• Sepasang Merpati di Dahan Angsana

    Menjadi kaya itu terhormat. Itu fakta. Orang berilmu sudah kurang dilirik, tak terpandang. Tetapi, wanita berilmu seperti Alia sungguh menarik hati Alfan...

  • Sholat Imam Terlalu Lama

    Diantara kebiasaan Muadz, beliau shalat isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid nabawi, kemudian Muadz pulang dan mengimami shalat di masjid kampungnya. Suatu malam, seusai jamaah isya...

  • Anak Kades Jatuh Hati Pada Ibu Guru Muda

    Memandang wajah Ibu kepala sekolah, tiba-tiba aku teringat pesan kakek dulu waktu aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. "Nak, kalau kau besar nanti, jangan menikah sama perempuan yang bekerja," nasehatnya. "Lihat gurumu, ngurus anak orang, tapi anak sendiri dibiarkan di rumah."...

Wednesday, 27 December 2017

Cerpen: Yang Biasa (3)

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta
lanjutan dari Cerpen: Yang biasa (2)

CERPEN. Ah, ternyata capek juga memikirkan perempuan. Bayak sekali gadis cantik sekarang. Tapi aku justru tertarik untuk selalu mendekatimu, padahal rupamu biasa, tidak bernilai menurutku. Buktinya, tidak ada yang mendekatimu, kecuali aku. Apa cowok-cowok minder karena kamu disukai cowok terkenal seperti aku? Atau kau memang tidak menarik menurut mereka?

Tetapi kau memang tidak pernah peduli itu. kau tidak pernah peduli musim, panas hujan, bagimu sama saja. Kau selalu begitu. Ya, begitulah kau. Semua biasa bagimu, tidak ada yang istimewa, termasuk aku. Apa kau demikian karena tidak ada yang menganggapmu istimewa?

Sehabis mengikuti kuliah Intro To Literature, kau kuajak ke taman di depan UKM musik. Kau biasa-biasa saja, menyapa teman-temanku, seolah kau sudah lama akrab. Aku pun juga meniru kau. Hhmm… Hebat kau. Orang-orang banyak yang meniru artis dan penyanyi, tapi aku yang sudah jadi anak band malah meniru kau.

Dengan sederhana kukatakan saja kalau aku suka sama kamu dan ingin kau menjadi kekasihku. Kukatakan dengan biasa, tanpa ekspresi yang luar biasa. Kau menelan nafas, lalu tersenyum. Apa bagimu itu juga biasa? Kau memandangku. “Kamu mau kan?” kutanya dengan biasa. Kau tersenyum, juga dengan biasa. Semua jadi biasa-biasa.

Kau tampak bingung.

“Kau bingung?” kutanya. Kau diam. “Bingung untuk menolak? Terima saja.” Kau tertawa. “Kurasa kau tidak perlu ragu,” lanjutku. “Kita jalani saja dulu. Kalau kau merasa tidak cocok, berarti kita memang bukan jodoh.”

Kau tersenyum, seperti hendak berkata sesuatu.

“Aku suka sikapmu.”

“Ya kuterima, tapi tidak seratus persen,” katamu kemudian sambil menahan tawamu.

“Tidak masalah.”

Aneh.

***

Kita sudah jadian. Kau jadi kekasihku, tapi belum seratus persen, begitu katamu. Tidak masalah. Kau tetap unik. Kurasakan rahasia keindahan di wujudmu semakin kuat. Kau indah walau biasa. Saat kita bersama, tidak ada kata-kata romantis kau ucap, tidak ada ekspresi berlebih, semua biasa, kau selalu biasa, namun kau sanggup hadirkan keluarbiasaan.

Sungguh.

Kadang kita membicarakan masa lalu, kau narasikan kisah-kisahmu. Kudengarkan sambil tersenyum. Indah meski kata-katamu biasa. Sesekali kupandang wajahmu, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa. Senyum selalu mengembang di bibirmu, kau selalu begitu. Namun hadir suatu rasa yang luar biasa indah di jiwaku.

Aku suka.

Aku sempat ditegur sama teman-teman band-ku, katanya aku lebih mementingkan kau. Padahal sejak aku dekat kamu, semakin produktif kutulis syair lagu. Hampir semua yang kami nyanyikan itu karyaku. Sungguh luar biasa. Itu karena adamu bersamaku. Aku tidak peduli sikap mereka. Biarlah. Sudah biasa. Ya, kau yang ajari aku begitu. Semua biasa.

“Udah terkenal, kok suka sama cewek biasa.”

Begitu komentar temanku. Biar. Tidak perlu kuhiraukan. Teman-teman di kampus juga banyak menyebar rumor begitu. Katanya kau tidak  pantas buat aku. Ya, kelas mereka memang di atasmu, kau kelas rendahan. Tetapi kau semakin unik. Cemoohan mereka membuat kau semakin berbeda.

Aku digemari banyak orang. Kau? Cukup aku saja. Biar mereka menganggapmu biasa, tapi kudapatkan yang luar biasa darimu. Sungguh. Ada sesuatu kurasakan seperti aliran yang tak pernah kering, tak peduli musim. Samar-samar, tidak terlalu mencolok, bahkan mungkin tak terlalu menarik. Belum sempurna kupahami.

Tetapi kusuka keabadiannya.

Tidak terasa, kebersamaan kita berlangsung lama, tanpa sesuatu yang istimewa, tanpa sesuatu yang spesial, tanpa sesuatu yang terlalu indah. Belum kuungkap keunikan yang kurasa sangat indah di dirimu. “Kesenangan dekat dengan kebosanan. Tetapi kedamaian dan ketentraman, bukan sesuatu yang bisa dimiliki, tapi keadaan di mana kita berada di dalamnya,” katamu.

Aku merasa seperti seekor anak kepodang yang terbang berlelah-lelah ke angkasa sangat tinggi, agar bisa kulihat seluruh isi dunia dari sana, lalu aku lelah dan turun untuk istirahat. Kurebahkan sambil samar-samar kunarasikan kisah perjalanan naik hingga aku tiba lagi, sungguh melelahkan. Usai sudah.

Aku rebah dalam ketentraman jiwa. Semoga takkan pernah usai.

Tuesday, 26 December 2017

Cerpen: Yang Biasa (2)

lanjutan dari Cerpen: Yang Biasa (1)

CERPEN. Kau dan aku satu kelas, tapi jarang sekali berkomunikasi. Kau pendiam, ya, selalu duduk di depan, selalu memperhatikan penjelasan dosen. Aku di bangku belakang, kadang di tengah. Kalau dosen sudah mengakhiri kuliahnya, kau selalu keburu keluar. Aku jadi ingin tahu, ada urusan apa. Suatu waktu kuikuti kau, waktu kita baru keluar dari ruang kuliah, saat baru selesai mengikuti mata kuliah Jurnalistik Dasar. Kau tidak menyadari.

Rupanya kau ke perpustakaan. Aku juga masuk, kau tidak melihatku karena kau langsung mengambil satu majalah dan kau baca di meja, menghadap ke jendela, mungkin sambil menikmati pemandangan hijau di luar. Kuperhatikan, kau membuka-buka halaman majalah itu sambil sesekali kau tulis sesuatu di catatan kecil yang kau bawa.

Lama.

Aku merasa lelah. Buku yang kupegang tidak kubaca. Hanya pura-pura membukanya. Teman-teman UKM musik berkali-kali mengirim sms agar aku ke sana, untuk bermain musik dan melantunkan lagu bersama mereka. Tapi otakku tak bisa bergerak, terlalu kuat kau mengilhami. Nanti, kan kutulis tentangmu, tentang rasaku, semua tentang kau dan aku meski sebenarnya antara kita belum ada apa-apa, kan kujadikan sebuah lagu. Kan kubuat sederhana saja, namun penuh makna.

Sederhana.

Sebenarnya, aku belum begitu mengenalmu. Hanya saja ada yang perlu kutahu lebih jauh tentangmu. Kau seusia dengan aku dan teman-teman di kelas. Ya. Tapi jiwamu sudah meninggalkan kami jauh, sangat jauh. Unik. Aku suka yang unik. Aku tertantang untuk mengungkap rahasia. Aku merasa seperti akan mendapatkan sesuatu yang istimewa, barangkali suatu dunia lain yang belum pernah ada di dunia ini. Entah dunia apa, mungkin dunia kata-kata dalam syair lagu? Barangkali?

Mereka, kaummu, selalu asyik berbincang yang indah-indah tentang cinta. Kau tidak tertarik untuk ikut nimbrung? Kau tidak seperti mereka, kurang begitu peduli dunia muda. Kau sudah tua? Usiamu setara dengan kami, iya kan? Lihat penampilan mereka, pada keren-keren, hampir semua penampilan artis ditiru, gayaku juga.

Kadang kau duduk sendiri, gayamu selalu membaca buku. Tapi ‘ku tahu, kau tidak membaca. Itu hanya caramu untuk menutupi ketidakmampuanmu mencari teman. Ya, kau terlalu egois, tidak mau meniru temanmu. Kau terlalu percaya diri dengan keadaanmu. Tidak mau berubah seperti mereka? Tapi kau ramah, mudah diajak berteman.

Kadang aku tersenyum sendiri memandangimu.

Kau yang kukagumi, kusapa kau, duduk disampingmu. Kau tersenyum. Tersanjung? Tapi kau meneruskan mencatat meski sempat menoleh dengan senyummu. “Sedang apa?” kau tanya aku. Memangnya mau cari cecak? Ini kan perpustakaan, semua yang datang ke sini mau baca. Aku jujur saja kalau aku mengikutimu.

Kau tertawa dan berhenti menulis. “Maksudnya?” tanyamu sambil tersenyum, menatapku dengan tatapan memaksa untuk kujawab. Aku malah jadi malu. Baru kali ini, sejak namaku terkenal, aku merasa minder untuk menatap perempuan. Kau terlalu berwibawa meski seusia denganku. Aku tersenyum. “Ada perlu?” tanyamu lagi. Sikapmu seakan memberi kesempatan padaku, kalau memang aku perlu sesuatu sama kamu, silahkan.

Aku bingung. Pertama kalinya merasa bingung setelah aku terkenal. Aku terkenal karena aku mampu menjadi yang beda, aku mampu memainkan musik dan menyanyikan lagu, mampu menghibur penikmat musik. Orang-orang terkagum-kagum. Kau? Sayangnya hanya aku, tidak yang lain, yang merasa bahwa kau mampu menjadi yang beda, bahkan lebih dari aku. Kau unik.

Sungguh.

Ketika aku bertemu teman-teman UKM musik, kusodorkan sekian judul lagu, semua terinspirasi oleh keunikanmu, kau beda. Semua kutulis sendiri dalam waktu yang sangat singkat. Belum pernah sebelumnya. Kau tahu, lagu-lagu itu banyak digemari orang, termasuk kau, sang inspirator. Kau unik.

“Kau hebat.”

Begitu katamu saat aku mendekatimu sehabis tampil di panggung, saat acara pagelaran seni yang diselenggarakan oleh teman-teman UKM Teater kampus. Rupanya kau juga suka menghadiri acara seperti itu. Atau karena kau terpesona oleh laguku?

Aku malah gugup. Gadis-gadis yang biasa menggandrungiku menahan diri, memandangimu. Mungkin mereka mengira kau kekasihku. Bukan. Aku hanya terobsesi untuk mengungkap rahasia, sesuatu yang sangat indah, mungkin, sangat, bisa kurasakan meski belum mampu kulihat.

“Kukira kau tidak suka menghadiri acara seperti ini,” kataku.

“Sekali-kali,” katamu.

Orang-orang mengelilingi kita, seakan mereka penonton drama yang sedang menunggu aksi adegan menegangkan, tertegun, banyak mata memelototi. Kau tidak sadari itu? kau menatap mataku, tajam. Aku tidak melihat sesuatu di sana, hanya sangat kurasakan sesuaatu, keindahan yang belum terungkap.

Aku mengajakmu duduk. Orang-orang itu perlahan beranjak, membiarkan kau dan aku berbincang berdua. Menyenangkan. Sejenak kita diam, dan kuingat awal pertemuan kita, kau mengenalkan temanmu. Ke mana dia? Ah, buat apa memikirkan dia. Dia cantik, tapi apa bedanya dengan yang lain? Tidak menarik.

Sikapmu selalu biasa, seakan kau tidak sedang bersama lelaki spesial. Aku punya banyak penggemar, kau tidak bangga?

“Anak band selalu sibuk, ya?” tanyamu.

Aku tersenyum. Pikirku, bukannya kau lebih sibuk? “Tidak juga,” jawabku.

“Kuliah nomor dua, ya?”

Aku tersenyum, lalu tertawa. Kenyataannya memang begitu. Pikirku, yang malas sama yang rajin, sama-sama dapat ijazah, sama-sama bisa jadi pegawai negeri. Tapi kalau anak band, jarang latihan, bisa payah. Perlu latihan terus menerus, sebab yang menilai langsung para penikmat musik. Mereka ingin menikmati hasil karya yang indah.

Kau malah ikut tersenyum, mau tertawa tapi kau tahan. Apa kau juga merasa sepertiku? Tapi kau rajin. Mungkin kau tidak pernah absen. Pasti nilaimu bagus-bagus. Bisa kutebak. Ya, aku menilai dari perilaku dan ketekunanmu.

Bersambung ke Cerpen: Yang biasa (3)

Monday, 25 December 2017

Cerpen: YANG BIASA (1)

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta

Cerpen. Takdirkah ini? Unik. Tidak semua yang dilihat dapat dirasakan, begitu katamu. Karena kau bukan yang luar biasa?

Masih kuingat serangkai kata tentang kaummu, Wahai kau mahluk indah, oleh seorang penyair kenamaan. Tak perlu kau tanya namanya. Katanya, “Wanita tidak dicipta dari tulang ubun karena bahaya membuatnya terlena dalam sanjung dan puja, tidak pula dari tulang kaki karena nista menjadikannya dihina dan diinjak-injak, tetapi ia dicipta dari rusuk kiri, dekat hati untuk dicintai dekat tangan untuk dilindungi.”

Aku sepakat.

Banyak sekali yang memperbincangkan tentang kaummu, terlalu indah untuk tidak dibawa dalam setiap perbincangan, apalagi hadirnya. Kau yang kukagumi, sudah cukup lama waktu membisu, namun padanya kisah menarasi indah. Kau yang menarasikan.

“Jangan kau perhatikan yang tidak abadi,” begitu katamu. Apa maksudnya? “meski kau lihat sangat indah, dan hatimu sangat ingin menikmati, buat apa kesenangan yang tidak abadi?” Sulit kupahami. Tidak nyambung. “Mata air memang hanya setetes-setetes saja, tapi ia tidak kering saat kemarau. Dan gunung yang indah akan musnah bila keindahannya kau nikmati. Namun kan semakin indah taman di halaman yang tak henti kau rawat.”

Terserah kamu. Tiba-tiba saja kau lontarkan kata-kata itu.

“Banyak orang menggambarkan pemandangan-pemandangan indah,” kau melanjutkan. “penuh ekspresi, tapi bukan objek itu yang ia kagumi, sebenarnya. Keindahan itu hanya jadi latar, hinggap di dahan-dahan hijau dan setiap lambai daun-daun.”

Kau bukan menjelaskan. Aku tahu gunung dan pohon, tapi mendengar kau menyebutnya, seperti aku adalah anak kecil yang belum tahu nama-nama benda. Tidak kumengerti. Apa maksudmu?

Terserah kamu.

Kau yang kukagumi, masih ingat dulu, sewaktu baru kukenal kamu di kampus kita, waktu baru saja kau dan aku menginjakkan kaki di dunia mahasiswa, baru saja melepas seragam abu-abu. Kenangan. Waktu itu kau dan aku masih sangat muda. Kau juga masih ingat, kan? Aku yakin itu, tergambar dari senyummu.

Waktu itu semua rekan-rekan kita sedang asyik-asyiknya mencari kenalan baru, mencari pasangan baru. Mata mereka berburu wajah cantik, wajah tampan, kantong tebal, dan macam-macam. Kau datang mendekatiku, mengenalkan temanmu. Dia cukup cantik, lebih dari itu, sangat. Aku tergoda.

Kau?

Seperti awan ditebar angin, seluruh alam terselimuti, dibuatnya kenal semua. Namaku dikenal seluruh kampus, sesaat setelah aku tampil bersama teman-teman grup band-ku. Ya, itu sudah biasa. Setiap aku dan teman-temanku usai tampil di sebuah pertunjukan, banyak gadis-gadis yang ingin mengenal kami. Aku dan teman-teman selalu bermurah hati. Mereka cantik-cantik, gaul-gaul juga, keren.

Mereka merasa bangga bila sempat bertutur sapa dengan kami, apalagi diberi tanda tangan. Seakan aku dan teman-teman adalah segolongan pangeran dari kahyangan, di negeri dongeng. Dikisahkan pada jaman dulu dengan kata-kata yang sangat indah, menenggelamkan hayalan.

Kita duduk bertiga di bawah pohon waru di dekat halaman parkir kampus, fakultas sastra. Awalnya kau hendak pergi, kau malu? tapi aku memintamu untuk ikut berbincang. Temanmu malu-malu menanyakan banyak hal tentang lagu-lagu grup band-ku. Seperti wartawan infotainment saja dia.

Kau diam saja.

Perbincangan itu berlangsung agak lama. Temanmu yang banyak bertanya tentang aku, tentang lagu-laguku, semua tentang aku dan grup band-ku. Aku tidak terlalu aktif, hanya menjawab iya atau tidak, sesekali juga menjelaskan saat temanmu butuh penjelasan. Sementara kau hanya sesekali tersenyum.

Aku masih ingat, aku malah bertanya padamu, tentang asal daerahmu. Temanmu seperti terkejut, mungkin terlalu istimewa gadis sepertimu ditanya asal daerahnya oleh anak band seperti aku. Tapi kau biasa saja. Aku juga merasa biasa, tidak terlalu berbangga diri di depanmu, seakan aku bukan anak band yang selalu dipuji-puji kaum hawa.

Kau.

Aku tahu perempuan sepertimu, memang begitu, kau anggap semua orang sama, termasuk aku. Tak ada istimewa-istimewanya. Sebenarnya aku hendak bercerita banyak padamu waktu itu, tentang masa lalu, semua tentang aku. Aku yakin kau akan mendengar dengan senang hati. Tapi kau keburu pergi. Katanya ada kuliah. Bukankah kita satu kelas? Temanmu itu, aku lupa siapa namanya, juga ikut pergi meninggalkanku. Kubiarkan saja.

Saat kita bertemu, kau selalu menyapa, meski hanya sebuah suara “Hei,” lalu kau berlalu bersama bekas senyummu. Seperti orang sibuk saja kau. Tapi aku yakin, aku lebih sibuk darimu. Tawaran manggung semakin banyak, bahkan kuliah sering kutinggalkan, hampir tidak keurus lagi. Untunglah banyak penggemarku yang peduli, membantu aku mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Kau sibuk?

Waktu SMA aku juga begitu. Banyak guru-guru yang memfonis aku tidak akan lulus. Tapi, toh mereka masih membantu, bapak dan ibu penjaga ujian nasional itu juga membantuku mengerjakan soal. Mereka itu, sebenarnya, bangga padaku. Hanya saja mereka bingung, menurutku, takut aku dan teman-teman tidak bisa jadi orang kaya, tidak bisa mendapatkan pekerjaan enak bila tidak mempunyai ijazah. Padahal, pendapatan kami dari hasil manggung di mana-mana sudah lebih besar dari gaji guru.

Mungkin mereka terlalu sayang. Saat mereka tahu aku dan teman-teman lulus, kami yang disapa duluan oleh mereka, seakan mereka menemukan emas di tempat pembuangan sampah. Teman-teman yang lain jadi iri. Katanya, mentang-mentang aku dan teman-teman sudah terkenal, dipuji sampai segitunya, meskipun sebenarnya tidak murni menyelesaikan soal sendiri.

Ya, aku begitu.

Bersambung Cerpen: Yang Biasa (2)

Sunday, 24 December 2017

Cerpen: Kisah Tak Dimengerti (2)

cerpen, cerpen dewasa,cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta
lanjutan dari Cerpen: Kisah Tak Dimengerti (1)

Pelayaran terkendali arus gelombang, terombang-ambing kian kemari, melesat, diam, melompat, hingga hampir terguling. Begitu kuat cintanya. Dan samudera pun takluk, diam, tenang dalam kedamaian. Ikan-ikan indah berlompatan memamerkan warnanya di permukaan, mengkilat-kilat disambar sinar surya pagi. Langit kaget dan mengusir kabut, takjub ia menyaksikan keindahan samudera hingga ingin turun. Hampir-hampir sang surya lari takut tertindih.

Bahtera melaju melenggak-lenggok damai. Gelombang meliuk-liuk indah. Angin taupan yang biasa mengibas-ngibas ganas entah ke mana. Alam tersenyum, terbahak terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba, air samudera meninggi. Kabut berkerumun takut tertuduh telah menangis. Mereka kompak menyatakan bahwa mereka tak berair mata. Sang bahteralah yang menangis. Ia telah hancur oleh panas, rapuh dan ditelan gelombang yang tenang dan lembut.

Wanita tua. Tak terasa kini ia telah jadi wanita tua, keriput kulitnya, tidak bening lagi seperti dulu. Ia sudah lupa rayuan-rayuan mesra dahulu. Tetapi sang lelaki tua yang dulu sangat romantis masih ingat kisah-kisah indahnya, kata-kata rayuannya, semuanya. Seorang putra yang gagah, yang telah ia besarkan bersama permaisuri tercinta, adalah pemberian wanita tua yang bungkuk itu, bukan dari permaisuri cantik yang masih muda yang menjadi teman hidupnya di istana.

Masih ia ingat ketika cintanya tergoyah oleh kecantikan lain yang baru merekah, entah itu hanya buah kebosanan atau memang nyata hakikatnya? Yang pasti telah memikat hatinya. Ah, semua itu adalah masa lalu. Ia menunduk, mematung. Jiwanya terasa beku.

Entah apa yang membuatnya mengunjungi tempat kenangan di ujung hari seperti ini? Kegelisahan? Mungkin. Atau sekedar rindu masa lalu. Ia mengikuti wanita tua itu, melangkah perlahan melewati lorong-lorong sempit yang kumuh, berserakan sampah-sampah. Wanita tua itu semakin masuk ke perkampungan, kemudian berhenti di rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah reyot. Ia memasukinya. Lelaki tua itu terdiam sejenak. Rupanya ia ingat, di rumah itulah–ketika dulu masih berdiri tegak dan masih berwarna putih cerah–ia pertama kali memetik kuntum yang belum terjamah.

Ia melangkah, membuka pintu tanpa mengetuk. Wanita tua itu kaget. Ada seorang wanita muda tergeletak di sampingnya, kurus, tinggal tulang berbalut kulit. “Siapa, Bu?” suara wanita muda itu agak gemetar. Ibunya membisu, menatap memancing ingatan. Lelaki tua menghampiri.

“Anda siapa?” Tanya si wanita tua.

“Bu Suminah sudah tiada?”

Wanita tua itu terkejut, karena lelaki tua itu mengenal orang miskin yang dulu sangat menyayanginya, lebih penyayang dari ibunya sendiri. Ia memperhatikan lelaki tua itu dengan seksama. Dan si wanita muda memandang ke sana dan sini, ibunya dan lelaki tua itu mematung saling pandang.

“Kau semakin tampan, mungkin lebih tampan dari anak kita,” kata wania tua itu. “Di mana dia?”

Si wanita muda semakin tidak mengerti. Dan lelaki tua itu tertawa, lalu tersungkur dan menangis. Si wanita tua terkenang romansa indah dahulu, serangkai kisah indah berakhir luka. “Kenapa kau menangis?” lelaki tua itu mendongak. “Anakmu yang menderita seumur hidup ini tak pernah menangis.” Semakin keraslah tangis lelaki tua itu. Terguncang tubuhnya, suara tangisnya didengar sekuntum bunga melati di tepi pantai laut utara, bunga melati yang sendirian. Ialah bunga melati yang terbuang. Tetapi ia telah lupa, bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia tak bergeming oleh tangisan lelaki tua itu. Tetapi kebisuannya menyatakan sebuah ejekan lebih dari bualan setan.

Mengganaslah seluruh alam. Marah, geram, hahhh!!! Tetapi amarah yang melelahkan. Si wanita muda menangis, “Bapak” sebuah sebutan yang pertama ia ucapkan beriring air mata yang pertama pula. Alam diam, haru tak mengerti kisah. 

Cerpen: Kisah Tak Dimengerti (1)

cerpen, cerpen dewasa,cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta

CERPEN. Sudah ada bintag senja di ufuk. Lihat. Burung-burung itu bukan gelisah. Lihat, mereka terbang mengular dari selatan, bagai membalap angin. Mereka hendak kembali keperaduan bersama anak-anaknya yang gemar bermain. Sebenarnya, anak-anak mereka masih ingin bermain, agar segera akrab dengan alamnya, tapi ibu-ibunya ingin mendekapnya semalam penuh. Mereka tak sanggup berpisah saat hari sudah gelap, atau mungkin malu pada dewi malam, atau mereka tak mau tersaingi kasih sayang purnama yang rela berlelah-lelah bersinar saat dingin menusuk-nusuk tubuh.

Lihat di bumi, wajah keriput itu tak secerah dulu. Hhh… senjanya tak berhias mega. Tak indah lagi. Dan surya kita melebarkan sayapnya, melingkar setengah di pertemuan tepi alam, langit dan bumi. Mega-mega itu bagai para pengawal istana yang hendak menyambut rajanya yang baru saja datang bertugas.

Wanita tua. Badannya sudah bungkuk. Dia yang dulu dikagumi setiap mata. Bahkan sang surya seakan tak mau membenam ditelan mega. Ulahnya membuat dewi malam cemburu. Tetapi itu dulu, saat pagi baru merekah, berhias bunga-bunga di awal musim kembang. Sekarang, kemana cantik pagi yang dulu? Ah, dia bukan lagi gadis yang suka bermanja-manja membangga rupa. Di jiwanya telah terpenuhi kabut kasih yang selalu mendesak-desak untuk menjadi hujan. Gelisahlah langit, selalu.

Wanita tua. Bungkuk badannya, seperti ujung pohon bambu yang lentur, namun tegar jiwanya. Kakinnya tak beralas menapaki kerikil. Tubuhnya tak berbungkus sutera seperti dewi di istana, tapi dingin menjelma bara tak menyengat. Lihat, dia tersenyum, samar-samar ditelan gelap yang belum sempurna. Di tangannya tergenggam lembaran rupiah. Ia dapatkan dari belas kasih tangan-tangan dermawan. Ia yakini itu tangan-tangan Tuhan.

Wanita tua terus melangkah. Lihat, orang-orang yang sedang duduk di pinggiran jalan yang akan ia lewati pura-pura sibuk, ada yang mencet-mencet telepon genggam, ada yang sok rajin membaca Koran, padahal hari sudah mulai gelap. Si wanita tua menjadi malu, wajahnya merunduk. Dan orang-orang itu merasa lega, kembali lagi bersantai. O, lihat, debu jalanan menghampiri wanita tua itu, seperti bidadari-bidadari rindu kekasihnya. Mereka membawa senyum menyimpul lusuh.

Ada seorang lelaki tua, sangat sepuh, tapi masih sempat ia menyisir rambutnya, tak kalah sama anak muda. Ia tersenyum memandang wanita tua yang sudah bungkuk itu. Bola matanya yang tersembunyi di balik kaca mata hitamnya membawa dunia pada kisah dahulu. Malam seakan urung menguasa.

Lelaki tua itu teringat para petugas kereta api yang tak satu pun yang tidak ia kenal. Ia tahu nama mereka, rumah mereka, adik dan kakak mereka, tetangga mereka, sahabat dan teman dekat mereka, hingga makanan kesukaan mereka. Masih ia ingat semua itu. Tetapi sebagian mereka telah tiada, mungkin beberapa yang masih hidup. Dulu mereka sudah jadi bapak-bapak. Memang ada sebagian yang muda. Merekalah yang mungkin masih ada sekarang.

Bahkan lelaki tua itu hafal jadwal pemberangkatan kereta api ke segala jurusan di stasiun itu. Bahkan lebih hafal dari petugas stasiun yang masih baru. Ah, ia tersenyum. Ia teringat masa-masa indah dulu. Bukan, bukan indah. Di stasiun itu tak ada taman bunga. Yang ada besi dan baja.

“Wajahmu seperti matahari pagi, atau bunga yang baru mekar.”

Itu yang dulu pernah terucap sebagai rayuan. Mendadak alam penuh dengan bunga, hingga rel-rel pun bermekaran. Gerbong-gerbong juga menebar aroma kembang. Alam nyata dan mimpi tak lagi berbeda saat itu, tak ada yang mampu membedakan. Mata termangsa takjub. Tetapi dunia terlalu indah hingga hilanglah keindahan itu, terbunuh dirinya sendiri. Semua yang tak indah terkubur, tapi keindahan malah kehilangan makna.

“Sayang, jangan kau bersedih. Apalah artinya harta bila tak ada yang berair mata saat kau sedih, tak ada yang ikut tertawa saat kau bahagia. Kesendirian lebih dari penderitaan. Tak perlu kau impikan istana yang megah dan taman yang indah. Aku takut keindahanmu termangsa.”

Kata-katanya sungguh menjanjikan, mampu membunuh keraguan. Dan kalimat itu terjawab kata sepakat. Bahtera pun berlayar menjelajah samudera-samudera tak dikenal, berlayar sehasta demi sehasta menuju pulau tak nampak.

Saturday, 23 December 2017

Kisah Nyata: Pedagang Blok G Merasa Merugi Karena PKL Tanah Abang

Flash True Story, Kisah Nyata, Real Story, PKL Tanah Abang

Hidup ini memang penuh cerita. Pengarangnya bukan manusia, tentu saja tidak semua cerita hidup ini sesuai dengan kehendak manusia.

Membaca berita di liputan6 tentang PKL tanah abang, rupanya menjamurnya mereka telah menyebabkan pedagang di blok G menurun pendapatannya. Tentu saja, penjualnya kan tambah banyak. Bahkan hingga ada pedagang blok G yang turun ke jalan jadi PKL. Ini kebijakan baru pemprov DKI. Saya jadi teringat suasana pasar di desa, kemunculannya hanya di waktu pagi, siang sedikit sudah tidak ada. Tetapi menurut pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, rupanya hal serupa juga dilakukan di luar negeri, yakni di Hong Kong yang dikenal dengan sebutan Ladies Market. Baca berita selengkapnya di sini.


Pengalaman seperti di atas sebenarnya wajar dalam berbisnis. Jika ingin tanpa saingan, jalankan bisnis yang belum dijalankan orang lain. Tetapi biasanya memang sesuatu yang tidak dibutuhkan orang. Hehe... Namun, memang tugas pemerintah juga untuk mengatur agar tidak terlalu banyak penjual dalam satu tempat.

Pebisnis sudah sepatutnya siaga dengan nasib masa depan bisnisnya. Pebisnis memang harus siap dengan segala kemungkinan yang akan dihadapi. Bagus sikap yang diambil oleh pedagang blok G yang memilih turun ke jalan jadi PKL. Memang harus begitu.

Semoga mendapatkan solusi terbaik.

Friday, 22 December 2017

Fabel: Burung Perpustakaan Di Hutan Aksara

Cerpen, cerpen anak, fabel, cerpen singkat

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan langit di ufuk timur masih dipenui warna merahnya fajar, si burung perpustakaan sudah berada di puncak pohon tertinggi di wilayah kerajaan Gajah Putih yang terletak di tengah hutan Aksara. Hutan Aksara merupakna hutan yang sangat lebat. Luasnya beribu-ribu haktare. Hutan Aksara banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi besar. Banyak buah-buahan di hutan tersebut. Ada buah mangga, apel, jeruk, nanas, dan semacamnya.

Ada sebuah sungai di hutan tersebut, airnya sangat jernih membuat hutan tersebut menjadi sejuk. Sungai tersebut bernama sungai Tinta, mengalir dari bagian hutan sebelah utara ke bagian selatan. Sungai tersebut keluar dari sebuah sumber yang besar dan berakhir di laut. Di tengah hutan, sesampainya di istana, aliran sungai tinta membelok. Konon ceritanya, sungai Tinta menghormati istana sang raja gajah putih.

Kira-kira seratus meter dari sumber air sungai tinta ada suatu tempat yang indah, di sana ada lima pohon cemara. Di pohon cemara itulah si burung perpustakaan tinggal. Dia belum lama tinggal di sana. Sebelumnya dia berkelana keliling dunia, ke Cina, Jepang, Mesir, Australia, Mexico dan Negara-negara lain di dunia. Bahkan dia pernah tinggal di Green Land (Tanah Hijau) sebuah daerah dekat kutub utara bumi.

Dari pengalamanya menjelajah bumi si burung perpustakaan prihatin melihat kebodohan bangsa-bangsa binatang di dunia. Hampir semua binatang tidak bisa membaca dan menulis. Suatu malam, saat ia berada di Indonesia, tepatnya di pantai Losari Sumatra, dia merenung. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mencerahkan umat binatang, agar mereka semua bisa membaca.

Entah dia dapat ide apa? Tiba-tiba dia terbang ke arah utara, menuju tengah lautan. Dan akhirnya sampailah dia di sebuh pulau. Dia hinggap di daratannya. Waktu itu malam sudah akan berakhir. Dengan hati-hati ia memasuki hutan tersebut, mengikuti arus sungai. Sekitar seratus meter kemudian ia bertemu seekor tapir.

“Hai Tapir, siapa namamu? Perkenalkan aku burung Perpustakaan,” burung Perpustakaan memperkenalkan diri.

Tapir menatap burung perustakaan. Samar-samar sebab matahari belum sempurna pancarkan sinarnya. Ia rupanya suka melihat warna bulu burung perpustakaan. “Bulumu bagus ya,” katanya.

“Kamu suka ya?”

“Asalmu dari mana?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, namamu siapa?”

“Namaku Sinonim.”

“Aku tidak punya tempat tinggal. Aku selalu berkelana seperti musafir.”

“Ow, kamu pendatang baru. Selamat datang di hutan Aksara ya.”

“Hutan Aksara?”

“Iya, nama hutan ini hutan Aksara. Dan pulau ini bernama hutan Paragraf, sementara sungai ini bernama sungai Tinta.”

Burung perpustakaan penasaran dengan nama-nama itu. Tetapi ia diam saja. “Senang kenal denganmu, Sinonim,” kata burung Perustakaan.

“Aku juga.”

“Kamu sedang apa di sini?” tanya burung perpustakaan.

“Ini tempat favoritku. Aku suka tinggal di sini. Tempat ini indah. Rumputnya enak-enak.”

Burung perpustakaan menerawang suasana di sekitar tempat itu. Indah memang, ada lima pohon cemara berjajar, ada tiga pohon pisang, ada bunga mawar, dan rumputnya tebal. Di dekat pohon cemara ada sebongkah batu besar berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira dua meter.

“Aku suka tidur di atas batu itu,” kata Sinonim.

Burung Perpustakaan mencoba berdiri di atas batu itu. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Aku sering bermimpi berada di sebuah ruangan dan dindingnya penuh tulisan. Berkali-kali aku bermimpi berada di sana,” tutur Sinonim.

“Kamu membaca tulisannya?”

Sinonim diam sejenak. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya tampak malu-malu.

“Sayang sekali. Mm… kalau kamu mau, aku mau mengajarimu membaca.”

“Benar?!”

“Iya. Aku akan mengajarimu membaca dan menulis, dengan senang hati.”

“Horeee… Kamu baik. Oya, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini. Buat aja sarang di pohon cemara itu. Indah kan tempatnya.”

Burung Perpustakaan diam sejenak. “Benar juga ya,” katanya kemudian. Lalu ia mengambil rumput dan dibawanya ke atas pohon cemara yang paling tengah. Berkali-kali ia mengambil rumput sampai akhirnya, jadilah sarangnya. “Nah, sarangku sudah selesai. Sekarang waktunya belajar. Ayo.”

“Kamu tidak capek?” Tanya Sinonim.

“Tidak. Aku tidak capek.” Lalu ia mengenalkan huruf-huruf abjad pada Sinonim.

Sinonim memperhatikan dengan seksama penjelasan burung Perpustakaan. Ia menghafal nama-nama huruf abjad yang dikenalkan oleh burung Perpustakaan. Burung perpustakaan menyusun huruf: A k u, “Bacaannya Aku. Coba tirukan.”

“Aku,” kata Sinonim.

Jadilah ia murid pertama burung Perpustakaan. Setiap hari ia belajar dengan tekun pada burung perpustakaan. Ia terus berlatih membaca dan menulis. Semangatnya untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Ia penasaran apa isi bacaan dalam mimpinya? Burung Perpustakaan pun juga demikian. Ia penasaran, ingin tahu apa isi tulisan dalam mimpi Sinonim itu. Setelah berhari-hari Sinonim belajar, akhirnya ia bisa membaca dan menulis.

Suatu malam ia bermimpi lagi berada di sebuah bangunan yang dindingnya dipenuhi tulisan. Dibacanya semua tulisan itu. Setelah selesai membaca semua tulisan itu, ia terbangun. Tak terasa pagi sudah tiba. “Burung Perpustakaan, BAngun! BAngun!” ia membangunkan burung perpustakaan dengan mengayun-ayun pohon cemara tempat sarang burung perpustakaan berada.

Burung Perpustakaan terkejut. Ia bangun. Ia menghampiri Sinonim yang berada di atas batu. “Ada apa, Sinonim?” tanyanya.

“Aku bermimpi berada di ruangan yang penuh tulisan itu lagi,” kata Sinonim.

“Hah! Apa isinya?!”

>>bersambung

Thursday, 23 November 2017

Kisah Nyata: Orang Jepang Patuh, Polisi Tak Perlu Rasia

Kisah, kisah inspiratif, kisah nyata

Luar biasa. Jika kabar tentang orang Jepang yang sangat patuh tersebut benar, mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana sistem pendidikan di Jepang bisa menghasilkan manusia-manusia yang begitu patuh. Apa pendidikannya dengan kelembutan, atau dengan kekerasan?

Ada cerita tentang sekumpulan gajah yang diikat dengan tali yang kecil. Orang yang kebetulan lewat bertanya pada yang menjaganya, "Kok gajah-gajah ini tidak lari? Kan talinya kecil?"

Sang penjaga gajah tersenyum. "Sejak kecil, gajah-gajah ini diikat dengan tali sekecil itu. Gajah-gajah ini sudah yakin kalau mereka tidak bisa memutus tali tersebut."

Wah, ini pendidikan mental. "When you believe..."

Memang, jika sejak kecil anak dibiasakan dengan teriakan dan bentakan, maka ketika besar, larangan yang diucapkan pelan tidak akan berefek. Begitu juga sebaliknya, jika anak dibiasakan dengan kata-kata yang lembut, maka ketika besar, cukup bilang kalau sesuatu itu dilarang, ia pun akan manut; tidak perlu bentakan.

Tetapi, berdasarkan beberapa sumber, pendidikan di Jepang sangat keras. Kasus bunuh diri tinggi. Mereka hidup dalam tekanan. Stress. Tidak semua anak muda bisa kuliah. Hanya yang benar-benar mampu melewati seleksi. Jam kerja di Jepang juga dikenal cukup panjang. Hidupnya digunakan untuk kerja, kerja, kerja.

Tetapi, kita semua tahu. Jepang adalah negara maju dan kaya. Namun, apakah secara umum, orang Jepang bahagia? 

Ada satu hal yang saya kagumi, yakni kedekatan ibu dengan anak saat masih kecil.

Sumber:
https://oto.detik.com › read › 2017/11/06

https://amp.kaskus.co.id/thread/56614d28c0cb17b0098b4569/gatsuone-info--ini-dia-pendidikan-di-jepang-yang-membuat-mereka-jadi-negara-maju



Sunday, 19 November 2017

Kisah Nyata: Peternak Sapi Pun Bisa Korupsi

Kisah Nyata. Indonesia memang mempunyai banyak cerita. Kasus ini terjadi di Jawa Timur. Selama ini yang kita tahu mengenai kasus korupsi, pelakunya pasti pejabat, orang berpendidikan tinggi, punya power yang kuat di masyarakat. Sedangkan peternak sapi, yang kita tahu, biasanya orang desa yang tidak berpendidikan dan sedikit wawasan. Memang, ada beberapa yang berpendidikan.

Berikut saya screenshot beritanya di detikNews.

Kisah, kisah inspiratif, kisah nyata
Benar kata Edy dalam berita tersebut. Namanya juga peternak. Seharusnya mereka dibimbing agar bisa mebjadi pengusaha ternak yang profesional. Kasus seperti ini tentu akan menyebabkan trauma bagi peternak lainnya. Mereka akan lebih memilih beternak dengan modal seadanya daripada dipenjara. Sehingga sulit untuk berkembang.

Padahal mereka merupakan aset negeri ini. Hanya saja mereka perlu pendampingan, butuh bimbingan. Usaha mereka menjadi peluang lapangan kerja. Dari pada impor daging sapi ke luar negeri, bukankah lebih baik membina peternak sendiri.

Kalau saya boleh berpendapat, sepertinya Pak Jaksa hanya memahami teori hukum, atau mungkin terlalu sibuk sehingga tidak mampu mengenali siapa yang sedang berhadapan dengan dirinya. Kecuali jika dalam kelompok para peternak tersebut ada yang ahli dalam bidang hukum yang bertanggung jawab atas urusan-urusan terkait hukum, maka orang tersebutlah yang dipenjara. Atau sebaiknya, adakan ujian test pemahaman hukum dulu sebelum diberi pinjaman kredit dana, tapi saya yakin tidak akan lulus.

Saya berharap, semoga ada pihak yang bisa mensupport para peternak dengan bantuan yang aman, yang bisa memahami dan mengayomi mereka, bukan menjerumuskannya ke penjara.

Monday, 13 November 2017

Gosip: Menjanda, Umi Pipik Diisukan Mesra Sama Sunu

gosip, berita selebritis, gosip terbaru, berita artis hari ini, berita artis, berita terkini artis, berita artis terbaru

Gosip. Artis cantik Indonesia, Umi pipik akai cadar sekarang. Lihat foto yang saya ambil di akun instagramnya. Menurut saya, lebih baik begitu, mengingat status beliau yang hingga kini masih menjanda. Apalagi beliau dikaruniai wajah cantik dan tubuh seksi. Apalagi sebagai seorang pendakwah yang menyampaikan ajaran agama untuk umat, tentu harus menjadi teladan. Namun, namanya manusia, ada saja yang komentar miring, katanya, ngapain pakai cadar kalau masih selfie di sosmed. Gosip. Bukankah itu contoh yang baik bagi wanita yang gemar selfie?

Umi Pipik, artis cantik Indonesia ini, memang sedang diterpa isu tak mengenakkan dalam beberapa berita selebritis. Foto Umi Pipik dengan Sunu yang tampak sangat mesra tersebar di dunia maya. Tetapi, keduanya membantah. Katanya itu fitnah. Ada juga yang mengabarkan Umi Pipik dan Sunu sudah nikah sirri. Istri Sunu menanggapi hal ini dengan curhatan puitis.

Namanya juga publik figure, sebagai seorang artis, apalagi artis op Indonesia, kehidupan pribadinya selalu menjadi sorotan publik, banyak muncul dalam berita artis. Itu sudah menjadi konsekwensi. Semoga keduanya bisa maklum. Memang, hidup sendiri itu rawan kena fitnah. Hidup berumah tangga itu lebih baik dari pada hidup sendiri. Tetapi, entah apa yang membuat mantan istri Ust. Jefri tersebut memilih menjanda.