

"Iya, baru sampek."

"Istrimu?"

"Iya."

Cinta untuk Sulastri memudar dan hilang. Saman masih terbayang wajah istri Buaman. Malam sudah larut, sudah sepi. Saman belum bisa tidur, "Aku harus mendapatkan wanita yang lebih cantik dari istri Buaman," batinnya.

***
Tiga tahun berlalu. Usaha Saman sudah tampak hasilnya. Ia ternak burung dan sukses. Usaha ternak sapinya juga bekembang bagus. Saman yakin itu semua berkat wirid sholawat nariyah yang diijazah oleh Pak De-nya. Saman sudah menjadi yang terkaya di kampungnya. Tetapi sayang, belum ada wanita yang ia pilih untuk jadi pendampingnya. Ia ingin yang tercantik.

Tetangganya banyak yang iri melihat kesuksesan Saman. Bahkan Buaman yang pernah kerja ke Malaysia kalah. Wajar jika ia mencari wanita yang sempurna kecantikannya. Tetapi, pencarian cinta Saman tak seperti kisah Arjuna. Kata tetangga Saman disantet Pak Firdaus, tetangganya yang iri padanya. Saman meninggal dunia.

baca juga: Kisah Cinta Ustadz Tugas
Powered by Blogger.

Blog Archive

 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT