Siswa Teriak 2019 Ganti Presiden Dicari Mendikbud


"Luar biasa pemerintahan jaman sekarang," kata Kalimun. "Sikap Mendikbud terhadap siswa yang teriak 2019 Ganti Presiden ini bisa membuat siswa trauma. Mereka akan takut berekspresi karena kalau salah, akan berhadapan dengan Pak menteri."

"Suudzon lagi." Jawalun langsung bereaksi. "Kalau tidak direkam pake video, tidak masalah. Ini bukan mainan."

"Masak, sampek segitunya. Jangan-jangan itu karena kurikulumnya, sehinggal anak didik jadi begitu."

"Itu bukti menteri pendidikan yang punya kepedulian tinggi terhadap generasi. Pelajar itu memang belum waktunya terlibat politik praktis. Mereka ..."

"Sebentar! Saya sela." Jawalun terpaksa menghentikan pemaparannya. "Kalau ketahuan, pak menteri akan datang ke sekolah tersebut untuk ngurusi siswa tersebut?"

"Ya, tidak lah."

"Hanya seorang pelajar."

Fabel: Burung Perpustakaan Di Hutan Aksara

Cerpen, cerpen anak, fabel, cerpen singkat


Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan langit di ufuk timur masih dipenui warna merahnya fajar, si burung perpustakaan sudah berada di puncak pohon tertinggi di wilayah kerajaan Gajah Putih yang terletak di tengah hutan Aksara. Hutan Aksara merupakna hutan yang sangat lebat. Luasnya beribu-ribu haktare. Hutan Aksara banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi besar. Banyak buah-buahan di hutan tersebut. Ada buah mangga, apel, jeruk, nanas, dan semacamnya.

Ada sebuah sungai di hutan tersebut, airnya sangat jernih membuat hutan tersebut menjadi sejuk. Sungai tersebut bernama sungai Tinta, mengalir dari bagian hutan sebelah utara ke bagian selatan. Sungai tersebut keluar dari sebuah sumber yang besar dan berakhir di laut. Di tengah hutan, sesampainya di istana, aliran sungai tinta membelok. Konon ceritanya, sungai Tinta menghormati istana sang raja gajah putih.

Kira-kira seratus meter dari sumber air sungai tinta ada suatu tempat yang indah, di sana ada lima pohon cemara. Di pohon cemara itulah si burung perpustakaan tinggal. Dia belum lama tinggal di sana. Sebelumnya dia berkelana keliling dunia, ke Cina, Jepang, Mesir, Australia, Mexico dan Negara-negara lain di dunia. Bahkan dia pernah tinggal di Green Land (Tanah Hijau) sebuah daerah dekat kutub utara bumi.

Dari pengalamanya menjelajah bumi si burung perpustakaan prihatin melihat kebodohan bangsa-bangsa binatang di dunia. Hampir semua binatang tidak bisa membaca dan menulis. Suatu malam, saat ia berada di Indonesia, tepatnya di pantai Losari Sumatra, dia merenung. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mencerahkan umat binatang, agar mereka semua bisa membaca.

Entah dia dapat ide apa? Tiba-tiba dia terbang ke arah utara, menuju tengah lautan. Dan akhirnya sampailah dia di sebuh pulau. Dia hinggap di daratannya. Waktu itu malam sudah akan berakhir. Dengan hati-hati ia memasuki hutan tersebut, mengikuti arus sungai. Sekitar seratus meter kemudian ia bertemu seekor tapir.

“Hai Tapir, siapa namamu? Perkenalkan aku burung Perpustakaan,” burung Perpustakaan memperkenalkan diri.

Tapir menatap burung perustakaan. Samar-samar sebab matahari belum sempurna pancarkan sinarnya. Ia rupanya suka melihat warna bulu burung perpustakaan. “Bulumu bagus ya,” katanya.

“Kamu suka ya?”

“Asalmu dari mana?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, namamu siapa?”

“Namaku Sinonim.”

“Aku tidak punya tempat tinggal. Aku selalu berkelana seperti musafir.”

“Ow, kamu pendatang baru. Selamat datang di hutan Aksara ya.”

“Hutan Aksara?”

“Iya, nama hutan ini hutan Aksara. Dan pulau ini bernama hutan Paragraf, sementara sungai ini bernama sungai Tinta.”

Burung perpustakaan penasaran dengan nama-nama itu. Tetapi ia diam saja. “Senang kenal denganmu, Sinonim,” kata burung Perustakaan.

“Aku juga.”

“Kamu sedang apa di sini?” tanya burung perpustakaan.

“Ini tempat favoritku. Aku suka tinggal di sini. Tempat ini indah. Rumputnya enak-enak.”

Burung perpustakaan menerawang suasana di sekitar tempat itu. Indah memang, ada lima pohon cemara berjajar, ada tiga pohon pisang, ada bunga mawar, dan rumputnya tebal. Di dekat pohon cemara ada sebongkah batu besar berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira dua meter.

“Aku suka tidur di atas batu itu,” kata Sinonim.

Burung Perpustakaan mencoba berdiri di atas batu itu. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Aku sering bermimpi berada di sebuah ruangan dan dindingnya penuh tulisan. Berkali-kali aku bermimpi berada di sana,” tutur Sinonim.

“Kamu membaca tulisannya?”

Sinonim diam sejenak. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya tampak malu-malu.

“Sayang sekali. Mm… kalau kamu mau, aku mau mengajarimu membaca.”

“Benar?!”

“Iya. Aku akan mengajarimu membaca dan menulis, dengan senang hati.”

“Horeee… Kamu baik. Oya, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini. Buat aja sarang di pohon cemara itu. Indah kan tempatnya.”

Burung Perpustakaan diam sejenak. “Benar juga ya,” katanya kemudian. Lalu ia mengambil rumput dan dibawanya ke atas pohon cemara yang paling tengah. Berkali-kali ia mengambil rumput sampai akhirnya, jadilah sarangnya. “Nah, sarangku sudah selesai. Sekarang waktunya belajar. Ayo.”

“Kamu tidak capek?” Tanya Sinonim.

“Tidak. Aku tidak capek.” Lalu ia mengenalkan huruf-huruf abjad pada Sinonim.

Sinonim memperhatikan dengan seksama penjelasan burung Perpustakaan. Ia menghafal nama-nama huruf abjad yang dikenalkan oleh burung Perpustakaan. Burung perpustakaan menyusun huruf: A k u, “Bacaannya Aku. Coba tirukan.”

“Aku,” kata Sinonim.

Jadilah ia murid pertama burung Perpustakaan. Setiap hari ia belajar dengan tekun pada burung perpustakaan. Ia terus berlatih membaca dan menulis. Semangatnya untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Ia penasaran apa isi bacaan dalam mimpinya? Burung Perpustakaan pun juga demikian. Ia penasaran, ingin tahu apa isi tulisan dalam mimpi Sinonim itu. Setelah berhari-hari Sinonim belajar, akhirnya ia bisa membaca dan menulis.

Suatu malam ia bermimpi lagi berada di sebuah bangunan yang dindingnya dipenuhi tulisan. Dibacanya semua tulisan itu. Setelah selesai membaca semua tulisan itu, ia terbangun. Tak terasa pagi sudah tiba. “Burung Perpustakaan, BAngun! BAngun!” ia membangunkan burung perpustakaan dengan mengayun-ayun pohon cemara tempat sarang burung perpustakaan berada.

Burung Perpustakaan terkejut. Ia bangun. Ia menghampiri Sinonim yang berada di atas batu. “Ada apa, Sinonim?” tanyanya.

“Aku bermimpi berada di ruangan yang penuh tulisan itu lagi,” kata Sinonim.

“Hah! Apa isinya?!”

>>bersambung

CERPEN: Cinta Gadis Wahabi

Cerpen Cinta anak kuliahCERPEN CINTA. Alif langsung saja masuk ke rumah Sandi. Pintu depan memang tidak ditutup. Keduanya memang sudah biasa saling kunjung. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sudah seperti saudara. Alif menyodorkan selembar kertas undangan. Dia ambil saja, lalu diletakkan di meja. Datar saja ekspresinya. "Kenapa?" tanya Alif. "Kok tampak lesu gitu?"

"Nasib," katanya sambil memandangi layar ponselnya. Duduknya tidak tegap.

Alif duduk di sampingnya. "Kenapaaaa? Semangat, Bro..!!" Alif memberi semangat sambil menepuk bahu Sandi. Ia lihat layar ponsel Sandi. Sebuah applikasi ebook yang sedang ia buka. "Ditolak orang tua Fina?"

"Mana mungkin orang tua Fina menolak lelaki sebaik aku."

"Cieee... Terus?"

"Ayahku tidak setuju karena dia wanita wahabi."

Alif tertawa. Terus mendadak berhenti. "Ayahmu dimana?" bisiknya. Takut beliau dengar.

"Ayah lagi di rumah Bu De sama Ibu."

"Fitnah wahabi memang lagi marak sekarang. Harus kamu jelaskan pada beliau, San."

"Mana mungkin penjelasanku didengar."

"Ini yang membuat umat islam lemah; tidak bersatu. Berbeda pendapat itu kan wajar."

"Dulu sih tidak ada seperti ini. Buktinya, Pak Lek saya nikah sama wanita seperti Fina. Tidak ada orang menyebut dia wahabi."

"Iya, dulu tidak ada muslim Indonesia yang men-judge muslim lainnya yang tidak sepaham dengan sebutan wahabi."

"Salah mereka juga sih, dulu suka men-judge muslim di kampung sebagai ahli bid'ah. Ahli bid'ah itu kan ahli neraka." Alif tersenyum. "Seperti balas dendam ceritanya."

***

CERPEN CINTA. Sudah seminggu Fina menanyakan kepastian Sandi untuk melamarnya. Tetapi tak ada jawaban. Padahal ia sudah terlanjur cerita pada kedua orang tuanya. Sandi bingung. Seperti kumbang yang menatap mawar tapi tak beranjak. Baru saja angin bertiup kencang. Sayapnya tak sekuat elang di awan. Tetapi, pasrah pada takdir itu bukan keputusan bijaksana, menurutnya. Tak lemah tekadnya, namun tak gegabah sikapnya. Terkadang ada rasa kesal di benak Fina, ia ingat kata Ustadz Abdul Somad Lc. MA dalam ceramah-ceramahnya di YouTube, "Kumbang tak seekor, mawar tak setangkai, patah tumbuh, hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu." Tetapi, tak semua kumbang yang hadir itu baik. Fina sudah sangat mengenal Sandi. Tetapi, cukup kesal ia dengan sikap Sandi yang tidak memberi penjelasan alasan penundaannya. Kumbang bukan menanti seperti mawar di taman berpagar.

Inbox Whatsapp Fina hanya dibacanya, tapi tidak ia balas. Sangat sulit bagi Sandi. Tidak baik menentang orang tua. Tetapi, Sandi juga tidak sepakat dengan sikap orang tuanya. Menurut dia, tidak patut sesama muslim saling menyalahkan. Memang tidak semua benar. Menurut dia, label wahabi dan ahli bid'ah merupakan perusak persatuan umat islam. Seharusnya, menurut dia, kelompok yang dulu diberi label ahli bid'ah semestinya tidak menyerang balik dengan label wahabi. Inti masalahnya, menurut Sandi, adalah kwalitas keilmiahan sumber ilmunya. Ingin rasanya ia mengajak ayahnya bermusyawarah, tetapi tidak berdua dengannya. Seandainya masih ada, ia ingin mengajak Kyai Fadli, tetapi beliau sudah tiada. Beliau adalah Kyainya ayah Sandi waktu masih nyantri di Pesantren Nurul Huda di daerah tepi barat Bondowoso.

Sandi ingat waktu diajak suwan ke kediaman beliau dulu ketika masih SMP. Sempat ada tamu yang berdebat di hadapan beliau waktu itu. Sandi tidak begitu paham waktu itu, tetapi ia masih ingat yang diperdebatkan. Betapa arifnya cara almarhum Kyai Fadli menanggapi perdebatan tamunya tersebut. Tidak perlu marah-marah, sambil mempersilahkan tamunya menikmati makanan khas Bondowoso: Tape, beliau menjelaskan, "Rasulullah itu mengerjakan ibadah tidak selalu sama caranya. Contohnya ketika jadi imam, pernah Beliau membaca Basmalah dikeraskan, pernah juga dipelankan, pernah juga tidak membaca, pernah juga hanya rakaat pertamnya dikeraskan. Sholat tarawih juga begitu. Nah, murid beliau itu kan sahabat, para sahabat Nabi mengerjakan ibadah sesuai yang mereka lihat sendiri, bukan sesuai yang diceritakan sahabat lain. Tentu saja sahabat yang satu dengan yang lainnya tidak semuanya sama cara ibadahnya." Tamu beliau mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ini materi serius. Mereka berhenti mengunyah tape, perhatiannya fokus pada penjelasan Kyai Fadli. "karena ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan tidak membaca basmalah di awal al fatihah, tidak semua sahabat menjadi makmum. Begitu juga ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan membaca basmalah dengan nyaring, sahabat yang tadi bermakmum, belum tentu ikut bermakmum juga. Nah, inilah penyebab perbedaan itu. Tetapi, apa pantas kita permasalahkan?" Para tamu mulai paham, sebagian tersenyum. Wajar, tidak semua dari mereka alumni pesantren, sehingga tak tahu banyak tentang sejarah. "Kemudian, para sahabat itu juga mengajarkan pada murid-muridnya cara ibadah Rasulullah yang dilihatnya sendiri, bukan yang diceritakan sahabat lain. Murid sahabat itu disebut Tabiin, murid tabiin disebut tabiit tabiin. Dari sekian banyak murid sahabat tersebut, yang dianggap paling unggul keilmuannya di zamann itu adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Sehingga ilmu-ilmu mereka tercatat dan abadi hingga sekarang. Karena ada empat, sehingga tidak semuanya sama. Jika ilmunya sudah jelas dari mereka, buat apa diperdebatkan? Maka dari itu, jika ada orang yang tidak mendapat ilmu dari mereka, lalu menyalahkan ulamak pengikut mereka, dari mana mereka mendapatkan ilmu? Memangnya ilmu umum, bisa meneliti sendiri dan jadi penemu ilmu? Ilmu agama tidak begitu, harus jelas silsilah atau sanad ilmunya, dari siapa dia dapatkan ilmu tersebut."

CERPEN CINTA. Masih Sandi pegang ponselnya. Dilihatnya pesan inbox Fina yang belum ia balas. Seakan badai tak henti bergejolak. Alam hati tak bersahabat. Belum lagi tugas dari dosen yang belum selesai digarap, masih tergeletak di meja. Ditambah inbox pelanggan bisnisnya yang komplain karena merasa tidak cocok dengan produk yang didapatkannya dari Sandi.

Sore yang cerah. Pikiran Sandi buntu, seakan jiwanya juga meredup akan tenggelam bersama matahari senja di ufuk barat. Ia bangkit dari duduknya dan keluar dengan motornya. Melewati jalanan bertepi sawah-sawah menghijau, sejuk jiwanya memandang bak permadani hijau. Ia mengalihkan kerumitan di benaknya pada hobi barunya: Landscape Fotography. Dengan berbagai Angle, dengan Aparture dan Sutterspeed yang berbeda-beda ia memotret pemandangan sawah, gunung dan tanaman. Sesekali ia ambil foto hewan-hewan kecil dengan mode macro. Ia duduk di tepi sawah, memandang bunga berwarna kuning; hanya setangkai.

***

"Ilmu agama itu tidak sama dengan science. Saya bukan hendak menjelekkan kelompok anda. Ini dialog ilmiah, kita bicara dengan ilmu, dengan cara yang arif dan santun. Berbeda itu wajar karena kita dicipta memang berbeda-beda."

Amarah mereda. Semua diam menyimak.

"Science itu mengkaji hukum sebab akibat pada alam. Kemunculannya karena kerja manusia. Seorang ilmuan melakukan penelitian, lalu muncul ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu bahasa, dan semacamnya. Sedangkan ilmu Agama: Quran dan Hadits itu diturunkan oleh Allah Sang Pencipta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu diturunkan kepada sahabat, terus kepada Tabiin, kemudian diturunkan atau diajarkan pada tabiit tabiin. Jadi, tidak ada yang namanya penemu ayat atau hadits di jaman sekarang. Nah, karena ilmu agama itu diturunkan, maka menjadi sangat pentinglah sanad."

CERPEN CINTA. Sebagian peserta diskusi mengangguk-angguk. Ada yang menghela nafas panjang. Ada yang tatapan matanya tajam pada pembicara, tak sabar menunggu kelanjutan penjelasannya.

"Jadi, jika ada orang mengaku berilmu dan mengkritik ulamak, sedangkan ilmu dia tak jelas dari mana sumbernya, tak jelas sanadnya, bukan berarti dia seorang penemu ilmu agama, tetapi... dia sedang tersesat dan perlu dipahamkan, perlu diluruskan."

Sebagian peserta diskusi tertawa.

"Dalamm urusan Fiqih atau hukum islam, sumber ilmu yang tercatat hingga sekarang itu adalah yang diajarkan oleh Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Mereka mendapatkan ilu itu dari sahabat, sahabat dari Rasulullah. Sedangkan dalam akidah, sumber ilmu yang diabadikan hingga sekarang adalah dari Imam Abu hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Manshur Al maturidi. Dalam urusan Tasawuf yang diikuti adalah Imam Al Ghozali, Imam Junaid Al baghdadi, serta imam-imam lainnya seperti Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Jadi, jika ada yang bertentangan dengan mereka, perlu dipertanyakan."

Moderator menunjuk salah seorang audien yang mengacungkan tangan di pojok kiri belakang.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Menarik sekali dialog ini. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini, yakni persatuan. Kita sebagai umat islam harus bersatu. Menanggapi isu wahabi, menurut saya, isu wahabi dan isu ahli bid'ah pada zaman dulu, sekarang masih ada sebenarnya isu ahli bid'ah ini, kedua isu ini menjadi penyakit yang merusak persatuan umat islam. Memang, keduanya harus disampaikan, umat islam harus paham tentang wahabisme dan bid'ah, tetapi cara penyampaiannya yang perlu diluruskan. Pengajaran ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan menimbulkan mudhorat seperti perpecahan dan saling caci antar kelompok." Banyak audien yang berusaha membalikkan badannya menoleh ke belakang. Sepertinya ini hal baru dalam forum ini. "Kita yang dikaruniai ilmu ini seharusnya menjaga sikap ilmiah kita, berhati-hati dalam bertutur, tak sembarangan bersikap. Menurut saya, menyerang balik serangan seorang muslim yang menyerang kita di depan umum, itu sama dengan bunuh diri. Semestinya, duduklah dan laksanakan dialog ilmiah. Tak perlu saling menyesatkan. Jadi, yang diadu itu kekuatan keilmiahan ilmunya, bukan otot tangan atau otot leher." Sebagian audien tertawa. Sang bintang tamu pun tersenyum.

Sandi diam saja di kursi baris kedua dari belakang. Menurutnya, perdebatan itu wajar asal tetap dalam bingkai ilmiah dalam forum ilmiah, bukan di depan umum.

CERPEN CINTA ini bersambung...

Referensi:
Website: Tinta Guru http://www.tintaguru.com/2017/05/madzhab-akidah-fiqih-dan-tasawuf-nu.html
Ceramah-ceramah Ust Abdul Somad (Channel: https://www.youtube.com/channel/UCU6zdYxTn7g4RwqBePmstvg/videos)
Ceramah-ceramah Ust Adi Hidayat (Salah satu videonya: https://www.youtube.com/watch?v=LlGub3isfiY)

Cerpen Cinta: Yang Biasa (3)

CERPEN CINTA ANAK KULIAHCERPEN CINTA ANAK KULIAH: Yang Biasa 3 merupakan kelanjutan dari CERPEN CINTA ANAK KULIAH Yang biasa (2)


CERPEN CINTA ANAK KULIAH. Ah, ternyata capek juga memikirkan perempuan. Bayak sekali gadis cantik sekarang. Tapi aku justru tertarik untuk selalu mendekatimu, padahal rupamu biasa, tidak bernilai menurutku. Buktinya, tidak ada yang mendekatimu, kecuali aku. Apa cowok-cowok minder karena kamu disukai cowok terkenal seperti aku? Atau kau memang tidak menarik menurut mereka?


Tetapi kau memang tidak pernah peduli itu. kau tidak pernah peduli musim, panas hujan, bagimu sama saja. Kau selalu begitu. Ya, begitulah kau. Semua biasa bagimu, tidak ada yang istimewa, termasuk aku. Apa kau demikian karena tidak ada yang menganggapmu istimewa?

Sehabis mengikuti kuliah Intro To Literature, kau kuajak ke taman di depan UKM musik. Kau biasa-biasa saja, menyapa teman-temanku, seolah kau sudah lama akrab. Aku pun juga meniru kau. Hhmm… Hebat kau. Orang-orang banyak yang meniru artis dan penyanyi, tapi aku yang sudah jadi anak band malah meniru kau.

Dengan sederhana kukatakan saja kalau aku suka sama kamu dan ingin kau menjadi kekasihku. Kukatakan dengan biasa, tanpa ekspresi yang luar biasa. Kau menelan nafas, lalu tersenyum. Apa bagimu itu juga biasa? Kau memandangku. “Kamu mau kan?” kutanya dengan biasa. Kau tersenyum, juga dengan biasa. Semua jadi biasa-biasa.

Kau tampak bingung.

“Kau bingung?” kutanya. Kau diam. “Bingung untuk menolak? Terima saja.” Kau tertawa. “Kurasa kau tidak perlu ragu,” lanjutku. “Kita jalani saja dulu. Kalau kau merasa tidak cocok, berarti kita memang bukan jodoh.”

Kau tersenyum, seperti hendak berkata sesuatu.

“Aku suka sikapmu.”

“Ya kuterima, tapi tidak seratus persen,” katamu kemudian sambil menahan tawamu.

“Tidak masalah.”

Aneh.

***

CERPEN CINTA ANAK KULIAH. Kita sudah jadian. Kau jadi kekasihku, tapi belum seratus persen, begitu katamu. Tidak masalah. Kau tetap unik. Kurasakan rahasia keindahan di wujudmu semakin kuat. Kau indah walau biasa. Saat kita bersama, tidak ada kata-kata romantis kau ucap, tidak ada ekspresi berlebih, semua biasa, kau selalu biasa, namun kau sanggup hadirkan keluarbiasaan.

Sungguh.

Kadang kita membicarakan masa lalu, kau narasikan kisah-kisahmu. Kudengarkan sambil tersenyum. Indah meski kata-katamu biasa. Sesekali kupandang wajahmu, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa. Senyum selalu mengembang di bibirmu, kau selalu begitu. Namun hadir suatu rasa yang luar biasa indah di jiwaku.

Aku suka.

Aku sempat ditegur sama teman-teman band-ku, katanya aku lebih mementingkan kau. Padahal sejak aku dekat kamu, semakin produktif kutulis syair lagu. Hampir semua yang kami nyanyikan itu karyaku. Sungguh luar biasa. Itu karena adamu bersamaku. Aku tidak peduli sikap mereka. Biarlah. Sudah biasa. Ya, kau yang ajari aku begitu. Semua biasa.

“Udah terkenal, kok suka sama cewek biasa.”

Begitu komentar temanku. Biar. Tidak perlu kuhiraukan. Teman-teman di kampus juga banyak menyebar rumor begitu. Katanya kau tidak  pantas buat aku. Ya, kelas mereka memang di atasmu, kau kelas rendahan. Tetapi kau semakin unik. Cemoohan mereka membuat kau semakin berbeda.

Aku digemari banyak orang. Kau? Cukup aku saja. Biar mereka menganggapmu biasa, tapi kudapatkan yang luar biasa darimu. Sungguh. Ada sesuatu kurasakan seperti aliran yang tak pernah kering, tak peduli musim. Samar-samar, tidak terlalu mencolok, bahkan mungkin tak terlalu menarik. Belum sempurna kupahami.

Tetapi kusuka keabadiannya.

Tidak terasa, kebersamaan kita berlangsung lama, tanpa sesuatu yang istimewa, tanpa sesuatu yang spesial, tanpa sesuatu yang terlalu indah. Belum kuungkap keunikan yang kurasa sangat indah di dirimu. “Kesenangan dekat dengan kebosanan. Tetapi kedamaian dan ketentraman, bukan sesuatu yang bisa dimiliki, tapi keadaan di mana kita berada di dalamnya,” katamu.

Aku merasa seperti seekor anak kepodang yang terbang berlelah-lelah ke angkasa sangat tinggi, agar bisa kulihat seluruh isi dunia dari sana, lalu aku lelah dan turun untuk istirahat. Kurebahkan sambil samar-samar kunarasikan kisah perjalanan naik hingga aku tiba lagi, sungguh melelahkan. Usai sudah.

Aku rebah dalam ketentraman jiwa. Semoga takkan pernah usai.

Demikian kisah CERPEN CINTA ANAK KULIAH romantis. Semoga menghibur.

Cerpen Cinta: Yang Biasa (2)



CERPEN CINTA ANAK KAMPUS


Cerpen Cinta Anak kampus (2) merupakan cerpen cinta lanjutan dari Cerpen Cinta: Yang Biasa (1)


CERPEN CINTA ANAK KAMPUS. Kau dan aku satu kelas, tapi jarang sekali berkomunikasi. Kau pendiam, ya, selalu duduk di depan, selalu memperhatikan penjelasan dosen. Aku di bangku belakang, kadang di tengah. Kalau dosen sudah mengakhiri kuliahnya, kau selalu keburu keluar. Aku jadi ingin tahu, ada urusan apa. Suatu waktu kuikuti kau, waktu kita baru keluar dari ruang kuliah, saat baru selesai mengikuti mata kuliah Jurnalistik Dasar. Kau tidak menyadari.

Rupanya kau ke perpustakaan. Aku juga masuk, kau tidak melihatku karena kau langsung mengambil satu majalah dan kau baca di meja, menghadap ke jendela, mungkin sambil menikmati pemandangan hijau di luar. Kuperhatikan, kau membuka-buka halaman majalah itu sambil sesekali kau tulis sesuatu di catatan kecil yang kau bawa.

Lama.

Aku merasa lelah. Buku yang kupegang tidak kubaca. Hanya pura-pura membukanya. Teman-teman UKM musik berkali-kali mengirim sms agar aku ke sana, untuk bermain musik dan melantunkan lagu bersama mereka. Tapi otakku tak bisa bergerak, terlalu kuat kau mengilhami. Nanti, kan kutulis tentangmu, tentang rasaku, semua tentang kau dan aku meski sebenarnya antara kita belum ada apa-apa, kan kujadikan sebuah lagu. Kan kubuat sederhana saja, namun penuh makna.

Sederhana.

Sebenarnya, aku belum begitu mengenalmu. Hanya saja ada yang perlu kutahu lebih jauh tentangmu. Kau seusia dengan aku dan teman-teman di kelas. Ya. Tapi jiwamu sudah meninggalkan kami jauh, sangat jauh. Unik. Aku suka yang unik. Aku tertantang untuk mengungkap rahasia. Aku merasa seperti akan mendapatkan sesuatu yang istimewa, barangkali suatu dunia lain yang belum pernah ada di dunia ini. Entah dunia apa, mungkin dunia kata-kata dalam syair lagu? Barangkali?

CERPEN CINTA ANAK KAMPUS. Mereka, kaummu, selalu asyik berbincang yang indah-indah tentang cinta. Kau tidak tertarik untuk ikut nimbrung? Kau tidak seperti mereka, kurang begitu peduli dunia muda. Kau sudah tua? Usiamu setara dengan kami, iya kan? Lihat penampilan mereka, pada keren-keren, hampir semua penampilan artis ditiru, gayaku juga.

Kadang kau duduk sendiri, gayamu selalu membaca buku. Tapi ‘ku tahu, kau tidak membaca. Itu hanya caramu untuk menutupi ketidakmampuanmu mencari teman. Ya, kau terlalu egois, tidak mau meniru temanmu. Kau terlalu percaya diri dengan keadaanmu. Tidak mau berubah seperti mereka? Tapi kau ramah, mudah diajak berteman.

Kadang aku tersenyum sendiri memandangimu.

Kau yang kukagumi, kusapa kau, duduk disampingmu. Kau tersenyum. Tersanjung? Tapi kau meneruskan mencatat meski sempat menoleh dengan senyummu. “Sedang apa?” kau tanya aku. Memangnya mau cari cecak? Ini kan perpustakaan, semua yang datang ke sini mau baca. Aku jujur saja kalau aku mengikutimu.

Kau tertawa dan berhenti menulis. “Maksudnya?” tanyamu sambil tersenyum, menatapku dengan tatapan memaksa untuk kujawab. Aku malah jadi malu. Baru kali ini, sejak namaku terkenal, aku merasa minder untuk menatap perempuan. Kau terlalu berwibawa meski seusia denganku. Aku tersenyum. “Ada perlu?” tanyamu lagi. Sikapmu seakan memberi kesempatan padaku, kalau memang aku perlu sesuatu sama kamu, silahkan.

Aku bingung. Pertama kalinya merasa bingung setelah aku terkenal. Aku terkenal karena aku mampu menjadi yang beda, aku mampu memainkan musik dan menyanyikan lagu, mampu menghibur penikmat musik. Orang-orang terkagum-kagum. Kau? Sayangnya hanya aku, tidak yang lain, yang merasa bahwa kau mampu menjadi yang beda, bahkan lebih dari aku. Kau unik.

Sungguh.

Ketika aku bertemu teman-teman UKM musik, kusodorkan sekian judul lagu, semua terinspirasi oleh keunikanmu, kau beda. Semua kutulis sendiri dalam waktu yang sangat singkat. Belum pernah sebelumnya. Kau tahu, lagu-lagu itu banyak digemari orang, termasuk kau, sang inspirator. Kau unik.

“Kau hebat.”

Begitu katamu saat aku mendekatimu sehabis tampil di panggung, saat acara pagelaran seni yang diselenggarakan oleh teman-teman UKM Teater kampus. Rupanya kau juga suka menghadiri acara seperti itu. Atau karena kau terpesona oleh laguku?

Aku malah gugup. Gadis-gadis yang biasa menggandrungiku menahan diri, memandangimu. Mungkin mereka mengira kau kekasihku. Bukan. Aku hanya terobsesi untuk mengungkap rahasia, sesuatu yang sangat indah, mungkin, sangat, bisa kurasakan meski belum mampu kulihat.

“Kukira kau tidak suka menghadiri acara seperti ini,” kataku.

“Sekali-kali,” katamu.

CERPEN CINTA ANAK KAMPUS. Orang-orang mengelilingi kita, seakan mereka penonton drama yang sedang menunggu aksi adegan menegangkan, tertegun, banyak mata memelototi. Kau tidak sadari itu? kau menatap mataku, tajam. Aku tidak melihat sesuatu di sana, hanya sangat kurasakan sesuaatu, keindahan yang belum terungkap.

Aku mengajakmu duduk. Orang-orang itu perlahan beranjak, membiarkan kau dan aku berbincang berdua. Menyenangkan. Sejenak kita diam, dan kuingat awal pertemuan kita, kau mengenalkan temanmu. Ke mana dia? Ah, buat apa memikirkan dia. Dia cantik, tapi apa bedanya dengan yang lain? Tidak menarik.

Sikapmu selalu biasa, seakan kau tidak sedang bersama lelaki spesial. Aku punya banyak penggemar, kau tidak bangga?

“Anak band selalu sibuk, ya?” tanyamu.

Aku tersenyum. Pikirku, bukannya kau lebih sibuk? “Tidak juga,” jawabku.

“Kuliah nomor dua, ya?”

Aku tersenyum, lalu tertawa. Kenyataannya memang begitu. Pikirku, yang malas sama yang rajin, sama-sama dapat ijazah, sama-sama bisa jadi pegawai negeri. Tapi kalau anak band, jarang latihan, bisa payah. Perlu latihan terus menerus, sebab yang menilai langsung para penikmat musik. Mereka ingin menikmati hasil karya yang indah.

Kau malah ikut tersenyum, mau tertawa tapi kau tahan. Apa kau juga merasa sepertiku? Tapi kau rajin. Mungkin kau tidak pernah absen. Pasti nilaimu bagus-bagus. Bisa kutebak. Ya, aku menilai dari perilaku dan ketekunanmu.

CERPEN CINTA ANAK KAMPUSromantis ini bersambung ke Cerpen Cinta Yang biasa (3) . Silahkan ikuti kisahnya.

Cerpen Cinta: YANG BIASA (1)

Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis

CERPEN CINTA: Yang Biasa, Cerpen Cinta tentang cerita cinta dua mahasiswa.


CERPEN CINTA. Takdirkah ini? Unik. Tidak semua yang dilihat dapat dirasakan, begitu katamu. Karena kau bukan yang luar biasa?

Masih kuingat serangkai kata tentang kaummu, Wahai kau mahluk indah, oleh seorang penyair kenamaan. Tak perlu kau tanya namanya. Katanya, “Wanita tidak dicipta dari tulang ubun karena bahaya membuatnya terlena dalam sanjung dan puja, tidak pula dari tulang kaki karena nista menjadikannya dihina dan diinjak-injak, tetapi ia dicipta dari rusuk kiri, dekat hati untuk dicintai dekat tangan untuk dilindungi.” CERPEN CINTA.

Aku sepakat.

Banyak sekali yang memperbincangkan tentang kaummu, terlalu indah untuk tidak dibawa dalam setiap perbincangan, apalagi hadirnya. Kau yang kukagumi, sudah cukup lama waktu membisu, namun padanya kisah menarasi indah. Kau yang menarasikan.

“Jangan kau perhatikan yang tidak abadi,” begitu katamu. Apa maksudnya? “meski kau lihat sangat indah, dan hatimu sangat ingin menikmati, buat apa kesenangan yang tidak abadi?” Sulit kupahami. Tidak nyambung. “Mata air memang hanya setetes-setetes saja, tapi ia tidak kering saat kemarau. Dan gunung yang indah akan musnah bila keindahannya kau nikmati. Namun kan semakin indah taman di halaman yang tak henti kau rawat.”

Terserah kamu. Tiba-tiba saja kau lontarkan kata-kata itu.

“Banyak orang menggambarkan pemandangan-pemandangan indah,” kau melanjutkan. “penuh ekspresi, tapi bukan objek itu yang ia kagumi, sebenarnya. Keindahan itu hanya jadi latar, hinggap di dahan-dahan hijau dan setiap lambai daun-daun.”

Kau bukan menjelaskan. Aku tahu gunung dan pohon, tapi mendengar kau menyebutnya, seperti aku adalah anak kecil yang belum tahu nama-nama benda. Tidak kumengerti. Apa maksudmu?

Terserah kamu.

Kau yang kukagumi, masih ingat dulu, sewaktu baru kukenal kamu di kampus kita, waktu baru saja kau dan aku menginjakkan kaki di dunia mahasiswa, baru saja melepas seragam abu-abu. Kenangan. Waktu itu kau dan aku masih sangat muda. Kau juga masih ingat, kan? Aku yakin itu, tergambar dari senyummu.

CERPEN CINTA. Waktu itu semua rekan-rekan kita sedang asyik-asyiknya mencari kenalan baru, mencari pasangan baru. Mata mereka berburu wajah cantik, wajah tampan, kantong tebal, dan macam-macam. Kau datang mendekatiku, mengenalkan temanmu. Dia cukup cantik, lebih dari itu, sangat. Aku tergoda.

Kau?

Seperti awan ditebar angin, seluruh alam terselimuti, dibuatnya kenal semua. Namaku dikenal seluruh kampus, sesaat setelah aku tampil bersama teman-teman grup band-ku. Ya, itu sudah biasa. Setiap aku dan teman-temanku usai tampil di sebuah pertunjukan, banyak gadis-gadis yang ingin mengenal kami. Aku dan teman-teman selalu bermurah hati. Mereka cantik-cantik, gaul-gaul juga, keren.

Mereka merasa bangga bila sempat bertutur sapa dengan kami, apalagi diberi tanda tangan. Seakan aku dan teman-teman adalah segolongan pangeran dari kahyangan, di negeri dongeng. Dikisahkan pada jaman dulu dengan kata-kata yang sangat indah, menenggelamkan hayalan.

Kita duduk bertiga di bawah pohon waru di dekat halaman parkir kampus, fakultas sastra. Awalnya kau hendak pergi, kau malu? tapi aku memintamu untuk ikut berbincang. Temanmu malu-malu menanyakan banyak hal tentang lagu-lagu grup band-ku. Seperti wartawan infotainment saja dia.

Kau diam saja.

Perbincangan itu berlangsung agak lama. Temanmu yang banyak bertanya tentang aku, tentang lagu-laguku, semua tentang aku dan grup band-ku. Aku tidak terlalu aktif, hanya menjawab iya atau tidak, sesekali juga menjelaskan saat temanmu butuh penjelasan. Sementara kau hanya sesekali tersenyum.

Aku masih ingat, aku malah bertanya padamu, tentang asal daerahmu. Temanmu seperti terkejut, mungkin terlalu istimewa gadis sepertimu ditanya asal daerahnya oleh anak band seperti aku. Tapi kau biasa saja. Aku juga merasa biasa, tidak terlalu berbangga diri di depanmu, seakan aku bukan anak band yang selalu dipuji-puji kaum hawa.

Kau.

Aku tahu perempuan sepertimu, memang begitu, kau anggap semua orang sama, termasuk aku. Tak ada istimewa-istimewanya. Sebenarnya aku hendak bercerita banyak padamu waktu itu, tentang masa lalu, semua tentang aku. Aku yakin kau akan mendengar dengan senang hati. Tapi kau keburu pergi. Katanya ada kuliah. Bukankah kita satu kelas? Temanmu itu, aku lupa siapa namanya, juga ikut pergi meninggalkanku. Kubiarkan saja.

Saat kita bertemu, kau selalu menyapa, meski hanya sebuah suara “Hei,” lalu kau berlalu bersama bekas senyummu. Seperti orang sibuk saja kau. Tapi aku yakin, aku lebih sibuk darimu. Tawaran manggung semakin banyak, bahkan kuliah sering kutinggalkan, hampir tidak keurus lagi. Untunglah banyak penggemarku yang peduli, membantu aku mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Kau sibuk?

Waktu SMA aku juga begitu. Banyak guru-guru yang memfonis aku tidak akan lulus. Tapi, toh mereka masih membantu, bapak dan ibu penjaga ujian nasional itu juga membantuku mengerjakan soal. Mereka itu, sebenarnya, bangga padaku. Hanya saja mereka bingung, menurutku, takut aku dan teman-teman tidak bisa jadi orang kaya, tidak bisa mendapatkan pekerjaan enak bila tidak mempunyai ijazah. Padahal, pendapatan kami dari hasil manggung di mana-mana sudah lebih besar dari gaji guru.

Mungkin mereka terlalu sayang. Saat mereka tahu aku dan teman-teman lulus, kami yang disapa duluan oleh mereka, seakan mereka menemukan emas di tempat pembuangan sampah. Teman-teman yang lain jadi iri. Katanya, mentang-mentang aku dan teman-teman sudah terkenal, dipuji sampai segitunya, meskipun sebenarnya tidak murni menyelesaikan soal sendiri.

Ya, aku begitu.

Bersambung ke CERPEN CINTA: Yang Biasa (2)

Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (2)

CERPEN CINTA GALAU

CERPEN CINTA GALAU Kisah Tak Dimengerti (2) merupakan lanjutan dari Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (1).


CERPEN CINTA GALAU. Pelayaran terkendali arus gelombang, terombang-ambing kian kemari, melesat, diam, melompat, hingga hampir terguling. Begitu kuat cintanya. Dan samudera pun takluk, diam, tenang dalam kedamaian. Ikan-ikan indah berlompatan memamerkan warnanya di permukaan, mengkilat-kilat disambar sinar surya pagi. Langit kaget dan mengusir kabut, takjub ia menyaksikan keindahan samudera hingga ingin turun. Hampir-hampir sang surya lari takut tertindih.

Bahtera melaju melenggak-lenggok damai. Gelombang meliuk-liuk indah. Angin taupan yang biasa mengibas-ngibas ganas entah ke mana. Alam tersenyum, terbahak terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba, air samudera meninggi. Kabut berkerumun takut tertuduh telah menangis. Mereka kompak menyatakan bahwa mereka tak berair mata. Sang bahteralah yang menangis. Ia telah hancur oleh panas, rapuh dan ditelan gelombang yang tenang dan lembut.

Wanita tua. Tak terasa kini ia telah jadi wanita tua, keriput kulitnya, tidak bening lagi seperti dulu. Ia sudah lupa rayuan-rayuan mesra dahulu. Tetapi sang lelaki tua yang dulu sangat romantis masih ingat kisah-kisah indahnya, kata-kata rayuannya, semuanya. Seorang putra yang gagah, yang telah ia besarkan bersama permaisuri tercinta, adalah pemberian wanita tua yang bungkuk itu, bukan dari permaisuri cantik yang masih muda yang menjadi teman hidupnya di istana.

Masih ia ingat ketika cintanya tergoyah oleh kecantikan lain yang baru merekah, entah itu hanya buah kebosanan atau memang nyata hakikatnya? Yang pasti telah memikat hatinya. Ah, semua itu adalah masa lalu. Ia menunduk, mematung. Jiwanya terasa beku.

CERPEN CINTA GALAU. Entah apa yang membuatnya mengunjungi tempat kenangan di ujung hari seperti ini? Kegelisahan? Mungkin. Atau sekedar rindu masa lalu. Ia mengikuti wanita tua itu, melangkah perlahan melewati lorong-lorong sempit yang kumuh, berserakan sampah-sampah. Wanita tua itu semakin masuk ke perkampungan, kemudian berhenti di rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah reyot. Ia memasukinya. Lelaki tua itu terdiam sejenak. Rupanya ia ingat, di rumah itulah–ketika dulu masih berdiri tegak dan masih berwarna putih cerah–ia pertama kali memetik kuntum yang belum terjamah.

Ia melangkah, membuka pintu tanpa mengetuk. Wanita tua itu kaget. Ada seorang wanita muda tergeletak di sampingnya, kurus, tinggal tulang berbalut kulit. “Siapa, Bu?” suara wanita muda itu agak gemetar. Ibunya membisu, menatap memancing ingatan. Lelaki tua menghampiri.

“Anda siapa?” Tanya si wanita tua.

“Bu Suminah sudah tiada?”

Wanita tua itu terkejut, karena lelaki tua itu mengenal orang miskin yang dulu sangat menyayanginya, lebih penyayang dari ibunya sendiri. Ia memperhatikan lelaki tua itu dengan seksama. Dan si wanita muda memandang ke sana dan sini, ibunya dan lelaki tua itu mematung saling pandang.

“Kau semakin tampan, mungkin lebih tampan dari anak kita,” kata wania tua itu. “Di mana dia?”

CERPEN CINTA GALAU. Si wanita muda semakin tidak mengerti. Dan lelaki tua itu tertawa, lalu tersungkur dan menangis. Si wanita tua terkenang romansa indah dahulu, serangkai kisah indah berakhir luka. “Kenapa kau menangis?” lelaki tua itu mendongak. “Anakmu yang menderita seumur hidup ini tak pernah menangis.” Semakin keraslah tangis lelaki tua itu. Terguncang tubuhnya, suara tangisnya didengar sekuntum bunga melati di tepi pantai laut utara, bunga melati yang sendirian. Ialah bunga melati yang terbuang. Tetapi ia telah lupa, bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia tak bergeming oleh tangisan lelaki tua itu. Tetapi kebisuannya menyatakan sebuah ejekan lebih dari bualan setan.

Mengganaslah seluruh alam. Marah, geram, hahhh!!! Tetapi amarah yang melelahkan. Si wanita muda menangis, “Bapak” sebuah sebutan yang pertama ia ucapkan beriring air mata yang pertama pula. Alam diam, haru tak mengerti kisah.
Powered by Blogger.

Blog Archive

 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT