• Sepasang Merpati di Dahan Angsana

    Menjadi kaya itu terhormat. Itu fakta. Orang berilmu sudah kurang dilirik, tak terpandang. Tetapi, wanita berilmu seperti Alia sungguh menarik hati Alfan...

  • Sholat Imam Terlalu Lama

    Diantara kebiasaan Muadz, beliau shalat isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid nabawi, kemudian Muadz pulang dan mengimami shalat di masjid kampungnya. Suatu malam, seusai jamaah isya...

  • Anak Kades Jatuh Hati Pada Ibu Guru Muda

    Memandang wajah Ibu kepala sekolah, tiba-tiba aku teringat pesan kakek dulu waktu aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. "Nak, kalau kau besar nanti, jangan menikah sama perempuan yang bekerja," nasehatnya. "Lihat gurumu, ngurus anak orang, tapi anak sendiri dibiarkan di rumah."...

Sunday, 18 June 2017

Belajar Dari Kisah Tragis Mahasiswi Sastra Inggris Ini


Cerita Hikmah, Cerita Kampus, cerpen kehidupan, cerpen cinta romantis, Cerita romantis, Flash True Story, contoh cerpen bahasa indonesia

Dari awal ceritanya memang sudah menyedihkan. Semoga dijauhkan dari anak atau adik perempuan yang demikian. Mengingat dia seorang muslim dan anak tokoh agama juga. Ada ajaran yang menurut saya memang keliru, sekalipun seorang bergelar kyai atau usadz yang menyampaikan. Di kampung dulu bukan sekali dan bukan hanya seorang yang mengatakan, "Tak perlu mendalami ilmu agama. Yang penting bisa sholat dan bisa ngaji," bisa ngaji yang dimaksud adalah bisa baca al-Quran tanpa harus tahu maknanya.

Saya tidak sepakat dengan pendapat tersebut. Memang kita tidak perlu mempelajari semua mata pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan islam, tapi ada ilmu yang wajib dipelaari olehh setiap umat islam.

Wanita itu tidak boleh berduaan dengan seorang laki-laki yang bukan muhrim di tempat sepi. Ini dilarang dalam islam. Ini bukan ajaran kolot. Allah yang membuat aturan ini lebih tahu dari hamba-Nya.

Kembali pada cerita mahasiswi sastra inggris tersebut. Karena butuh pinjaman uang, mau saja diajak ke kamar berduaan oleh om-om yang sudah punya anak dan istri. Dia mau karena mengira dia orang baik dan tidak mungkin berbuat jahat. Nah... dia merasa lebih tahu dari Allah swt. Dan... apa yang terjadi, kejahatan tidak bisa ia hindari.

Sudah berapa banyak mahasiswi yang mengalami hal serupa. Waktu saya masih hidup di kampus pun kejadian serupa tidak sedikit, sekalipun itu kampus islam.

Kesalahan berikutnya, dia terlalu percaya diri, merasa mampu berjuang sendiri. Karena ekonomi orang tua merosot, ia pun berusaha tidak menyusahkan orang tua. Padahal, kuliah sastra inggris itu bukan kewajiban dari Allah, bukan fardu 'ain. Semestinya bilang saja sama orang tua, atau cuti dulu kuliahnya. Bukan jadi pahlawan jika berjuang dengan cara yang haram. Itu sama saja dengann jadi pengecut.

Tetpi dia sangat beruntung. Mahasiswi lain tidak sedikit yang menghadapi maut sebelum sempat bertobat. Tetapi Allah swt. Maha Pengasih, Dia Maha Pemaaf. Mahasiswi tersebut masih diberi kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki hidupnya.

Alangkah baiknya jika menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif yang jauh dari kemaksiatan. Setan itu cerdas dan menjadi musuh yang nyata, sebaiknya, jauhilah sejauh-jauhnya. Berkumpullah dengan orang-orang yang banyak beribadah dan sibuk dengan amal kebaikan.

Kita doakan semoga dia khusnul khotimah, dan tidak ada lagi mahasiswi yang mengalami hal serupa. baca kisah aslinya di sini

Tuesday, 13 June 2017

Idealisme Cinta: Cerita Cinta Dalam Kebinasaan

Cerita Fiksi, Cerita romantis, cerpen baru, cerpen cinta romantis, cerpen Indonesia, cerpen romance, contoh cerpen bahasa indonesia
Leonard. Bertahun berburu cinta. Berjuta wajah cantik terjamah. Namun tak satu pun memuaskan. Sungguh perburuan tak kenal lelah.

Hari mulai senja. Leonard duduk sendiri memandangi matahari yang hendak terbenam. Seakan berjajar wajah-wajah cantik di balkoni langit, diantara mega.

Semuanya kurang menarik. Bila mentari terbit lagi esok, ia 'kan lanjutkan lagi perburuan.

Leonard lelap dalam tidur.

Malam berlalu bersama mimpi bidadari di balik tirai. Pagi yang tak biasa. Dunia sunyi. Leonard berusaha keras membuka mata. Tetapi berat sekali.

Tubuhnya juga sulit ia gerakkan. Tetapi ia tak menyerah. Ia berhasil membuka mata dan menggerakkan tubuhnya.

Rupanya ia berada dalam tumpukan reruntuhan. Ia bingung. Ia amati keadaan di sekelilingnya. Semua lenyap tinggal puing-puing berserakan. "Hah...!!" Ia melompat. Semua telah musnah, hancur. "Bencana...?!" Tetapi seperti mimpi. "Aku ... selamat...?!" Ia berlari ke sana ke sini, hanya reruntuhan dan mayat-mayat tergeletak yang ia temukan.

Kini ia hidup sendiri.

Bulan dan tahun-tahun pun berlalu. Tak ada lagi manusia dan hewan tersisa, hanya tumbuhan yang bisa ia nikmati buahnya. Sepi. Tetapi hatinya masih terbayang bidadari di balik tirai. Kata hati menuntunnya. Ia berjalan ke arah matahari pagi. Jauh ia melangkah hingga kelelahan dan pingsan.

Leonard terbangun. Dilihatnya sosok wanita paruh baya duduk di sampingnya. Matanya berkaca. "Kau sudah sadar, Nak?" tanyanya. Leonard hanya tersenyum.

Wanita itu bercerita tentang anak-anak dan cucu-cucunya yang sudah tiada. Semua anggota keluarganya binasa oleh bencana. Leonard bercerita tentang perburuannya. Ia juga bercerita tentang perasaannya kini, tentang keputusasaannya, masih adakah bidadari yang ia cari? Wanita itu hanya diam.

Waktu terus berjalan memusnahkan masa.

Di senja hari Leonard memandangi wanita paruh baya yang sudah sekian lama bersamanya itu.

"Kenapa kau memandangiku?"

"Bertahun-tahun aku berburu cinta, mencari bidadari yang cantik jelita," kisahnya. "Sudah puluhan, ratusan, bahkan ribuan wanita cantik kutemui. Tapi tak satu pun memuaskan hasrat cintaku. Mereka kurang cantik. Hatiku membuang mereka. Tetapi, ada yang aneh dengan hatiku. Entahlah. Kata hatiku, engkaulah bidadari di balik tirai itu. Padahal kau sudah tak punya kecantikan? Tapi hasrat cintaku memintamu untuk menghuni hatiku."

"Tenangkan jiwamu agar kau jernih berpikir."

"Ribuan wanita cantik sudah kubandingkan. Tak ada yang nomor satu peringkatnya. Hatiku yang menilai. Tetapi kini hatiku seakan sudah aus dan tak bisa lagi menilai kecantikan. Kau tak cantik, tapi hatiku memintamu untuk menghuninya."

"Kau aneh."

Friday, 9 June 2017

Hidangan Yang Tak Kunjung Habis

Cerita Hikmah, cerita islam, Kisah Nyata, Kisah Teladan, kisah teladan nabi muhammad, Real Story

Kisah yang pertama dari padang pasir, di rumah wanita gurun yang biasa menjamu setiap musafir yang singgah untuk istirahat. Rasulullah saw. bersama Abu bakar, Amir Ibn Fuhairah, dan sang penunjuk jalan, Abdullah ibn al-Urayqath sedang melintasi guruntersebut. Mereka hendak ke Madinah usai bersembunyi di Gua Tsur. Terlihat oleh mereka dua buah kemah berdiri di sebuah sisi ruas jalan.

Ummu M'bad menyambut mereka dengan ramah meski tak kenal siapa dan dari mana mereka. Tetapi ketika rombongan hendak membeli kurma atau daging, ia bilang tidak ada. Pada tahun tersebut memang sedang masa paceklik. Semua orang kesulitan.

Rasulullah saw. tiba-tiba melihat seekor kibas kurus kerempeng di samping kemah, "Kibas ini kenapa, Ummu Ma'bad?"

"Itu kibas kami yang ketinggalan dari kambing-kambing lain karena kelelahan. Tubuhnya lemah tak kuat berjalan."

"Ada susunya?"

Ummu Ma'bad terkejut, "Kalau dia beranak, mungkin tidak akan kelelahan begitu. Kibas itu mandul."

Ia mengira lawan bicaranya tak mendengar apa yang dikatakannya.

"Boleh kuperah kibas itu, Ummu Ma'bad?"

Ummu Ma'bad kaget dan hampir berkata-kata yang tidak patut, tapi mulutnya tertahan oleh wibawa Nabi. "Demi ayahku, engkau, dan ibuku, kalau memang kaulihat ada susunya, perahlah!"

Nabi lalu mengusap susunya, menyebut nama Allah, dan berdoa. Tiba-tiba kedua kaki kibas itu meregang, susunya mengencang penuh dan siap diperah.

Nabi meminta bejana. Diberinya beliau bejana besar. Kibas diperah, susunya mengucur tumpah. Bejana besar itu pun penuh hingga busanya membuncah-buncah. Nabi menyerahkan bejana penuh susu tersebut kepada Ummu ma'bad. Dia terheran-heran oleh apa yang dilihatnya. Diangkatnya bejana itu dan diminum susunya hingga ia puas. Belum pernah ia minum susu selezat itu. Kemudian bejana itu diserahkan kepada yang lainnya dan berakhir di tangan Nabi.

Nabi kembali memerah lagi hingga bejana tersebut penuh susu sebanyak yang tadi. Susu tersebut beliau tinggal sebagai hadiah untuk Ummu ma'bad. Lalu beliau bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Ummu Ma'bad ternganga keheranan oleh yang terjadi. Ia tak tahu siapa tamu yang baru saja ia jamu.

Dari kisah ini, ada pelajaran berharga. Kita tak perlu khawatir dengan rizki Allah. Jika hendak mendirikan usaha, dirikanlah sebagai sumber dan jalan rizki. Seekor kibas kurus yang mandul pun bisa mengeluarkan susu sebanyak itu. Usaha dan doa jadikan senjata. Allah tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya dan Allah mengabulkan doa hamba-Nya.

Cerita yang kedua terjadi di Rumah Jabir Ibn Abdullah al-Anshari.
Jabir Radhiyallahu anhu bercerita, “Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, ‘Batu yang sangat keras ini menghalangi kami menggali parit,’ Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri yang akan turun.” Kemudian beliau berdiri (dalam parit), sementara perut beliau diganjal dengan batu (karena lapar). Tiga hari (terakhir) kami (para shahabat) belum merasakan makanan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kampak dan memukul batu tersebut hingga pecah berkeping-keping.

Lalu aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, izinkanlah aku pulang ke rumah.” Rasulullah mengijinkan. Sesampaiku di rumah, aku bercerita kepada isteriku, “Aku tidak tega melihat kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apakah kamu memiliki sesuatu (makanan) ?”

Isteriku menjawab, “Aku memiliki gandum dan anak kambing.”

Kemudian ia meyembelih anak kambing tersebut dan membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika adonan makanan tersebut hampir matang dalam bejana yang masih di atas tungku, aku menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, aku memiliki sedikit makanan. Datanglah ke rumahku dan ajaklah satu atau dua orang saja.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Untuk berapa orang ?”

Lalu aku beritahukan kepada beliau. Beliau bersabda, “lebih banyak yang datang lebih baik.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Katakan kepada isterimu, jangan ia angkat bejananya dan adonan roti dari tungku api sampai aku datang.”

Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bangunlah kalian semua.” Kaum Muhâjirin dan Anshâr yang mendengar perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu langsung berdiri dan berangkat.
Jabir Radhiyallahu anhu menemui isterinya (dengan cemas), dia mengatakan, “Celaka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama kaum Muhâjirîn dan Anshâr serta orang-orang yang bersama mereka.”

Isteri Jabir bertanya, “Apa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertanya (tentang jumlah makanan kita) ?”

Jâbir menjawab, “Ya. ”

Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.” Kemudian Rasûlullâh mencuil-cuil roti dan ia tambahkan dengan daging, dan ia tutup bejana dan tungku api.

Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mendekatkannya kepada para sahabatnya. Lantas beliau mengambil kembali bejana itu dan terus-menerus beliau lakukan itu hingga semua sahabat merasa kenyang dan makanan masih tersisa. Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada istri Jabir Radhiyallahu anhu), “Sekarang kamu makanlah ! Dan hadiahkanlah kepada orang lain, karena masih banyak orang yang kelaparan.”

HR. Bukhari, no.(Fathul Bâri, ta’liq Syekh bin Baz, Bâb Ghazwatil Khandaq, 7/395)
Di rumah ibu susuan, Halimah Sa'diyah, Keberadaan Rasulullah saw. membawa berkah bagi keluarga Haliamh Sa'diyah. Awalnya mereka hidup kekurangan, tapi sejak Rasulullah saw. diasuhnya mereka hidup serba berkecukupan: kambingnya gemuk-gemuk dan menghasilkan susu yang banyak. Air susu Halimah sendiri juga lebih banyak dari sebelumnya.

Suatu ketika pernah Halimah dan suaminya sedang merasakan lapar dan haus, sedangkan susu onta betina mereka tidak ada isinya. Suaminya berusaha bangkit dan mendekati ontanya. Ternyata air susu onta betinanyay penuh. Ia pun memerahnya dan diminum bersama hingga merek kenyang.


Referensi: 
Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad, karya Dr. Nizar Abazhah
Reublika Online

Maling Yang Mendadak Jadi Kyai

Cerita Cinta di Pesantren, Cerita romantis, cerpen baru, cerpen cinta romantis, cerpen Indonesia, cerpen romance,
Kyai belum berkenan mengajar santri. Beliau juga tidak ngimami, tapi memilih sholat sendiri di kamar. Berhari-hari sejak pernikahannya, tak seorang pun bisa menemui beliau kecuali Bu Nyai Salma (Sang istri tercinta).

"Kyai yang sekarang kok tidak berkenan ceramah di masyarakat ya?" Tanya Niman.

"Jangan berburuk sangka...!!"

"Bukan berburuk sangka. Justru kita perlu introspeksi diri. Barangkali sikap kita telah membuat beliau begitu."

"Benar juga. Jangan-jangan selama ini kita telah banyak berbuat kesalahan."

Nyai Salma kadang merasa khawatir melihat kebiasaan suami barunya. Beliau banyak menghabiskan waktu berdzikir di tempat sholatnya di kamar. Kadang ia merasa bersalah, tapi tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuat. Mungkin sikapnya telah membuat sang suami begitu. Kadang beliau menduga mungkin suaminya memang mempunyai kebiasaan yang sulit dimengerti orang pada umumnya.

Rabu pagi tanggal 10 Agustus 2016, usai sholat subuh, untuk pertama kalinya sang kyai berkenan berceramah di masjid.

"Itu kan maling...!!" teriak Buden sambil menunjuk ke kyai.

"Jangan sembarangan...!!" Kang Sarman membentaknya.

"Saya kenal dia," bisik Buden.

"Nyai Salma itu keturunan ulamak, tidak mungkin sembarangan pilih suami," balas bisik Kang Sarman.

"Iya, tapi..."

"Kita ini orang awam. Tidak tahu yang sebenarnya. Kamu mau menuduh nyai Salma tidak bisa pilih suami?!"

"Yaaa.... tidak sih."

"Makanya, jangan sok pinter..!!"

Salah seorang ustadz muda yang sudah lama suka sama Bu Nyai Salma memperhatikan Buden dan Kang Sarman. Dia ingin menggali informasi lebih dalam apa yang baru saja dikatakan Buden tentang kyai barunya. Dalam hatinya, ia berharap apa yang dikatakan Buden itu benar agar dia bisa merebut Bu Nyai yang sudah lama ia dambakan untuk jadi istrinya.

Dalam ceramahnya kyai tidak banyak menyampaikan tentang hukum islam atau tata cara ibadah, melainkan bercerita tentang para sahabat. Rupanya beliau juga punya sedikit pengetahuan agama. Pagi ini yang beliau ceritakan adalah kisah Khadijah ra. istri Rasulullah saw. yang pertama. Ia juga menceritakan kisah Jabir bin Abdillah al-Anshari yang menikahi janda demi adik-adiknya yang membutuhkan bimbingan seorang ibu. Bu Nyai Salma senang mendengar ceramah kyai. Beliau menikahi dirinya setelah menjanda ditinggal suami pertamanya.

Seperti seorang muballigh yang sudah ahli berceramah di depan umum beliau bercerita sambil sesekali berdiri bangkit dari tempat duduknya. Begitu semangat.

***

"Kang Buden," Ustadz Faruq dengan lirih memanggil Buden yang sedang lewat di depan gerbang pesanten. "Tunggu, Kang" beliau mendekatinya. "Mau ke pasar?" Buden mengangguk. "Ayo bareng." Keduanya berjalan beriringan. "Kang Buden, kemarin pagi saya mendengar sampeyan menyebut kyai baru kita... ..."

"Ah tidak, tidak...!! Saya salah lihat saja."

"Masak..!! Beneran sampeyan tidak kenal beliau?!"

"Memang mirip sekali sih, tapi saya tidak mau kwalat. Saya tidak mau mengomentari keluarga guru saya."

Ustadz Faruq agak kecewa, tapi ia tidak mau menyerah. "Memangnya Kang Buden punya teman yang mirip beliau?"

"Iya, tapi maling dia. Tidak mungkin Bu Nyai Salma mau jadi istri maling. Beliau turunan kyai, wali Allah."

"Orang mana, Kang?"

"Orang Karang Delima."

"Desa kecil di lereng gunung itu?"

"Iya. Udah lama tidak ketemu."

Jalan terang bagi Ustadz Faruq. Dia tahu desa kecil tersebut, tak sulit untuk mencari seseorang. "Siapa nama teman Kang Buden?"

"Buat apa, Ustadz? Penasaran amat."

"Yaaa... ingin tahu saja."

"Manfaatnya apa buat sampeyan?"

"Ah, Kang Buden, mau tahu aja."

"Yaaa... janggal aja."

***

Usai mengisi pengajian sore Ustadz Faruq pergi ke desa Karang Delima untuk menanyakan kabar orang bernama Saifudin, yang kata Buden adalah teman lamanya yang berprofesi sebagai maling. Diam-diam ia ke sana mengendarai motor miliknya. Bu Nyai Salma melihatnya sekilas saat melewati pintu gerbang. Biasanya Ustadz Faruq langsung bantu-bantu kyai saat beliau masih ada. Sekarang jarang sekali masuk ke ndalem.

Ada anak-anak yang sedang bermain kelereng di halaman rumah di pinggir jalan. Desa Karang Delima tampak sepi. Hampir tidak terlihat ada orang. Ustadz Faruq agak bingung mau menemui siapa. Tidak ada warung untuk nongkrong di situ.

Seorang anak kecil mendekatinya dan menanyakan mau ke rumah siapa. Ustadz Faruq pun memberi tahu tujuannya. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba keluar dari salah satu rumah mendekat. "Nyari rumah siapa?" tanyanya. Ustadz Faruq menjelaskan maksudnya. "Saifudin...," wanita itu memperhatikan Ustadz Faruq, dilihatnyay dari kepala hingga kaki, seakan tidak percaya dengan busana muslim: sarung, baju koko dan kopyah, mencari orang bernama Saifudin. "Maling itu, Mas...?" Ustadz Faruq bingung untuk menjawab. Ia khawatir dikira temannya. "Mas kehilangan apa? Dia sudah lama tidak di sini, Mas. Habis nyuri sapi buat lebaran dulu."

Ada seorang wanita lagi mendekat. "Cari siapa, Buk?" tanyanya.

"Saifudin."

"Saifudin maling?!"

"Iya."

"Katanya jadi kyai."

"Halah...!! Ngawur...!! Masak, maling jadi kyai...!!"

"Jadi kyai dimana, Buk?" tanya ustadz Faruq.

"Ah, tidak mungkin, Mas. Kabar burung itu. Masak, maling jadi kyai."

"Tidak tahu juga. Dengar-dengar sih dia nikah sama Bu Nyai."

"Bu Nyai Salma...?! Ngawur kamu. Beliau keturunan wali, kyai alim. Masak jodoh sama maling...!!"

bersambung...
*disadur dari cerita Kyai Sakur, almarhum guru ngaji saya. Mungkin saja ini kisah nyata

Raja Sriwijaya Ingin Belajar Agama Pada Umar bin Abdul Aziz



Belum saya temukan apa yang membuat Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, tertarik untuk mempelajari Islam hingga beliau dua kali kirim surat kepada Khalifah Bani Umayyah: kepada Muawiyah I dan kepada Khalifah umar bin Abdul Aziz. Mungkin karena akhlak umat Islam yang berdagang di wilayah kerajaan Sriwijaya, atau beberapa ajaran Islam yang sempat didengar oleh raja. Mungkin sja, wallahu a'lam bish showab. Surat Raja yang kedua didokumentasikan dalam buku Al-Iqdul Farid karya Abd Rabbih.

Pada masa itu memang sudah banyak pedagang dari Arab yang berdagang di wilayah kerajaan Sriwijaya. Tentu saja mereka juga membawa kabar tentang agama Islam. Sekitar tahun 625 M di kerajaan Sriwijaya sudah berdiri perkampungan Arab, tepatnya di pesisir pantai Sumatera. Kabar ini tertulis dalam dokumen kuno asal tiongkok.

Setelah perjanjian hudaibiyah tahun 6 Hijriyah, Rasulullah saw. mengajak raja-raja, penguasa, pemimpin suku, dll. untuk memeluk islam. Dengan cara ini banyak yang berhasil. Mungkin saja (wallahu a'lam bish showab) ada surat yang ditujukan pada Raja Sriwijaya.

Ada satu hadits yang menyebut tentang suatu negeri yang mana diperkirakan ngeri tersebut adalah kerajaan Sriwijaya. Berikut haditsnya:
“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu“….
Di Sumatera juga ditemukan makam Syeikh Rukunuddin yang berada di Barus (Fansur). Diperkirakan syeikh tersebut adalah sahabat Rasulullah saw (sumber).

Sang Raja, Sri Indrawarman, tertarik untuk mempelajari agama yang berbeda dengan yang beliau anut tersebut. Mungkin itulah hidayah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun merespon baik surat dari Raja Sriwijaya dan mengirim utusannya untuk mengajarkan Islam.

Berikut bunyi potongan surat Raja Sriwijaya:
Dari Rajadiraja...; yang adalah keturunan seribu raja ... kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.
Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, akhirnya masuk islam pada tahun 720 M. Sejak saat itu kerajaan Sriwijaya dikenal dengan Sribuza Islam. Mungkin inilah awal mula masuknya Islam ke Nusantara hingga menjadi besar seperti sekarang.

Tulisan kisah di atas belum tentu 100% valid. Bagi pembaca yang menemukan banyak cacat pada informasi yang tertulis, dengan senang hati penulis menerima masukannya.

Sumber:
1) wikipedia
2) Kanzunqalam
3) Portal Islam

Thursday, 8 June 2017

Menolak Menikah Lagi Walau Istri Memilihkan

Cerita Hikmah, cerita islam, Kisah Nyata, Kisah Teladan, kisah teladan nabi muhammad, Real Story, cerpen romance
Sepertinya memang naluri lelaki merasa tak cukup dengan satu wanita. Tak jarang lelaki yang memiliki istri lebih dari satu, entah secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi atau tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Tak sedikit juga yang terlihat tak ada niat untuk menikah lagi, tapi jika ada keempatan, bisa jadi, apalagi istri pertama yang menawarkan, waaahh...

Berikut ada kisah seorang pemimpin besar yangn terbilang sukses dalam memimpin. Ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis namun istrinya tidak pernah mengizinkan beliau untuk menikah lagi. Beliaupun nurut. Luar biasa ya, seorang pemimpin besar yang terhormat nurut pada istri. Biasanya kan diam-diam menikah.

Suatu ketika beliau sakit. Sang istri prihatin melihat kondisi beliau. Tiba-tiba ia teringat seorang wanita yang dulu ingin dinikahi suaminya. Ia pun ingin menghibur suaminya dengan menghadiahkan wanita tersebut untuk menikah dengan suaminya. Harapannya sang suami akan merasa senang dan sembuh dari sakitnya. Tetapi ternyata tidak.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu," kata beliau.

Beliau adalah khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, yakni Umar bin Abdul Aziz dan istrinya Fatimah binti Abdul Malik.

Sebelum wanita itu pergi, ia bertanya, "Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?"

"Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!"

Beliau lahir pada tahun 63 H/682 Februari 720. Beliau berkuasa selama kurang lebih tiga tahun 717-720. Beliau merupakan khlaifah yang ditunjuk langsung, bukan merupakan keturunan khalifah sebelumnya, tetapi masih sepupu dengan Sulaiman (khalifah sebelumnya). Baru dua tahun kepemimpinannya sudah nampak peningkatan kemakmuran masyarakatnya. Beliau dikenal sangat berhati-hati menggunakan harta negara dan harta pribadi, tidak dicampur-campur. Ketika baru menjabat, beliau menyerahkan seluruh hartanya untuk negara. Sungguh teladan yang luar biasa.

Itulah sekilas kisah tentang lelaki hebat: Umar bin Abdul Aziz.

baca juga: Kisah Sahabat yang Memilih Janda
referensi: wikipedia

Wednesday, 10 May 2017

Alandu'en Abahas Ahok: Politik Maloloh

cerpen Indonesia, cerpen kehidupan, cerpen sosial,
"Ambu rah, jek abenta politik maloloh. Tak mun degeng jemuh, olle pesse."
"Tak rapah, Din, le tak muguk," nyaut Asmat.
"Iyeh, be'en nyaman. Se ngidingagi possa' kopeng."
Dulases seatabunan ambu. Landu'en esabe' etabun. Pas tojuk ajurukkong ngabes ka Jumadin. Tanangah esabe' e to'otah. Sambi mukka' songko'en nguca', "Kabennya'en oreng sateyah reyah, mun ta' abenta politik, bal-ebbalan."
"Mun enga' be'-abe'en, masak abenta'a C I N T A, Ses...?! Engak se asakola."
"Tak rapah kyah. Tis-romantisen."
"Keng pajet lakar ta' taoh nemunin oreng tanih seabahas cinta sambi alandu'en," ca'en Dulla.
"Se ta'-cinta'an reyah kan oreng se genteng," ca'en Jumadin.
"Engko' kan genteng, Din."
"Seees ses...!!! Muah beng-gurbeng engak saka'an jieh ngucak genteng."
"Senga' mi' olle artis ngko' yeh..."
"Taroan lorong."
"Eee, abes, e saka'nah Jih Hamid," ca'en Asmat. Kabbi ambu alandu' pas ngabes ka saka'nah Jih Hamid. "Maseh tak onga' sakaleh yeh...!!"
"Onga' rah, ma' eyorak bi' Jih Hamid."
"Ahok..."
"Huh, anuwan jieh gi' bi' Ahok," Ca'en Dulases. "Ngko' taoh alakoh e dissa'. Larang mun bejernah..."
"Keng arapah, Ses...?"
"Tager bilu' tengnga."
"Jeregenah be'-abe'en reyah se nyaman," ca'en Dulla. "Santayan."
"Ngko' sabben taoh tangiddeh..."
"Teros...? Egigirin...?"
"Enje', ta' ejegein. Tager jegeh dibi' ngko'. Je' pera' sem-misem reyah Pak Jih Latep."
"Mun Pak Jih Latep kan derih nol," ca'en Jumadin. "Taoh ka rassanah deddih enga' be'-abe'en. Akoli kiyah lambe'. Mun Jih Hamid, mella' langsung nemmuh tera'. Tak taoh ka rowattah lakoh."
"Santet mareh ye."
"Ahok rowah mun esantetah."
"Siyah, ngakan bebih. Ta' meddes."
"Onggunah Ahok reyah tegas ka bawahan. Ngko' taoh ningguh videonah e hapenah Audi. Polanah minta pesse ka oreng sengurusen apah de' iyeh. Huh, pas esrangap neng e yade'en oreng. Eding-duding sambih la'-mancella'. Can ngko' bagus mun de' yeh."
"Berita sateyah, ta' ning kabbi eparcajeh. Mun seekenning gusur peggel ka Ahok. Ben pole, oreng Islam ta' olle mile pemimpin se ta' Islam."
"Tapeh ma' bedeh kyaeh se adukung Ahok yeh."
"Je' repot mun amuso kyaeh, akomen sala, ta' akomen ye de' remmah..."
"Akher jeman."
"Bininah raddin."
"Bininah sapah?"
"Ahok."
"Kabinih be'en, Ses."
"Duh, enje' rah. Deggi' epakanih bebih tang anak. Tangu' abiniyah padeh reng taninah. Kenning belenjeih tello ebuh."
"Mun bennya' pessenah, ta' usa belenjeih, Ses."
"Siyah, can sapah. Paggun wejib. Etapok deggi' bi' malaekat mun ta' ebelenjeih."
"Keng mun ebending bininah Kyaeh Badrih se sateyah, jeu," ca'en Jumadin.
"Sih, abinih pole?!"
"Beh, tak taoh be'en?"
"Beri' ngko' tatemmu neng Indomaret. Buh...!! Langsung elang ingatan ngko'. Enga' bidedderih."
"Siyah, bileh ra setaoh ka bidedderih ben?!"
"Enje', ce' raddinah. Nyaman deddih kyaeh ye."
"Atarakat."
"Mun andi' binih enga' rowah, pas pesse bennya', tedung beih lah, ta' usa ge-jegeh."
"Ta' pera' pekkernah be'en. Je' andi'eh onggu, ta' mana."
"Bininah Ahok neng kadibi' sateyah ye?" ca'en Dulla.
"Kabinih be'en, La. Le ta' keseppiyan."
"Duwein. Becaen semar mesem."
"Tambeih ajian jala sutra."
"Ta' bisa mun ngakan bebih."
"Beh, bedeh kyah se bisa...!! Ben taoh ka Tur, arowah bininah oreng cenah. Maso' islam sateyah."
"Iyeh, nuro' ngare'. Ko' taoh tatemmuh se ngare' padinah Jih Pausi."
"Mintah ben duwenah Ka Tur, entar pas ka Jakarta."
"Duh, la je'ih rah. Kenning cokocoh re-karenah Ahok."
"Beh, mun pas maso' Islam karanah be'en, genjeren rajeh. Mumpong Ahok bedeh e penjara."
"Keng mun bininah kyaeh Badrih se anyar, tekka' randeh, gellem ko'. Ta' rapah tekka' randeh."
"Lambe' bedeh kyaeh la seppo. Bininah ngudeh. Tenga malem awasiat ka bininah, 'Mun engko' mateh, pas bedeh oreng lake' alamar be'en nganggui kalambih mira, taremah ye,' debunah kyeh. Ma' pas kateppa'an bedeh maleng ngidingagih. Ma' nyainah raddin... Pas sedeh onggu kyaeh. Iye, kasempatan."
"Pas elamar onggu."
"Iyeh, akalambih mira."
"Langsong deddih kyaeh ye, malengah."
"Pojur nasebeh."
"Mun be'en abinih bininah Ahok, Ses, mi' pola deddih pejabat kyah."
"Pejabat apah, Pak RT..?"
"HahahHahahahah... Ma' ce' saranah. Ma' ta' ta-kantah deddih Kampong kanah."
"Padeh beih. Bejeren tade', lakoh atompo'an."

Tuesday, 9 May 2017

Tak Hanya Yang Muda Yang Bercinta

Cerita romantis, cerpen cinta romantis, cerpen romance, contoh cerpen bahasa indonesia, cerpen Indonesia,
"Dia itu cucuku. Jangan buta...!!"

Wajahnya memerah. Ini memalukan. Tak masuk akal. Tak pantas terjadi. Tetapi sudah terjadi. Semua orang sudah tau. Ini aib, aib keluarga. Bingung.

"Sudahlah. Aku pergi saja."

Hatinya terlanjur terbakar rasa cemburu. Ia seperti buta. Hilang akal sehatnya. Tak peduli anak, sanak family dan tetangga. Tak ada rasa malu. Ia pergi meninggalkan rumah yang dulu dibangun bersama. Tetapi ia bawa barang-barang yang ia beli sendiri: lemari kecil, mesin freezer, baju, alat masak elektrik, perhiasan, dll. Banyak tetangga yang bertanya-tanya hendak dibawa kemana barang-barang itu. Anak-anaknya merasa malu karena hal itu tak patut dilakukan oleh pasangan yang sudah cukup berumur seperti mereka.

Dia pergi naik mobil pick up dengan barang-barangnya. Tidak satu pun dari keempat anaknya yang turut serta. Mereka menangis tak kuasa menahan malu pada tetangga dan teman. Mereka bersedih atas kejadian ini dan menyesalkan sikap ibunya yang menurut mereka sangat tidak dewasa. Bahkan anak bungsunya yang masih kuliah menangis histeris.

Ini bukan yang pertama. Ia memang wanita pencemburu. Dulu pernah cemburu pada ponakannya, pernah juga pada pelanggannya, pada tetangga. Tetapi sang suami memaklumi dan cukup sabar menghadapinya.

Rumah yang cukup megah itu kini terselubung duka. Tak ada tawa dan tak mungkin ada tawa dalam waktu yang cukup lama. Cucu-cucunya pun turut merasakan kesedihan atas kepergiannya. Sang suami seakan tak punya cara lagi untuk memperjuangkan cintanya. Ia biarkan saja sang istri pergi.

Misteri Sang Sopir Pick up

Suami bodoh membiarkan istrinya pergi sendirian. Aku melihat ia menangis tadi, tapi tak berbuat apa-apa. Bodoh. Wanita ini begitu menawan. Sudah begitu lama aku mengimpikan kesempatan seperti ini. Walau jarak usia selisih 30 tahun, tapi keindahan tubuhnya membuatku mabuk kepayang. Bibirnya seksi. Senyumnya menggoda. Tutur katanya lembut. Matanya indah. Ia begitu bijaksana. Pasti begitu hangat cintanya. Sebentar lagi, hasratku terpenuhi.

Bertahun-tahun aku hanya bisa menghayal untuk menikmati cinta bersamamu, wahai wanita disampingku. Bertahun sudah cinta ini kupendam. Sempat beberapa kali kuajak kau bercinta dalam mimpi dengan mantra yang kudapat dari seorang pintar. Pagi itu kau memandangiku. Mungkin bekas kisah semalam. Begitu indah tatapanmu. Kau begitu mempesona. Mungkin kau masih ingat itu.

Tetapi aku tidak mau gegabah meski hasrat ini menggebu. Cinta adalah seni, takkan indah bila turuti nafsu. Kunikmati kebersamaan walau tanpa saling pandang. Kita nikmati jalanan dengan pemandangan hijau di tepian. "Kok berhenti?" Aku seakan tidak tahan lagi ingin menikmati cintamu.

"Anda menangis?"

"Tidak. Aku tidak menangis."

Aku tak tahan menatap kecantikanmu. Tubuhmu begitu indah. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Aduhai cinta, rasanya lenyap diri ini. Jiwaku dikuasai kobaran api asmara. Cinta ini sudah jauh di atas kendaliku. Tuhan, bantu aku.

"Anda yakin mau ke rumah adik anda?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Ya ... ingin tahu saja."

"Kalau tidak ke sana, kemana lagi?"

Ini kesempatan emas bagiku. Tetapi juga tidak mungkin menikahinya sekarang. Aku harus menunggunya empat bulan lagi. Tetapi empat bulan terlalu lama rasanya. Aku ingin segera bercinta dengannya.

"Kalau kuajak anda ke suatu tempat?"

"Kemana?"

Kesetiaan Yang Diuji

Dia adalah istri ketiga Sarif. Ada dua janda dalam hidupnya. Tetapi ia sangat berharap ini yang terakhir. Sudah ccukup ia mengalami kegagalan cinta. Ia menyadari kesalahannya di masa lalu: menganggap sepeleh urusan cinta. Kini ia sadar cinta harus diperjuangkan. Sebagai lelaki ia harus tahan ujian.

Kecemburuan istrinya yang berlebihan kadang membuat ia ingin kembali pada mantan istrinya, tapi ia tahan. Sebab bila ia kembali dan meninggalkan istri yang sekarang, itu artinya dirinya adalah lelaki yang lemah. Di tempat kerja sempat beberapa kali ia digoda wanita muda yang cukup cantik. Teman-temannya mengejeknya karena mengabaikan kesempatan emas. Tetapi ia teguh pendirian pada komitmen cintanya.

Malam semakin larut. Orang tua sang sopir muda yang misterius bertanya kemana perginya mereka. Tetapi tidak ada yang tahu. Sarif meminta anaknya menghubungi semua kerabat. Tetapi tidak ada yang tahu. Masalah bertambah. Ibu sang sopir muda yang masih berstatus mahasiswa menangis. Ayahnya mencoba menghubungi teman kuliahnya yang sering menginap di rumahnya: Rudi. Tetapi ia juga tidak tahu.

Sarif teringat salah seorang temannya yang ahli supranatural. Dia pernah bilang dulu kalau Sarif akan menikah dengan seorang perempuan lagi. Artinya akan ada tiga janda dalam hidupnya. Tetapi ia menolak tebakan itu. Ia berusaha keras untuk menjadikan ini cinta terakhirnya walau bagaimanapun kenyataannya. Ia yakin Tuhan sedang menguji kesetiaan dan kesabarannya.

Sang sopir muda seakan hilang kesadaran. Jiwanya dikuasai cinta butanya. Ia akan berusaha keras untuk memisahkan Sarif dengan istrinya. Ia bertekad akan menikahinya empat bulan lagi. Pria misterius. Tak ada yang menduga ia akan pergi menghilang bersama istri Sarif.

Empat Bulan Kemudian

"Kamu masih anak-anak. Aku lebih pantas jadi nenekmu...!! Jangan gila."

"Umur bukan syarat pernikahan."

"Iya, tapi tak wajar."

"Kamu malu?"

"Gila...!!"

Firman nama sang sopir misterius tersebut. Empat bulan penantian sudah ia lalui dengan sabar dan penuh ketabahan. Tinggal satu langkah: mengharap kesediaannya untuk menjadi istrinya. Wanita paruh baya yang kini berada di sampingnya tampak tak berdaya. Mungkin sebentar lagi ia akan menyerah dan mau menikah dengan Firman. Mungkin rasa malu saja yang membuatnya ngotot menolak.

"Kalau kamu malu untuk menjadi istriku, kita bisa merahasiakan hubungan kita."

Ia menangis. Mungkin bingung. Mungkin takut. Mungkin ingat suami dan anak, juga cucu di rumah. Mungkin menyesali perbuatannya. Sempat terbersit dalam pikiran Firman untuk memaksanya, tapi itu tak halal. Menurutnya cinta tak indah jika tak halal.

"Aku tidak akan berbuat jahat. Aku ingin cara yang halal."

Ia diam tanpa kata. Hanya menangis. Firman seakan turut merasakan apa yang ia rasakan. Ia memegang tangannya, menggenggamnya erat. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Firman merangkulnya. Ia merebahkan kepalanya di bahu Firman. Hasrat cinta Firman menggebu. Ia ingin melepaskan rangkulannya, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Ia biarkan saja. Biar hatinya tenang dulu. Tetapi Firman tak kuasa menahan hasratnya. Itu tak baik. Niat jahat bisa saja muncul.

Akhirnya, Firman berkesimpulan ia mau dinikahinya. "Aku sudah menemui salah seorang kyai yang bersedia menikahkan kita." Ia diam saja. "Sehabis sholat magrib kita ke sana."

Mega merah di ufuk barat begitu indah. matahari seakan memperlambat terbenamnya, seakan ingin berlama-lama menghiasi langit dengan warna jingga. Firman sudah tak sabar menunggu waktu halalnya cinta.

Mereka resmi menikah.

Thursday, 4 May 2017

Manusia Dalam Asuhan Rusa


Cerita unik, tapi tidak menarik ketika dalam keadaan sibuk. Sudah lama tahu buku ini, tapi tidak tertarik untuk membacanya karena sedang sibuk bisnis. Terasa idak masuk akal. Tetapi, saat pikiran tenang, munccul rasa penasaran. Pasti ada rahasia istimewa di balik cerita aneh ini. Apalagi penulisnya bukan penulis sembarangan dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Latin, Inggris, Yahudi, Belanda, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Rusia.

Di bagian awal ceritanya agak membosankan. Menurutku terlalu panjang penjelasannya. Memang itu penting, tapi membosankan.

Ceritanya mulai menarik ketika Hayy, bayi yang dibuang, bertemu seekor induk rusa yang sedang merindukan anaknya yang hilang.

Walau hanya membaca buku, tapi aku bisa merasakan bagaimana perasaan keduanya saat bertatapan, terutama sang induk rusa. Tergambar jelas air matanya mengalir deras. Sudah lama ia rindukan sang buah hati. Kini, walau dalam bentuk yang beda, tapi baginya ia adalah buah hatinya.

Keduanya hidup bersama. Hayy, sang bayi yang masih polos menganggap sang induk rusa sebagai ibunya dan meniru cara hidupnya. Sang induk rusa sangat menyayangi Hayy sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Hayy tumbuh berkembang bersama sang induk rusa dan hewan-hewan liar lainnya. Untungnya tidak ada hewan buas sehingga ia tidak jadi mangsa mereka dan dapat tumbuh brkembang dengan aman. Hayy semakin dewasa dan mulai mengamati bentuk hewan-hewan di sekitarnya. Mereka memiliki tanduk, sayap, cakat, bulu yang tebal. Sedangkan dirinya tidak. Hewan lain yang seusia dengannya sudah menjadi kuat dan mampu menyerang musuh. Sedangkan dirinya masih lemah. Ia merasa tak sempurna. Ia pun mencoba merangkai-rangkai dedaunan, kulit binatang yang sudah mati, dan bulu-bulu binatang untuk itempelkan ke badannya.

Sampai pada cerita ini, saya menemukan sesuatu di balik cerita ini. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, termasuk Hayy. Tetapi, karena ia tidak menyadari kesempurnaan dirinya, tak tahu potensi dirinya, ia malah ingin menjadi seperti mahluk-mahluk yang jauh tidak sempurna.

Ini terjadi dalam kehidupan nyata. Perilaku aneh anak manusia. Tak sedikit anak manusia yang merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya sehingga mereka merasa perlu memodifikasi bentuk dan warna sebagian tubuhnya. Hayy menempeli tubuhnya denan kulit binatang agar bisa mirip binatang. Hal tersebut ia lakukan agar ia bisa sama dengan hewan-hewan di sekitarnya. Tak sedikit anak manusia yang berbuat begitu hanya demi mendapatkan pujian dari orang-orang yang sebenarnya tak lebih mulia dari dirinya. Hal tersebut bukan hanya perbuatan sia-sia, tapi suatu kerugian.

Cerita berlanjut. Sang induk rusa menghembuskan nafas terakhir. Hayy yang sudah terlanjur terbiasa hidup bersamanya merasa kebingungan. Walau sudah cukup dewasa, tapi ia tak bisa lepas dari sang induk rusa. Padahal, seharusnya ia lebih terampil dari seekor rusa. Ia seharusnya lebih cerdas, lebih banyak tahu dari seekor induk rusa. Ia berusaha mencari cara agar sang induk rusa bisa hidup kembali, tapi tak bisa. Aneh, mahluk yang berakal ingin menggantungkan hidupnya pada mahluk yang seharusnya menggantungkan hidupnya pada dirinya.

Bersambung

Wednesday, 19 April 2017

Pemuda Yang Mampu Menguasai 2 Bahasa Asing Dalam 32 Hari

Mempelajari bahasa asing tentu bukanlah perbuatan yang sia-sia. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menguasai lebih dari satu bahasa, terutama bahasa-bahasa penting yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Misalnya, bahasa-bahasa yang banyak digunakan untuk urusan bisnis, pendidikan, dsb. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, tentu semakin luas jangkauan hubungan sosialnya, semakin luas peluang relasi bisnisnya, dan tentu semakin banyak sumber pengetahuannya.

Pada zaman Rasulullah saw. ada sahabat yang memiliki kecerdasan yang cukup bagus. Beliau begitu cepat mempelajari bahasa asing. Beliau sangat terkenal dengan jasanya sebagai Sang Penulis Wahyu. Dialah Zaid Bin Tsabit.

Zaid mampu menerjemahkan bahasa Persia, Rum, Qibthi, dan Habasyah. Selain sebagai penulis wahyu Zaid juga menjadi penerjemah. Cukup banyak bahasa asing yang ia kuasai. Sebagai penulis wahyu, ia tidak hanya bisa bahasa Arab. Hal ini menjadi pendorong untuk kita umat islam untuk mempelajari bahasa asing yang banyak digunakan dalam kehidupan.

Berikut beberapa sumber yang mengisahkan tentang Zaid terkait kemampuannya menguasai banyak bahasa:
Hadits sahih riwayat Tirmidzi, Zaid bin Tsabit mengatakan demikian:
“Rasulullah SAW pernah memerintahkan aku agar mempelajari tulisan bahasa Yahudi untuknya. Setelah aku dapat menguasainya dan Nabi SAW bermaksud berkirim surat kepada orang Yahudi, maka akulah yang menuliskannya buat mereka, dan apabila mereka berkirim surat kepada Nabi SAW maka akulah yang membacakan surat mereka kepada beliau.” Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani.

Zaid berkata, "Umarah bersamaku datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, 'Wahai Rasulullah anak ini dari Bani Najjar. Ia telah membaca 17 surah dari Al-Quran.' Aku pun membacakannya di hadapan Rasulullah dan beliau pun terkagum-kagum atas hal tersebut. Beliau pun bersabda, 'Wahai Zaid, belajarlah untukku kitabnya kaum Yahudi. Sesungguhnya aku, demi Allah, mereka tidak akan iman pada kitabku.' Aku (Zaid) pun menjawab, 'Aku akan mempelajarinya.' Aku memerlukan waktu setengah bulan hingga aku selesai mempelajari kitabnya kaum Yahudi tersebut. Aku pun menjadi penulis surat bagi Rasulullah saat beliau mengirim surat kepada kaum Yahudi." (1)

Rasulullah saw. bertanya kepada Zaid, "Apakah engkau bisa bahasa Suryani?" Zaid menjawab, "Tidak." Rasulullah berkata, "Maka pelajarilah." Akhirnya Zaid pun mempelajari bahasa Suryani selama 17 hari (2)

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa:

Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari. (3)
 Apakah kita perlu mempelajari bahasa yang dikuasai oleh Zaid Bin Tsabit? Tidak harus. Zaid mempelajari bahasa-bahasa tersebut karena pada saat itu bahasa-bahasa tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di sana pada saat itu. Sekarang, kita semua sudah tahu bahasa yang banyak digunakan di dunia, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Spanyol yang digunakan kurang lebih di 20 negara, bahasa Prancis yang digunakan di banyak negara-negara Afrika, Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang, Bahasa Jerman yang banyak digunakan di Eropa, dll.

Baca juga: Hukum Menulis Cerita Fiksi

Referensi:
1) Zaid Bin Tsabit, karya Dr. Shafwan Adnan Dawudi, Tiga Serangkai, halaman 10
2) Zaid Bin Tsabit, karya Dr. Shafwan Adnan Dawudi, Tiga Serangkai, halaman 11
3) https://id.wikipedia.org/wiki/Zaid_bin_Tsabit