Learning English is Useful

RSBI (Rintisan Sekolah bertaraf Internasional) has been closed. Some teacher and university student of English education worried about it. It means that their opportunity to get job decreased. While the others do not worry about it. They think that Indonesian people still need English.

English is a language used internationally. You can speak with people around the world use English. You can wider your business relation if you can speak English. You can promote your products to people in other countries use English and gain better benefit.

Being aware about English give you many benefits. You can be a translator, a writer, a tutor. For example, I have got published some poems in Indonesia and got money, but only Rp 35000/poem. You know, in
America, some websites pay 1 poems $30, it’s similar to Rp 300.

Translator, it is a good job. You can choose whether want to a be a freelance translator or work for other or company. As a freelance translator, you can manage your time. You can work whenever you want, without getting fired by your boss. You are a boss of yourself. Besides that, you can translate books, as many as you want, then you can publish it, or sell it by yourself.

You can also be a tutor. Not only in Indonesia. If you are skilled enough, you can teach grammar, writing, or anything else about English to people around the world.

But, it is not cheap to learn English.

You don’t need to think about that. English is a language, a tool to make interaction with other people. As an Indonesian, you are experienced in speaking bilingual, right? I am sure about that. When we are a child, we speak local languages such as Javanese, Madurese, Balinese, and so on. Then we started to use it when we come into school .

Just remember your experience, when did exactly you understand and able to use Indonesian? I am sure, most of you do not remember. But the fact, you can speak both Indonesia and your local language. How can?

You can be like that because you use the language. How about English? You have been learning English since we were in elementary school, but how many of us can speak and write English? Some people reasoned because they do not have friends to speak to.

It is a modern era. There is no reason to practice English freely. We can use electronic to practice English. You can use Facebook by joining many groups and make conversation with them. You can also learn freely, without paying anything at some website like livemoca.com, englishclub.com.

Mastering a language is not the same as mastering biology or physic. You don’t need to learn the detailed rule of the language. Language is a tool of communication. There is no wrong or true in using it. To know whether you are right or wrong, you just need to look at your partner in speaking. If he or she understand what you say, so you are true.

Keep doing it. Step by step you will master the language and then speak like an English native speaker.   

Inspired By A Blind Seller

A blind seller said this:

”Maaf ibu,  bukan saya menolak. Saya masih muda dan bukan termasuk golongan orang yang berhak menerima zakat. Saya kan ada pekerjaan berjualan kerupuk. Beli saja kerupuk saya dengan uang titipan dari Ibu SW itu.”

He refused when a mother want to give him money from her friends in Saudi. He said that he could make ends meet by himself, without begging to other. He's not someone who was suggested to receive tithe/zakat.



A great man.

From this story, I got lesson, it seems to me that Allah assure my heart that He always here with me. He will always help me. Yeah... Lately I am worried about my future. It's the last month I am working and soon will be a jobless man.

Future is blind for me. But I realize that God will always show me the way, will guide me. Really, I feel that God has just opened the eye of my heart. I understand now, knowledge is not in my mind. I have just an opinion, not the truth.

The useful Community

It's a great day. I think it's a guidance from God. Thanks to Him.

I am really passionate to write every day, even all the time without taking rest awhile. Hmm... Writing is interesting for me. For me, writing is the same as speaking. When we hear someone talk to us, then we give response. A writer writes an article or something to be read by the reader, as a reader, it's not good if just keep silent.

I have been in front of my laptop since this morning. It's 01:26 pm here. I still don't want to leave my laptop. I found so many online communities on Facebook, the English community. It's really useful to improve my writing skill, to share about culture with friends from in countries. I have joined more than ten groups.


From my experience for have been so long studying English, joining a community is much better than just going to school or an English Course. In school, I just got a little theory from the teacher without using it though just for a moment.

However, joining a community, the most important thing is the spirit. Yeah, we have the same passion, we always talk about English, we have the same dream. Spirit is more than just a little knowledge gotten from a teacher.

Really, I think that my teacher just teaches me to be able to answer a question on the exam, not to skilled to use English. It's the fact I have been experienced.

I got improvement in speaking English also because of joining a community. I can practice with friends. It's increase my speaking skill.

Mengatur Tuhan

Harus selalu belajar. Jangan merasa sudah pandai sehingga kurang berhati-hati.

Anda pernah belajar ilmu tajwid atau ilmu fiqih? Ilmu tajwid adalah ilmu yang mengajarkan tata cara membaca Al Quran. Sedangkan ilmu fiqih adalah ilmu yang mengajarkan tentang hukum islam. Begitu yang kupahami.

Ustadz sering mengingatkan pada santri, katanya, ilmu fiqih atau syariat saja tidak cukup, harus diimbangi ilmu tasawuf.

Bedanya, orang yang banyak tahu tentang ilmu fiqih, biasanya teratur ibadahnya, sesuai ketentuan-ketentuan yang detail. Tetapi orang tasawuf, biasanya kurang peduli dengan ketentuan-ketentuan yang diajarkan dalam ilmu fiqih dan tajwid, bagi mereka yang lebih penting adalah hati.


Saya pernah mendengar orang yang tahu ilmu tajwid berkata begini, "Kalau bacaannya tidak begini, salah. Maka shalatnya tidak sah. Membaca ayat harus begini, biar sah shalatnya dan diterima oleh Allah."

Orang yang tahu ilmu fiqih juga begitu, "Ibadah yang diterima itu yang seperti ini. Kalau tidak begini, tidak diterima."

Saya bukan orang yang ahli agama. Tetapi hanya sekedar mengajak anda berfikir sejenak. Berfikir sejenak itu pahalanya lebih besar dari sholat seribu rakaat, begitu katanya.

Saya punya pertanyaan:

1) Manakah yang lebih sungguh-sungguh mengharap, orang yang merasa yakin diterima karena merasa sudah sesuai aturan, atau orang yang merasa bahwa ia belum sungguh-sungguh dan masih banyak kekeliruan.

2) Mungkinkah orang yang hatinya sudah yakin diterima, bisa menangis dalam sholatnya?

3) Bagaimana dengan orang yang merasa bahwa dirinya perlu mendekatkan diri pada Allah dan perlu bersungguh-sungguh meminta agar ibadahnya diterima?

Ketika seseorang mengajarkan tentang tata cara sholat dengan wajah meyakinkan, saya menjadi kurang yakin. Seolah-olah, dengan tata cara tersebut bisa mengatur Tuhan, bisa memaksanya menerima ibadah kita, bisa menggugatnya. Apa ia Tuhan Sang Pemilik segalanya bisa digugat?

Saling Percaya Yang Merugikan

Jika anda sering nonton sinetron, pasti sering mendengar kata "Saling Percaya". Biasanya ini merupakan keharusan bagi sepasang kekasih.

Kali ini saya ingin menyampaikan yang saya lihat, kalau saya tidak salah lihat. Ini tentang saling percaya yang ternyata merugikan.

Hidup ini memang kadang sulit dimengerti. Ada orang yang begitu mudah menjalaninya. Ada juga yang sangat susah. Saking susahnya, dia mengibaratkan dirinya seperti orang yang memikul beban berat dan berjalan di tepi jurang yang licin. Di tempat tersebut juga banyak binatang buas. Mau cepat, takut jatuh. Mau pelan, khawatir keburu ada binatang buas. Lalu, gimana solusinya?


Heheee... Anda ingin berkata pasrah saja? Kalau saya, ingin bertanya saja padanya, kenapa lewat di situ? Kenapa mau memikul beban itu?

Jalan mungkin bisa diplih, tapi beban sering datang dengan sendirinya. Entah karena kekeliruan kita atau memang sebuah ujian.

Anda ingat cinta pertama anda? Atau cinta monyet semasa SMP dulu? Atau cinta sejati ketika hendak menikah? Indah kan?

Meskipun saya belum menikah, saya yakin memang indah. Tetapi, berapa banyak pengantin atau pasangan baru yang menyadari ketika itu bahwa suatu saat akan hadir amanah besar dari Tuhan yang telah memberinya kebahagiaan, yang menciptakan keindahan, yang memiliki cinta? Amanah tersebut adalah anak.

Bagaimana dengan anda, ketika menjadi pengantin baru?

Bekera itu harus, untuk memenuhi biaya hidup. Mendidik anak, itu juga wajib. Itu amanah Tuhan. Bagaimana jika jam kerjanya 8 jam, 12 jam, atau bahkan lebih? Sempatkah mendidik anak?

Karena itulah, orang tua menitipkan anaknya di sekolah. Sekolah didirikan memang untuk itu. Namun pada kenyataannya, tujuan orang tua menyekolahkan anak berbeda-beda. Ada yang berharap anaknya menjadi manusia yang berguna kelak. Ada yang berharap agar anaknya menjadi anak yang legal alias berijasah dan mudah mencari kerja. Ada yang sekedar ikut-ikutan, malu pada tetangga kalau tidak ikut-ikutan. Ada yang terpaksa karena anaknya suka sama lawan jenis di sekolah.

Beberapa orang tua memercayakan pendidikan anaknya sepenuhnya pada sekolah. Pokoknya, orang tua tidak mau tahu tentang perkembangan anak. Mereka sibuk mencari nafkah.

Orang-orang di sekolah, yakni para guru, ada yang sepenuhnya mengabdikan hidup mendidik anak-anak. Ada juga yang hanya melaksanakan kewajiban beban jam mengajar. Ada yang hanya mengajarkan satu bidang ilmu. Ada yang sampai berperan sebagai orang tua, hingga seperti keluarga dengan orang tua siswa.

Ada guru yang berkata begini, "Guru kan hanya beberapa jam bersama siswa, orang tualah yang lebih lama bersama mereka." Orang tua juga ada yang mengatakan begini, "Biaya sekolah sudah mahal, pasti pendidikannya berkualitas. Kami percayakan sepenuhnya pada sekolah." Ada lagi, masyarakat. Masyarakat menilai sekolah sebagai lautan ilmu, sehingga seluruh penghuninya adalah orang baik. Berhayallah mereka yang baik-baik. Nah, ketika melihat kejelekan sedikit saja, wah, tampak besar bagi mereka. karena mereka membandingkan dengan harapannya yang begitu besar. Padahal yang tidak di sekolah, jauh lebih banyak berbuat kesalahan.

Jadi ceritanya, guru percaya pada orang tua siswa di rumah, sehingga tidak perlu terlalu berusaha keras mendidik mereka. Orang tua juga begitu. Menurut mereka, anak sudah dididik di sekolah oleh guru yang profesional, sehingga tidak perlu terlalu memikirkan anak. Kerja aja yang semangat, cari uang yang banyak.

Apakah anda bisa menilai moral bangsa kita sekarang?

Makna Kemenangan Kecil dan Kemenangan Besar

Ada seorang pelajar di sebuah perguruan tinggi. Dia baru semester satu. Dia semangat. Waktu luangnya digunakan hanya untuk membaca buku. Karena itu, ia sudah banyak menguasai konsep yang benar.

Suatu ketika ia mendapati dosennya tidak mengikuti konsep yang disepakati oleh para ahli di bidangnya. Dia juga melihat para seniornya yang sudah berkarir cukup bagus, juga banyak yang mengabaikan konsep.

Dia bingung. Pikirnya, buat apa aku belajar jika nantinya tidak mengikuti konsep yang diajarkan? Semua orang ia pikir bisa melakukan jika tanpa konsep. Dia pernah diajarkan sebuah prinsip oleh kakeknya dulu, bahwa kebenaran harus diperjuangkan. Dan kebenaran pasti akan menang.


Ia mencoba curhat kepada seorang temannya, ia berencana menyampaikan kebenaran pada dosen atau bahkan senior yang tak patuh konsep keilmuan. Tetapi ia malah diperingatkan oleh temannya tersebut, "Hati-hati," begitu intinya.

Ia mulai ragu. Ada rasa khawatir. "Jangan-jangan aku dikeluarkan dari kampus? Jangan-jangan nilaiku jelek?" dan semacamnya. Tetapi dia selalu ingat nasehat kakeknya, kata kakeknya, kebenaran akan selalu menang. Kebenaran harus diperjuangkan.

Dia coba sharing dengan teman lainnya. Kali ini kakak tingkatnya. Tetapi, tdak jauh beda nasehatnya, "Mau nanggung resikonya?" begitu tanyanya. "Kalau tidak berani, jangan main-main." Ada juga yang seolah tak peduli, "Itu memang tugasmu," katanya. Malah bikin galau.

Dia ingat, ada segolongan mahasiswa yang berani sekali memperjuangkan kebenaran. Dia coba menemui mereka. Datang ke markas mereka. Mereka memang ramah sekali. Ia disambut dengan baik. "Pimpinan kami yang dulu dikeluarkan dari kampus ini," kata salah seorang dari mereka. Agak merinding dia mendengarnya, teringat orang tua di rumah. Dia menunda dulu untuk bergabung dan mencari tahu mantan ketua yang dikeluarkan dari kampus. Usahanya tidak sia-sia, ia bertemu dengannya di pertigaan dekat pasar, di pangkalan ojek. Mantan ketua tersebut jadi tukang ojek.

Dia bertanya, "Kenapa tidak bekerja di sebuah perusahaan?" jawab si mantan pemimpin aktivis, karena di perkantoran banyak manipulasi. Menurutnya itu haram. Sebelum semua orang berubah menjadi baik, ia tidak mau dekat-dekat dengan uang haram.

Dunia semakin tampak rumit.

Ia hanya seorang mahasiswa baru. Baru tahu tentang konsep, belum berpengalaman berkarir di bidangnya. Tetapi ia sama seperti semua orang, inginkan kemenangan.

Apa saran anda?

Kemenangan besar dan kemenangan kecil. Guru saya dulu pernah cerita. Waktu itu habis ada konser di desanya. Ia cerita pada kami di sekolah, "Tadi malam saya tidak nonton, artisnya kampungan," katanya. "Saya jualan bakso. Lumayan, dapat tambahan uang, bisa buat nonton konser bergengsi minggu depan." Cukup cerdik juga dia. Dia mengabaikan kemenangan kecil. Tetapi malah memanfaatkan kekalahan kecil untuk meraih kemenangan besar.

Bagaimana dengan mahasiswa dalam ilustrasi kisah diatas? Apakah anda akan menyarankan ia memperjuangkan kebenaran dan meyakinkannya bahwa umur manusia tidak pasti panjang? Atau anda menyarankannya untuk mengikuti arus, yang menurutnya adalah kemunafikan, hinga nanti ia menjadi besar dan mampu merubah semuanya?

Coba dicari jawabannya.

Orang-orang yang mengerti agama mengartikan kemenangan besar sebagai kemenangan yang diraih di kehidupan berikut. Itulah menurut mereka kemenangan yang sebenarnya. Karena itulah, tidak jarang ada orang yang rela mengorbankan nyawanya untu meraih kemenangan besar itu. Menurut mereka, lebih baik kalah sekarang, dari pada kalah nanti. Kemenangan yang terlalu dini, menurut mereka tak terlalu berharga.

Sepertinya para politisi itu juga begitu. Pada rakyat, mereka bermanis-manis bibir. Apapun kemauan rakyat, dituruti, mengalah saja. Mereka melihat kemenangan besar nanti.

Bagaimana dengan anda?

Orang Berilmu Perlu Diajak Belajar

Ada-ada saja. Kemarin buka facebook, ada iklan menarik di samping kanan, sebuah situs berita life.viva.co.id, beritanya tentang seorang pria yang baru tahu bahwa drinya wanita setelah usia 66 tahun.

Ada-ada saja.Kata dokter itu akibat kelainan genetik dan hanya terjadi pada 1 dari 2000 bayi perempuan.

Selama saya belajar agama di madratsah dan di pesantren, belum satu pun ustadz yang membahas soal ini. Andai saja dia seorang kyai dan hidup di Indonesia, bisa heboh beritanya. Atau mungkin dia akan kebingunan mikirin tentang ibadahnya yang dari dulu mengikuti tata cara orang lelaki.

Dunia ini memang unik, dan selalu ada keunikan-keunikan baru.

Hidup memang harus terus belajar karena kehidupan selalu memperbarui diri. Dan bagi saya, mempelajari soal karakter dan perilaku manusia sungguh mengasyikkan.

Saya tidak hendak berbicara panjang lebar tentang berita di atas. Hal tersebut hanya sebagai bukti bahwa setiap detik selalu ada yang baru dalam kehidupan ini. Jadi belum ada orang yang sudah menjadi yang terpaling atau tersangat.

Tidak jarang saya temui manusia yang tampak sempurna, entah sok sempurna atau memang gayanya yang demikian. Tetapi yang jelas, saya sempat menjadi korban sikapnya. Saat saya kecil dulu, hilang rasanya kepercayaan diri berada di dekat mereka. Mereka mudah sekali mengatakan "Ini salah yang benar ini, tidak boleh begitu, begini uga ak boleh," dan semacamnya.

Pernah selama beberapa periode saya yang masih anak-anak berbuat berdasarkan selera mereka, para orang dewasa yang tampak sempurna. Mimpiku pun demi mendapat penghargaannya. Mereka seolah Tuhan penentu nilai.

Entah dengan anak-anak sekarang. apakah mereka juga demikian?

Sekarang saya sudah dewasa. Sudah tahu hidup yang sebenarnya. Ternyata, ternyata mereka adalah penakut. Mereka orang bodoh yang tampakk pintar, yang berusaha menutupii kebodohannya dengan narsisme tampang sok sempurna.

Di sekolah agama, sering juga saya temui ustadz yang demikian. Di lingkungan aktivis agama juga. Mudah sekali mengatakan "kau salah, ini aku yang paling benar". Bahkan berani mengatakan "Kau sudah kafir, haram kau masuk surga."

Saya tidak hendak membahas syariat atau hukumm agama. Tetapi ingin mengajak anda mempelajari kenapa mereka demikian? Berikut pemahaman saya.

Mereka merasa bahwa dirinya sudah mendapat petunuk dari Tuhan, merasa sudah paling banyak ilmunya, merasa paling berpengalaman, pokoknya merasa paling baik. Kita bahas satu per satu.

Coba jawab pertanyaan ini:

1) Mana yang lebih semangat meminta petunjuk, orang yang sadar dirinya tersesat atau orang yang merasa mendapat petunjuk?

2) Mana yang lebih semangat belajar, orang yang merasa bodoh atau orang yang merasa memiliki banyak ilmu?

3) Mana yang lebih semangat berlatih, orang yang merasa tidak berpengalaman atau orang yang merasa banyak pengalaman?

4) Mana yang lebih semangat memperbaiki diri, orang yang merasa dirinya buruk atau orang yang merasa dirinya paling baik?

Yang saya tahu, orang yang merasa mendapat petunjuk itu lebih sering atau lebih semangat menunjukkan ini dan itu pada orang lain. Bahkan sering memaksan agar petunjuknya diikuti. Dia merasa dunia sekarang atau yang akan datang sama dengan dunianya dulu.

Orang yang merasa banyak ilmu pun juga begitu. Ia lebih bersemangat berbicara, menyampaikan banyak hal, dari pada belajar. Ketika bertemu orang, yang muncul bukan keinginan bertanya, tapi ingin mengajari. Demikiann juga yang nomor 3 dan 4.

Saya ingin berbicara agak banyak tentang orang yang merasa paling berilmu.

Dalam ajaran agama yang dibawa oleh manusia pilihan, yang diutus Tuhan ke bumi ini, diajarkan bahwa manusia wajib belajar sejak lahir sampai mati. Coba bandingkan dua kata ini: "Seharusnya ini tidak begitu" dengan perkataan "Kok begitu ya? saya baru tahu." Yang mana yang menggambarkan semangat belajar? Satu pertanyaan lagi, kira-kira yang mana yang menurut anda memiliki banyak ilmu, orang yang semangat belajar atau orang yang merasa paling banyak ilmunya?

Musyawarah Itu Ajaran Tuhan

Orang berilmu yang banyak tahu ilmu agama tidak sedikit yang tidak mau bermusyawarah. Katanya, karena dalilnya sudah jelas. Apakah ia adalah manusia yang tak pernah melihat fatamorgana?

Makna Istighfar Yang Lain

Mungkin orang berilmu akan mengatakan saya salah, atau bahkan kafir. Tetapi, ini pemahaman saya.

Baru saja membaca facebook wisata hati. Statusnya tentang istighfar, hadits dari Abu Daud. Jika sering beristighfar, maka dibebaskan dari kesempitan, diberi rizki, kesenangan, dan kebahagiaan. Begitu katanya, cocok dengan saya yang sedang insya Allah diuji oleh Allah.

Saya suka menggunakan logika atau akal. Ini keliru menurut ahli agama, tapi menurut saya, kitab tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dibaca oleh manusia.

Beristighfar itu minta maaf. Memohon ampun atas kesalahan yang sudah dilakukan. Secara logika,
beristighfar itu kan mengakui kesalahan dan meminta ampun. Berarti dia menyadari kesalahannya, kekeliruannya. Orang bisa tahu sesuatu itu keliru karena dia melihat pembandingnya, yaitu yang benar atau yang baik. Sehingga, otomatis dia akan beralih ke yang baik dan meninggalkan yang jelek.

Itulah istighfar. Bukan hanya berkata-kata "Astaghfirullah hal adzim" ribuan atau bahkann jutaan kali. Jika hanya dimulut saja, menurut saya itu belum minta ampun. Makanya Tuhan berfirman di dalam kitab suci dengan dua kata, "Minta ampun dan melakukan perbaikan."

Ada suatu cerita. Orang-orang dahulu, seumuran guru ngaji saya, suka menggunakan kiasan. Islam memang datang saat sastra berkembang di negeri arab. Begini kata mereka, "Makanannya para ulamak itu tasbih, rumahnya masjid". Orang yang emahaminya secara dangkal berlomba-lomba tidur di masjid. Tasbihnya ulamak yang melingkar seperti kalung juga banyak diburu. Mungkin mau dimakan.

Papa and Mama, I Have A Dream

Watching Negeri 5 Menara movie yesterday, remind me to my dream, a long ago. I was really eager to go abroad, to study or work there. That movie told about students who had a dream to go abroad, like me. Yeah, like me. I was, not I am. Now I am watching Habibie dan Ainun movie. This movie tells about a great Indonesian aircraft expert, Rudy Habibie. He was a president of this country, a long ago.

Yeah, this movie is interesting. That's why my girl sent me this and suggested me to watch. However, I am not interested anymore to study abroad, but still have a passion to go overseas and visit all countries.

Before do that, having online interaction with people in other countries is interesting, like having a big family in this planet. So I can go everywhere. Yeah, I feel that they are my family. 


A long ago, I had a dream to go to Australia, because most Indonesian study there. 

Yahoo answer, it's a useful site to make interaction with people in other countries. Yesterday I opened Singapore page and read one question. I got idea to write on blog from that question.

Allah, You teach me by everything you want. Mustn't be these or those.

I opened the Australian page on yahoo answer, about family. There's a common question as I used to find before. I don't know whether boy or girl. I can't distinguish the male and female name yet. But, he may be a boy. He told that his parent wanted him always to be on the honor roll. He said that their parent wouldn't accept if he ranked down.

One almost make my tear drops, when he said "Don't they know how tired I am to do this?"

It's a dream.

His parents have a dream. That's good. It's a proof that they care about their son. It's for the better future, for a better life, for him. Do you think it's for their kids too?

They are experienced, they know what the life is, where is the good way and where is the bad one. But in their era, not now. Do you think so?

Logically, his parents are true. They do the truth, if their son want to live in their era. Some of us have proven that the good way before will be as well now, or even in the future. Yeah, we have seen it. 

How about creativity? Do you think that life is changing?

Parents can make their son or their daughter be the same as them, but they can always make this life always be the same as their era. 

In this case, as parents, what can we do is teaching our son or our daughter to lead or follow the change.

What about the children? What should they do? As a young generation, they have so many dreams. Should they kill their dreams?

Some people said that life today is better than before, while others said the contrary.

But if you face as that boy faced, I have advice for you. A learner is the greatest one. A learners learn something they do not know yet. So if you think that what's in your mind good and what's in their mind bad. This case or this matter has been in your mind. It's better to think something you do not know yet, something you may be afraid of, or something you may be worried about.

Love to do a great effort is better than just loving the result.

Able To Follow and Lead The Change

About an hour ago I read yahoo answer. I read the Singapore page. As usual, I opened Family and relationship category, my favorite one. I opened one question, still no answer there. She was a girl. She told about her experience over the night with a boy she met about three days before. She was watching a movie with him in his room over the  night. She backed home at about 03:30 am. She said no sex in that room, just kiss. On yahoo answer, she asked whether the boy love her or not.

I won't talk more about them. However, I wanna ask you whether you have opinion about this. It's been reported in media that many women in India got rape. Do you think they happy or not? I don't think so. Just blank minded women who wanna be a victim of rape. However, let's go to prostitution place. What do you think about women there? Do you think they live happily, are they in a true happiness?


What if you are a mother, or a sister, or a brother of a girl or a woman?

In today social, staying together with girl or boy, with man or woman in a room illegally, I mean without moral agreement, is enjoyable, right? They are like wife and husband. Instead, crime will possibly happen.

When I was a child, living in my village is not as free as today. When people saw a man or a boy look at a girl or a woman, they will blame him. They used to comment him that that action is a sin, can lead him to the hell, be Satan's friend. However, I won't blame anyone. I think none never make mistake.

Life is always changed. Life is not static. Life is dynamic. We have to realize about that. We are the best today, but not tomorrow. Today Life  is not tomorrow life.

I consider the generation here, the students in this country Indonesia. Most of our generations study in school. They learn many subjects. Some people think that our generations learn to live better, learn to make their lives better. However, the other do not think so, because they found evidences that most of our generations live badly. We know about that. We have seen our generations made crimes.

How can?

We know about knowledge. Knowledge is thing the students want to get, thing the teacher give to the student. But, what is knowledge? I don't want to ask the definition to an expert. I wanna ask to your heart as a mother, as parents, as teacher, as brother or sister.

Is that enough what our generation got from school?

At the end of the period, some of them got stress, as like they found the hell waiting them. For them who can pass the exam, are they clever? Do they have knowledge? Are they ready to come into real life, get involve in social?

Life is always changed. I divide our students into to types, one is having much knowledge, while the others not having much knowledge, but skilled to follow the change or lead the change. The second type doesn't care what subject they learn. For them, learning is not getting knowledge, not being aware about certain subjects, but learning is the capability to be more creative in living a life.

What's your opinion?

Cinta Tak Bersalah

Masih ingatkah kampus kita di Surabaya? Aku yakin kau takkan lupa. Waktu itu pernah kukatakan, “Aku bukanlah kapten Bhirawa yang siap menembak di tempat”. Seorang kapten tak identik dengan suasana romantis. Surat cinta itu hanyalah pengantar atau pembuka taman langit. Aku hanya berkisah di sana. Itu pun kutulis dengan pensil. Tetapi bukannya aku tidak sungguh-sungguh. Dengan alat tercanggih pun, terlalu remeh, tak ada yang pantas gantikan untuk menyatakan cinta, kecuali hati.

Kapten Birawa, flash fiction, kisah cinta romantis

Orang memang mengistilahkan dengan frasa “Jatuh Cinta”. Tetapi aku tidak sepakat. Tak ada satu pun mahluk yang mau berlama-lama jatuh. Terlebih aku. Aku tidak jatuh cinta padamu, tapi aku mencintaimu. Bahkan waktu pun kuabaikan, meski kau setia mengikutinya. Pohon beringin di sudut halaman parkir itu tentu paham. Kau dan aku selalu berebut tempat teduh untuk memarkir sepeda, saat kita semester dua dulu. Itu kan awal kita kenal hingga jadi akrab melebihi sahabat.

Sikapmu kusimpulkan seolah kau mengatakan atau bahkan meneriakiku, “Kalau cinta, paksa!” Kau memang tidak mengucapkan, tapi aku merasakan bahasa hatimu. “Kalau kau gagal dapatkan cinta, berarti kau tidak benar-benar cinta,” begitu kan maksud hatimu? Aku hanya mengharap kau sedikit belajar tentang cinta.

Kau bilang terlambat? Cintakah yang bodoh, atau kita yang tolol?! Kulihat senyum di sudut wajahmu, dulu, waktu keputusan mencekik leherku untuk melontar. Kusiram tamanku dengan air mata, saat itu. Namun, seolah ini akhir sandiwara. Aku paham, kau juga berpikir demikian. Kau genangi wajahmu dengan air mata. Hari sudah senja, Sayang. Kehidupan sudah menuai lelah. Jangan bermimpi hampiri pagi. Kau bersahabat dengan sang waktu.

^Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest: Senandung Cinta^
Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT