Wednesday, 25 February 2015

Pura-Pura Tanya Tugas Kuliah Padahal Suka







_____________________________________________________________________________
"Lin, u gi pa?"

Lebih dari lima kali sms semacam itu masuk ke nomor HP lina dan dari nomor yang sama, tentu dari orang yang sama. Kadang Lina merasa kesal, tapi ada manfaatnya juga karena yang sring ditanyakan adalah tentang tugas atau tentang mata kuliah. Lina jadi lebih rajin belajar. Tetapi, tetap saja baginya itu terlalu sering. Ya, terlalu.

Lina membalasnya, "Gk ngapa2in."

"U paham ttg Conditional Sentence?"

Cerita Fiksi, Cerita romantis, cerpen cinta romantik, cerpen romance,


Lina membaca sejenak, lalu meletakkan hapenya. Tidak mungkin mahasiswa serajin dia tidak paham materi "Conditional Sentence". Anak SMP saja sudah banyak yang paham. Ia memejamkan mata, sedang malas untuk mengerjakan sesuatu. Dia ingin bersantai saja. 

"Tut Ting Tut Tut, Tet"

Hape Lina berdering lagi. Tetapi ia sudah bisa menebak si pengirim pesan. Sedang banyak yang ia pikirkan: organisasi, karir, masa depan, jodoh, dll. Ia ingin sekali bisa berkontribusi untuk negeri, bisa memberi sesuatu yang berarti. Tentang jodoh, ia sangat khwatir, mungkin terlalu berlebihan. Hampir tidak pernah ia temui cowok yang baik, yang memenuhi kriterianya.

Hapenya berdering lagi, kali ini telpon masuk. Tanpa ia lihat, langsung ia matikan. Ia teringat ustadz muda di kampung tempat ia KKN tiga bulan lalu. Luar biasa semangatnya, meski tidak pernah belajar di sekolah formal, tapi kegemarannya membaca dan keahliannya berbahasa Arab membuatnya kaya ilmu. Kepeduliannya terhadap anak-anak patut diacungi jempol. Waktu KKN Lina belajar bahasa Arab padanya. Ia jugau pandai sekali buat puisi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Arab.

***
"Lina, tunggu!"

Lina sudah sangat hafal siapa yang manggil dan apa maunya. Tetapi ia hargai, ia tunggu dia. 

"Aku boleh pinjam buku linguistiknya?"

Padahal buku yang dimaksud masih ia pinjam dan belum dikembalikan. Tetapi Lina pura-pura sudahh ia pegang, "Dipinjam teman."

"Ow. Kalau buku statistik?"

Lina menghela nafas. "Ada. Ayo ambil di kontrakan."

"Sip," Dicky senang sekali.

Sambil berjalan berdua menuju parkiran Dicky mengajak Lina ngobrol. "Rina itu teman SMA-mu ya?" entah sudah yang keberapa kalinyay pertanyaan itu dilontarkan. Lima iyakan saja tanpa menolehnya. "Dia cantik ya." Lina tidak terlalu menggubrisnya. 

***
Semua berubah. Tak ada lagi yang suka gangguin hari-hari Lina. Sudah dua bulan Dicky tidak lagi mengganggunya. Padahal, kadang ia tunggu sms-nyay seperti dulu, telponnya yang sring tanya hal-hal tak masuk akal. Semua tentang perilaku uniknya hilang.

"Aku kok tidak pernah lihat kamu sama Lina lagi?" tanya Rama.

"Tidak kenapa-kenapa."

"Putus?"

"kapan pacarannya? Aku sama dia itu tidak ada hubungan apa-apa."

"Ow. Eh, kalau boleh tahu, dia udah ada yang punya, belum?"

"Setahuku masihh single."

"Wah, sip. Langsung tak lamar aja."

"Hah...!! Apa?! Mau melamar?"

"Iya, kenapa? Kamu cemburu?"

"Tidak, tidak. Siapa yang cemburu. Aku udah punya."

"Ow. Nanti tak bilang ke dia."

Lina baru selesai kuliah. Rama melihatnya. "Itu dia. Lewat sini ya?"

"Iya."

"Tunggu sini aja."

Dicky tidak percaya Rama begitu entengnya bilang begitu. Padahal, Dicky sudah lebih duau tahun berusaha dekati Lina. Rama, belum apa-apa, sudah bilang mau melamarnya.

"Lin, aku ada perlu," Rama memanggil Lina yang sudah hampir mendekatinya.

Dicky diam saja, bersikap dingin. Lina meliriknya sambil mendekati Rama.

"Duduk sini."

Ia duduk di samping Rama, Dicky di sebelahnya. Dia di tengah.

"Lin. Aku suka sama kamu."

"Lina kaget."

"Aku pamit dulu," ia mau pergi.

Tapi Rama mencegahnya. "Aku serius. Aku mau melamarmu. Tidak hanya menjadikanu pacar. Menikahi lebih terhormat."

Lina terdiam. Bingung. Ia menunduk.

"Kalau boleh, sekarang jugau aku ke rumahmu."




Mata Dicky memerah.
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment