Cerpen: Jangan Jadi Sarjana Kertas

Cerpen. Ia cium tangan ayah ibu. Ramai sekali di luar. Begitulah orang-orang, katanya malaikat sedang melebarkan sayapnya memayungi mereka, karena Ardian sudah siap-siap berangkat cari ilmu. Harapan orang tua, ia jadi orang mulia, berilmu dan bermanfaat. Paling tidak ia mendapat kerja yang layak, bukan kerja kasar seperti pemuda kampung lainnya.

Tak satupun dari keluarganya, bapak, ibu, pak lek, pak de, bulek dan pak lek, kakak-kakak nya pun hanyay lulusan SD. Ardian adalah satu-satunya generasi di keluarganya yang akan merasakan belajar di perguruan tinggi. Banyak yang berharap ialah yang akan jadi pemimpin di kampungya, termasuk memimpin acara-acara keagamaan.

cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen

"Ian, gima, udah siap?" tanya Ferdi lewat telepon.

"Siap."

Ia sengaja meminta teman-teman SMA nya untuk tidak datang ke rumahnya, "Ketemuan di di jalan aja," katanya. Mereka naik motor semua. Sebenarnya, keluarga Ardian mau bawa mobil, ada banyak saudara dan tetangga yang mau ikut. Tetapi, Ardian tidak membolehkan. Menurutnya, itu terlalu lebbay, hanya malu-maluin di kontrakan.

Ardian berangkat. Semua melepas kepergiannya, ada yang meneteskan air mata, merasakan naungan sayap malaikat yang memayungi pencari ilmu.

***
"Buat apa kerja di perusahaan berkelas, jika hanya jadi babu. Lebih baik hidup dari usaha kecil tapi jadi bos untuk diri sendiri."

Sudah hampir separuh jalan Ardian menjadi mahasiswa. Ia banyak ikut organisasi dan menjadi pengurus di beberapa organisasi. Bahkan dia sudah biasa menjadi pembicara, bahkan motivator. Sudah tiga bulan ia tergabung di komunitas bisnis di kampusnya, bisnis jaringan alias MLM. Ia banyak mengikuti seminar motivasi dan sudah naik kelas menjadi motivator juga. Motivasinya, agar mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana kertas yang mengandalkan ijazah mencari kerja, melamar di kantor-kantor untu menjadi pegawai. Sarjana harus hidup mandiri, harus menjadi bos bagi dirinya sendiri. Begitu motivasinya.

"Nekad saja, sukses itu mudah, asal kamu mau action. Tidak punya modal, bisa pinjam, nekad saja. Temanku, anak teknik berani nipu orang tuanya, tapi demi kebaikan bersama. Ia bilang mau bayar uang praktek 1.500.000, sebulan kemudian ia kembalikan dengan jumlahh 10.000.000. Luar biasa kan."

"Iya, sih. Aku pikir-pikir dulu ya."

Rina memang tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis. Ketertarikannya pada anak-anak sudah nampak sejak ia remaja. I senang dekat dengan anak-anak. Ia senang mempelajari psikologi anak. Karena itulah ia memilih jurusan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Menurutnya, mahasiswa yang mencari alternatif di luar bidang yang ia tekuni adalah mahasiswa yang tidak yakin terhadap kemampuan dirinya, tidak punya prioritas, padahal untuk sukses itu perlu yakin dulu. Begitu kata para motivator MLM. Jika begitu, sudah benar Rina meyaini bahwa kesuksesan baginya adalah menjadi guru PAUD. Ia yakin itu. Jadi, tentu ia akan menolak ajakan untuk beralih pada bidang lainnya.

Ardian sering kali mengajaknya bergabung, tapi selalu dijawab dengan jawaban yang sama, "Kupikir dulu". Padahal, Ardian sudah bisa membuktikan, ia bisa menghasilkan uang banyak. "Sekarang kamu hasilkan itu, tapi apakah hidup hanya untuk mengumpulkan uang? Bukankah uang hanya alat pembayaran?" Nampaknya Rina juga agak kesal. Ardian paham itu. Rina menerka-nerka ada maksud lain selain ajakan berbisnis, dan baginya, Ardian tak istimewa. Menurutnya, hidup Ardian tak berprinsip, bergantung pada uang. "Semangat itu bukan karena akan mendapat banyak uang," katanya. "Apakah semua orang kamu ajak berbisnis? Menurutmu, tak perlu ada dokter? tak perlu ada guru? tak perlu ada politikus? tak perlu ada polisi? Begitu?!" Ardian diam saja. Ia memilih pergi meninggalkannya.

"Ditolak lagi, Bos?" tanya Rendy yang sejak tadi memperhatikan Ardian membujuk Rina.

"Biasa," jawabnya dengan wajah yang dipaksa-paksakan ceria. "Pergi dulu, Mas Bro."

"Yoi."

***
Semester 7

"Ian!"

"Eh, Arman. Gimana kabar? Lama tidak jumpa."

"Baik, baik. Gimana, udah skripsi?"

"Masih tinggal separuh. Nanti ajalah. Kamu?"

"Udah mau seminar. Tak usahain cepet, biar cepet kerja."

"Tidak tertarik bisnis?"

"Nantilah. Tunaikan kewajiban dari orang tua dulu. Orang tuaku sangat ingin aku jadi sarjana dan jadi guru."

"Memang ingin menjadi guru ya?"

"Iya, ingin hidup berjuang di dunia pendidikan. Nanti akan bisnis juga, perjuangan juga butuh support dana, tapi yang tidak mengganggu aktivitas di pendidikan. Kerja dan bisnis hanya untuk dapat uang, tapi hidup harus bermakna."

Cerpen: Pura-Pura Tanya Tugas Kuliah Padahal Suka

Cerpen. "Lin, u gi pa?"

Lebih dari lima kali sms semacam itu masuk ke nomor HP lina dan dari nomor yang sama, tentu dari orang yang sama. Kadang Lina merasa kesal, tapi ada manfaatnya juga karena yang sring ditanyakan adalah tentang tugas atau tentang mata kuliah. Lina jadi lebih rajin belajar. Tetapi, tetap saja baginya itu terlalu sering. Ya, terlalu.

Lina membalasnya, "Gk ngapa2in."

"U paham ttg Conditional Sentence?"
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen

Baca juga: Cerpen Idaman Cewek SMA

Lina membaca sejenak, lalu meletakkan hapenya. Tidak mungkin mahasiswa serajin dia tidak paham materi "Conditional Sentence". Anak SMP saja sudah banyak yang paham. Ia memejamkan mata, sedang malas untuk mengerjakan sesuatu. Dia ingin bersantai saja.

"Tut Ting Tut Tut, Tet"

Hape Lina berdering lagi. Tetapi ia sudah bisa menebak si pengirim pesan. Sedang banyak yang ia pikirkan: organisasi, karir, masa depan, jodoh, dll. Ia ingin sekali bisa berkontribusi untuk negeri, bisa memberi sesuatu yang berarti. Tentang jodoh, ia sangat khwatir, mungkin terlalu berlebihan. Hampir tidak pernah ia temui cowok yang baik, yang memenuhi kriterianya.

Hapenya berdering lagi, kali ini telpon masuk. Tanpa ia lihat, langsung ia matikan. Ia teringat ustadz muda di kampung tempat ia KKN tiga bulan lalu. Luar biasa semangatnya, meski tidak pernah belajar di sekolah formal, tapi kegemarannya membaca dan keahliannya berbahasa Arab membuatnya kaya ilmu. Kepeduliannya terhadap anak-anak patut diacungi jempol. Waktu KKN Lina belajar bahasa Arab padanya. Ia jugau pandai sekali buat puisi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
***

"Lina, tunggu!"


Lina sudah sangat hafal siapa yang manggil dan apa maunya. Tetapi ia hargai, ia tunggu dia.


"Aku boleh pinjam buku linguistiknya?"


Padahal buku yang dimaksud masih ia pinjam dan belum dikembalikan. Tetapi Lina pura-pura sudahh ia pegang, "Dipinjam teman."


"Ow. Kalau buku statistik?"


Lina menghela nafas. "Ada. Ayo ambil di kontrakan."


"Sip," Dicky senang sekali.


Sambil berjalan berdua menuju parkiran Dicky mengajak Lina ngobrol. "Rina itu teman SMA-mu ya?" entah sudah yang keberapa kalinyay pertanyaan itu dilontarkan. Lima iyakan saja tanpa menolehnya. "Dia cantik ya." Lina tidak terlalu menggubrisnya.


***

Semua berubah. Tak ada lagi yang suka gangguin hari-hari Lina. Sudah dua bulan Dicky tidak lagi mengganggunya. Padahal, kadang ia tunggu sms-nyay seperti dulu, telponnya yang sring tanya hal-hal tak masuk akal. Semua tentang perilaku uniknya hilang.


"Aku kok tidak pernah lihat kamu sama Lina lagi?" tanya Rama.


"Tidak kenapa-kenapa."


"Putus?"


"kapan pacarannya? Aku sama dia itu tidak ada hubungan apa-apa."


"Ow. Eh, kalau boleh tahu, dia udah ada yang punya, belum?"


"Setahuku masihh single."


"Wah, sip. Langsung tak lamar aja."


"Hah...!! Apa?! Mau melamar?"


"Iya, kenapa? Kamu cemburu?"


"Tidak, tidak. Siapa yang cemburu. Aku udah punya."


"Ow. Nanti tak bilang ke dia."


Lina baru selesai kuliah. Rama melihatnya. "Itu dia. Lewat sini ya?"


"Iya."


"Tunggu sini aja."


Dicky tidak percaya Rama begitu entengnya bilang begitu. Padahal, Dicky sudah lebih duau tahun berusaha dekati Lina. Rama, belum apa-apa, sudah bilang mau melamarnya.


"Lin, aku ada perlu," Rama memanggil Lina yang sudah hampir mendekatinya.


Dicky diam saja, bersikap dingin. Lina meliriknya sambil mendekati Rama.


"Duduk sini."


Ia duduk di samping Rama, Dicky di sebelahnya. Dia di tengah.


"Lin. Aku suka sama kamu."


"Lina kaget."


"Aku pamit dulu," ia mau pergi.


Tapi Rama mencegahnya. "Aku serius. Aku mau melamarmu. Tidak hanya menjadikanu pacar. Menikahi lebih terhormat."


Lina terdiam. Bingung. Ia menunduk.


"Kalau boleh, sekarang jugau aku ke rumahmu."

Mata Dicky memerah.

Cerpen: Ayahku Tidak Punya Moral

"Kamu tidak ikut demo?"

"Demo apa?"

"Protes kinerja pemerintah."

"Orang tuaku saja masih belum benar perilakunya, kok mau protes pemerintah."

"Ngaco loh, orang tua dibilang begitu!"

"Kenyataannya begitu. Kita harus lihat kenyataan, Bro. Orang terdekat saja belum dibenahi, kok malah ngurusin yang jauh."

"Aneh lho. Hati-hati dengan orang tua. Keramat."

cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen


Dimaz aktif di organisasi kampus. Ia menjabat seabgai pengurus bidang humas. Tetapi, ia mungkin satu-satunya aktivisi kampus yang tidak pernah ikut demo. Katanya, itu hanya buang-buang waktu. Katanya, itu hanya mengganggu orang lewat di jalan. Katanya itu bukan cara orang berilmu. Ia belajar berfikir kritis di organisasi, dan bahkan bukan hanya mengkritisi orang lain, tapi dirinya dan organisasinya pun ia kritisi, bahkan orang tuanya pun.

Menurutnya, orang tuanya tidak bermoral. Perilakunya tidak berprinsip. Menurutnya, orang tua seharusnya lebih bermoral dari anak muda, lebih bijaksana bersikap. Padahal, dulu dia yang dididik, bahakn dipukul kalau nakal.Sekarang,dia sudah banyak ilmu,sudah paham tentang nilai dan moral. Sekarang berbalik, ayahnya yang ia anggap tak bermoral.

"Kamu kok sering melamun, Bro?"

"Mikir keluarga, ortu."

"Kenapa?"

"Yaa, begitulah. Kehidupan mereka memburuk. Sering tengkar. Sama tetangga juga tidak baik."

"Namanya juga orang tua. Pendidikan mereka tidak seperti kita."

***
 "Mau kemana, Dim?"

"Pulang."

"Besok, tidak kuliah?"

"Cuma ambil uang di rumah."

"Minta orang tuamu?"

"Tidak. Minta bupatiku."

Reza tersenyum mendengar jawaban Dimaz. "Okay, hati-hati, Bro. Salam sama ortu, ya."

"Insya Allah."

Cerpen: Aku Mahasiswa, Sudah Jadi Idaman Cewek SMP dan SMA

"Mana si Udin?"

"Keluar."

"Tiap pagi mesti keluar."

"Siang juga."

"Jadi tukang ojek?"

"HahAHAhahaha... Ngawur, Lo, dia itu anak pengusaha kaya di kampung."

"Iya, becanda. Ngojek pacarnya, maksudku."
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen

Kelas 2 SMP awal rasa cinta bersemi di hati Udin. Ia jatuh cinta pada kakak kelasnya, Ria, yang juga masih satu kampung, anak Pak KASUN. Tetapi, ia gagal mendapatkannya. Katanya Ria terpikat sama anak SMA. Ada juga yang bilang, Ria diguna-guna sehingga jatuh cinta pada anak SMA itu. Tapi dugaan terkuat, Ria bangga bisa dapatkan cowok SMA.

Udin tidak mungkin pacaran sama anak SD, bisa apa, pikirnya. Mau hidup nge-jomblo, malu. Anak orang kaya kok hidupnya setara dengan anak orang miskin. Di sekolahnya, anak gaul harus punya pacar. Ia pun terpaksa macarin si Muna, lumayan cantik untuk dibawa keluyuran, meski ia tidak suka. Bisalah buat tambah hiasan motornya yang keren, pikirnya.

Ketika SMA, nasib sial masih setia bersamanya. Gadis idamannya pacaran sama anak kuliahan, mahasiswa di kampus berkelas. "Adik kelas banyak yang cantik, Bos," Ricko memberanikan diri usul. Tapi, Udin tak menggubrisnya. Tetapi, lagi-lagi, karena ia tidak punya gebetan, akhirnya pun seadanya. Ia macarin adik kelas yang dianggap paling cantik oleh cowok sak sekolahan.

"Mas, makan siangnya dimana?"

Pacar Udin sangat manja, tapi Udin senang. Sudah sekian lama ia apes terus. Sekarang ia bisa membuktikan bahwa ia bisa macarin gadis-gadis SMA, kalau perlu semua gadis tercantik di tiap SMA akan dia pacarin. Ia dendam pada masa lalu yang kelam.
***



3 Tahun kemudian


Udin membawa pacarnya ke kontrakannya. Ia ingin nunjukin kehebatannya pada Adrian dan Salman, teman sekontrakannya, bahwa dia bisa macarin cewek cantik dan berkelas. Mereka berdua kaget melihat Udin bawa anak SMA masih lengkap dengan seragamnya. Apalagi tingkahnya ... Wah ... luar biasa.


"Pacarmu, Din?" tanya Adrian yang lagi mandiin motornya di teras depan.


"Memangnya pacar siapa?"


"Cantik, Din," tambah Salman yang lagi ngasih makan burung kenarinya di samping. "Masih unyu-unyu."


"Iya, mantap itu," sahut Adrian. "Jangan kayak Salman, sukanya sama tante-tante."


"Tante lebih matang, Cuy. Servicenya mantap"


"Iya, wong anak SMA dah kamu dicicipi semua. Udah bosan."




"Ah, kan bagi-bagi sama kamu juga dulu."
***

10 tahun kemudian


"Kamu belum nikah, Din?" tanya Adrian lewat chat di Whatsapp.


Udin tidak segera menjawab. "Belum dapat yang cocok," jawabnya.


"Nyari yang kayak apa? Jangan cari anak SMP, Din. Kelamaan nunggu kamu. Kecuali dia mau berhenti sekolah."


"Ceritanya berubah, Kawan."


"Maksudmu?"


"Entahlah. Aku jadi bingung."


Dulu waktu masih sekolah atau watu masih kuliah, Udin pacaran agar tidak malu sama teman-temannya, agar dibilang cowok hebat juga. Sekarang, teman-temannya sudah pada hidup sendiri-sendiri. Mereka sudah sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Sudah sibuk dengan keluarga masing-masing. Tidak mungkin rasanya bagi Udin menikahi wanita untuk dipamerkan ke teman-temannya. Istri itu kan tidak sama dengan pacar, tidak bisa ditinggal begitu saja. Kalau mau ditinggal harus cerai ke pengadilan.


Kadang ia juga mikir masa depan. Selama ini ia hidup dengan harta orang tua yang berlimpah. Tetapi sudh nampak sekali usia orang tuanya. Sudah sakit-sakitan. Mau melanjutkan usaha orang tua, ia tidak pengalaman. Mau kerja sesuai bidang studi yang ia pelajari di kampus, sudah lupa semua ilmunya. Apa lagi dulu memang tidak tahu apa yang diajarkan dosen.


"Aneh. Hidupmu kan tidak repot, Din. Perlu apa, tinggal beraksi."


Udin tersenyum saja. Dulu hidup begitu menarik buatnya. Sekarang, seakan hidup itu tidak ada perlunya. Tetapi, ia juga belum ingin mati, tapi ngapain juga hidup.


"Iya, sih..."



Cerpen: Dosenku Tak Lebih Pintar Dariku

cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen
Cerpen. "Lihatlah saudara-saudara kita di desa. Adik-adik belia yang masih begitu muda usianya, harus bergelut dengan cangkul dan lumpur. Tak kenal aksara. Buta jalan hidup," ceramah pak dosen membius mahasiswa seisi ruangan. Kata-katanya seperti syair para pujangga. "Kita sebagai mahluk intelektual wajib hukumnya membantu mereka. Kalau ada orang berilmu yang pura-pura tidak tahu, sungguh terlalu!"

Faiz mendengarkan dengan khusuk. Ceramahnya luar biasa: membuka hati yang tertutup, membuka jendela dunia yang tak nampak. Dosen yang satu ini memang terkenal pandai bicara. Beliau sering tampil menjadi pembicara di acara-acara kampus.

"Kalau bukan kita, kaum intelektual, siapa lagi yang memikirkan nasib mereka? Pemerintah? Mereka sibuk rebutan kursi, kerjaannya tengkar melulu, pencitraan melulu."

Faiz tersenyum mendengarnya. Seakan ia berada di dunia lain. Pikirnya, pak dosen ini sangat luas wawasannya. Seumur-umur baru kali ini Faiz ketemu orang secerdas ini. Seperti malaikat pikirnya. Para kyai dan ustadz di kampung, yang ia tahu, tidak ada yang secerdas beliau. Beliau telah membukakan pintu dunia baru bagi Faiz dan ia telah memasukinya.

Tetapi ada tanya di benaknya. Pak dosen sibuk mengajar mahasiswa. Jadwalnyay padat. Beliau juga harus ngoreksi tugas-tugas mahasiswanya. Bagaimana beliau bisa meluangkan waktu untuk mereka orang-orang yang butuh uluran tangan kaum intelek? Membaca makalah yang dibuat oleh semua mahasiswanya butuh waktu yang lama, apalagi mencermati kekurangan dan kesalahannya. Atau makalah-makalah itu tidak dibaca oleh beliau? Masak langsung dibuang?

Faiz bergabung dengan salah satu organisasi pergerakan islam di kampusnya. Yang ia tahu, mereka sering mengadakan acara bakti sosial. Mereka sering terlibat dalam masalah-masalah sosial seperti membagikan daging kurban, pengobatan gratis, mengatasi korban gempa, hingga demo menolak pembukaan usaha tambang yang dinilai merugikan rakyat.

Faiz duduk di paling depan. "Kita yang muda tak boleh lemah, tak boleh malas...!!" Pekik kakak senior di hadapan para anggota baru yang sedang mengikuti diklat. "Tenaga dan pikiran kita dibutuhkan. Kalau perlu, nyawa pun kita relakan.,,!!" Faiz agak kaget. Seperti mau perang saja, pikirnya. "Kitalah agent of change, agen perubahan. Kitalah yang akan merubah keadaan negeri ini."

Faiz sudah resmi menjadi anggota baru, sudah dinyatakan lulus perekrutan meskipun sempat beberapa ketiduran saat menjalankan sholat malam karena tidak terbiasa. Satu yang terasa berat baginya: puasa. Tetapi ia harus membiasakan karena begitulah para senior mencontohkan.

Hari ini pertama kalinya ia ikut kegiatan sosial. Bakti sosial tersebut berupa pembagian pakaian muslimah dan sarung, serta uang. Sasaran bakti sosial tersebut adalah warga desa Tegal dan desa Silowangun. Faiz tahu dua desa tersebut. Tidak jauh beda dengan desanya.

"Kita bukan tidak toleran," kata kakak senior yang menjadi korlap. "Tetapi kegiatan kristenisasi di dua desa berpenduduk muslim tersebut dapat menyebabkan kerusuhan. Di sana banyak kyai, banyak ustadz. Jika kristenisasi dibiarkan, besar kemungkinan para pemuka agama, tokoh agama seperti kyai dan ustadz akan marah. Sehingga kerusuhan pun bisa terjadi."

Menurut Faiz itu benar. Seharusnya penyebaran agama itu kepada warga yang belum beragama atau kepada warga yang menganut agama atau kepercayaan yang mrugikan rakyat. Tetapi apa ada ya? Menurut cerita senior, sudah ada lebih dari 20 orang yang pindah agama di dua desa tersebut. 20 orang tersebut dikucilkan oleh warga yang lain, bahkan sempat dilempar batu hingga pecah kepalanya. Jika jumlah mereka semain banyak, bisa terjadi perang saudara.

"Maaf, Kak..." Faiz mencoba bertanya. "Apa kita juga akan menemui pimpinan umat kristiani?"

"Ow, tidak. Menyebarkan agama itu hak mereka. Itu kewajiban mereka. Ajaran agama mereka mewajibkan itu. Yang hendak kita lakukan adalah memberi pemahaman pada warga bahwa kita sebagai umat islam harus melindungi iman kita dari godaan-godaan yang merusak. Kita pahamkan pada mereka, bahwa iman tak boleh ditukar dengan harta. Kita tunjukkan pada mereka bahwa saudaranya yang seiman peduli pada mereka. Untuk itu kita harus sering membantu mereka."

Pikir Faiz, sebenarnya kita umat islam juga wajib menyebarkan ajaran agama islam. Kepada siapa kalau bukan kepada umat yang beragama lain? Umat kristiani juga kan? Dia mau tertawa. Rebutan umat, pikirnya.

Semakin lama di organisasi, semakin banyak kegiatan sosial yang diikuti oleh Faiz. Pengalaman itu telah merubah pandangannya. Bahkan ia merasa kegiatan belajar di kampus tak lebih berarti dibanding kegiatan sosial. Dan ia ingat ceramah dosen luar biasa yang kaya kata-kata indah. Faiz mempertanyakan beliau karena tidak pernah ikut dalam kegiatan bakti sosial. Dosen yang lain memang tidak ada yang ikut. Jangan-jangan beliau hanya pintar bicara, pikirnya.

Bersambung... Mahasiswa: Peran Sosial, Cinta dan Cita-cita

Cerpen: Salah Masuk Ruang Kuliah Ketemu Bidadari

Cerpen. Rian lagi asyik online dan diskusi serius di group Facebook "Curhatan lebbay Bin Alay". Postingannya mendapat 250 komentar, termasuk balasannya. Kualahan ia membalas semua komentar hingga semakin ngawur komentarnya, tapi malah semakinn banyak yang komentar. Ia geletakkan badannya, sepertinya agak lelah. Ia biarkan saja thread-nya dikomentari. Wajahnya ia tutupi topi.

Jam sudah menunjuk angka 08.47, berarti 13 menit lagi Rian harus berada di ruang kuliah dan menyerahkan tugas kuliahnya. Tetapi ia lupa. Ia bangun dan mengambil ponselnya di meja. Ada beberapa foto mahasiswi yang ia foto tanpa permisi. Ia lihatin satu-satu.

"Hah..!!" Ia kaget. Ingat. "Tugas?! Sekarang!"

Jam sudah 08.53. Tanpa mandi, ia langsung pake baju, ambil tas dan lari ke kampus. Beruntung konttrakannya di samping kampus. Namun telat, teman-temannya sudah masuk. Ia pun langsung masuk ruang 1.3 dan duduk di deretan nomor dua.
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta, cerpen singkat

Pak dosen memandanginya. Rian merasa aneh. Ia tidak kenal dosen yang menatapnya. Belum pernah diajar beliau. Ia menoleh teman-teman sekelasnya. Tidak satu pun yang ia kenal. Rian merasa malu, tapi nekad saja diam sejenak. Barangkali dosennya akan menganggap ia memang mahasiswanya. Dan benar dugaannya. Pak dosen melanjutkan ceramahnya.

Sepertinya sudah aman. Rian ingin memastikan sudah tidak ada lagi mahasiswa di kelas itu yang memperhatikannya. Ia memutar pandangan lagi. Betapa terkejutnya dia, tepat di samping kanannya, seorang bidadari sedang memandangnya. Matanya indah. Tetapi Rian segera memalingkan pandangannya, takut ketahuan dosen. Ia tulis pin BBM di kertas, "Ini pinku, simpan ya." Lalu ia berdiri dan mohon pamit pada pak dosen. Pak dosen terlihat bingung. "Salah kelas, Pak," jelasnya sambil tertawa. Sontak seisi kelas tertawa.

Segera ia balik ke kontrakan, tidak jadi kuliah. "Kok sudah pulang, Bro?" tanya Firman, teman kontrakannya.

"Telat. Buru-buru masuk, tak tahunya salah ruangan."

"Loh... Kok bisa... hahHAhahahahHaa..." Firman, Dani, dan Luki tertawa.

"Tapi spesial, Bro."

"Apa?! Dosennya cantik?"

"Kamu, Dan! Incarannya kok dosen. Ketuaan lah. Tadi aku duduk di deretan bangku nomor dua. Hmm... ternyata, di sampingku itu ada cewek cantik. Tak kasih aja pin BBM. Semoga dia invite."

"Terlalu ngarep kamu! Sulit cari cewek cantik single, Bro. Apalagi wajah pas-pasan kayak kamu."

"Ngece, Lo. Jangan iri kalau aku bisa dapatkan dia."

***
Malam semakin sepi. Rian masih memandangi smartphone-nya, menunggu ada notifikasi invite di BBM-nya. Ia sudah mulai ngantuk. Teman-temannya sudah pada tidur. Ia menyesal tidak menunggu cewek itu selesai kuliah. Seharusnya Rian menunggu di depan kelas hingga ia keluar. Mau ke kampus sekarang, sudah sepi.

Akhirnya ia pun tertidur.

"Bro...!! Bangun, Bro...!! Dah siang."

Setengah sadar Rian mendengar suara Firman membangunkannya sambil mengetuk pintu. Langsung ia lihat smartphone-nya. Kecewa. "Masih ngantuk, Bro," jawabnya.

"Tidak kuliah?"

"Ntar, jam sembilan."

"OK."

Smartphone Rian berbunyi. Itu bunyi notifikasi BBM. Segera ia raih smartphone-nya. Langsung hilang ngantuknya. Ada satu permintaan dari seseorang dengan nama "Adiba Shakila Atmarini" dengan foto profil kelinci Angora English warna putih. Rian yakin dia cewek yang ia beri pin BBM di kelas itu. Langsung ia terima dan menyapanya, "Kamu yang di kelas itu? Yang saya beri pin BBM?"

Dia langsung membalas, "Hehe... iya," jawabnya. "Minat beli kelinci? Ni q mau jual dua ekor Flemish Giant."

Rian tidak mengerti soal kelinci, tapi ini kesempatan. Langsung saja ia balas, "Iya, berapa?"

"Rp 600rb, gan."

Rian kaget. Ia belum tahu harga-harga kelinci. Uang segitu, mau dapat dari mana? "Q lht dulu ya..."

"Boleh."

"Alamat?"

"Perumahan belakang perpustakaan, gang F nomor 6."

Rian segera mandi dan langsung berangkat. Uang urusan belakang, pikirnya. Yang penting bisa ketemu dia dulu. Dengan mudah Rian bisa menemukan rumah itu. Dia sudah menunggu di teras depan dengan dua ekor kelinci besar. "Shakila..." sapa Rian dengan ragu-ragu.

Dia tersenyum. "Adiba."

"Adiba..." Rian buka BBM-nya. "Adiba Shakila Atmarini..."

Dia tersenyum. "Iya. Ini kelincinya."

Rian kaget melihat kelinci sangat besar seperti anak kambing. "Besar sekali..?!"

"Iya. Itu jenis Flemish Giant."

Sebenarnya ia ingin tanya kenapa harganya sangat mahal. Pikirnya cuma 30.000-an. Tetapi, tidak enak. Takut dikira bokek. "Pakannya apa?" Pura-pura saja ia tanya perawatan dan segala seluk beluk tentang kelinci. "Ini rumahmu?"

"Bukan. Saya ngontrak. Bertiga di sini. Sambil melihara kelinci di halaman belakang."

"Banyak?"

"25 ekor. Ada Angora English, Fuzy Loop, Dutch, Tiger Head," jelasnya. Lalu dia ke dalam.

Rian tidak mengerti jenis-jenis kelinci. Batinnya, cewek kaya nih... Kalau satu ekor harganya 600.000, dikali 25 kan 15.000.000. Wah, 5000.000 saja aku belum pernah pegang. Adiba keluar lagi membawa empat ekor kelinci dengan bentuk berbeda-beda. "Ini masih anakan: ini yang English, ini Dutch, ini Fuzy Loop, ini Tiger Head." Rian tersenyum. Lumayan dapat kuliah peternakan gratis dari dosen cantik.

"Kamu hebat ya."

Adiba tertawa. "Saya hobi melihara binatang sejak SD. Di rumah saya punya kuda."

Rian coba menggoda, "Punya sapi juga, Mbak?" Menurutnya, tidak mungkin perempuan melihara sapi.

"Saya punya lima ekor sapi Brahman sama dua ekor sapi limousin. Ada 15 ekor kambing etawa juga di rumah."

Rian garuk-garuk kepala. Bingung.

Bersambung...

Baca juga: Dosenku Kurang Asyik, Cuy

Cerpen: Dosenku Kurang Asyik Cuy

"Kayak main-main aja ya, tidak pake seragam."

"Kuliah itu emang cuma main-main, Lin."

"Itu kan kamu. Kuliah tidak gratis, Bro."

"Gratis. Bapakku kok yang bayar."

"Dasar, anak durhaka."

cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen


Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah. Lina dan Rian termasuk dari mereka. Masa orientasi tidak cukup mengenalkan mereka pada dunia kampus. Duni akampus masih benar-beanr baru bagi mereka. Mereka belum tahu seperti apa dosen mengajar. mereka belum tahu seprti apa kelas perkuliahan di kampus. Mereka juga belum tahu bagaimana hidup mereka setelah perkuliahan mulai.

"Wow, cntiknya!"

Banyak mata mengintai mangsa. Banyak bidadari dari berbagai daerah berkumpul di satu kampus. Tentu saja banyak pilihan. Rian jadi lupa kuiahnya. "Berburu bidadari lebih asyik."

"Ingat orang tua," tegur Lina.

"Iya, aku doakin tiap malam, sehabis tahajjud."

Seseorang datang menghampiri Rian dan kawan-kawan yang sedang berkumpul di depan ruang kelas I.2, ia langsung saja masuk ruangan.

"Dosennya?"

"Dosennya, Cuy. Ayo, masuk!"

Mungkin karena masih terlihat sangat muda, sehingga tanpak seperti mahasiwi.

"Wah, kalau kayak gini dosennya, jadi tidak khusuk belajarnya," celetuk Dicky yang duduk di samping Rian.

"Masih single, kayaknya," sahut Rian.

Di ruang 2.5 Hendra dan Husnan sedang berhadapan dengan profesor Sadiman. Kacamatanya agak diturunkan, tangan kirinya dimasukkan saku celana. Tangan kanan memegang laser menunjuk layar yang dipancarkan oleh LCD. "Jika tidak niat, jika main-main di kelas, lebih bijak sana di luar saja," katanya. Semua mahasiswa diam.

"Kayak Pak Ludas," bisik Hendra.

"Husss Diem, Cuy!"

Tak terasa 90 menit sudah berlalu. Mereka keluar kelas. Rian sama Lina menunggu Hendra sama Husnan di tangga. Lukman juga sudah keluar dari ruang 1.4 dan menghampiri Rian dan Lina. "Hi, Bro. Dosenku gaul. Keren. Lucu kayak almarhum dono," katanya pada Rian. Padahal dosen yang dimaksud lagi berjalan di belakangnya.

"Kalau kamu pernah melihat wajah Cleopatra, ah, dua banding sebelas sama dosenku."

"Wih...!! Masih single?"

"Udah nenek-nenek."

"Hi, Bro!" Hendra sama Husnan turun dari tangga. "Serrem, Cuy."

"HaHahahaha... Makan tu dosen serrem," sahut Lukman.

"Dia juga ngajar di kelasmu, Cuy!"


"Udah, tidak usah ngomongin dosen. Waktunya cari mangsa," Rian mengalihkan topik pembicaraan.

"Mumpung belum ada tugas. Kalau dah banyak tugas, mampus lho," sahut Lukman.

"Tidak usah dikerjakan."

"Ayo, balik ke kontrakan."

"Duluan aja."

Bukan Cinta Karena Tuhan

Dosen tak datang. Padahal sudah seperti angin berlari dari kontrakan karena motor mendadak kempes. Tapi ada untungnya juga karena belum mengerjakan tugas. Bagi mahasiswa yang sibuk, ini bencana. Bagi saya, kadang iya, kadang bukan masalah. Coba saja semua mahasiswa kompak tidak datang, dan dosennya sudah buru-buru datang untuk mengajar? Paling beliau bersyukur, tidak usah ngajar, gaji tetap dapat. Dasar nasib mahasiswa.

Cerpen cinta, cerita mahasiswa, cerpen popular
Baca: Kumpulan Cerita Mahasiswa

Sudah lah, aku ke masjid saja. Siapa tahu ada siraman cahaya. Masjid kampus memang menyenangkan, suasananya indah dan romantis. Asyik juga menyaksikan gadis-gadis berkerudung di serambi kanan. Mereka para aktivis dakwah kampus. Mereka ditakuti oleh pria nakal. Tapi, mereka juga agak manja, bahkan centil juga. Ah, namanya juga manusia. Sering kali juga berpapasan dengan yang berwajah judes, tapi cantik.

Ah, duduk di sini saja. Online sambil bersandar. Pas sekali bisa sambil lihatin bidadari yang lagi berkumpul. Mereka kelihatan serius sekali, sesekali tertawa dengan gerakan gestur tubuh mengekspresikan gembiraan yang sangat atau menertawakan sesuatu yang dianggap tidak biasa bagi mereka. Ah, aku jadi penasaran, tapi mereka selalu menjauh dari kaum adam. "Haram," katanya.

Mereka punya ciri khas. Bangga sekali mereka dengan ke-khasannya. Wah, apa aku juga harus mengikuti ke-khasan mereka jika kupilih salah satu dari mereka jadi pendamping? Ah, tidak apa-apa, tampilan kan hanya tampilan. Tak perlu menilai satu lebih baik dari yang lain. Menilai diri lebih baik itu sombong, katanya. Ya, kata ustadz waktu kajian tempo hari.

***

"Mau kemana, Rin?"

"Ngajar."

"Hari minggu, tidak libur?"

"Tidak. Mau ikut?"

"Memangnya boleh?"

"Ngajari adik-adik di panti."

"Ngajari apa?"

"Mereka itu kan juga banyak tugas dari sekolah, teman-temannya minta bantuan sama guru les-nya, mereka kan tidak ikut les."

"Terus, kamu yang bantuin? Dibayar?"

Rina tertawa.

"Kok tertawa?"

"Iya, dibayar. Rp 100.000 tiap pertemuan."

"Ngaco, kamu!"

"Mau ikut, tidak?"

"Ya udah, ikut. Dari pada tidak ada kerjaan."

Mereka berangkat ke panti. Rina memang begitu akrab denan Doni sejak mereka kelas dua SMA. Tiap hari mereka berdua, tapi hanya berteman saja, katanya. Rina memang perempuan sibuk, tidak begitu peduli tentang urusan cinta. Rina juga aktif di kegiatan-kegiatan di kampung dekat kampus. Mereka memang tinggal di dekat perkampungan, tidak di perumahan. Hampir semua penduduk kampung kenal Rina, terutama anak-anak mereka karena Rina suka anak-anak.

"Mas Doni," seorang laki-laki memanggil Doni yang lagi mengajari anak-anak bersama Rina. Doni agak canggung. Rina segera mengenalkan kalau beliau adalah putra pemilik yayasan, namanya Ustadz Salman. "Bisa bantu saya ambilkan mangga?"

"Oh, bisa ustadz."

Mereka menuju kebun buah di belakang asrama berjalan beriringan. Sambil berjalan Ustad Salman mengajak Doni ngobrol, "Pacarnya Mbak Rina, Mas?"

"Oh, bukan, Ustadz. Kami cuma temenan aja sejak SMA."

"Oh, kirain pacarnya. Mas Doni juga aktif seperti mbak Rina?"

"Tidak, Ustadz," agak malu jawabnya.

"Kami merasa terbantu sekali oleh mbak Rina. Dia baik sama anak-anak. Saya kira mas Doni pacarnya, beruntung sekali kalau dapat istri seperti dia. Dia calon ibu yang baik. Semua orang sekampung sudah tahu itu."

Doni hanya tersenyum menanggapi. Baginya, Rina tak istimewa untuk dijadikan pasangan hidup. Berteman lebih baik.

***

"Assalamualikum," seseorang memberi salam dari belakang, mengagetkannya. Doni menoleh. "Afwan, sedang apa di sini?" tanyanya.

Meski lelaki itu bertanya dengan senyum, melihat celana yang agak ke atas dan jenggot yang panjang dengan warna hitam di dahi, serta ucapan maaf menggunakn kata 'Afwan', Doni bisa menebak. Pertanyaan itu tak butuh jawaban. Sejenak Doni diam, lalu menjawab dengan tegas, "Mengamati seorang wanita di sana, wanita yang akan saya jadikan istri."

"Subhanallah, Alhadulillah." Lelaki itu mengulurkan tangannya. "Firman," ia memperkenalkan diri dan mengajak duduk di lantai lagi di serambi masjid. "Saya bisa memediasi," lanjutnya.

Doni tertawa dalam hati. Bukankah aku bisa bicara sendiri? batinnya. "Terima kasih, Mas."

Mahasiswi yang dimaksud berjalan mendekati arah mereka bersama temannya. Kebetulan sekali. Doni menatapnya. Sepertinya sang gadis memahami dan menunduk. Langsung saja Doni menghadangnya dan tentu saja mengagetkan mereka. "Assalamualaikum. Saya Doni. Ada perlu. Kalau tidak bisa sekarang, mohon beri waktu di waktu yang lain." Singkat sekali dia sampaikan.

Firman mendekati mereka. "Nanti sore kalau Ukhti Anida ada waktu, bisa di sekretariat," katanya. 'Ukhti' pangilan untuk anggota perempuan organisasi mereka yang berarti saudara perempuan.

"Iya, bisa. Jam enpat," jawab Anida.

***

Hari ini benar-benar lain. Dunia berubah. Ah, seakan ulat-ulat mendadak jadi kupu-kupu tanpa perlu jadi kepompong. Doni seakan sudah benr-benar masuk ke dunia lain, seakan sudah tak lagi jadi mahasiswa. "Harus sukses!" Tarjetnya bukan lagi harus segera lulus. Semester empat baru berjalan separuh, usai semester empat, itu berarti masih separuh jalan menanti kelulusan.

Doni mulai melirik ajakan-ajakan temannya untuk berbisnis, bahkan bisnis MLM pun ia mau. Orang tidak kuliah pun bisa sukses, bisa kaya. Bahkan banyak yang sukses setelah DO (Drop Out) dari kampus. Menikah itu membuka pintu rizki. Menjadi pengusaha itu berarti memiliki 9 pintu rizki. Luar biasa. Padahal, sebelumnya ia sangat benci ajakan-ajakan bisnis dan motivasi-motivasi yang ia anggap tak masuk akal. Cinta memang seringkali membuat orang hilang akal.

Berjalan dengan badan tegak, langkah tegas dengan senyum yang selalu ditebar, itulah Doni saat ini. Dia tidak lagi di serambi masjid kampus, tapi di dalam, bahkan di barisan terdepan. "Siap berjuang untuk agama!" tegas ikrarnya. Hidup Doni lebih teratur sekarang, lebih disiplin, dan lebih ceria. Selalu tersenyum dan ramah pada semua orang. Auranya positif.

"Wah, sudah jadi ustadz ya sekarang. Bangunnya sebelum pagi."

Doni yang lagi membaca quran di teras kontrakannya kaget. "Eh, Rina. Dari mana, Rin?"

"Dari kampus, ngerjain tugas."

"Salahnya jadi mahasiswa, makan tu tugas."

"Tidak apa-apa, siapa tahu kecipratan barokahnya dosen, bisa kaya mendadak." Ia menghampiri Doni, "kamu tidak ada kuliah?"

"Ada sih, tapi kuliah tidak terlalu penting. Dosennya juga bingung, kayak tidak paham materinya."

"Eh, nih, tape. Temanku bawa tadi."

"Tape apaan?"

"Makanan khas Bondowoso. Makan aja. Manis tu."

***
Doni bersama teman-temannya membuka usaha kuliner di belakang kampus. Targetnya harus segera hidup mandiri dan menikah dengan Anida. Tidak tanggung-tanggung motor pemberian orang tuanya ia jual buat modal. Laptopnya ia gadaikan. Katanya, banyak online hanya memperbanyak dosa. Indonesia mmenurutnya terlalu longgar membiarkan pornografi di internet.

Satu minggu berjalan sudah sangat terlihat hasilnya. Doni dan keempat temannya sudah meraup untuk cukup banyak. Luar biasa. "Kalau begini terus, enam bulan saja sudah bisa beli mobil," kata Doni. Teman-temannya menyahuti dengan semangat. Yakin bersama pasti bisa.

Dua bulan berjalan, Doni krediti motor. Betapa bangganya dia meski hanya kredit. Dia ingin segera memberi tahu orang tuanya, ingin segera menentukan hari pernikahan. Ia bangga sekali bisa mendapatkan wanita yang aktif di organisasi dakwah. Artinya, ia akan tanpak berbeda di kampungnya nanti. Tentu akan lebih dihormat.

***

"Saya mencintainya karena Allah, Pak. Dia aktivis dakwah."

"Cinta karena Allah? Maksudnya?"

"Ya, cinta bukan karena nafsu, tapi untuk ibadah."

Ayahnya tersenyum, "Ibadah harus dengan wanita cantik, begitu?"

Doni terdiam.

"Kamu boleh memilih sendiri calon pasangan hidupmu, tapi harus berdasarkan akal sehatmu. Kamu punya ilmu. Apakah Tuhan menyuruhmu memilih dia?"

"Tapi dia wanita sholehah yang taat ibadah."

"Ayah paham, Nak. Apa hatimu dulu tergetar karena kualitas agamanya atau karena kecantikannya?"

Doni terdiam lagi.

"Apa jika ada wanita dengan kualitas agama sama dengan dia, tapi wajah tidak cantik, kamu akan memilihnya?"

Doni menunduk.

"Itu yang kau bilang cinta karena Allah?" Doni menatapnya. "Lebih baik jujur, Nak. Kau menyukai kecantikannya."

Hening.

"Atau kau merasa bangga mendapatkannya? Hati-hati, kamu laki-laki, kamu yang akan jadi pemimpin nanti. Berhasil mendapatkan seorang wanita bukanlah kebanggaan seorang pemimpin. Jangan mengagungkan wanita. Wanita hanyalah teman dalam menjalani hidup. Allah mengangkat derajat sesorang bukan karena kualitas pasangan yang didapatkan, tapi karena ilmu dan takwanya."

Ayah Doni masih menganut tradisi leluhur. Keluarga adalah organisasi yang utama dan memang harus diutamakan. Ia membantah pendapat yang menjelekkan pemikiran "Makan tidak-tidak makan, yang penting kumpul." Menurutnya, jika kita kumpul dengan keluarga, maka kita akan menjadi kuat. Menurutnya, tak ada organisasi yang lebih kuat dibanding ikatan keluarga. "Lihat pemerintah kita, bagaimana kelakuan mereka," katanya dulu ketika Doni masih SMA. "Mandiri itu harus, tapi jangan memisahkan diri dari organisasi bernama keluarga yang diciptakan oleh Tuhan."

Jika ingat nasehat itu, Doni merasa bersalah telah bertindak tanpa musyawarah dengan keluarga. Di kampungnya, hampir semua penduduk di sana adalah saudaranya. Masih tercatat lengkap silsilah keluarga hingga kakek dan nenek ke delapan. Mereka saling membantu. "Butuh modal untuk usaha, tidak perlu pinjam ke bank: riba," katanya.

"Usahamu baru berjalan dua bulan. Kau belum belajar bagaimana mengatur sebuah usaha, kau belum belajar mengatur orang: rekan bisnismu. Apa mereka semua akan terus menjaga kebersamaan? Kau bukan pemimpin dalam bisnismu. Artinya kau belum mandiri. Sedikit saja masalah menimpa kebersamaan kalian, hancurlah usahamu. Itu bukan pebisnis sejati."

Doni diam saja.

"Jadi, kamu mau cuti kulliah demi usahamu? dan segera menikah dengan wanita aktivis yang kau bangga-banggakan di depan wanita-wanita kampung?!"

"Iya, ayah."

"Apakah kau sudah mempertimbangkan secara matang? Apakah kau sudah siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk usahamu?"

"InsyaAllah, jika niatnya untuk ibadah, Allah tidak akan membiarkan."

Ayah Doni tertawa mendengarnya. "Ayah bangga padamu. Kau sudah banyak berubah. Jadi, kamu tidak perlu belajar tentang managemen usaha, tentang managemen resiko, dan semacamnya? Cukup dengan meyakini Allah selalu menolongmu, begitu?"

Doni diam saja. Ia paham, ayahnya sedang marah.

"Satu hal yang perlu ayah ingatkan, jangan sekali-kali karena kau sudah melakukan semua yang kau pahami sebagai tuntunan agama, lalu kau mudah sekali mengklaim orang lain atau golongan lain keliru atau sesat, atau lebih buruk darimu dan golonganmu."

"Iya, ayah."

"Manusia masuk surga bukan karena amalnya, tapi karena rahmat Allah. Tugas orang berilmu bukan menjelekkan orang lain atau golongan lain, bukan menyalahkan orang lain, melainkan mengajarkan kebaikan dengan bijaksana."

Ibu Doni mendengarkan dari dapur.

"Ayahh dulu memaksamu untuk belajar di pesantren waktu kamu masih SMP, tapi kamu menolak. Sekarang kamu aktif di organisasi keislaman dengan ilmu agama yang terbatas. Itu boleh-boleh saja, tapi jangan sekali-kali kamu menjelekkan orang-orang yang bertahun-tahun belajar agama, hanyay karena mereka tidak bertindak sepertimu. Berbuat tanpa ilmu itu sesat. Ayah belum bisa merestui hubungan kalian sebelum kau meluruskan niatmu untuk menikah."

***

"Pak ustadz kok melamun!"

Doni kaget. "Eh, Rina."

"Habis pulang, mana oleh-olehnya?"

Done tersenyum. "Sini tak ceritain oleh-oleh."

"Dasar. Oleh-oleh, kok cerita."

"Rin, sini. Aku ada perlu."

"Kok hilang lagi senyumnya? Tidak senyum-senyum lagi?" Doni berusaha tersenyum. "Bagaimana, kapan nikahannya?"

"Ayah lebih setuju jika aku nikahin kamu."

"Apa?!"

"Tidak usah kaget. Kamu tahu sendiri ayahku."

"Takut dijelekkan budayanya ya? Anak-anak aktivis dakwah kan kurang bisa menjaga statement." Doni menatap Rina. "Aku salah ya?"

"Tidak."

"Mengajarkan kebenaran atau kebaikan itu memang harus sih, tapi caranya yang perlu diperhatikan. Psikologi lawan bicara atau pendengarnya kan juga perlu diperhatikan. Menurutku, itu sih yang perlu diperbaiki. Masih lebih banyak baiknya, kan."

"Iya. Aku terlalu terburu-buru berstatement, mengatakan gadis-gadis kampung tidak menjalankan ajaran agama."

"Dan ayahmu marah?"

"Iya."

"Niat baik, karena caranya keliru, begitu hasilnya."

Doni diam.

"Kok diam?"

"Meskipun denan nada marah, tapi ayah juga tidak salah."

"Kenapa?"

"Dia menasehatiku agar jangan mengagungkan wanita, wanita hanya teman dalam menjalani kehidupan. Kalau kupikir-pikir, memang benar sih. Aku merasa bangga bisa mendapatkan dia. Dan, ayah memintaku meluruskan niat dulu, baru beliau akan merestui."

"Bukannya kamu cinta karena Allah?"

"Ah, ayah ketawa dengar aku bilang begitu."

"Hahahahahaah..."

"Ini lagi... Ngapain ketawa juga?!"

"Lucu kamu."

Kelebihan dan Kekurangan Samsung Galaxy V

Samsung Galaxy V berasal dari Soul, Korea Selatan. Produk ini merupakan produk baru dan paling popular diantara smartphone merk Samsung lainnya. Samsung memang terkenal sebagai perusahaan elektronik sejak tahun 1988. Perusahaan Samsung berkembang pesat memproduksi berbagai peralatan elektronik hingga peralatan elektronik komunikasi seperti Samsung Galaxy V yang terbaru ini. Samsung Galaxy V sudah bias didapatkan di berbagai took ponsel di Indonesia. Harganya juga cukup bersahabat.

samsung Galaxy terbaru, Samsung Galaxy V, samsung terbaru
Samsung Galaxy V juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Sama seperti smartphone lainnya. Beberapa kelebihan Samsung Galaxy V yang berharga murah ini diantaranya adalah

Kelebihan memori Samsung Galaxy V
pada memori internalnya yang berkapasitas 4 GB. Ini memungkinkan Samsung Galaxy V untuk menyimpan aplikasi lebih banyak. Selaini itu Samsung Galaxy V juga memiliki memori external jenis microSD dengan kapasitas yang cukup besar, yakni 64 GB. Sehingga pengguna Samsung Galaxy V bias lebih maksimal menyimpan aplikasi dan data.

Kelebihan jaringan Samsung Galaxy V
Samsung Galaxy V mendukung jaringn GSM 2G dan 3G, serta data GPRS, EDGE, dan HSDPA sehingga aktivitas berselancar di duni amaya menjadi lebih mantap. Samsung Galaxy V juga menduung Wi-Fi hotspot , Wi-Fi 802.11 b/g/n, dan Wi-Fi Direct, sehingga Samsung Galaxy V juga bisa digunakan sebagai modem untuk mendukung perangkat lainnya yang support Wi-Fi.

Kelebihan layar Samsung Galaxy V
Samsung Galaxy V memiliki layar dengan resolusi 4.0 inchi dengan ukuran 480 x 800 pixels dengan kepadatan layar berkapasitas 233 ppi pixel density. Kepadatan layar yang besar membuat Samsung Galaxy V mampu menampilkan gambar yang tajam dan jernih. Namun, sayangnya Samsung Galaxy V masih enggunakan jenis TFT touchscreen, 16M colors.

Kelebihan Sistem operasi Samsung Galaxy V
Samsung Galaxy V sudah menggunakan system operasi Android KitKat. Sistem operasi ini merupakan yang terbaru dan memang khusus untuk smartphone. Kelebihan system operasi ini adalah kemampuannya mendukung aplikasi terbaru seperti OS.

Kelemahan Samsung Galaxy V
  • Samsung Galaxy V memiliki resolusi kamera depan VGA, ini sangat kecil ukurannya, namun masih bias digunakan untuk video call atau foto-foto selfie.
  • Memori internal dan RAM Samsung Galaxy V hanya berkapasitas 512 MB sehingga proses aplikasi agak lambat.
  • Samsung Galaxy V memiliki prosesor dengan kecepatan hanya 1.2 GHz,
  • penambah daya battery Samsung Galaxy V hanya 1500 mAh dengan type Li-Ion. Ini hanya mampu bertahan selama (2G) / Up to 8 h (3G) waktu bicara, dan lebih dari 29 jam waktu memutar musik.
Dari uraian di atas, sekarang anda bias mempertimbangkan apakah Samsung Galaxy V sesuai dengan kebutuhan anda. Anda bisa membandingkannya dengan smartphone lainnya. Pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan anda. Jangan sampai salah pilih sehingga membuat anda kecewa dikemudian hari. Cukup sekian ulasan tentang kekurangan dan kelebihan Samsung Galaxy V.

Bisnis $$$ Online Yang Memprioritaskan Indonesia

Bagi para pebisnis online, tentau akrab sekali dengan dolar, Google Adsense, Shorten URL, amazon, dsb. Banyak sekali. Bagi pemain iklan, biasanya mereka mencari pengunjung blog dari luar negeri karena bayarannya jauh lebih besar dibanding pengunjung asal Indonesia. Maklum, rupiah lebih rendah nilainya dibanding dolar.

Nah, tentu saja perlu kemampuan menulis artikel dengan bahasa Inggris atau bahasa Eropa lainnya seperti German, Prancis, dsb. Padahal, belajar bahasa Inggris, German, Prancis itu tidak secepat membalikkan telapak tangan. Butuh waktu yang lama. Padahal, uang setiap hari dibutuhkan.

Nah, ternyata ada bisnis Dollar yang memprioritaskan pengunjung Indonesia karena ternyata visitor dari Indonesia banyak sekali, bayarannya $ 0.49 per 1000 visitor. Berarti setara dengan Rp 5000 per 1000 visitor. Mudah sekali kan untuk dapatkan 1000 visitor. Kamu juga bisa menghasilkan lewat referral (Orang yang diajak gabung) dan dapatkan 20% dari penghasilan mereka. Pasif income jadinya. Untuk daftar, silahkan klick gambar di bawah.


Pembayaran pake Paypal. Mudah kan.Sangat mudah kan. Jika belum punya payPal, bisa daftar, dan aktivasi dengan VCC. Dah banyak yang jualan VCC online.

Peluang Budidaya Burung Gelatik

burung gelatik, budidaya burung, kicau mania

Mempersiapkan Indukan
Budidaya burung gelatik harus sabar dan telaten, meskipun biayanya tidak terlalu mahal. Jika anda hendak memulai usaha ini, pilihlah indukan yang berkwalitas untuk memulai penangkaran. Penentuan induk sebagai F1 harus benar-benar terbaik. Pengetahuan dasar tentang jenis kelamin, tingkah laku, dan umur burung akan sangat berperan. Karena kesuburan, warna, dan hal lainnya yang bersifat genetis diturunkan dari induk ke anaknya.

Jadi, jika induknya berkwalitas, anaknya punn juga berkwalitas.

Ciri-Ciri Indukan Yang Baik

Ciri-ciri gelatik silver yang baik untuk dijadikan induk.
1. Perangai lincah
Burung gelatik silver yang bagus aktif bergerak ke sana kemari, tidak diam. Jika ada sesuatu yang mendekati sangkarnya, ia akan terbang kelabakan. Jika ia hanya diam saja, berarti kurang bagus, bisa jadi ia sedang sakit.

2. Bulu tertata rapi dan tidak mengkorok
Burung gelatik silver umumnya merawat bulu dan menatanya sesudah mandi. Jadi selalu tampak indah. Bila mengkorok tidak rapi, berarti ia sedang stres atau sakit.

3. Dubur bersih
Burung gelatik biasanya bersih karena suka membasahi badannya. Jadi jika duburnya tidak bersih dan di sekitarnya banyak kotoran, berarti ada masalah pencernaannya. Bisa jadi ia terkena mencret atau infeksi pada usus atau lambungnya. Ingat, hal tersebut akan menurun pada anakannya.

4. Paruh
Burung gelatik yang bagus letak paruh antara bagian atas dengan bagian bawahnya simetris. Jangan pilih yang paruh atas dengan bawahnya tidak mengatup secara sempurna. Cacat seperti ini dapat terjadi akibat perkawinan yang sedarah.

5. Lingkar mata
Burung yang baik biasanya memiliki lingkar mata yang membulat sempurna dengan ketebalan yang rata. warnanya merah terang bukan pucat, bersih dan halus, tidak terdapat lekukan-lekukan

Membedakan Jenis Kelamin Gelatik

Penampilan fisik burung jantan dan betina hampir serupa, sehingga tidak mudah untuk membedakan, butuh ketelitian. Untuk membedakan kelaminnya, amati secara seksama pada bagian paruh, mata, dan suaranya. Burung Gelatik jantan memiliki pangkal paruh yang yang lebih tebal, dengan warna merah tajam yang cantik. Matanya terlihat lebih cerah dan bersinar. Kicauannya lebih bertenaga dengan frekuensi yang lebih sering dari pada Gelatik betina. Sedangkan gelatik betina memiliki paruh yang lebih tipis, warna merahnya terlihat lebih muda. Warna matanya agak pudar. Ukuran tubuh Gelatik betina relatif lebih kecil dari pejantannya. Suara kicauannya monoton.

Telur
Burung Gelatik betina biasanya akan bertelur sekitar empat sampai enam butir telur. Telur-telur tersebut berwarna putih dan akan dierami oleh kedua orangtuanya (baik jantan maupun betina).

Perkandangan
Ukuran kandang yang dibutuhkan tidak terlalu besar, idealnya 30 cm x 40 cm untuk setiap pasangnya. kerangka bisa menggunakan besi atau kayu dan ditutup dengan kawat kasa berukuran 1 cm x 1 cm. Atapnya bisa menggunakan asbes, seng, genting atau tripleks.

Burung gelatik suka membasahi bulunya dengan air, sehingga ia butuh sinar matahari untuk berjemur usai mandi. Agar sinar matahari dapat masuk ke dalam kandang dengan maksimal, gunakan kawat kasa. 

Ladang Cerita
Ladang CeritaLadang Cerita
Pemesanan, hubungi:
HP 081578729803 (SMS/WA)
Ladang Cerita
PIN D1417B25

----------------->
sedia produk ternak: fermentasi pakan bebek, racun lalat, probiotik, dll
hp 081578729803
detail klik



Test TOEFL ITP


TOEFL, IELTS dan TOEC merupakan test bahasa Inggris yang digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris pelajar bahasa Inggris, baik yang belajar di kampus atau belajar lewat kursus bahasa Inggris. Sertifikat TOEFL (Test of English as a Foreign Language) banyak digunakan di negara-negara berbahasa Inggris di Amerika. Sedangkan IELTS (International English Language Testing System) banyak digunakan di negara-negara berbahasa Inggris British di Eropa dan Australia juga. Sedangkan TOEIC (Test of English for International Communication). TOEIC lebih diperuntukkan pada orientasi kerja.

Banyak Kursus bahasa Inggris yang bisa diikuti, bahkan bisa mengikuti kursus bahasa Ladang Cerita. Belajar TOEFL semakin mudah sekarang.

Kursus Inggris, Test TOEFL, Les Inggris,


Untuk wilayah Asia, test TOEFL yang biayanya murah adalah TOEFL ITP (Institusional Testing Program). Test ini hanya berlaku di lingkup institusional atau wilayah tertentu. Namun, ada juga beberapa lembaga di Amerika yang menerima sertifikat TOEFL ITP. Bahkan bisa dibuat untuk pengajuan beasiswa.

TOEFL ITP adalah Test Bahasa Inggris institusional (Institutional Testing Program) di wilayah Asia. Sertifikat TOEFL ITP bersifat institusional, artinya hanya berlaku di institusi dan wilayah local tertentu. Namun, ada juga beberapa lembaga di Amerika yang menerima, namun dengan nilai minimal 600.

Sertifikat TOEF ITP bias digunakan untuk persyaratan pengajuan beasiswa. Ada beberapa lembaga yang masih menerima sertifikat TOEFL ITP seperti Monbukagakusho, Fullbright, DAAD, StuNed, ADS, dll.

Ada 3 sesi ujian yang haru sdiikuti dengan jumlah soal dan alokasi waktu yang berbeda, yakni Listening, Structure and Written Expression, dan Reading Comprehension. Berikut lebih detailnya:

Listening
Untuk test listening, peserta test mendengarkan 3 macam percakapan, yakni percakapan pendek, percakapan panjang, dan monolog panjang. Ada 50 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 30 – 40 menit. Bisa diperkirakan, berapa menit waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu soal.

Structure and Written Expression
Pada bagian Strucute and Written Expression, penguasaan grammar atau tata bahasa yang diuji. Ada 40 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 25 menit. Kurang lebih butuh 1.6 menit per soal. Ada 2 bentuk soal, yakni soal pilihan ganda dan soal memilih jawaban yang salah.

Reading Comprehension
Untuk bagian Reading Comprehension, ada 50 soal yang harus dijawab berdasarkan teks yang tertera, dan harus selesai dalam waktu 55 menit.

Nilai hasil test TOEFL ITP diumumkan biasanya setelah 1-2 minggu kemudian. Sertifikat TOEFL ITP berlaku selama 2 tahun, dihitung dari tanggal terbitnya. Score yang akan didapat peserta TOEFL ITP adalah 310 – 677. Pada TOEFL ITP tidak ada pengurangan nilai jika ada jawaban yang salah.

Sedikit Tips Budidaya Lele Dumbo di Kolam Terpal


lele dumbo, kolam terpal, budidaya lele,
Jenis lele dumbo merupakan jenis yang paling diminati. Jadi, peluang usaha budidaya lele masih terbuka lebar, baik untuk pembibitan atau konsumsi. Budi daya untuk pembibitan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bibit yang terus meningkat seiring dengan permintaan Ikan Lele Dumbo Konsumsi. Budi daya untuk konsumsi, pemeliharaan biasanya dilakukan mulai berat 1 ons per ekor sampai 1 kg per ekor.

Ukuran Lele Dumbo 1 Kg /ekor ke atas biasanya digunakan pada kolam pemancingan yang berisi Lele dumbo.

Budi Daya Lele dumbo Untuk Tujuan Pembibitan:
Bibit lele dumbo yang baru menetas sudah bisa dijual kepada peternak lain

-Penyediaan Bibit Ukuran 2-3 cm, penjualan biasanya dilakukan pada usia 1 bulan. Pembesaran idealnya ditempatkan pada kolam lumpur atau sawah. Jika dilakukan di kolam terpal, hanya bisa menampung jumlah terbatas dan memerlukan makanan tambahan berupa pelet buatan pabrik.

-Penyediaan Bibit lele dumbo ukuran 5-7 cm, biasanya dipelihara oleh peternak sampai ukuran layak konsumsi.

Pemeliharaan Lele Dumbo Untuk Konsumsi
Pemeliharaan biasanya dilakukan mulai ukuran 5-7 cm atau lebih. Panen cepat dapat dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan pemberian makanan yang ekstra dan optimal. Untuk mendapatkan ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan. Pemeliharaannya relatif lebih mudah karena ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan persentase hidup lebih tinggi.

Persiapan Pembuatan Kolam Terpal
Untuk membuat kolam terpal, yang perlu disiapkan meliputi lahan kolam, material terpal, dan persiapan perangkat pendukung. Lahan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara.

Untuk Pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter, yang bisa diisi dengan 100 ekor lele dumbo ukuran 5-7 cm.

Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Terpal lebih awet jika menggunakan cara yang pertama.

Kolam terpal diisi dengan air secukupnya saja. Juga Perlu disediakan rumpon atau semacam perlindungan untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang senang bersembunyi di daerah yang tertutup. Untuk lele dumbo ukuran 5-7 cm bisa diisi air 40 cm, agar ikan tidak terlalu capek naik dan turun dasar kolam untuk mengambil oksigen. Seiring dengan bertambahnya usia, secara bertahap ukuran kedalaman air ditambah.

Pemberian pakan berupa pelet dilakukan sehari dua kali, lebih dari dua kali lebih bagus, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika ada, pakan alami seperti bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain-lain, bisa diberikan. Kandungan protein pakan alami tersebut tinggi, selain itu juga menghemat biaya produksi.

Air juga perlu diganti sekitar 10-30% setiap minggu untuk menghindari munculnya penyakit dan bau. Pada usia satu bulan pisahkan lele yang memiliki ukuran yang berbeda. Jika tidak, lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Ikan yang terindikasi terserang penyakit juga perlu dipisahkan agar tidak menular.

Tips Mengatasi Stress pada Bebek

Kondisi Stress atau cekaman pada itik/ bebek adalah kondisi ketegangan secara fisik atau secara psikologis.

Faktor yang mempengaruhi stess itik/bebek:

Tekanan dari luar seperti nutrisi pakan, perkandangan, manajemen, perubahan pakan secara tiba-tiba, perubahan air minum, luas kandang, jumlah itik/bebek yang dipelihara secara tiba-tiba, pemeliharaan rutin, transportasi, kegaduhan, tingkat produksi, adanya orang yang tidak dikenal, sakit, kelelahan, temperatur dan perubahan cuaca secara tiba-tiba.

Tanda bebek stress: perilaku abnormal, turunnya konsumsi pakan, produksi rendah, timbulnya penyakit dan kematian.

Tips untuk menghindari stress:

Stress Akibat Pakan
Penuhi kebutuhan nutrisi itik selama masa bertelur. Itik termasuk binatang yang sangat peka. Jangan sering merubah pakan, termasuk yang memberi cukup satu orang saja. Pakai baju berwarna kecoklatan, itik menyukai warna kecoklatan. Campur pakan seminggu sekali dengan benar-benar merata dan seragam.

Bila hendak merubah pencampuran pakan, lakukan secara bertahap, misalnya minggu pertama 75% pakan lama + 25% pakan baru, minggu kedua 50% pakan lama + 50% pakan baru, dan seterusnya.

Ternak bebek, mengatasi stress bebek
Stress Akibat Lingkungan
Usahakan cukup mendapat sinar matahari dan jauh dari kebisingan, dan tidak terlalu padat agar itik-itik yang agresif tidak mengganggu itik yang lain.

Sediakan air selalu. Kekurangan air akan mempecepat proses rontok bulu (moulting). Berikan cahaya lampu kecil pada malam hari (jangan terlalu terang) untuk mengurangi keterkejutan itik bila ada suara bising atau berisik.

Bisa juga menempatkan merpati atau binatang lain di dekat kandang agar bebek terbiasa dengan suara-suara lain.

Itik/bebek kadang juga mengalami stress karena faktor luar seperti perubahan cuaca yang ekstrim, infeksi penyakit, gangguan parasit seperti tikus yang membuat kaget ternak itik/ bebek. hal ini menyebabkan produksi menjadi menurun bahkan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh sehingga berujung pada kematian. Untuk itu, pemberian multi vitamin juga perlu, seperti Viterpan, improlin-G, imunose maupun multivitamin lainnya yang aman dan terbukti efektif meningkatkan produktifitas ternak.

Ladang Cerita
Ladang CeritaLadang Cerita
Pemesanan, hubungi:
HP 081578729803 (SMS/WA)
PIN D1417B25

Powered by Blogger.

Blog Archive

 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT