Tuesday, 24 February 2015

Dosenku Tak Lebih Pintar Dariku







_____________________________________________________________________________
"Lihatlah saudara-saudara kita di desa. Adik-adik belia yang masih begitu muda usianya, harus bergelut denan cangkul dan lumpur. Tak kenal aksara. Buta jalan hidup. Kita sebagai mahluk intelektual wajib hukumnya membantu mereka. Kalau ada orang berilmu yang pura-pura tidak tahu, sungguh terlalu!"

Cerita Kampus, Cerita Mahasiswa, Cerita Fiksi, cerpen baru, cerpen Indonesia, contoh cerpen bahasa indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia,


Faiz mendengarkan dengan khusuk. Ceramahnya luar biasa: membuka hati yang tertutup, membuka jendela dunia yang tak nampak. Dirinya sudah semester dua. Sudah banyak ilmu yang ia dapatkan, baik di sekolah juga satu semester di kampus. Sudah banyak keahlian yang ia miliki.

"Kalau bukan kita, kaum intelektual, yang memikirkan nasib mereka, siapa lagi? Pemerintah? Mereka sibuk rebutan kursi, tengkar-tengkar saja."

Faiz tersenyum. Bagaimana dengan dosen, pikirnya. Mereka gurunya kaum intelektual, mereka kaya, banyak harta. Apa mereka sebenarnya orang yang berkemampuan di bawah standard? Kok tidak ada peduli-pedulinya sama yang lemah? Sukanya hanya ngasih tugas.

***

Faiz merenung. Senja sudah meraja siang. Akulah pahlawan. Batinnya. Ia menyusun konsep perjuangan. Aku siap belajar keras untuk membantu mereka yang kurang mampu. Ia tulis ilmu-ilmu yang akan ia pelajari, ilmu yang bermanfaat, bukan ilmu yang hanya untuk dapatkan ijazah. Aku sendiri yang akan bergerak menolong mereka.

Ada suara motor datang. Faiz keluar melihatnya. Ardian, teman kajiannya, bersama istrinya. Ardian seangkatan dengan Faiz. Akhir emester satu ia memutuskan untuk menikah demi menyempurnakn agamnya. Meski belum punya penghasilan tetap, ia nekad dengan keyakinan Tuhan tidak membiarkan hambanya. Ia yakin dengan menikah, rizkinya akan bertambah.

"Wah, tambah romantisi saja. Masuk." Faiz mempersilahkan mereka masuk. "Dari mana?"

"Dari kontrakan. Tidak ada acara kan?"

"Tidak ada."

"Ow, takutnya mengganggu."

Ardian melihat buku Faiz yang terbuka di meja. Ia baca. Faiz membiarkan saja ia membacanya. "Wah, luar biasa nih," puji Ardian. "Siap jihad ya."

"Insya Allah," sahut Faiz.

"Sudah hampir maghrib."

"Sholat di masjid sebelah aja."

Malam tiba. Mereka menunaikan ibadah di masjid sebelah.

"Jamaahnya kok begitu ya," kata Ardian. "Tidak teratur."

"Imamnya juga tidak tegas."

"Tugas kita untuk merubahnya."

"Benar."

"Saya tidak lama-lama, ada urusan habis ini. Mmm... Kalau ada kelebihan uang, bisa saya pake dulu."

Faiz tersenyum. Tugas semua orang saling membantu. Sebenarnya, ia sendiri juga sedang butuh uang, tapi tidak apa-apa lah, ia berikan pada Ardian. Ia mau coba pinjam ke sahabat yang lain untuk kebutuhannya. Ia hanya menyisakan sejumlah harga nasi bungkus. Artinya, untuk sarapan besok, ia harus cari pinjaman.

Rupanya Faiz sedang apes. Tak satu pun dari temannya yang bisa meminjaminya uang, padahal besok ia banyak kegiatan fisik. Butuh tenaga ekstra. Akhirnya ia pun menghubungi orang tua agar segera dikirimi uang dengan alasan butuh tambahan buku dan uang praktek. Tuhan tidak membiarkan. Seharusnya ia puasa, itu lebih ksatria, tapi ia lebih mengutamakan tanggungjawabnya. Ini bukan soal aku mampu atau tidak beraktivitas saat puasa, tapi soal maksimal atau tidaknya aku menunaikan amanah. Tidak salah pilihannya, dari pada ia tidak maksimal menunaikan amanahnya, orang banyak yang akan dikecewakan.

***
Tak terasa, Faiz sudah semester 7, sudah mendekati akhir. Tetapi, faktanya tidak begitu. Faiz banyak tertinggal. Ia lebih memilih aktivitas organisasi dibanding kulliahnya. Baginya, datang ke kelas untuk mendengar ceramah dosen itu mubadzir, hanya buang-buang waktu. Ia memilih untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Masih ada separuh SKS yang belum ia tempuh. Begitu juga dengan Ardian dan istrinya.

"Assalamualaikum, Faiz," Gilang menyapanya.

"Walaikumsalam. Bagaimana kabar?"

"Aku yang seharusnya tanya kabar, lama tidak lihat. Kemana? Cuti?"

"Tidak. Lagi sibuk aja. Banyak kerjaan yang lebih penting. Kamu, sudah mau skripsi?"

"Alhamdulillah, sudah sampek bab 3, udah tinggal penelitian."

"Cepet lulus ya."

"Amin, amin, amin." Ponselnya tiba-tiba berdering. Ia angkat telponnya, "Walaikumsalam." Faiz mendengar samar-samar suara penelpon Gilang. Mereka sedang berbincang soal bisnis, sepertinya bisnis besar, dan rencana pendirian sekolah gratis. "Saya ditawari kerja di perusahaan asing. Gajinya lumayan besar Rp 15 juta. Tak terima saja, biar bisa belajar bisnis besar di sana. Kalau 14 jutanya dibuat bantu keuangan lembaga, kan lumayan." Faiz merunduk. "Ah, perut saya kan kecil. Hanya butuh nasi sepiring. Saya usahakan segera lulus, begitu dapat ijazah, insya Allah, saya bisa langsung kerja dan dapat gaji."


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment