Rakyat Tak Mau Ganti Pemimpin


Pemimpin yang dicintai rakyat tak perlu berkampanye, tak perlu pencitraan, juga tak perlu mentogok rakyat agar terus bisa duduk di kursi kepemimpinan, contohnya, Muawiyah bin Abu Sufyan, beliau adalah sahabat Nabi Muhammad saw. yang diangkat sebagai gubernur di wilayah Syam. Wilayah tersebut meliputi Suriah, Libanon, Yordania, dan Palestina.

Dikisahkan bahwa beliau sangat dicintai rakyatnya hingga rakyatnya tidak mau ganti pemimpin. Namun, kata beliau kurang baik jika terlalu lama dalam kepemimpinan. Rupanya rakyat sudah terlalu cinta hingga mereka meminta keluarga Muawiyah saja yang menggantikannya.

Itulah potret pemimpinyang dicintai rakyat.

Di Saat Perang Pun Tetap Mengajar

Kisah perintah mengajar meskipun di medan perang ini saya dengar dari Mufti Ismail Ibn Musa Menk di salah satu videonya.

Beliau berkisah tentang peristiwa perang (Saya lupa namanya: Perang Khandaq atau Khaibar). Rasulullah saw. menunjuk Ali ra. sebagai panglima perang. Beliau berkata pada Ali ra., "Wahai Ali, jangan kamu pergi ke medan perang hanya membunuh musuh, ajarilah mereka tentang islam."

Bukankah orang berperang itu saling bunuh? Tetapi, Rasulullah saw. malah menyuruh sahabatnya mengajar di medan perang.

Kalau kita ingat film Ramayana dan Shinta, musuh mereka, Rahwana, punya saudara bernama Kumba Karna. Ia menjalani tapa tidur. Artinya ia orang suci yang kaya cinta. Tetapi saat ia diajak ke medan perang, ia habisi musuh. Orang-orang kaget dan menegurnya, tapi respon dia, "Tidak ada kasih sayang di medan perang, yang ada hanyalah kekejaman."

Musuh itu jahat pada kita. Tetapi, Rasulullah saw. ingin mengajari kita bahwa kemungkaran tak selalu diatasi dengan kekerasan. Melainkan dengan memahamkan mereka dengan pengajaran.

Biarkan Masjidku Sepi 2


Cerpen Indonensia, Cerpen Islami

Biarkan Masjidku Sepi Part 1

"Bagaimanapun Ustadz Hari adalah tokoh agama. Sekalipun ada kekeliruan, jangan sampai kehormatannya jatuh di masyarakat. Kita harus memberi contoh masyarakat untuk menghormati ilmu dan sumber ilmu, yakni kitab dan ulamak," kata Kyai Harun.

Bindhereh Harun mengangguk.

"Lalu, bagaimana kita menenangkan suasana agar tidak bentrok, Kyai?" Pak Lurah sangat khawatir dengan keadaan.

"Kita harus dekati Ustadz Hari, hormati beliau. Kita luruskan dengan dialog. Kita harus biasakan menyelesaikan masalah dengan musyawarah, dialog dengan arif."

"Tapi kyai, sebagian warga tidak terima kalau Ustadz Hari tampak mengungguli Kyai," Bindhereh Fathoni khawatir jika berdialog di depan warga.

"Kita dialog diam-diam. Kita berkunjung ke kediaman Ustadz Hari."

Bindhereh Fathoni agak kurang yakin. Menurutnya ini masalah cukup rumit. Ustadz Hari belum tentu mau berdakwah sesuai cara Kyai Harun. Ada yang bilang, Ustadz Hari pernah mengatakan Kyai Harun tidak peduli umat karena tidak pernah mengajak masyarakat ngaji.

***

"Assalamualaikum!"

Ustadz hari menyambut Kyai Harun dan Bindhereh Fathoni dengan senyum. "Waalaikumsalam. Silahkan masuk, Kyai."

"Apa kedatangan kami mengganggu, Ustadz?"

"Ow, tidak, Kyai. Tidak. Rumah ini terbuka untuk siapapun, apalagi untuk urusan dakwah: 24 jam saya buka pintu rumah saya."

Kyai Harun tersenyum. Semangat yang luar biasa. Kyai Harun memandangi sisi ruang tamu Ustadz Hari. Di samping kanan dan kiri ada lemari besar berisi buku-buku. Mirip perpustakaan ruang tamunya. "Saya bergembira sekali oleh Allah dipertemukan dengan manusia seperti Ustadz Hari. Semangat berdakwahnya luar biasa. Saya sama Bindhereh Fathoni berharap mendapat banyak ilmu dan ketularan semangat dengan sering berdialog sama Ustadz Hari."

"Waduh, tidak kebalik, Kyai? Sayalah yang justru butuh ilmu dari Kyai," kata Ustadz hari.

"Semoga kita selalu mendapat taufiq dan hidayah Allah."

"Aamiin, aamiin, aamiin, Kyai."

"Yang ingin saya musyawarahkan sama Ustadz Hari," ustadz Hari memantapkan duduknya dan menatap Kyai Harun. "masalah karakter warga desa. Sebagian dari mereka santri saya, ngaji ke saya dulu. Maaf jika ulah mereka kurang baik sama Ustadz Hari."

"Oh, tidak apa-apa, Kyai. Sudah saya maafkan sebelum mereka bersalah pada saya."

"Masya Allah. Terima kasih, Ustadz. Namun, yang perlu menjadi perhatian kita adalah cara kita mendakwahi mereka." Ustadz Hari menyimak dengan seksama. "Tidak semua cara dakwah bisa mereka terima." Ustadz Hari menghela nafas. "Tetapi, kita tidak boleh putus asa. Kita harus terus mencari cara dakwah yang efektif, yang cocok buat mereka. Sebab mereka awam. Maklum lebih banyak di sawah daripada di masjid."

"Benar, Kyai. Benar."

"Saya yakin Ustadz Hari sudah punya banyak pengalaman cara dakwah yang efektif."

"Waduh, Kyai lebih banyak pengalamannya."

"Tidak juga."

"Saya ingin warga segera meninggalkan tradisi-tradisi yang tidak syar'i, Kyai, yakni tradisi atau kebiasaan-kebiasaan dalam ibadah yang tidak pernah dicontohkan Nabi. Itu bid'ah, bahkan sebagian termasuk perbuatan syirik. Tidak ada dalil syar'i," jelas Ustadz Hari.

Bindhereh Fathoni naik darah mendengarnya karena yang dimaksud adalah amal ibadah yang sudah biasa dilakukan para ulamak. Tetapi beliau memilih menunduk karena ada Kyai Harun. Nabi tidak pernah menikahi wanita jawa. Apa itu bid'ah? mbatinnya.

Kyai Harun tersenyum. Memahamkan orang lain, bukan dengan mendebat atau menghakiminya. Tidak salah lagi, Ustadz Hari memang termasuk aliran yang gampang menyesatkan kelompok lain dan merasa benar sendiri. "Niat yang baik dan usaha yang baik ini semoga menghasilkan sesuatu yang baik. Maaf, Ustadz Hari. Bukannya saya mau menyalahkan Ustadz Hari, tapi saya perlu menyampaikan karakter warga di sini."

"Itu sangat saya butuhkan, Kyai."

"Banyak warga yang sulit menerima kebenaran dari orang yang belum mereka kenal." Ustadz Hari mengerutkan kening. "Malah kebenaran yang disampaikan pada mereka dianggap sebagai kebathilan. Padahal tujuan dakwah adalah untuk membuat masyarakat mengamalkan kebenaran itu."

"Ilmu komunikasi sangat penting," sela Bindhereh Fathoni.

Ustadz Hari mengalihkan pandangan pada Bindhereh Fathoni. "Iya, benar. Kita harus menggunakan komunikasi yang efektif," kata Ustadz Hari.

"Mungkin Ustadz Hari punya catatan perjalanan dakwah. Komunikasi seperti apa yang pernah digunakan dan efeknya bagaimana?"

"Astaghfirullahal 'adzim....!!" Ustadz Hari diam sejenak. "Belum sempat terpikir oleh saya, Bindereh, untuk mengevaluasi keefektifan cara dakwah saya. Akan segera saya buat. Akan segera saya buat, Bindhereh."

"Mungkin kita perlu observasi dulu karakter warga di sini," kata Kyai Harun.

"Benar, benar sekali, Kyai."

"Assalamualaikum!"

Salah seorang pengikut Ustadz Hari datang dengan nafas ngos-ngosan.

"Waalaikumsalam.” Ustadz Hari menjawab salam dengan senyum, tampak tenang. “Masuk, Mas Farhan. Ada apa kok sampek gitu nafasnya?"

"Pengajian di Masjid Al Anwar tidak bisa dilanjutkan, Ustadz. Ada sekelompok orang menabuh hadrah di dalam masjid. Dan dijaga orang berpakaian hitam bersenjata pedang. Kami diusir, Ustadz."

"Sampaikan pada rekan-rekan semua. Suruh kumpul di basecamp semua ya. Dibatalkan saja kajiannya."

"Baik, Ustadz."

Ustadz Hari memandang Kyai Harun. "Begitulah umat akhir zaman."

Kyai Harun hanya tersenyum. Membaca sholawat dengan diiringi hadrah itu bukan keburukan. Dan biasanya di tiap desa ada jadwal khusus pembacaan sholawat dengan diiringi hadrah. Mungkin memang jadwalnya. Tetapi, beliau merasa tak perlu menanggapinya, tidak baik berdebat.

"Ini tantangan kami, Kyai. Ditunjukkan pada kebenaran, malah dimusuhi."

"Tetapi, sebelum ilmu diberikan, kita perlu mengajari mereka bagaimana bersikap terhadap ilmu dan sumber ilmu." Ustadz Hari mengangguk. "Mereka harus dipahamkan bahwa kita sebagai umat islam wajib menghormati ilmu dan sumber ilmu, yakni kitab dan ulamak. Sekalipun tidak disukai."

Ustadz Hari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Sepertinya ada sesuatu yang menurut beliau perlu dipertimbangkan.

"Menghalangi ulamak untuk memberikan ilmu merupakan kedzoliman. Tetapi, mereka berbuat begitu karena ketidaktahuan. Mereka perlu dipahamkan. Itu tugas kita," lanjut Kyai Harun.

"Benar, Kyai.

"Jangan sampai kita menggunakan cara-cara dakwah yang justru memancing mereka berbuat dosa."

Ustadz Hari mengangguk-ngangguk.

"Maaf, apa masjid yang dimaksud, masjid Al Anwar di desa Karang Manyar?" tanya Bindhereh Fathoni.

"Benar, Bindereh."

"Di desa itu banyak orang sakti."

"Itu amal syirik kan, Bindhereh?"

Bindhereh Fathoni menahan amarah. Begitu gampangnya Ustadz Hari menghukumi sesuatu. Seakan itu tidak ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

***

Bindhereh Fathoni semakin tidak yakin Kyai Harun bisa menghentikan ulah Ustadz Hari. Beliau berencana untuk menemui Gus Toha di desa Cangkring. Gus Toha dikenal dengan keluasan ilmunya. Beliau juga aktif menjadi pengurus ORMAS.

Kyai Harun mulai menemukan benang merah solusinya. Menurut beliau, apa yang dilakukan warga kepada Ustadz Hari sama dengan apa yang dilakukan oleh Ustadz Hari terhadap ulamak sepuh. Warga menganggap Ustadz Hari sesat, Ustadz Hari juga menganggap ulamak sepuh sesat. Cara yang terbaik menurut beliau adalah menyampaikan itu kepada warga di depan Ustadz Hari. Menurut beliau Ustadz Hari akan paham dengan sendirinyay bahwa dirinya sudah keliru.

Bersambung: Biarkan Masjidku Sepi Part 3

Siswa Teriak 2019 Ganti Presiden Dicari Mendikbud


"Luar biasa pemerintahan jaman sekarang," kata Kalimun. "Sikap Mendikbud terhadap siswa yang teriak 2019 Ganti Presiden ini bisa membuat siswa trauma. Mereka akan takut berekspresi karena kalau salah, akan berhadapan dengan Pak menteri."

"Suudzon lagi." Jawalun langsung bereaksi. "Kalau tidak direkam pake video, tidak masalah. Ini bukan mainan."

"Masak, sampek segitunya. Jangan-jangan itu karena kurikulumnya, sehinggal anak didik jadi begitu."

"Itu bukti menteri pendidikan yang punya kepedulian tinggi terhadap generasi. Pelajar itu memang belum waktunya terlibat politik praktis. Mereka ..."

"Sebentar! Saya sela." Jawalun terpaksa menghentikan pemaparannya. "Kalau ketahuan, pak menteri akan datang ke sekolah tersebut untuk ngurusi siswa tersebut?"

"Ya, tidak lah."

"Hanya seorang pelajar."

Fabel: Burung Perpustakaan Di Hutan Aksara

cerpen Indonesia, cerpen anak
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan langit di ufuk timur masih dipenui warna merahnya fajar, si burung perpustakaan sudah berada di puncak pohon tertinggi di wilayah kerajaan Gajah Putih yang terletak di tengah hutan Aksara. Hutan Aksara merupakna hutan yang sangat lebat. Luasnya beribu-ribu haktare. Hutan Aksara banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi besar. Banyak buah-buahan di hutan tersebut. Ada buah mangga, apel, jeruk, nanas, dan semacamnya.

Ada sebuah sungai di hutan tersebut, airnya sangat jernih membuat hutan tersebut menjadi sejuk. Sungai tersebut bernama sungai Tinta, mengalir dari bagian hutan sebelah utara ke bagian selatan. Sungai tersebut keluar dari sebuah sumber yang besar dan berakhir di laut. Di tengah hutan, sesampainya di istana, aliran sungai tinta membelok. Konon ceritanya, sungai Tinta menghormati istana sang raja gajah putih.

Kira-kira seratus meter dari sumber air sungai tinta ada suatu tempat yang indah, di sana ada lima pohon cemara. Di pohon cemara itulah si burung perpustakaan tinggal. Dia belum lama tinggal di sana. Sebelumnya dia berkelana keliling dunia, ke Cina, Jepang, Mesir, Australia, Mexico dan Negara-negara lain di dunia. Bahkan dia pernah tinggal di Green Land (Tanah Hijau) sebuah daerah dekat kutub utara bumi.

Dari pengalamanya menjelajah bumi si burung perpustakaan prihatin melihat kebodohan bangsa-bangsa binatang di dunia. Hampir semua binatang tidak bisa membaca dan menulis. Suatu malam, saat ia berada di Indonesia, tepatnya di pantai Losari Sumatra, dia merenung. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mencerahkan umat binatang, agar mereka semua bisa membaca.

Entah dia dapat ide apa? Tiba-tiba dia terbang ke arah utara, menuju tengah lautan. Dan akhirnya sampailah dia di sebuh pulau. Dia hinggap di daratannya. Waktu itu malam sudah akan berakhir. Dengan hati-hati ia memasuki hutan tersebut, mengikuti arus sungai. Sekitar seratus meter kemudian ia bertemu seekor tapir.

“Hai Tapir, siapa namamu? Perkenalkan aku burung Perpustakaan,” burung Perpustakaan memperkenalkan diri.

Tapir menatap burung perustakaan. Samar-samar sebab matahari belum sempurna pancarkan sinarnya. Ia rupanya suka melihat warna bulu burung perpustakaan. “Bulumu bagus ya,” katanya.

“Kamu suka ya?”

“Asalmu dari mana?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, namamu siapa?”

“Namaku Sinonim.”

“Aku tidak punya tempat tinggal. Aku selalu berkelana seperti musafir.”

“Ow, kamu pendatang baru. Selamat datang di hutan Aksara ya.”

“Hutan Aksara?”

“Iya, nama hutan ini hutan Aksara. Dan pulau ini bernama hutan Paragraf, sementara sungai ini bernama sungai Tinta.”

Burung perpustakaan penasaran dengan nama-nama itu. Tetapi ia diam saja. “Senang kenal denganmu, Sinonim,” kata burung Perustakaan.

“Aku juga.”

“Kamu sedang apa di sini?” tanya burung perpustakaan.

“Ini tempat favoritku. Aku suka tinggal di sini. Tempat ini indah. Rumputnya enak-enak.”

Burung perpustakaan menerawang suasana di sekitar tempat itu. Indah memang, ada lima pohon cemara berjajar, ada tiga pohon pisang, ada bunga mawar, dan rumputnya tebal. Di dekat pohon cemara ada sebongkah batu besar berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira dua meter.

“Aku suka tidur di atas batu itu,” kata Sinonim.

Burung Perpustakaan mencoba berdiri di atas batu itu. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Aku sering bermimpi berada di sebuah ruangan dan dindingnya penuh tulisan. Berkali-kali aku bermimpi berada di sana,” tutur Sinonim.

“Kamu membaca tulisannya?”

Sinonim diam sejenak. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya tampak malu-malu.

“Sayang sekali. Mm… kalau kamu mau, aku mau mengajarimu membaca.”

“Benar?!”

“Iya. Aku akan mengajarimu membaca dan menulis, dengan senang hati.”

“Horeee… Kamu baik. Oya, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini. Buat aja sarang di pohon cemara itu. Indah kan tempatnya.”

Burung Perpustakaan diam sejenak. “Benar juga ya,” katanya kemudian. Lalu ia mengambil rumput dan dibawanya ke atas pohon cemara yang paling tengah. Berkali-kali ia mengambil rumput sampai akhirnya, jadilah sarangnya. “Nah, sarangku sudah selesai. Sekarang waktunya belajar. Ayo.”

“Kamu tidak capek?” Tanya Sinonim.

“Tidak. Aku tidak capek.” Lalu ia mengenalkan huruf-huruf abjad pada Sinonim.

Sinonim memperhatikan dengan seksama penjelasan burung Perpustakaan. Ia menghafal nama-nama huruf abjad yang dikenalkan oleh burung Perpustakaan. Burung perpustakaan menyusun huruf: A k u, “Bacaannya Aku. Coba tirukan.”

“Aku,” kata Sinonim.

Jadilah ia murid pertama burung Perpustakaan. Setiap hari ia belajar dengan tekun pada burung perpustakaan. Ia terus berlatih membaca dan menulis. Semangatnya untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Ia penasaran apa isi bacaan dalam mimpinya? Burung Perpustakaan pun juga demikian. Ia penasaran, ingin tahu apa isi tulisan dalam mimpi Sinonim itu. Setelah berhari-hari Sinonim belajar, akhirnya ia bisa membaca dan menulis.

Suatu malam ia bermimpi lagi berada di sebuah bangunan yang dindingnya dipenuhi tulisan. Dibacanya semua tulisan itu. Setelah selesai membaca semua tulisan itu, ia terbangun. Tak terasa pagi sudah tiba. “Burung Perpustakaan, BAngun! BAngun!” ia membangunkan burung perpustakaan dengan mengayun-ayun pohon cemara tempat sarang burung perpustakaan berada.

Burung Perpustakaan terkejut. Ia bangun. Ia menghampiri Sinonim yang berada di atas batu. “Ada apa, Sinonim?” tanyanya.

“Aku bermimpi berada di ruangan yang penuh tulisan itu lagi,” kata Sinonim.

“Hah! Apa isinya?!”

>>bersambung

CERPEN: Cinta Gadis Wahabi


CERPEN: Cinta Gadis Wahabi

CERPEN CINTA. Alif langsung saja masuk ke rumah Sandi. Pintu depan memang tidak ditutup. Keduanya memang sudah biasa saling kunjung. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sudah seperti saudara. Alif menyodorkan selembar kertas undangan. Dia ambil saja, lalu diletakkan di meja. Datar saja ekspresinya. "Kenapa?" tanya Alif. "Kok tampak lesu gitu?"

"Nasib," katanya sambil memandangi layar ponselnya. Duduknya tidak tegap.

Alif duduk di sampingnya. "Kenapaaaa? Semangat, Bro..!!" Alif memberi semangat sambil menepuk bahu Sandi. Ia lihat layar ponsel Sandi. Sebuah applikasi ebook yang sedang ia buka. "Ditolak orang tua Fina?"

"Mana mungkin orang tua Fina menolak lelaki sebaik aku."

"Cieee... Terus?"

"Ayahku tidak setuju karena dia wanita wahabi."

Alif tertawa. Terus mendadak berhenti. "Ayahmu dimana?" bisiknya. Takut beliau dengar.

"Ayah lagi di rumah Bu De sama Ibu."

"Fitnah wahabi memang lagi marak sekarang. Harus kamu jelaskan pada beliau, San."

"Mana mungkin penjelasanku didengar."

"Ini yang membuat umat islam lemah; tidak bersatu. Berbeda pendapat itu kan wajar."

"Dulu sih tidak ada seperti ini. Buktinya, Pak Lek saya nikah sama wanita seperti Fina. Tidak ada orang menyebut dia wahabi."

"Iya, dulu tidak ada muslim Indonesia yang men-judge muslim lainnya yang tidak sepaham dengan sebutan wahabi."

"Salah mereka juga sih, dulu suka men-judge muslim di kampung sebagai ahli bid'ah. Ahli bid'ah itu kan ahli neraka." Alif tersenyum. "Seperti balas dendam ceritanya."

***

CERPEN CINTA. Sudah seminggu Fina menanyakan kepastian Sandi untuk melamarnya. Tetapi tak ada jawaban. Padahal ia sudah terlanjur cerita pada kedua orang tuanya. Sandi bingung. Seperti kumbang yang menatap mawar tapi tak beranjak. Baru saja angin bertiup kencang. Sayapnya tak sekuat elang di awan. Tetapi, pasrah pada takdir itu bukan keputusan bijaksana, menurutnya. Tak lemah tekadnya, namun tak gegabah sikapnya. Terkadang ada rasa kesal di benak Fina, ia ingat kata Ustadz Abdul Somad Lc. MA dalam ceramah-ceramahnya di YouTube, "Kumbang tak seekor, mawar tak setangkai, patah tumbuh, hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu." Tetapi, tak semua kumbang yang hadir itu baik. Fina sudah sangat mengenal Sandi. Tetapi, cukup kesal ia dengan sikap Sandi yang tidak memberi penjelasan alasan penundaannya. Kumbang bukan menanti seperti mawar di taman berpagar.

Inbox Whatsapp Fina hanya dibacanya, tapi tidak ia balas. Sangat sulit bagi Sandi. Tidak baik menentang orang tua. Tetapi, Sandi juga tidak sepakat dengan sikap orang tuanya. Menurut dia, tidak patut sesama muslim saling menyalahkan. Memang tidak semua benar. Menurut dia, label wahabi dan ahli bid'ah merupakan perusak persatuan umat islam. Seharusnya, menurut dia, kelompok yang dulu diberi label ahli bid'ah semestinya tidak menyerang balik dengan label wahabi. Inti masalahnya, menurut Sandi, adalah kwalitas keilmiahan sumber ilmunya. Ingin rasanya ia mengajak ayahnya bermusyawarah, tetapi tidak berdua dengannya. Seandainya masih ada, ia ingin mengajak Kyai Fadli, tetapi beliau sudah tiada. Beliau adalah Kyainya ayah Sandi waktu masih nyantri di Pesantren Nurul Huda di daerah tepi barat Bondowoso.

Sandi ingat waktu diajak suwan ke kediaman beliau dulu ketika masih SMP. Sempat ada tamu yang berdebat di hadapan beliau waktu itu. Sandi tidak begitu paham waktu itu, tetapi ia masih ingat yang diperdebatkan. Betapa arifnya cara almarhum Kyai Fadli menanggapi perdebatan tamunya tersebut. Tidak perlu marah-marah, sambil mempersilahkan tamunya menikmati makanan khas Bondowoso: Tape, beliau menjelaskan, "Rasulullah itu mengerjakan ibadah tidak selalu sama caranya. Contohnya ketika jadi imam, pernah Beliau membaca Basmalah dikeraskan, pernah juga dipelankan, pernah juga tidak membaca, pernah juga hanya rakaat pertamnya dikeraskan. Sholat tarawih juga begitu. Nah, murid beliau itu kan sahabat, para sahabat Nabi mengerjakan ibadah sesuai yang mereka lihat sendiri, bukan sesuai yang diceritakan sahabat lain. Tentu saja sahabat yang satu dengan yang lainnya tidak semuanya sama cara ibadahnya." Tamu beliau mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ini materi serius. Mereka berhenti mengunyah tape, perhatiannya fokus pada penjelasan Kyai Fadli. "karena ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan tidak membaca basmalah di awal al fatihah, tidak semua sahabat menjadi makmum. Begitu juga ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan membaca basmalah dengan nyaring, sahabat yang tadi bermakmum, belum tentu ikut bermakmum juga. Nah, inilah penyebab perbedaan itu. Tetapi, apa pantas kita permasalahkan?" Para tamu mulai paham, sebagian tersenyum. Wajar, tidak semua dari mereka alumni pesantren, sehingga tak tahu banyak tentang sejarah. "Kemudian, para sahabat itu juga mengajarkan pada murid-muridnya cara ibadah Rasulullah yang dilihatnya sendiri, bukan yang diceritakan sahabat lain. Murid sahabat itu disebut Tabiin, murid tabiin disebut tabiit tabiin. Dari sekian banyak murid sahabat tersebut, yang dianggap paling unggul keilmuannya di zamann itu adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Sehingga ilmu-ilmu mereka tercatat dan abadi hingga sekarang. Karena ada empat, sehingga tidak semuanya sama. Jika ilmunya sudah jelas dari mereka, buat apa diperdebatkan? Maka dari itu, jika ada orang yang tidak mendapat ilmu dari mereka, lalu menyalahkan ulamak pengikut mereka, dari mana mereka mendapatkan ilmu? Memangnya ilmu umum, bisa meneliti sendiri dan jadi penemu ilmu? Ilmu agama tidak begitu, harus jelas silsilah atau sanad ilmunya, dari siapa dia dapatkan ilmu tersebut."

CERPEN CINTA. Masih Sandi pegang ponselnya. Dilihatnya pesan inbox Fina yang belum ia balas. Seakan badai tak henti bergejolak. Alam hati tak bersahabat. Belum lagi tugas dari dosen yang belum selesai digarap, masih tergeletak di meja. Ditambah inbox pelanggan bisnisnya yang komplain karena merasa tidak cocok dengan produk yang didapatkannya dari Sandi.

Sore yang cerah. Pikiran Sandi buntu, seakan jiwanya juga meredup akan tenggelam bersama matahari senja di ufuk barat. Ia bangkit dari duduknya dan keluar dengan motornya. Melewati jalanan bertepi sawah-sawah menghijau, sejuk jiwanya memandang bak permadani hijau. Ia mengalihkan kerumitan di benaknya pada hobi barunya: Landscape Fotography. Dengan berbagai Angle, dengan Aparture dan Sutterspeed yang berbeda-beda ia memotret pemandangan sawah, gunung dan tanaman. Sesekali ia ambil foto hewan-hewan kecil dengan mode macro. Ia duduk di tepi sawah, memandang bunga berwarna kuning; hanya setangkai.

***

"Ilmu agama itu tidak sama dengan science. Saya bukan hendak menjelekkan kelompok anda. Ini dialog ilmiah, kita bicara dengan ilmu, dengan cara yang arif dan santun. Berbeda itu wajar karena kita dicipta memang berbeda-beda."

Amarah mereda. Semua diam menyimak.

"Science itu mengkaji hukum sebab akibat pada alam. Kemunculannya karena kerja manusia. Seorang ilmuan melakukan penelitian, lalu muncul ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu bahasa, dan semacamnya. Sedangkan ilmu Agama: Quran dan Hadits itu diturunkan oleh Allah Sang Pencipta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu diturunkan kepada sahabat, terus kepada Tabiin, kemudian diturunkan atau diajarkan pada tabiit tabiin. Jadi, tidak ada yang namanya penemu ayat atau hadits di jaman sekarang. Nah, karena ilmu agama itu diturunkan, maka menjadi sangat pentinglah sanad."

CERPEN CINTA. Sebagian peserta diskusi mengangguk-angguk. Ada yang menghela nafas panjang. Ada yang tatapan matanya tajam pada pembicara, tak sabar menunggu kelanjutan penjelasannya.

"Jadi, jika ada orang mengaku berilmu dan mengkritik ulamak, sedangkan ilmu dia tak jelas dari mana sumbernya, tak jelas sanadnya, bukan berarti dia seorang penemu ilmu agama, tetapi... dia sedang tersesat dan perlu dipahamkan, perlu diluruskan."

Sebagian peserta diskusi tertawa.

"Dalamm urusan Fiqih atau hukum islam, sumber ilmu yang tercatat hingga sekarang itu adalah yang diajarkan oleh Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Mereka mendapatkan ilu itu dari sahabat, sahabat dari Rasulullah. Sedangkan dalam akidah, sumber ilmu yang diabadikan hingga sekarang adalah dari Imam Abu hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Manshur Al maturidi. Dalam urusan Tasawuf yang diikuti adalah Imam Al Ghozali, Imam Junaid Al baghdadi, serta imam-imam lainnya seperti Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Jadi, jika ada yang bertentangan dengan mereka, perlu dipertanyakan."

Moderator menunjuk salah seorang audien yang mengacungkan tangan di pojok kiri belakang.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Menarik sekali dialog ini. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini, yakni persatuan. Kita sebagai umat islam harus bersatu. Menanggapi isu wahabi, menurut saya, isu wahabi dan isu ahli bid'ah pada zaman dulu, sekarang masih ada sebenarnya isu ahli bid'ah ini, kedua isu ini menjadi penyakit yang merusak persatuan umat islam. Memang, keduanya harus disampaikan, umat islam harus paham tentang wahabisme dan bid'ah, tetapi cara penyampaiannya yang perlu diluruskan. Pengajaran ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan menimbulkan mudhorat seperti perpecahan dan saling caci antar kelompok." Banyak audien yang berusaha membalikkan badannya menoleh ke belakang. Sepertinya ini hal baru dalam forum ini. "Kita yang dikaruniai ilmu ini seharusnya menjaga sikap ilmiah kita, berhati-hati dalam bertutur, tak sembarangan bersikap. Menurut saya, menyerang balik serangan seorang muslim yang menyerang kita di depan umum, itu sama dengan bunuh diri. Semestinya, duduklah dan laksanakan dialog ilmiah. Tak perlu saling menyesatkan. Jadi, yang diadu itu kekuatan keilmiahan ilmunya, bukan otot tangan atau otot leher." Sebagian audien tertawa. Sang bintang tamu pun tersenyum.

Sandi diam saja di kursi baris kedua dari belakang. Menurutnya, perdebatan itu wajar asal tetap dalam bingkai ilmiah dalam forum ilmiah, bukan di depan umum.

CERPEN CINTA ini bersambung...

Referensi:
Website: Tinta Guru http://www.tintaguru.com/2017/05/madzhab-akidah-fiqih-dan-tasawuf-nu.html
Ceramah-ceramah Ust Abdul Somad (Channel: https://www.youtube.com/channel/UCU6zdYxTn7g4RwqBePmstvg/videos)
Ceramah-ceramah Ust Adi Hidayat (Salah satu videonya: https://www.youtube.com/watch?v=LlGub3isfiY)

Cerpen Cinta: Yang Biasa (3)

CERPEN CINTA ANAK KULIAHCERPEN CINTA ANAK KULIAH: Yang Biasa 3 merupakan kelanjutan dari CERPEN CINTA ANAK KULIAH Yang biasa (2)


CERPEN CINTA ANAK KULIAH. Ah, ternyata capek juga memikirkan perempuan. Bayak sekali gadis cantik sekarang. Tapi aku justru tertarik untuk selalu mendekatimu, padahal rupamu biasa, tidak bernilai menurutku. Buktinya, tidak ada yang mendekatimu, kecuali aku. Apa cowok-cowok minder karena kamu disukai cowok terkenal seperti aku? Atau kau memang tidak menarik menurut mereka?


Tetapi kau memang tidak pernah peduli itu. kau tidak pernah peduli musim, panas hujan, bagimu sama saja. Kau selalu begitu. Ya, begitulah kau. Semua biasa bagimu, tidak ada yang istimewa, termasuk aku. Apa kau demikian karena tidak ada yang menganggapmu istimewa?

Sehabis mengikuti kuliah Intro To Literature, kau kuajak ke taman di depan UKM musik. Kau biasa-biasa saja, menyapa teman-temanku, seolah kau sudah lama akrab. Aku pun juga meniru kau. Hhmm… Hebat kau. Orang-orang banyak yang meniru artis dan penyanyi, tapi aku yang sudah jadi anak band malah meniru kau.

Dengan sederhana kukatakan saja kalau aku suka sama kamu dan ingin kau menjadi kekasihku. Kukatakan dengan biasa, tanpa ekspresi yang luar biasa. Kau menelan nafas, lalu tersenyum. Apa bagimu itu juga biasa? Kau memandangku. “Kamu mau kan?” kutanya dengan biasa. Kau tersenyum, juga dengan biasa. Semua jadi biasa-biasa.

Kau tampak bingung.

“Kau bingung?” kutanya. Kau diam. “Bingung untuk menolak? Terima saja.” Kau tertawa. “Kurasa kau tidak perlu ragu,” lanjutku. “Kita jalani saja dulu. Kalau kau merasa tidak cocok, berarti kita memang bukan jodoh.”

Kau tersenyum, seperti hendak berkata sesuatu.

“Aku suka sikapmu.”

“Ya kuterima, tapi tidak seratus persen,” katamu kemudian sambil menahan tawamu.

“Tidak masalah.”

Aneh.

***

CERPEN CINTA ANAK KULIAH. Kita sudah jadian. Kau jadi kekasihku, tapi belum seratus persen, begitu katamu. Tidak masalah. Kau tetap unik. Kurasakan rahasia keindahan di wujudmu semakin kuat. Kau indah walau biasa. Saat kita bersama, tidak ada kata-kata romantis kau ucap, tidak ada ekspresi berlebih, semua biasa, kau selalu biasa, namun kau sanggup hadirkan keluarbiasaan.

Sungguh.

Kadang kita membicarakan masa lalu, kau narasikan kisah-kisahmu. Kudengarkan sambil tersenyum. Indah meski kata-katamu biasa. Sesekali kupandang wajahmu, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa. Senyum selalu mengembang di bibirmu, kau selalu begitu. Namun hadir suatu rasa yang luar biasa indah di jiwaku.

Aku suka.

Aku sempat ditegur sama teman-teman band-ku, katanya aku lebih mementingkan kau. Padahal sejak aku dekat kamu, semakin produktif kutulis syair lagu. Hampir semua yang kami nyanyikan itu karyaku. Sungguh luar biasa. Itu karena adamu bersamaku. Aku tidak peduli sikap mereka. Biarlah. Sudah biasa. Ya, kau yang ajari aku begitu. Semua biasa.

“Udah terkenal, kok suka sama cewek biasa.”

Begitu komentar temanku. Biar. Tidak perlu kuhiraukan. Teman-teman di kampus juga banyak menyebar rumor begitu. Katanya kau tidak  pantas buat aku. Ya, kelas mereka memang di atasmu, kau kelas rendahan. Tetapi kau semakin unik. Cemoohan mereka membuat kau semakin berbeda.

Aku digemari banyak orang. Kau? Cukup aku saja. Biar mereka menganggapmu biasa, tapi kudapatkan yang luar biasa darimu. Sungguh. Ada sesuatu kurasakan seperti aliran yang tak pernah kering, tak peduli musim. Samar-samar, tidak terlalu mencolok, bahkan mungkin tak terlalu menarik. Belum sempurna kupahami.

Tetapi kusuka keabadiannya.

Tidak terasa, kebersamaan kita berlangsung lama, tanpa sesuatu yang istimewa, tanpa sesuatu yang spesial, tanpa sesuatu yang terlalu indah. Belum kuungkap keunikan yang kurasa sangat indah di dirimu. “Kesenangan dekat dengan kebosanan. Tetapi kedamaian dan ketentraman, bukan sesuatu yang bisa dimiliki, tapi keadaan di mana kita berada di dalamnya,” katamu.

Aku merasa seperti seekor anak kepodang yang terbang berlelah-lelah ke angkasa sangat tinggi, agar bisa kulihat seluruh isi dunia dari sana, lalu aku lelah dan turun untuk istirahat. Kurebahkan sambil samar-samar kunarasikan kisah perjalanan naik hingga aku tiba lagi, sungguh melelahkan. Usai sudah.

Aku rebah dalam ketentraman jiwa. Semoga takkan pernah usai.

Demikian kisah CERPEN CINTA ANAK KULIAH romantis. Semoga menghibur.
Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT