• Sepasang Merpati di Dahan Angsana

    Menjadi kaya itu terhormat. Itu fakta. Orang berilmu sudah kurang dilirik, tak terpandang. Tetapi, wanita berilmu seperti Alia sungguh menarik hati Alfan...

  • Sholat Imam Terlalu Lama

    Diantara kebiasaan Muadz, beliau shalat isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid nabawi, kemudian Muadz pulang dan mengimami shalat di masjid kampungnya. Suatu malam, seusai jamaah isya...

  • Anak Kades Jatuh Hati Pada Ibu Guru Muda

    Memandang wajah Ibu kepala sekolah, tiba-tiba aku teringat pesan kakek dulu waktu aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. "Nak, kalau kau besar nanti, jangan menikah sama perempuan yang bekerja," nasehatnya. "Lihat gurumu, ngurus anak orang, tapi anak sendiri dibiarkan di rumah."...

Wednesday, 19 April 2017

Pemuda Yang Mampu Menguasai 2 Bahasa Asing Dalam 32 Hari

Mempelajari bahasa asing tentu bukanlah perbuatan yang sia-sia. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menguasai lebih dari satu bahasa, terutama bahasa-bahasa penting yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Misalnya, bahasa-bahasa yang banyak digunakan untuk urusan bisnis, pendidikan, dsb. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, tentu semakin luas jangkauan hubungan sosialnya, semakin luas peluang relasi bisnisnya, dan tentu semakin banyak sumber pengetahuannya.

Pada zaman Rasulullah saw. ada sahabat yang memiliki kecerdasan yang cukup bagus. Beliau begitu cepat mempelajari bahasa asing. Beliau sangat terkenal dengan jasanya sebagai Sang Penulis Wahyu. Dialah Zaid Bin Tsabit.

Zaid mampu menerjemahkan bahasa Persia, Rum, Qibthi, dan Habasyah. Selain sebagai penulis wahyu Zaid juga menjadi penerjemah. Cukup banyak bahasa asing yang ia kuasai. Sebagai penulis wahyu, ia tidak hanya bisa bahasa Arab. Hal ini menjadi pendorong untuk kita umat islam untuk mempelajari bahasa asing yang banyak digunakan dalam kehidupan.

Berikut beberapa sumber yang mengisahkan tentang Zaid terkait kemampuannya menguasai banyak bahasa:
Hadits sahih riwayat Tirmidzi, Zaid bin Tsabit mengatakan demikian:
“Rasulullah SAW pernah memerintahkan aku agar mempelajari tulisan bahasa Yahudi untuknya. Setelah aku dapat menguasainya dan Nabi SAW bermaksud berkirim surat kepada orang Yahudi, maka akulah yang menuliskannya buat mereka, dan apabila mereka berkirim surat kepada Nabi SAW maka akulah yang membacakan surat mereka kepada beliau.” Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani.

Zaid berkata, "Umarah bersamaku datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, 'Wahai Rasulullah anak ini dari Bani Najjar. Ia telah membaca 17 surah dari Al-Quran.' Aku pun membacakannya di hadapan Rasulullah dan beliau pun terkagum-kagum atas hal tersebut. Beliau pun bersabda, 'Wahai Zaid, belajarlah untukku kitabnya kaum Yahudi. Sesungguhnya aku, demi Allah, mereka tidak akan iman pada kitabku.' Aku (Zaid) pun menjawab, 'Aku akan mempelajarinya.' Aku memerlukan waktu setengah bulan hingga aku selesai mempelajari kitabnya kaum Yahudi tersebut. Aku pun menjadi penulis surat bagi Rasulullah saat beliau mengirim surat kepada kaum Yahudi." (1)

Rasulullah saw. bertanya kepada Zaid, "Apakah engkau bisa bahasa Suryani?" Zaid menjawab, "Tidak." Rasulullah berkata, "Maka pelajarilah." Akhirnya Zaid pun mempelajari bahasa Suryani selama 17 hari (2)

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa:

Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari. (3)
 Apakah kita perlu mempelajari bahasa yang dikuasai oleh Zaid Bin Tsabit? Tidak harus. Zaid mempelajari bahasa-bahasa tersebut karena pada saat itu bahasa-bahasa tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di sana pada saat itu. Sekarang, kita semua sudah tahu bahasa yang banyak digunakan di dunia, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Spanyol yang digunakan kurang lebih di 20 negara, bahasa Prancis yang digunakan di banyak negara-negara Afrika, Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang, Bahasa Jerman yang banyak digunakan di Eropa, dll.

Baca juga: Hukum Menulis Cerita Fiksi

Referensi:
1) Zaid Bin Tsabit, karya Dr. Shafwan Adnan Dawudi, Tiga Serangkai, halaman 10
2) Zaid Bin Tsabit, karya Dr. Shafwan Adnan Dawudi, Tiga Serangkai, halaman 11
3) https://id.wikipedia.org/wiki/Zaid_bin_Tsabit

Monday, 12 December 2016

Dapat Perawan, Bangga...!

Cerita Fiksi, cerita islam, Cerita romantis, cerpen cinta romantik, cerpen romance


"Sebentar lagi, kamu kan lulus," kata Emak Parmi pada Eko yang sedang makan di dapur. "Kenapa nggak sekalian cari bini?" sambil mencuci piring di sumur ia menasehati Eko, putra sulungnya. "Menikah itu sunnah Rasul, pahala ibadahmu jadi berlipat."

Eko tidak terlalu menghiraukan. Baginya, itu biasa, orang tua perempuan memang begitu. Sebenarnya, bukan Eko tidak suka perempuan. Kebelet kawin sih iya. Tetapi, kalau tidak spesial, tidak istimewa, sulit untuk tidak tolah-toleh katanya. Dia ingin mendapatkan wanita yang membuat matanya enggan melirik wanita lain. Sebenarnya sudah banyak ia temui yang spesial, tapi ia minder, merasa tidak pantas.

"Bapakmu dulu umur 18 tahun, langsung ngajak nikah."

Eko tertawa. "Iya, Emak kan kelasnya..."

"Kelas teri...!! Kayak tinju aja," sahutnya. "Allah lebih tahu derajat hamba-Nya."

"Ya... doain saja." Eko mencuci piring bekas ia makan, lalu menaruknya di rak. Lalu mendekati Emaknya. Emak Parmi segera menyerbet tangannya, Eko mau bersalaman. "Eko berangkat dulu. Doakan segera dapat bini."

"Amin...!!"

***
"Kamu udah kerja, udah sukses, kok tidak segera nikah, Fid? Banyak cewek cantik di kampus ini."

Hafid yang sedang mencari referensi untuk skripsinya menyempatkan menanggapi Eko. "Aku cari yang suci."

"Yang suci?! Kamu kira semua cewek di kampus ini najis?!"

Hafid tertawa melihat ekspresi Eko. "Bukan begitu, Bro. Santai, santai. "

"Terus?"

"Kita memang tidak boleh buruk sangka ya, tapi aku khawatir, tidak yakin cewek-cewek di sini masih perawan."

"Bayi baru lahir tu perawan, Bro...!!"

Eko memang kurang suka dengan cowok yang masih suka ngomongin keperawanan. Di jaman se modern ini, menurutnya dan golongannya, sudah bukan jamannya membiacarakan keperawanan. Laki-laki dan perempuan itu sama, katanya.

"Aku yakin di luar sana banyak yang selalu menjaga diri."

"Jadi untuk itu kamu ikut program tahfidz?"

"Salah satunya."

"Memang apa bedanya sih perawan sama yang sudah tidak perawan? Istri Rasulullah yang pertama janda, Bro."

"Kalau kamu mau sama janda, Bu Nina, dosen Bahasa Inggris, cantik," kata Hafid sambil tesenyum. "Cantik kan?" ia tidak bisa menahan tawa.

"Payah Lho..!!!"

"HaHAhaha... Katanya tidak ada bedanya perawan sama janda."

"Yang ini bukan urusan janda atau perawan, tapi tua atau muda. Perempuan udah tidak produktif ditawarin ke gue."

"Jangan begitu, Bro. Ingat kisah istri Nabi Zakaria kan?"

"Ah, sudah. Tidak usah bahas itu...!! Garap skripsi aja."

"HahaHahaha... gitu aja sewot....!!"

***

Malam semakin larut. Sudah sepi sekali. Semua orang sudah pada tidur. Eko berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia memandangi dedaunan yang sesekali bergoyang-goyang diterpa angin. Ia merenungi nasibnya. Lahir dari keluarga miskin, hidup miskin. Untuk bisa kuliah harus nyambi jadi sales roti. Ia merasa iri kepada teman-temannya yang menurutnya lebih beruntung dari dirinya, seperti Hafidz yang sudah sukses, atau Herman yang minggu depan mau menikah dengan perempuan kaya dan pintar, lulusan kedokteran gigi di UGM. Nekad dia. Sulit ia percaya. Tetapi Eko tetap menjaga diri, tidak akan nekad, takut nasib seperti bapaknya, hingga tiada tak sempat menjadi kaya, bahkan dirinya jadi penerusnya.

"Kesiangan ya?"

"Tidak bisa tidur tadi malam."

"Kamu diundang Herman kan?"

"Iya."

"Hebat dia. Dapat perawan berkelas, Bro."

"Kok tahu kalau dia perawan?"

"Santri tahfidz. Sudah hafal 30 juz."

"Emangnya Herman hafal Quran?!"

"Masih proses, kayak saya."

Herman pendiam, tapi cukup cerdas. Ia suka binatang dan berbisnis jual beli hewan peliharaan. Ia tidak mudah terpengaruh temannya. Agak egois dan penyendiri. Tetapi dia kuat pendirian, tidak suka ikut-ikutan teman.

"Perawan belum tentu baik, Bro. Kayak tetanggaku, tiap hari gunjingin tetangga. Perempuan sekampung dibilang tidak perawan sebelum nikah. Jadinya, dia dimusuhi tetangga. Tidak bangga juga dapat perawan kalau kayak gitu."

"Manusia, Bro. Yang penting kita berusaha. Lebih jelek lagi, sudah tidak perawan, ahlaknya buruk. Super parah, Bro."

Sempat terpikir oleh Eko untuk menikahi janda kaya, biar hidupnya tidak susah-susah amat. Tetapi ia masih merasa gengsi jika harus menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan. Padahal ia sering bilang kalau perawan atau tidak itu sama saja.

***

"Bro, bulan depan aku mau nikah," kata Hafid saat makan di kantin.

Eko kaget mendengarnya. "Udah nemu calon?!"

"Udah. Anaknya Ustadz Imron."

Eko tambah kaget. "Yang kuliah S2 itu?!"

"Iya. Beliau pernah bilang, akan menerima siapapun yang melamar anaknya asalkan hafal 3 juz. Aku sudah hampir 4 juz. Mumpung belum ada yang mendahului, tak coba aja kemarin malam saya ke rumah beliau. Alhamdulillah dierima. Yes....!!"

Andai Eko punya banyak waktu, sebenarnya ia juga ingin seperti Hafid dan Herman. Tetapi itu sulit baginya, sholat saja bolong-bolong. Ia sering ketiduran kalau sudah kecapean kerja. Kadang ia marah sama Tuhan, katanya Tuhan tak adil. Tetapi ia masih menyembah-Nya, masih berdoa pada-Nya.

***

Hujan disertai angin sedang melanda desa Karang Sengon. Bondowoso memang diselimuti awan hitam sejak pagi. Eko berteduh di masjid. Ia tiduran di teras masjid. Hampir ia tertidur, tapi tiba-tiba ada 10 anak kecil hujan-hujanan menghampirinya. Mereka mau beli roti. Eko bersyukur sekali, Tuhan mengiriminya rizki. Seorang perempuan menghampirinya. "Beli 15, Mas," katanya.

Tidak harus capek-capek jalan, rizki menghampiri. Seorang pria juga menghampirinya, sepertinya suaminya ibu yang tadi. "Mampir yuk, Mas. Basah kalau di sini," katanya. Rumahnya memang berada di samping masjid. "Ayo mampir ke rumah saya. Nanti banyak yang beli rotinya," imbuhnya.

Eko manut saja.

Mereka duduk di ruang depan rumah beliau. "Saya dulu pernah jadi sales juga, Mas," kata bapak itu. "Saya pindah-pindah kerja dulu, jadi kuli bangunan, buruh pabrik, jaga toko, lalu nyales. Pas saya nyales itu bertemu seorang kyai di daerah Arak-arak sana. Beliau menyuruh saya membaca surat Waqi'ah tiga kali sehari, dan sholawat nariya 11 kali setiap habis sholat lima waktu. Kata beliau, jangan terlalu berambisi dalam urusan dunia. Saya ikuti saran beliau. Pas satu tahun saya mampu beli sapi dan sepetak sawah. Dagangan saya laris, hingga saya mampu buka toko di daerah pecinan. Lalu saya menikah dengan salah seorang santri beliau, ibunya ini. Kondisi ekonomi kami terus membaik. Kami pun naik haji." Beliau bernama Haji Mukhlisin setelah berhaji.

Eko diam saja mendengarkan sambil menikmati teh hangat yang dihidangkan untuknya.

"Selama kita terus berusaha jadi orang baik, nasib baik akan menghampiri. Bersikap baiklah pada semua orang. Hormat pada siapapun."

Eko melihat istri Pak H Mukhlisin begitu sayang menemani anak-anaknya yang bermain bersama anak-anak tetangga di ruang tamu. Ia jadi ingat Emaknya. Betapa sayangnya pada dirinya. Walau hidup miskin, tapi kaya kasih sayang.

***
Perpustakaan pagi ini sepi. Biasanya ramai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Eko sudah hampir selesai bab lima. Tapi dosen pembimbingnya minta sedikit perbaikan pada bab empat. Ia tak punya banyak waktu, sebentar lagi ia harus berangkat berjualan keliling. Ada Fina baru datang. "Wah, pagi sekali kamu, Ko," sapanya. Lalu duduk di samping Eko,

"Kamu sudah seminar juga kan?"

"Sudah. Kamu tidak hadir."

"Kerja, Fin. Kamu tahu itu kan."

"Hehe... iya. Aku mau ngelesi nih, mampir ke sini dulu sebentar."

Fina juga kuliah sambil kerja, sama seperti Eko. Dia juga anak orang tidak punya, dan juga tidak begitu pintar. Kata teman-temannya, mereka termasuk mahasiswa yang kuliahnya asal kuliah saja: masuk kelas, ngerjakan tugas, dapat ijazah. Sudah. Begitu saja. Tak perlu jadi aktivis, tak perlu jadi bintang pelajar.

"Oya, Fin..."

"Apa?"

"Kamu belum punya calon kan, Fin?"

Fina kaget mendengarnya. "Calon apa?"

"Calon suami?"

"Kok tanyak gitu? Tumben?"

"Kalau aku melamar kamu, ... kamu mau kan, Fin?"

"Apa?! Kamu...?"

"Iya..."

"Gimana ceritanya?! Tidak ada angin, tidak..."

"Serius, Fin. Nanti kita bicarakan lebih lanjut. Sore kamu tidak sibuk kan?"

"Iya."

Fina bukan wanita istimewa. Dia bukan wanita spesial bagi Eko. Dia tidak cantik seperti artis. Dia juga bukan bintang pelajar. Sejak mendengar nasehat-nasehat dari Pak Haji Mukhlisin beberapa waktu lalu, Eko berubah. Dia ikuti nasehat beliau. Tak perlu berambisi dalam urusan dunia. Istri beliau juga tidak cantik, tapi mereka bahagia. Eko senang melihatnya. Dia penyayang pada anak-anak. Fina mirip beliau. Dia sabar dan pekerja keras.

Eko mengajak Fina ke warung lesehan Bu Yun. Tempatnya sejuk, tersedia WiFi. "Aneh kamu, Ko," kata Fina. "Sejak kapan?" Eko tampak tenang. Tak ada ekspresi berbeda. "Ini serius?" Eko tersenyum. "Kamu cinta sama aku?"

"Menikah tidak harus dengan cinta kan, Fin?"

Fina kaget mendengarnya, "Tanpa saling cinta...?"

"Yang dulunya saling cinta, lalu menikah, tak sedikit yang cerai."

Fina tersenyum, membenarkan. Tapi baginya terasa aneh menikah tanpa cinta. Meskipun sebenarnya ia tidak begitu mengharapkannya. Ia sudah biasa hidup kekurangan. Hidupnya penuh tantangan. Tak ada kata santai. Ia tak punya waktu untuk nikmati cinta.

"Kamu bersedia kan, Fin, jadi istriku?"

Fina menanggapinya dengan senyum.

***

"Kamu yakin dia masih perawan?" tanya Hafid.

"Aku yakin dia perempuan yang baik dan sudah teruji mentalnya. Dia sabar dan penyayang terhadap anak-anak. Dia calon ibu yang baik"

Thursday, 24 November 2016

Penguasa Negeri Ini Bukan Presiden

Cerita Fiksi, cerpen baru, cerpen Indonesia, contoh cerpen bahasa indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia,

"Presiden negeri ini udah tumpul taringnya, Mon."

"Ah, lho...!! kita anak SMP tahu apa soal politik."

"Aku ini sering nguping bokap diskusi politik sama kakek di rumah."

"Wuih, keren....!! Mertua sama menantu jadi pengamat politik."

"Ah, itu nggak penting."

Mereka berdua tidak sadar di kelas sudah ada Pak Latif, Guru Matematika yang terkenal galak. Asyik saja mereka ngobrol di belakang kelas, di bawah pohon jambu. Pak Latif memang terlambat tadi sehingga banyak siswa yang keluar kelas, termasuk Doni dan Mones. Tempat ini memang favorit bagi keduanya. Tempatnya rindang dan sejuk.

"Menurut kakek gua, Mon, penguasa suatu negeri itu ada 3 golongan, yaitu pemimpin yang kuat, seperti raja, bukan presiden, yang kedua pebisnis yang menguasai perekonomian, dan yang ketiga adalah paranormal."

"Paranormal...??" Mones agak bingung dan menatap Doni, "Dukun maksud lho...!!"

Doni mengangguk.

"Kok bisa?" sambil garuk-garuk kepala. "Kakekmu yang bilang begitu?"

"Iya. Masak orang tua salah?"

"Iya sih. Tapi bagaimana caranya ya?"

"Kita kan anak SMP, belum paham politik."

Mones tertawa terbahak sampai terdengar ke kelas. "Dasar lho...!!"

***

Mones dan Doni dihukum berdiri di lapangan yang panas keesokan harinya. "Mon, aku sudah tahu kenapa paranormal termasuk salah satu dari tiga penguasa negeri," kata Doni. Doni agak merengut karena kepanasan dan menoleh ke Doni. Sepertinya dia agak enggan merespon, tapi Doni semangat untuk bercerita. Mungkin agar tidak terasa capek dan panasnya.

"Bagaimana caranya?"

"Paranormal itu kan sakti, Mon. Orang waras bisa jadi gila, orang jujur jadi pembohong, begitu juga sebaliknya."

"Terus? Itu bukan pekerjaannya setan?!"

"Ah, bukan. Kalau panglima perang dibuat gila, Mon, terus menyuruh prajuritnya menyerbu, mati semua, Mon."

Mones tertawa. "HaAAhahahahHAhah....!!! Logika ingusan..." Teman-temannya yang di kelas menolehnya. Mungkin mereka mengira Mones senang dijemur meskipun kulitnya udah gelap. "Tapi masuk akal juga. Berarti Doraemon termasuk."

"Jadi, paranormal itu bisa menghipnotis para pejabat negeri agar bertindak sesuai kehendaknya, Mon."

"Misalnya paranormalnya bilang begini, 'Telanjang...!!' maka merekak semua telanjang... HahahHhhhhhhhhAhahahahahah.....!!!!" Mones tak kuasa menahan tawa membayangkan.

Kali ini Pak Latif tidak tahan, beliau keluar mendekati Doni dan Mones. "Doni, masuk!" Doni pun masuk kelas "Angkat kaki kananmu!!" perintahnya pada Mones.

Tinggallah Mones sendirian. "Apes gua. Yang cerita kan si Doni, kenapa gua yang kena?! Sial...!! Kalau saja aku sakti, kusuruh telanjang orang ini...," dia membayangkan Pak Latif melakukan yang ia inginkan. Ia tertawa lagi.

Pak Latif yang hendak ke kelas menghentikan langkahnya. "Kenapa ketawa?!" Bentaknya.

"Tidak. Tidak, Pak." Gemetaran.

"Apanya yang tidak...!!" Pak Latif mendekat dengan wajah geram.

"Tidak sengaja, Pak."

"Angkat kedua tanganmu...!!"

Sepertinya guru juga termasuk salah satu penguasa negeri, pikir Mones. Guru bisa seenaknya nyuruh siswa. Kalau semua guru nyuruh siswanya tidur, berapa persen dari penduduk negeri yang tidur dalam waktu bersamaan? Atau disuruh teriak semua, pasti rame sekali negeri ini.

Saturday, 19 November 2016

Siapa Yang Merubah Nasib: Kita atau Tuhan?

ayat al quran, surah al quran, tafsir quran,

Jaman sekarang ini sangat mudah untuk mendapatkan ilmu. Tidak perlu jauh-jauh mencari sekolah atau guru. Hanya lewat HP, TV, pengeras suara di masjid dan musholla, dll. Banyak. Ilmu agama pun begitu. Tetapi perlu hati-hati. Saya punya pengalaman yang tak ingin saya ulangi mengenai cara belajar agama. Berubah.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di masa para ulamanya masih banyak dan tukang ceramahnya sedikit. Dan akan datang suatu masa setelah kalian dimana tukang ceramahnya banyak namun ulamanya amat sedikit.” (lihat Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama, hal. 40) sumber
Tentang ayat ini:

"Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka merubah nasib mereka sendiri ".(Ar Ra’ad: 11)

Dulu saya langsung yakin karena itu ayat Al Quran. Al Quran itu psti benar kan. Pasti benar dan wajib diikuti, wajib percaya. Begitu saya dulu. TETAPI ternyata saya keliru. Tahun 2012 saya sedikit mendalami tentang "Reading Comprehension", bahasa Indonesianya, kira-kira, 'Pemahaman membaca'. Ilmu tersebut tentang kemampuan seseorang memahami sebuah teks. Ditambah sebelumnya di kampus saya sempat belajar tentang metode terjemahan.

Ayat al Quran yang tertulis di atas menggunakan bahasa Indonesia, artinya, sudah dialihbahasakan dari Bahasa aslinya, yakni Bahasa Arab. Dunia terjemahan bukanlah dunia yang matematis (4+1 pasti 5 hasilnya), di dunia terjemahan tidak begitu. Kemampuan penerjemah memahami teks berbeda tingkatannya.

Di jaman sekarang, mudah sekali orang menjadi da'i. Bahkan artis pun bisa menjadi da'i. Tetapi hingga kini belum banyak orang yang berani buka praktek kedokteran semacam klinik pribadi hanya dengan bekal ilmu yang didapat dari nonton video kesehatan, membaa majalah atau buku-buku kesehatan. Mungkin alasannya, "Salah resep, pasien mati". Bagaimana dengan agama, "Salah ajaran, berapa orang yang akan disesatkan???"

Al Quran pasti benar, tapi pemahaman manusia yang membacanya belum tentu benar. Contohnya, jika ada orang bodoh yang bru saja belajar membaca, lalu dia membaca al Quran, kemudian menyampaikan apa yang dipahaminya dari al Quran, apakah anda akan percayay begitu saja.

Di dunia terjemahan kita mengenal istilah Sworn Translator (Penerjemah Bersumpah), entah dalam urusan gama, adakah standrd penerjemah Al Quran dan Hadits. Ada yang bilang, yang standrd itu 4 madzhab: Syafii, Maliki, Hambli, Hanafi.

Kembali ke ayat di atas, saya menemukan penjelasan di situs PISS-KTB yang menurut saya pengelolanya cukup kredible. Berikut penjelasannya:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗإِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗوَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Qs Ar-ro'du : 11).

Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan : (Baginya) manusia (ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran) para malaikat yang bertugas mengawasinya (di muka) di hadapannya (dan di belakangnya) dari belakangnya (mereka menjaganya atas perintah Allah) berdasarkan perintah Allah, dari gangguan jin dan makhluk-makhluk yang lainnya. (Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum) artinya Dia tidak mencabut dari mereka nikmat-Nya (sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) dari keadaan yang baik dengan melakukan perbuatan durhaka. (Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum) yakni menimpakan azab (maka tak ada yang dapat menolaknya) dari siksaan-siksaan tersebut dan pula dari hal-hal lainnya yang telah dipastikan-Nya (dan sekali-kali tak ada bagi mereka) bagi orang-orang yang telah dikehendaki keburukan oleh Allah (selain Dia) selain Allah sendiri (seorang penolong pun) yang dapat mencegah datangnya azab Allah terhadap mereka. Huruf min di sini adalah zaidah. Wallohu a'lam. [Santrialit]
Penjelasan yang lain saya temukan di akun Facebook bernama Nawawi Hakimis dengan profil sebagai berikut:
  • Pimpinan di Pon Pes Nihayatul Muhtaj
  • Beljar di Darussalam Labuhan Haji Aceh
  • Tinggal di Manggeng, Aceh, Indonesia
  • Dari Manggeng, Aceh, Indonesia
Membaca komentar-komentar di statusnya, menurut saya cukup bisa dipercaya. Berikut penjelasannya di akun Facebook pribadinya:

Link sumber asli
Kajian | Tafsir QS. Ar-Ra'du : 11 (Tentang Nasib...?)
9 August 2011 at 00:43
Ar Ra’ad: 11 berbicara tentang merubah nasib ..?
=============================

Ada (bahkan banyak) yang berceramah di atas mimbar dengan mengatakan: “Tuhan tidak bisa merubah nasibmu jika kamu sendiri tidak merubahnya”. Untuk mempertegas dakwahnya mereka menyandarkan dengan firman Allah:

إنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Dengan mengartikan مَا pada perkataan مَا بِقَوْمٍ dan مَا pada perkataan مَا بِأَنْفُسِهِمْ dengan makna nasib, sehingga makna lengkap ayat di atas adalah : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka merubah nasib mereka sendiri ".(Ar Ra’ad: 11)

PADAHAL

مَا dalam ayat di atas secara bahasa adalah isim maushul yang berarti sesuatu, apa saja. Dalam kamus belum kita jumpai “ma” bermakna nasib.

Apalagi kalau kita terjemahkan seperti di atas, sungguh bertentangan dengan kenyataannya. Ada terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari, misalnya orang tidak berusaha apa-apa untuk mendapatkan lekayaan tetapi tiba-tiba dia menjadi orang yang kaya, tanpa diduga-duga, dia mendapat hadiah dari seseorang, warisan berlimpah dan lain-lain.
sebaliknya, ada orang yang berusaha siang dan malam dengan kerja keras banting tulang tetapi Allah tidak menghendakinya kaya. dan lagi pula itu bertentangan dengan rukun iman yang ke-enam, percaya kepada qadha dan qadar datang dari Allah.

Ilmu-ilmu alquran mengatakan bahwa ada sebagianAyat al-Qur’an adakalanya ditafsirkan dengan ayat lain.

Mari kita perhatikan ayat yang lain yang mirip dengan ayat ini, yaitu dalam Surat al-Anfal : 53
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : Yang demikian itu (siksaan Allah) adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri (dengan berbuat maksiat) dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. al-Anfal : 53)

“Yakni: Allah swt menganugerahkan ni’mat kepada penduduk Makkah dengan mengenyangkannya dari rasa lapar, memberi keamanan dari rasa takut, dan membangkitkan kepada mereka (Rasulullah) Muhammad saw . Kemudian mereka menerima ni’mat ini dengan meninggalkan syukur, mendustakan Rasulullah saw, dan mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, sehingga Allah swt mencabut kembali ni’mat-Nya dan menimpakan azab atas mereka. Assidi berkata: (yang dimaksud) ni’mat Allah (di sini) adalah Muhammad saw. Allah memberikan ni’mat Rasulullah Muhammad atas kaum Quraisy, kemudian mereka memungkiri dan mendustakannya. Kemudian Allah memindahkannya kepada kaum Anshar. (Tafsir Khazin)

Tafsir Khazin mengatakan:
“Dan Firman Allah (sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu ............ dari suatu kaum); ayat ini ditujukan kepada ‘Amir bin Thufail dan Arbad bin Rabi’ah, yakni tidak merubah sesuatu dari kesehatan dan ni’mat yang telah diberikan kepada mereka, (sehingga mereka merubah apa yang ada pada mereka sendiri); yakni dari tingkah-tingkah yang baik kemudian mereka berma’siat kepada Tuhannya, dan mereka mendustakan ni’mat-ni’mat-Nya atas mereka, sehingga halal murka Allah kepada mereka”.(Tafsir Khazin juz 4 halaman 4).

Apabila kita sesuaikan dengan maksud ayat 53 Surat al-Anfal di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa مَا pada perkataan مَا بِقَوْم adalah bermakna ni’mat, bukan berma’na nasib. Ini akan lebih jelas lagi apabila kita perhatikan ayat 11 Surat ar-Ra’d di atas secara lengkap, yaitu :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah nikmat sesuatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Tafsir Jalalain mengatakan:
“(sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu ......... dari suatu kaum) Allah tidak mengambil kembali ni’mat-Nya dari mereka (sehingga mereka merubah apa yang ada pada mereka sendiri); yakni dari kelakuan-kelakuan yang baik dirubah menjadi kelakuan-kelakuan ma’siat”. (Tafsir Jalalain jilid II halaman 249).

KESIMPULAN
“Bahwasannya Allah tidak akan mengambil kembali ni’mat yang telah diberikan kepada seseorang kecuali jika orang itu sudah mendurhakai Allah, yakni tidak memakai ni’mat menurut semestinya sesuai dengan kehendak-Nya yang memberikan ni’mat itu”.

Untuk memperjelas tafsir ayat ini, Allah berfirman:
“Hal itu (terjadi) disebabkan karena Allah tidak merubah ni’mat yang telah diberikanNya kepada sesuatu kaum, kecuali jika kaum itu sudah merubah hal mereka sendiri (dari taat menjadi durhaka)”. (Al Anfal: 53)
Banyak perbedaan dalam pemahaman. Saya pernah mendengar ceramah dari Gus Sep (panggilan akrab), beliau seorang kyai di Jember, Jawa Timur. Kata beliau jangan keterlaluan mengejar rizki, karena rizki itu yang mengejar kita. Kalau kita terlalu berambisi mengejarnya, entar kesalip sama rizki. Ibadah jangan diabaikan.  

Thursday, 10 November 2016

Kumpulan Cerita Hantu Serrem

Flash True Story, Real Story, Cerita Horor, Cerita Hantu, Kisah Nyata
Berikut Ladang Cerita menyajikan beberapa cerita hantu dari orang-orang dekat penulis. Cerita ini ada yang diceritakan langsung oleh yang mengalami, ada yang sudah dari lidah kedua. Berikut kumpulan cerita hantu.

Cerita pertama terjadi sekitar 26 tahun silam. Waktu itu saya dan keluarga tinggal di rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah sederhana tersebut berada di pinggir jalan yang belum di aspal. Waktu itu, lampu listrik dari PLN belum masuk desa. Sekitar 10 meter di sebelah barat ada tiga rumah berjajar, di depannya ada dua rumah menghadap ke utara. Sebelah kanan, sebelah timur, sawah, kemudian rumpun bambu, kandang kuda, lalu rumah. Lumayan gelap.

Bapak punya bisnis buah pinang waktu itu bersama teman karibnya. Suatu ketika bapak pulang duluan dari pasar, temannya menyusul dan kealeman. Pagi harinya dia mampir ke rumah, "Dari mana?" tanya bapak.

"Ngambil sandal. Tadi malam tertinggal di sungai ombul," jelasnya. Sungai tersebut memang terkenal lumayan angker. "Tadi malam ada kelapa jatuh, saya ambil. Sampai di tembok itu kok bersuara, saya lihat, ternyata yang saya pegang rambut. Langsung tak lempar, aku lari...!!"

Cerita kedua dari beberapa orang. Sudah biasa bagi masyarakat desa bahwa seriap menjelang lebaran/hari raya idul fitrih harimau-harimau (hantu) keluar dari kuburan dan berkeliaran di kampung. Orang-orang biasanya berkunjung ke rumah mertua dan rumah guru. Waktu itu, ibu berkunjung ke rumah nenek yang sekaligus guru ngajinya.

Pagi harinya, salah seorang saudara yang rumahnyay berada di belakang rumah, berseberangan dengan kuburan, cerita bahwa tadi malam ada harimau di terasnya, tapi dibiarkan. Harimau-harimau hantu ini kadang menggoda orang yang sedang membersihkan daging sapi yang baru disembelih siang harinya.

Cerita yang ketiga dari teman. Salah seorang tetangga wudhu di kamar mandinya yang berada di samping dapurnya. Dia sendirian. Tiba-tiba airnya berubah jadi darah. Dan dia pingsan.

Cerita yang kelima dari teman sekolah. Di salah satu rumahnya, waktu tiduran di tempat tidurnya, katanya, tiba-tiba ada tangan keluar dari dinding.


Wednesday, 9 November 2016

Sarjana Menganggur, Santri Tak Jadi Kyai

Cerita Fiksi, contoh cerpen bahasa indonesia, cerpen Indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia
"Katanya Si Firman sudah sarjana, kok kerjanya cuma melamun gitu? Kok tidak seperti Arif dan saudara-saudaranya: kerja enak, gaji besar"

"Itu bukan urusan kita. Anak kita juga tidak kerja."

"Anak kita kan mondok, tidak sekolah. Memang bukan untuk cari kerja"

Segelas teh sudah tersaji. Nasinya belum matang. Sayurnya juga belum diagkat ke panci. Baru ikan yang satu per satu dicelupkan ke wajan untuk digoreng. Aromanya sedap. Pak Rahman sudah terbiasa membantu masak Buk Rahman. Selama belajar di pesantren dulu dia masak sendiri. Makanya tak heran jika ia pintar masak.

"Kalau tidak kerja, ngapain kuliah mahal-mahal ya?"

"Mungkin belum rejekinya. Rejeki itu Allah yang ngatur."

Terdengar suara motor di depan, "Mau ke mana Si Rahman?" Pak Rahman hanya melihat sebentar dari pintu dapur. Terlihat Rahman memakai celana jean dan jamper merah, sudah memakai helm. "Anak pondok jaman sekarang kok tidak ada bedanya sama anak sekolahan." Pak Rahman tidak menanggapi. "Sarung sama kopyah sudah tidak laku."

Waktu Rahman masih jadi santri, beliau pernah menegurnya karena memakai celana dan jamper bergambar artis. "Biar tidak kalah sama anak sekolahan, Buk. Biar mereka tahu, anak pondok tidak kalah," sahutnya.

"Belajar agama itu bukan untuk pamer, tapi menata hati. Ikhlas beramal karena Allah." Rahman diam. "Allah tidak memerintahkan kita bertanding. Tidak ada yang tahu amal kita diterima atau tidak olehNya. Tujuan hidup kita untuk meraih ridhoNya, bukan pujian mahlukNya."

Rahman diam tidak merespon. Sepertinya ia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menanggapinya. Lama keduanya saling diam. Rahman menunduk. Begitulah seharusnya seorang santri, menunduk di hadapan yang lebih tua, terutama ibu, itu adalah ahlak mulia, dan tak menjawab saat diberitahu oleh yang lebih tua, sekalipun sudah tahu.

***
"Kamu belum mau berumah tangga?"
"Belum ada yang cocok, Buk."

"Di pondokmu kan ada 5000 santri putri, masak tidak ada yang cocok?!"

Rahman menunduk. Sangat berbeda dengan santri jaman dahulu, jika orang tua atau kyai sudah memilihkan, maka itu adalah yang terbaik. Sebab dalam ajarannya, akal tak mampu menentukan takdir, sedangkan doa orang tua dan guru itu mudah terkabulnya. Pak Rahman sempat mendengar kabar bahwa putranya ingin menikah dengan wanita modern. Wanita modern yang dimaksud adalah wanita yang tidak mondok, alias wanita yang belajar di sekolah umum dan hidup bebas, kalau perlu wanita karir. Beliau tahu, pesantren memang lebih dulu ada, makanya dianggap kuno alias tak modern.

Firman sudah sering membawa pacarnya. Banyak pemuda desa yang iri, tak sedikit juga cewek kampung yang kecewa karena tak dipilih olehnya. Dahulu, membonceng lawan jenis yang belum dinikahinya itu perbuatan maksiat yang tak disukai masyarakat. Tetapi sekarang sudah berubah menjadi kebanggaan.

Apakah santri juga tak mau kalah? Ingin dipuji dalam hal ini juga?

Motor Rahman dimodif sedemikian rupa. Keren. Sangat jelas, itu bukan cara untuk memikat wanita sholehah yang terdidik di pesantren, bukan wanita yang alim dalam urusan agama, bukan wanita yang kesehariannya mengaji. Buk Rahman kadang melamun mendapat menantu yang suka menuntut hal keduniawian, menantu yang pandai menghitung uang belanja. Tetapi doanya mengalahkan lamunannya.
***
Sudah setahun Firman menikah. Istrinya tak bisa masak. Padahal kebutuhan sehari-harinya masih numpang sama orang tua karena Firman belum juga mendapat pekerjaan yang diinginkannya. Seharusnya istrinya bantu mertua masak. Teman-temannya di kampung mengajaknya kerja kasar, tapi itu memalukan, terutama malu pada istrinya dan mertua. Gadis-gadis desa yang belajar di pesantren merasa unggul darinya. Dalam urusan rumah tangga mereka jauh lebih terampil. Sudah terbiasa hidup mandiri di pesantren. Bahkan beberapa dari mereka ada yang jualan kue membantu suaminya yang jadi kuli tani atau berdagang.

Kebanyakan dari mereka ikut mengajar di Madratsah Diniyah pada sore hari di kampung yang diasuh oleh Kyai Lutfi. Beliaulah yang mendidik mereka waktu kecil dulu, sebelum berangkat ke pesantren. Orang tua mereka juga merupakan santri dari ayahanda Kyai Lutfi dulu. Malamnya mereka juga ikut mengajar membaca Al Quran di sana, juga di musholla-musholla lain, ada yang dipercaya masyarakat untuk mendirikan musholla sendiri.

Rahman tidak ikut bersama mereka. Dia memilih jalan lain. Ada beberapa santri yang memilih jalan sepertinya. Belakangan mereka dikenal sebagai santri modern. Mereka kurang menerima hal-hal yang tak sesuai logika.

"Pak, Buk, saya mau melamar seseorang."

"Mondok di mana?" tanya ibuknya.

"Mahasiswi keperawatan semester akhir," ibunya menghela nafas, tak menampakkan raut bahagia. "Dia mau asal saya bisa jadi pengusaha."

"Usaha apa? Takut miskin kalau tidak bersuami pengusaha?"

"Hidup kan butuh makan, Buk."

Beliau menanggapi dengan diam, tak mau berdebat. Dan diamnya lebih mampu menjelaskan pada Rahman bahwa bapak dan ibuknya dulu tak begitu. Mereka pasrah pada Yang Maha Pemberi. Tak ada yang bisa menjamin selainNya. Yang kaya raya pun bisa saja mendadak jadi miskin. Mereka yang hari-harinya mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi di Madratsah tak begitu berambisi menumpuk harta. Masa depan generasi mereka utamakan di atas kepentingan pribadi. Tetapi, nyatanya mereka bisa hidup, bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
***
"Kalau penghasilan sedikit, terus bagaimana memenuhi kebutuhan hidup? Kalau sakit, bayar kamar rumah sakit saja sudah berapa?"

"Hidup ini untuk bekerja. Kalau tidak bekerja, tidak bisa hidup."

Mereka tak sepakat lagi dengan nasehat guru (kyai) mereka dulu, "Rizki itu mengejar kita, maka dari itu jangan terlalu memforsir diri untuk mengejarnya, nanti salipan, tidak ketemu." Begitu nasehat guru mereka dulu. Maksudnya, agar sebagai manusia tak perlu meragukan jaminanNya.

Rahman terjun ke dunia bisnis, full time, pagi siang malam memikirkan bisnis. Itu ia lakukan demi cintanya, si cewek modern. Tak kenal waktu, tak kenal lelah: semangat. "Meski anak pondok, Rahman semangat ya," puji para tetangga. Kebanyakan santri yang sudah pulang ke masyarakat memang tak berambisi mencari rizki. Menurut kebanyakan orang, itu sama dengan memiskinkan diri.

Ustadz Anwar merupakan salah seorang ustadz senior di kampung. Bersama istrinya, Ustadzah Ifa, beliau menghabiskan banyak waktunya di madratsah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau jualan kripik singkong, juga dari penghasilan bertani di beberapa petak sawahnya.

Sebulan yang lalu beliau baru saja selesai membangun warung makan di pasar Bondowoso. Beliau tidak menjaga sendiri, tapi mempekerjakan orang agar beliau bersama istri bisa fokus mengabdi di madratsah. Rahman merasa iri. Diam-diam ia mengamati perkembangan warung makan Ustadz Anwar. Semakin hari tambah ramai saja. Tentu saja penghasilannya lumayan banyak. Salah satu buktinya, lima hari yang lalu beliau beli motor baru.

Rahman heran dan bertanya-tanya, bertanya pada diri: tak mengerti tentang hidup. Dirinya yang siang malam mengejar kesuksesan, seakan menemui jalan buntu. Sedangkan ustadz Anwar yang kesehariannya menghabiskan waktu mengajar, malah membaik perekonomiannya. Tetapi, para pebisnis besar itu semangat dan fokus jalankan bisnis, Rahman tahu itu. Tapi, kenapa dirinya tidak bisa? Entah ada di mana jawabannya.

Arjunaku Tak Lahir Kembali

cerpen baru, cerpen Indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia, contoh cerpen bahasa indonesia
"Kamu jual sawah lagi?"

Suaranya sangat pelan, tak lantang seperti dulu lagi. Bibirnya sudah hampir tak sempurna bergerak. Badannya gemetar. Matanya lebih sering menutup. Jalan hidup begitu panjang sudah dilalui. Sangat lelah sudah. Kamar ini, ruangan berukuran 6 x 7 meter, dinding berwarna putih dengan gambar-gambar pohon di tepi utara. Jika tidur miring ke kiri, lukisan tersebut begitu indah.

Pemuda itu tidak segera menjawab, hanya diam. Wanita tua yang berdiri di sampingnya hanya menarik nafas dalam. Tak tahu harus bilang apa. Diam seakan menjadi jawaban yang paling tepat dan lebih mampu menjelaskan segalanya. Ruangan ini sudah sekian tahun menyimpan kenangan. Dinding dan jendela sudah menjawabnya.

Di ruangan ini, 25 tahun silam, canda tawa menghiasi. Saat itu si kecil baru berumur satu tahun, begitu lucunya. Demi dia, kalau ia mau, semua mainan di toko mainan akan dibeli, agar tawa si kecil terus mengembang. Bahagianya. Sang pahlawan masih begitu gagahnya kala itu, tak goyah memikul beban seberat apapun. Ia terhormat, semua tahu kehebatannya. Ia begitu berwibawa: kuat dan kaya.

Zamannya sudah berakhir. Si kecil yang dulu lucu dan imut sudah memegang kendali zaman baru. Si kecil sudah menjadi dia, tetapi tak sama. Wanita tua itu sangat tahu bedanya. Zaman rupanya menelan keperkasaan itu, beserta kegagahan, kewibawaan, dan sebentar lagi kekayaan itu juga kan sirna. Lukisan kelinci di dinding masih belum terhapus, bukti sejarah kebahagiaan dahulu.

Wanita tua itu meneteskan air mata, "Jalan yang dilalui tak sama," batinnya. Sehingga akhir ceritanya pun tak sama.
***
Kau pemuda yang gagah. Kau begitu menawan. Wanita mana yang tak terpesona. Hadirmu telah merubah hidupku. Segala yang kumiliki jadi tak berarti. Apalah guna harta. Ah, kau telah berhasil merampok hatiku. "Kau kaya, terpelajar. Nasib kita tak sama," katamu kala itu. "Tapi nasib bisa diubah. Hadirmu di jiwaku membakar semangatku." Aku tertawa dalam hati kala itu. Ada-ada saja kau.

Kau kuli bangunan dengan sedikit kemampuan melukis. Kita lain dunia. Aku anak orang kaya raya. Aku naik mobil, kau naik motor tua yang sering mati itu. "Hei...!!" Aku agak malu sama teman, tapi kuhentikan langkah. "Ini," kau sodorkan lukisan indah itu, gambarku, separuh badan. "Cantik kan?" Aku tersenyum saja. Kuambil gambar itu dan kuucap terima kasih.

"Siapa?" tanya di Karina, teman sekelasku.

Aku hanya angkat bahu, karena aku memang tak begitu mengenalmu. Yang kutahu, kamu kuli bangunan, itu saja. Tetapi kuakui lukisan itu indah, kau pandai sekali. Si Karina juga bilang begitu, "Lebih cantik dari aslinya," katanya. Aneh. Tetapi aku bangga kenal seorang pelukis.

"Hei...!!"

"Kamu? Kok di sini?"

"Aku belajar melukis pake komputer: desain sama Mas Rifan."

Kita semakin dekat. Kau hebat. Banyak pemuda merasa minder mendekatiku, kata teman-temanku, tapi dengan polosnya--mungkin tak salah dibilang tak punya malu--kau dekati aku dan tak segan-segan ungkapkan cinta. Aku bingung. Sungguh aneh. Menurutku tak mungkin lelaki miskin dan tak berpendidikan sepertimu berani nembak aku. Tetapi kau lakukan itu.

Bahkan saat aku berjalan sama dosenku, kau berani menghadangku hanya untuk bilang kaau kau baru saja beli laptop. "Sekarang aku bisa berlatih desain setiap hari di rumah." Hanya doa semoga kau sukses, dan 'ku meninggalkanmu bersama dosenku.

Beliau tanya tentangmu, kusampaikan pada beliau kalau kau kuli bangunan yang sedang bekerja di kampus itu. Dia juga tanyay bagaimana aku bisa kenal kamu. Aku bingung untuk menjawabnya. Aku mau tertawa, tapi kutahan. Untungnya beliau tidak tanya lebih lanjut.

Bila kusimpulkan, kau seperti berlari dari kaki gunung hingga ke puncaknya, dan akulah bunga di puncaknya. Kau taklukkan tingginya gunung. Kau hebat. Dan kita bersama nikmati keindahan. Tak terasa, sudah begitu panjang kita jelajahi kehidupan bersama dan kini sudah tiba di ujungnya. Kisah kita sebentar lagi 'kan usai.
***
Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku banyak menyia-nyiakan waktu dan terlalu manja. Sekarang aku sudah dewasa dan seharusnya sudah bisa mandiri. Tetapi kemewahan telah melenakanku. Maafkan aku, yang kubisa hanya menghabiskan hartamu.

Aku 'kan pergi mencari duniaku.

Ardian Si Anak Tunggal

cerpen baru, cerpen Indonesia, kumpulan cerpen bahasa Indonesia, contoh cerpen bahasa indonesia,
"Selamat pagi," suaranya lantang dan tegas. Semua guru yang sedang di ruangan itu terkejut. "Bisa bertemu kepala sekolah sekarang?" agak memaksa.

Salah seorang guru menghampiri, "Monggo, silahkan masuk," katanya. "Ayo saya antar ke ruang kepala sekolah."

Ia dipersilahkan masuk. "Ada perlu apa ya memanggil saya?" tanyanya ketus. "Saya tidak bisa lama-lama." Wajahnya tampak tak ramah.

Bu Rahma yang baru lima bulan menjabat kepala sekolah kaget menghadapi wali murid semacam itu. Ia berusaha menenangkan diri, "Maaf, Buk. Saya sekedar mau memberi tahu bahwa putra ibuk, Ardian, sudah ijin sebanyak 80 hari..."

"Kan sudah ijin?!"

Aneh. Bu Rahma bingung menghadapi sikapnya. Banyak guru yang mendengar percakapan mereka, seperti bertengkar. "Iya, tapi terlalu sering tidak ikut pelajaran, Buk..."

"Yang penting ijin, lagian saya juga bayar. hak saya mau bawa anak saya jalan ke mana aja. Apa saya telat bayar?!" Bu Rahma tidak bisa berkata-kata lagi, tak mengerti dengan sikapnya, hanya nafas yang ia tarik dalam-dalam. "Sudah, kalau tidak ada hal penting untuk dibicarakan, saya mohon pamit...!!"

"Mungkin ibu ini sedang ada masalah," pikir Bu Rahma. Dengan senyum ia akhiri percakapan itu, "Maaf, beribu maaf, Buk. Terima kasih kehadirannya." Ia pun pergi.

Wajah polos Ardian datang membayang, dan badannya yang kurus, pemalu, dan suka menyendiri. Sering ia temani anak itu saat jam istirahat, bahkan Bu Rahma memberi tugas khusus kepada guru BK agar memberikan bimbingan khusus pada Ardian.
***
Bel pulang sudah 30 menit yang lalu berbunyi. Semua siswa sudah pulang, kecuali yang ikut kegiatan ekstrakurikuler. Sebagian dari mereka memang tidak pulang. Terlihat di bawah tangga, di pojok sebelah barat, Ardian duduk sendiri. Tangga itu berjarak sekitar 25 meter dari pintu ruangan Bu Rahma. Bu Rahma yang baru keluar dari kantornya segera menghampirinya. Ardian diam saja memandangi beliau yang menghampirinya.

"Ardian belum dijemput?"

Ardian hanya geleng-geleng kepala tanpa suara.

Bu Rahma semakin yakin bahwa anak ini menderita tekanan psikis yang cukup berat. Beliau duduk di lantai agar bisa semakin dekat bicara dengan Ardian. "Ayo, bu guru antar." Ardian menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Rahma menggendongnya, Ardian tidak menolak.

Seorang pria menghampirinya, "Ayah," Ardian mengulurkan tangannyay pada pria itu.

"Tadi saya menmukan dia duduk sendirian di bawah tangga."

"Terima kasih. Anda baik sekali. Dan... maaf atas sikap istri saya. Dia memang begitu. Dia egois, kalau sudah maunya, tidak ada yang bisa mencegah."

Bu Rahma terkejut mendengar curhatnya. Menurutnya, tak sepatutnya seorang suami membeberkan keburukan istri, apalagi di depan wanita lain. Seharusnya seorang suami bisa membimbing dan mengarahkan istri dan anaknya. Keburukan istri adalah keburukannya. Itu menurut pandangan Bu Rahma. Beliau hanya menanggapi dengan senyum.

"Oya, kenalkan, saya Adrian," sambil mengulurkan tangannya. Bu Rahma menyambutnya. "Terima kasih atas kebaikannya pada anak saya selama ini."

"Sudah kewajiban saya."

"Oya, ini nomor HP saya, kalau ada apa-apa sama Ardian, tolong hubungi saya saja."

Pasangan yang tidak kompak, pikir Bu Rahma. Tapi untuk tahu detail masalahnya, itu bukan haknya. Tanggungjawabnya hanya mendidik Ardian saja. Namun, ia juga perlu tahu hal-hal yang berdampak pada Ardian, entah menggali informasi dari Ardian atau ayahnya.
***
"Ardian itu cucunya orang kaya," kata Bu Aulia pada Bu Rahma saat istirahat di ruang tamu sekolah. "Dia tetangga ipar saya. Kemarin saya tanya-tanya. Punya mobil tiga, sawahnya lebar."

"Dari bapak atau ibuknya?"

"Ibuknya. Bapaknya itu orang tidak punya, katanya. Kayak numpang, katanya, bapaknya di rumahnya. Kakek sama neneknya Ardian memihak pada ibunya Ardian. Ibuknya lebih berkuasa dari bapaknya."

"Begitu memang kalau istri lebih kaya," imbuh Bu Rina.

"Sombong, katanya, Bu. Sama tetangga tidak bagus juga."

"Kasian Ardian, jadi korban. Pendidikannya jadi kacau."

"Kayak tidak penting, Buk."

"Sudah kaya, merasa tak butuh, Buk," sahut Bu Rina.
***
10 tahun berlalu

Sepanjang Jalan Jawa dan Jalan Kalimantan, di trotoar, selalu rame bahkan hingga pagi, penuh dengan pedagang kaki lima. Ardian adalah salah seorang dari mereka. Bu Rahma terkejut saat pemuda si penjual nasi tiba-tiba menghampirinya, bukannya melayani pesanannya, "Bu Rahma," sapanya sambil mengulurkan tangannya. Bu Rahma menjabat tangannya, pemuda itu mencium tangan beliau. "Ingat saya, Bu?" tanya Ardian.

Bu Rahma memandangi wajah pemudua itu. Lama sekali. Para pelanggan Ardian yang sedang makan di trotoar dan yang sedang antri tercengang menyaksikan adegan itu. Rekan Ardian menggantikannya melayani pelanggan lainnya. "Ardian?" tebak Bu Rahma. Ardian tak kuasa menahan air matanya. "Subhanallah, sudah dewasa kamu, Nak." Air mata Ardian mengalir deras. Bu Rahma memeganign lengan kanan Ardian. "Tidak terasa, sudah sedewasa ini kamu. Sudah lama jualan di sini?"

"Baru lima bulanan, Buk, sejak sepulang dari Korea."

"Korea?"

"Iya, jadi TKI di sana, tapi ketipu..."

"MasyaAllah..."

"Sisanya saya buat modal usaha ini."

Bu Rahma tersenyum haru. "Sekarang tinggal di mana?"

"Tinggal di rumah Bu De di Tegal Gede."

"Tegal Gede mana?"

"Timurnya STM, SMK 2."

"Sudah nikah?"

"Sudah. Ini."

Seorang wanita muda berdiri di samping Ardian, ia juga menyalami Bu Rahma. "Sudahh punya momongan?" Keduanya menjawab belum. Mereka memang baru empat bulan menikah.

...bersambung... Cerita Hidup Ardian

Sang Dukun Bijak Tak Shalat

jasa para normal, jasa pesugihan, jasa terapi gaib, Cerita Fiksi, cerpen kehidupan, cerpen sosial
Pak Kyai mengajariku shalat, katanya shalat itu wajib bagi semua muslim. Jika tidak sholat, maka akan masuk neraka. Waktu aku bermain di halam bersama teman-teman, banyak yang mengingatkan kalau sudah tiba waktunya shalat. Kami yang membandel akan kena marah oleh banyak orang. Kami pun ikut shalat berjamaah di musholla bersama orang-orang.

Tetapi di desa ini ada yang aneh. Ada satu orang tua yang pakaiannya seperti kyai, sikapnya juga sangat bijaksana, juga dihormati oleh masyarakat. Tapi aku tak pernah melihatnya ikut shalat di musholla. Atau beliau sholat di rumahnya? Atau karena beliau seorang dukun yang kerjaannya membantu orang sakit dan orang yang mendapat masalah, sehingga mendapat keringanan dari Allah untuk tidak shalat?

"Coba anda baca surat al Waqiah tujuh kali setiap sehabis shalat ashar," aku mendengar percakapan beliau saat bermain di teras rumah beliau bersama ponakannya. "InsyaAllah dlancarkan rizkinya. Khususannya pada Rasulullah, sahabat yang empat, Malaikat yang empat, syeikh Abdul Qadir, almarhum Kyai Sanak, Lora Santo, dan Pak Rahmat." Kyai juga sering menyarankan santrinya agar rajin membaca surat al Waqiah dan Yaasiin, katanya biar orang tua dilancarkan rizkinya. "Jimat ini direndam dalam air, lalu percikkan airnya pada barang dagangan anda."

Setiap tamu beliau yang datang akan mencium tangannya, tak beda dengan tamu kyai. Saat berbicara dengan beliau mereka juga menundukkan kepala. Orang-orang di sini juga begitu, bersikap hormat pada beliau. Orang yang sedang bersepeda, kalau ada beliau lewat berjalan kaki, maka harus turun. Bukan disuruh turun oleh beliau, tapi begitulah yang sayay tahu: harus turun. Dalam penilaianku, status sosial beliau sama dengan kyai.
***
Terdengar suara orang menjerit-jerit di daerah selatan, sepertinya daerah RT 07, kulihat temanku lari ke sana, aku pun ikut. Ada banyak orang berkerumun di rumah Buk Sabia. Buk Sabia yang menjerit-jerit histeris. Kami mendekat. Pak Sabia, suami Buk Sabia habis jatuh dari pohon kelapa dan patah tulang kaki kanannya.

"Tolong ada yang manggil Pak Salman...!!" teriak salah seorang. Orang-orang pada bingung.

Pak Salman adalah dukun yang kuceritakan di atas. Pak Rahbini segera berangkat setengah berlari. Orang-orang yang berkerumun membaca bacaan-bacaan sholawat, istighfar, ada yang membaca al Quran, mereka mendoakan Pak Sabia agar tertolong.

Tak lama kemudian Pak Salman datang membawa daun pepaya. Orang-orang yang berkerumun langsung memberinya jalan. Begitu beliau menangani Pak Sabia, orang-orang langsung diam, hanya bibir mereka tampak komat-kamit membaca sesuatu.

Setelah sekitar 15 menit diperciki air, Pak Sabia pun sadar, "Ada apa?" tanyanya. "Sampean, Pak," sapanya pada Pak Salman.

"Habis terbang?" kata Pak Salman, mencandai Pak Sabia yang masih kebingungan.

"Apa yang terjadi pada saya?"

"Tidak apa-apa."

"Kaki saya sakit."

"Sudah saya obati. Besok juga sudah sembuh. Tidur saja dulu."

Pak Salman memanggil Buk Sabia dan Mbak Sabia, lalu menuturkan resepnya. Beliau menyebutkan makanan-makanan yang harus dimakan dan yang tidak boleh dimakan. "Ini dibaca setiap sehabis maghrib, yang ini sehabis sholat malam, atau dibaca jam 10 ke atas kalau tidak biasa shalat malam."

Seminggu kemudian Pak Sabia sudah bisa berjalan. Berapa ongkosnya, tak pernah ada tarif khusus. Mau dikasih uang atau tidak, terserah. Pak Salman tak pernah keberatan. Kata Pak De, seorang yang punya keahlian mengobati dengan ilmu-ilmu gaib, juga yang punya ilmu-ilmu kesaktian, memang tak boleh memikirkan hal keduniawian. Katanya harus total mengabdikan hidup untuk Allah.

Kalau dihitung-hitung, jika satu orang yang beliau tolong memberi uang Rp 10.000, jika dalam sehari ada 10 orang, berarti Rp 100.000 per hari. Beliau sudah cukup sepuh. Sekarang, mungkin usia beliau sudah hampir 60 tahun atau lebih. Setiap saya lewat depan rumah beliau, belum pernah tidak ada tamu di sana. Tetapi beliau tetap hidup di rumah berdinding anyaman bambu, sering tidur di gubuk buatannya di samping rumahnya bersama kucing hitam kesayangannya.

Satu hal yang mengganjal pikiranku, aku belum pernah melihat beliau mengerjakan shalat, tak pernah terlihat ke musholla, kecuali untuk acara slametan saja. Aku juga mendengar dari beberapa orang kalau beliau memang tidak shalat, dan juga tidak ke masjid saat hari Jumat. Saat lebaran juga tidak ikut shalat. Kenapa orang yang tidak mengerjakan kewajiban Tuhannya dihormat banyak orang? Apakah orang-orang yang menghormatnya yang salah? Berarti semua orang di desa ini salah? Tidak.

Lebih aneh lagi, menurutku, di desa ini juga ada banyak ustadz, salah seorang dari mereka ada yang tidak disukai oleh masyarakat. Katanya, beliau sering pinjam uang dan biasanya mengulur-ngulur waktu untuk melunasinya. Dua bulan lalu, salah seorang warga RT 06, Buk Fatma, marah besar pada beliau. Katanya dia ditipu beliau, beliau menjual benda bertuah palsu. Katanya benda tersebut bisa menyembuhkan sakit gigi, ternyata tidak ada efeknya. Padahal harganya sangat mahal. "Penipu...!! Kalau orang jujur kayak Pak Salman, cuma dikasih jimat, selembar kertas, sembuh...!! Ini, cuma menang mahalnya. Orang tidak mau beli, dipaksa beli...!!!" kata Buk Fatma membentak-bentak.

"Pak ustadz adalah orang berilmu dan mengajarkan ilmu agama. Pak dukun tak berilmu, kecuali ilmu perdukunan, dan tak mengajarkan ilmu."

"Beliau itu bukan tidak berilmu, Man."

"Ilmu perdukunan, kan?!"

"Bukan, tapi ilmu akhlak yang diamalkan. Itu yang membuat beliau dihormat. Beliau bermanfaat bagi orang lain."

"Apa beliau akan masuk surga meskipun tidak shalat?"

"Masuk surga atau tidak, itu urusan Allah. Kita juga tidak tahu secara pasti beliau shalat atau tidak. Kita laksanakan saja yang Allah wajibkan, dan jauhi yang dilarang."

Hukum Menulis Cerita Fiksi (Hayalan)

Cerita Fiksi, Hukum Menulis Cerita Fiksi, Hukum Menulis Fiksi,
Cerita fiksi itu cerita hayal, hampir semua orang sudah tahu kalau itu cerita bohongan, memang masih ada beberapa orang yang belum tahu, mungkin orang yang tidak pernah sekolah atau tidak pernah nonton TV. Berbohong itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji.

Lalu bagaimana dengan penulis cerita fiksi? Bahkan ada penulis yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menulis, berdosakah mereka?

Waktu saya mengajar tentang "Ahlak/tata krama terhadap orang tua" di kelas, saya tidak membawa orang tua siswa saya ke kelas, tapi saya hanya membuat gambar sketsa di papan. Tujuannya agar mereka bisa membayangkan, dan lebih mudah memahami. Saya juga membuat perumpamaan-perumpamaan, "Misalnya begini, misalnya begitu, maka..." demikian saya sampaikan pada siswa, dan itu tidak nyata terjadi. Waktu saya mengajar tentang tema "Wisata" di kelas, saya hanya membawa gambar ke kelas, saya tidak membawa gunung, pantai, pulau bali, dll dalam wujud aslinya ke kelas, hanya pantai bohongan, gunung bohongan berupa gambar saja.

Untuk mengajarkan cara hidup, tatkrama, moral dan aturan-aturan hidup di masyarakat pada anak, mungkinkah mencari cerita-cerita nyata yang sudah terjadi untuk disampaikan pada anak? Membuat cerita fiktif (hayal) tentu lebih mudah. Cerita fiksi tersebut akan menjadi media pembelajaran bagi anak untuk belajar hidup di kehidupan sosial yang nyata.

Saya pernah membaca sebuah nasehat agar jangan memberi contoh teladan menggunakan orang yang masih hidup, karena khawatir sifat orang yang dijadikan teladan tersebut berubah. Dalam hal ini, cerita fiksi lebih baik dalam memberikan teladan.

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, hukum menulis fiksi adalah boleh. Berikut beberapa keterangan dari situs Piss-KTB:
Dalam Tuhfah al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan

ﻭَﻣِﻨْﻪُ ﻳُﺆْﺧَﺬُ ﺣِﻞُّ ﺳَﻤَﺎﻉِ ﺍﻟْﺄَﻋَﺎﺟِﻴﺐِ ﻭَﺍﻟْﻐَﺮَﺍﺋِﺐِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞٍّ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻴَﻘَّﻦُ ﻛَﺬِﺑَﻪُ ﺑِﻘَﺼْﺪِ ﺍﻟْﻔُﺮْﺟَﺔِ ﺑَﻞْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺘَﻴَﻘَّﻦُ ﻛَﺬِﺑَﻪُ ﻟَﻜِﻦْ ﻗَﺼَﺪَ ﺑِﻪِ ﺿَﺮْﺏَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺜَﺎﻝِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮَﺍﻋِﻆِ ﻭَﺗَﻌْﻠِﻴﻢَ ﻧَﺤْﻮِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺎﻋَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻟْﺴِﻨَﺔِ ﺁﺩَﻣِﻴِّﻴﻦَ ﺃَﻭْ ﺣَﻴَﻮَﺍﻧَﺎﺕ

Artinya: Dari itu dipahami boleh mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik berupa cerita-cerita yang tidak diyakini kebohongannya dengan tujuan hiburan. Bahkan boleh juga mendengar cerita-cerita yang sudah diketahui secara pasti kebohongannya, akan tetapi dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat seperti berani, baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan. Allohu A'lam

Nabi SAW bersabda :
حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إسْرَائِيلَ وَلَا حَرَج
َ
Artinya : Ceritakanlah cerita dari Bani Israil dan itu tidak mengapa. (H.R. Abu Daud. al-Shakhawi mengatakan, asalnya shahih)

Pada riwayat Ibnu Muni’, Tamam dan al-Dailami ada tambahan :
فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمْ أَعَاجِيبُ

Artinya : karena pada cerita mereka ada unik dan menarik

Nabi SAW membolehkan menyampaikan cerita- cerita dari Bani Israil, padahal kita memaklumi bahwa cerita- cerita itu sulit dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kebolehan itu karena cerita itu menjadi i’tibar dan tentunya ini dengan syarat tidak menganggap cerita itu adalah benar. 
Dalam Tuhfah al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitamy yang mengatakan :
وَمِنْهُ يُؤْخَذُ حِلُّ سَمَاعِ الْأَعَاجِيبِ وَالْغَرَائِبِ مِنْ كُلٍّ مَا لَا يَتَيَقَّنُ كَذِبَهُ بِقَصْدِ الْفُرْجَةِ بَلْ وَمَا يَتَيَقَّنُ كَذِبَهُ لَكِنْ قَصَدَ بِهِ ضَرْبَ الْأَمْثَالِ وَالْمَوَاعِظِ وَتَعْلِيمَ نَحْوِ الشَّجَاعَةِ عَلَى أَلْسِنَةِ آدَمِيِّينَ أَوْ حَيَوَانَاتٍ

“Dari itu dipahami boleh mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik berupa cerita-cerita yang tidak diyakini kebohongannya dengan tujuan hiburan. Bahkan boleh juga mendengar cerita-cerita yang sudah diketahui secara pasti kebohongannya, akan tetapi dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat seperti berani, baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan” Sumber: Piss-KTB
Dari sumber lain:
Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai hukum membuat kisah fiksi (qashsash khayaaliyyah); Pertama, ada ulama yang mengharamkan, karena dianggap membuat kebohongan (al kadzib). Kitab Fatawa Lajnah Da`imah (12/187) menyatakan, “Haram bagi seorang Muslim untuk menulis kisah-kisah bohong (fiksi), karena dalam kisah-kisah Alquran dan hadits Nabi dan yang lainnya yang menceritakan fakta dan merepresentasikan fakta, sudah cukup sebagai pelajaran dan nasihat yang baik.”

Kedua, sebagian ulama membolehkan, seperti Syeikh Ibnu Utsaimin, dengan syarat isi cerita fiksi menggambarkan hal-hal yang boleh (jaiz) menurut syara’, tidak menggambarkan hal-hal yang diharamkan, dan secara jelas menyampaikan kepada pembaca bahwa yang disampaikan adalah fiksi bukan kenyataan, agar tidak jatuh dalam kebohongan. (Lihat : Ibnu Utsaimin, Fatawa  Muwazhzhafiin, soal no. 24).

Pendapat yang rajih (kuat), adalah yang membolehkan membuat cerita fiksi asalkan terikat dengan syarat-syarat syar’i agar tidak terjatuh dalam kebohongan atau keharaman.

Dalil yang membolehkan membuat cerita fiksi adalah dalil As Sunnah. Dalam hadits yang menjelaskan bahwa orang yang melakukan yang syubhat (tak tegas halal atau haramnya) dapat terjerumus kepada keharaman, Rasulullah SAW telah membuat perumpamaan dengan bersabda : “Seperti seorang penggembala yang menggembalakan [ternaknya] di sekitar tanah larangan (himaa) yang hampir-hampir dia masuk ke dalam tanah larangan itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata, "Di antara faidah hadits ini adalah, bolehnya membuat perumpamaan dalam rangka memperjelas suatu perkara maknawi (tak konkret) dengan perumpamaan sesuatu yang yang inderawi (konkret). Artinya, menyerupakan sesuatu yang ma’quul (obyek pikiran) dengan yang mahsuus (obyek terindera) untuk mendekatkan pemahamannya.” (Syeikh Ibnu Utsaimin, Al Arba’uun An Nawawiyyah bi Ta'liqaat Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 4). Sumber: MediaUmat
Itulah beberapa penjelasan tentang hukum menulis cerita fiksi. Jika ada yang punya sumber lain, monggo dishare.