DIALOG TIGA ILMUAN TIDAK TIDUR SEMALAMAN


kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Sahabat Nabi, Kisah Teladan,

Mengintip aktivitas malamnya para ilmuan. Kali ini kita akan mengambil teladan dari tiga ilmuan yang biasa dipanggil Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Yahya bin Ma'in. Imam Ahmad dan Imam Yahya ahli dalam bidang hadits, ia juga ahli ibadah dan ahli zuhud, sedangkan Imam Syafii ahli dalam bidang fiqih (hukum).

Ketika sedang melaksanakan ibadah haji, ketiganya sempat berada dalam satu kamar sehabis melaksanakan sholat isyak di masjidil haram. Imam Syafii melihat Imam Ahmad bin Hanbal melaksanakan sholat hingga subuh. Beliau juga melihat Imam Yahya bin Ma'in duduk sambil menoleh ke kanan, lalu ke kiri, begitu hingga subuh.

Sehabis sholat subuh ketiganya kembali ke kamar lagi. Imam Syafii yang sejak tadi malam penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya bertanya pada Imam Ahmad, "Wahai, Ahmad. Tadi malam aku melihat engkau berdiri tegak, rukuk, sujud hingga adzan subuh. Apa yang engkau lakukan?"

"Aku menghatamkan Quran dalam sholat tahajjudku."

Imam Syafii juga bertanya pada Imam Yahya, "Engkau, Yahya, aku melihat engkau duduk toleh kanan, toleh ke kiri. Apa yang engkau lakukan semalaman?"

"Aku menshohihkan dan mendhoifkan hadits."

Keduanya pun juga bertanya pada Imam Syafii, "Engkau melihat kami, berarti engkau pun juga tidak tidur. Ngapain?"

"Aku mengambil hukum dari Quran, hadits, ijmak, Qiyas."

Luar biasa. Itulah sepenggal kisah tentang tiga ahli ilmu yang namanya dikenal hingga hari ini. Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk bisa meneladaninya.

Baca juga kisah Thariq bin Ziad Penakluk Andalusia

CINTA SEJATI FATIMAH BINTI ABDUL MALIK



Wanita cantik bernama Fatimah Binti Abdul Malik adalah salah satu sahabiah, terlahir dari keluarga bangsawan. Siapa yang tak terpana pada wanita cantik, kaya dan baik ahlaknya. Ia menikah denan pria hebat, yaitu Umar bin Abdul Aziz, pria tampan yang juga keturunan bangsawan. Dialah Amirul Mukninin. Kisah keduanya terkenal di sepanjang sejarah Kota Damaskus.

Sebagai seorang pemimpin (Khalifah) Umar bin Abdul Aziz tentunya punya tanggung jawab lebih dari pria biasa. Ia baktikan seluruh waktu, harta, dan tenaganya untuk umat dan negara. Seluruh kekayaannya ia serahkan untuk keperluan negara. Semoga kita dikaruniai pemimpin seperti beliau.

Lalu bagaimana dengan Fatimah Binti Abdul Malik, sang istri? Bukankah hidup butuh harta? Cinta sejati mekar bukan hanya di istana megah. Tetapi cinta sejati adalah ikatan jiwa dua insan. Fatimah mendukung keputusan sang kekasih. Ia rela hidup di gubuk kecil bersama suaminya. Ia bangga, pria yang patut dibanggakan bukanlah ia yang bergelimang harta hidup penuh kemewahan, tetapi apa yang telah ia perbuat untuk orang lain. Demi meraih bahagia di kehidupan yang abadi, apalah arti kaya harta di dunia.

Pada hari kedua setelah ia dilantik sebagai pemimpin, ia menyampaikan khutbah umum. Di akhir khutbahnya ia duduk dan menangis, "Betapa besar ujian yang Allah berikan padaku." Ia menangis hingga pulang ke rumah.

"Apa yang membuatmu menangis, Wahai Amirul Mukminin?" tanya Fatimah.

"Istriku, Allah mengujiku dengan jabatan ini. Aku teringat orang-orang miskin, wani-wanita janda dan anak-anaknya yang rizqinya sedikit, para tawanan, para fuqara'. Mereka akan mendakwaku di akhirat. Aku takut, sebagai khalifah, tidak bisa menjawab hujjah-hujjah mereka. Aku tahu pembela mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam."

Pernah suatu ketika seorang wanita menemui Fatimah di gubuknya dan berkata padanya, "Tinggalkan saja tukang batu itu, ia selalu melihat ke wajah anda."

Fatimah tersenyum, "Tukang batu itu suamiku, Sang Amirul Mukminin."

Keindahan surga tiada bandingannya. Pernah keduanya tidak memegang uang sepeser pun, pakaian Umar pun sudah ada tambalannya, tetapi tak berat bagi Fatimah untuk tersenyum. Padahal keduanya dulunya kaya raya. Demi meraih cinta Sang Khaliq, demi kehidupan yang abadi.

Umar bin Abdul Aziz adalah Khalifah bani Umayyah, berkuasa selama 3 tahun kurang sedikit, yakni 2 tahun 135 hari (22 September 717 - 4 Februari 720). Ia mulai memerintah pada usia 36 tahun. Umar bukanlah keturunan khalifah sebelumnya. Jabatan tersebut ia dapatkan dengan ditunjuk langsung. Ia adalah sepupu khalifah sebelumnya dan masih satu nasab dengan Umar bin Khattab. Masa pemerintahannya mampu mengembalikan keadaa negara seperti masa 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin). Bahkan harta zakat diiklankan karena sudah tidak ditemukan umat islam yang pantas menerima zakat. Ia meninggal di daerah dekat Aleppo, Syiria.

Kisah Cinta Thalhah Harus Ia Relakan


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Sahabat Nabi,

Cerita cinta akan selalu indah bila dikisahkan. Dari zaman ke zaman cinta selalu exist dan selalu menjadi kenikmati para pecinta. Begitu juga dengan para sahabat Nabi Sang Utusan Allah yang bertugas menyampaikan wahyu ajaran agama. Salah satu kisah cinta yang dialami oleh Sahabat Nabi bernama Thalhah bin Ubaidullah. Ia adalah pria yang taat.

Suatu ketika ia berbicara dengan istri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, 'Aisyah ra. Rasulullah melihat mereka dan menghampiri 'Aisyah dengan raut muka tidak suka. Beliau memberi isyarat agar 'Aisyah masuk. Sebenarnya Thalhah masih sepupu 'Aisyah, tapi rupanya hubungan kerabat tak menghalangi munculya rasa di hati Thalhah. Wajah Thalhah memerah karena sikap Rasulullah. Ia pergi dengan gumaman dalam hati, "Rasulullah melarangku berbincang dengan 'Aisyah. Tunggulah saatnya. Jika Rasulullah wafat, tak akan kubiarkan pria lain mendahuluiku."

Begitulah jika cinta menguasai hati manusia. Menikahi janda itu halal, boleh dalam islam. Tetapi, terkhusus untuk istri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Allah berkehendak lain. Karena peristiwa ini turun ayat:

"Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat."
(QS.Al Ahzab : 53)

Ketika ayat ini dibaca Thalhah menangis dan bertobat pada Allah karena merasa bersalah. Sebagai wujud taubatnya, ia memerdekakan budaknya, menyumbangkan 10 onta, serta menunaikan haji dengan berjalan kaki. Inilah teladan yang luar biasa. Cinta pada manusia tak membutakan hati, tak mengungguli cintanya pada Allah dan RasulNya.

NB:
Riwayat ini belum jelas kebenarannya. Jadi tidak semua ulamak sepakat bahwa pria yang ingin menikahi 'Aisyah ra. adalah Thalhah. Kata Imam Al Qurtuby: “Dalam hal ini Ibnu Abbas menyebut orang tersebut dengan kata ‘beberapa sahabat’, Sementara Maki menceritakan dari Ma’amar bahwa sahabat tersebut adalah Thalhah bin Ubaidullah. Wallahu a'lam

Baca juga: Kisah Sahabat Nabi yang Menolak Ditawari Nikah Lagi oleh Istrinya

Khalid bin Walid Sang Pedang Allah

Kisah Sahabat Nabi, kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Teladan,


Khalid bin Walid adalah pejuang yang hebat, banyak kaum muslimin tewas di tangannya. Perawakannya besar dan berotot. Banyak yang bilang ia mirip Umar. Ia adalah putra dari Walid bin Mughirah, pembesar kaum musyrik yang sangat membenci islam. Khalid bin Walid melanjutkan perjuangan ayahnya memusuhi islam. Berkat kecerdasannya, kemahirannya dalam mengatur strategi perang, orang-orang Quraisy mempertahankan keberadaan Khalid di kelompok mereka. Apalagi Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib telah masuk islam, membuat para pembesar Quraisy khawatir.

Peperangan yang pertama kali terjadi antara kaum muslimin dan kaum musyrikin adalah perang Badr. Pada perang tersebut saudara Khalid bin Walid yang bernama Walid bin Walid ditawan kaum muslimin. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam. memberi tawaran pada Walid apakah mau masuk islam atau mau bebas dengan tebusan keluarganya. Khalid segera menebusnya dan membawanya pulang ke Mekkah.

Namun, betapa terkejutnya Khalid bin Walid karena di hadapan para pemuka kafir Quraisy, Walid bin Walid trang-terangan mengaku telah masuk islam. Khalid sangat terkejut dan bertanya bagaimana ia bisa masuk islam dan kenapa tidak mengatakannya ketika masih di Madinah. Kata Walid, "Sunggu aku melihat sendiri perlakuan baik kaum muslimin terhadapku, belum pernah aku mendapatkan perlakuan sebaik itu bahkan dari kerabat paling dekatku sekalipun. Aku tidak mengumumkan keislamanku di madinah karena aku khawatir mereka mengira aku masuk islam hanya karena takut ditawan."


Cerita Walid bin Walid menunjukkan pada kita betapa baiknya ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Seorang tawanan perang sekalipun diperlakukan dengan baik hingga tidak ia temukan bandingan yang lebih baik, bahkan kerabat terdekatnya sekalipun.

Khalid bin Walid semakin geram terhadap islam. Ia marah karena saudaranya sudah bergabung dengan kaum muslimin. Para pemimpin kafir Quraisy menunjuk Khalid bin Walid untuk memimpin perang Uhud. Dengan kecerdikannya, ia memutar balik arah pasukan berkudanya untuk melancarkan serangan terhadap pasukan panah kaum muslimin yang melanggar ketentuan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam.

Di Hudaibiyah Bersama pasukan berkuda Khalid bin Walid mencoba mendekati Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Khalid melihat Beliau sedang sholat dzuhur bersama sahabatnya di 'Usfah. Tetapi Khalid bersama pasukannya tidak melakukan penyerangan. Namun sepertinya Rasulullah dan para sahabat curiga dengan gelagat Khalid. Mungkin karena hal tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam bersama para sahabat melaksanakan Ashar bersama sahabat dengan sholat Khauf. Khalid kaget karena ketika sebagian menunduk, yang lain tegak berdiri. "Muhammad terlindungi," pikir Khalid.

Ada sesuatu yang mengganjal di benak Khalid, tiap kali ia berusaha mendekati Rasulullah dengan niat buruknya, selalu gagal, bahkan untuk mendekat pun sulit. "Lelaki ini akan jadi pemenang. Ia akan jadi pemimpin," pikirnya. Khalid bingung mau menemui Najasyi, ia sudah masuk islam. Mau ikut Hiraqla, ia harus meninggalkan agamanya untuk memeluk Kristen atau Yahudi. Akhirnya ia pun tinggal bersama orang-orang 'Ajam yang belum memeluk islam di kampungnya.

Ketika Rasulullah hendak melakukan Umroh Qodhiyyah bersama para sahabat, termasuk Walid bin Walid, Khalid bin Walid menyembunyikan diri tidak mau menemui mereka. Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam menanyakan keberadaan Khalid kepada Walid. "Allah akan membawanya kemari," jawabnya.

"Tidak ada orang secerdas Khalid yang tidak mampu memahami kebenaran islam. Jika dia mengunakan keahlian perangnya untuk membela agama Allah, itu lebih baik baginya. Kami akan mendahulukannya."

Mendengar perkataan Rasulullah Walid segera mencari Khalid, namun tidak ia temui. Akhirnya ia menulis surat untuk Khalid yang isinya:

"Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh aku heran dengan ketidakmampuanmu memahami kebenaran agama islam, padahal akalmu sehat. Engkau bisa membedakan yang hak dan yang bathil. Adakah orang yang tidak tahu tentang islam? Rasulullah bertanya tentangmu kepadaku. Beliau bertanya, 'Dimana Khalid?'. Kujawab, 'Allah akan membawanya kesini'. Lanjut Beliau, 'Tidak ada orang secerdas Khalid yang tidak mampu memahami kebenaran islam. Jika dia mengunakan keahlian perangnya untuk membela agama Allah, itu lebih baik baginya. Kami akan mendahulukannya.' Wahai Saudaraku, kejarlah kebaikan-kebaikan yang telah engkau lewatkan!"

Pikiran Khalid terus gelisah memikirkan tentang islam. Semakin nampak saja agama yang ia benci itu adalah agama yang benar. Ada kegembiraan dalam hatinya membaca surat dari saudaranya yang mengabarkan bahwa Rasulullah menanyakan tentang dirinya. Suatu malam ia bermimpi berada di negeri yang sempit dan tandus. Kemudian ia berpindah ke negeri yang hijau dan luas. Pikirnya itu hanyalah mimpi.

Akhirnya Khalid pun memutuskan untuk ke Madinah untuk menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Tetapi sebelum berangkat, ia mencoba mencari teman. Ia menemui Shafwan bin Umayyah. “Wahai Abu Wahb, lihatlah keadaan kita sekarang. Kita hanyalah hujan rintik-rintik. Muhammad telah meraih kemenangan besar atas orang-orang Arab dan Aajam. Sebaiknya kita mengikutinya saja, sebab kemuliaan Muhammad adalah kemuliaan kita juga.”

Shafwan kaget mendengar perkataan Khalid. “Sekalipun seluruh orang Arab dan non-Arab ikut Muhammad, dan tersisa aku saja, biarlah aku sendirian saja.” Khalid maklum karena saudara dan ayahnya terbunuh dalam perang Badar.

Lalu Khalid mencoba meemui Ikrimah bin Abu Jahal dan mengatakan hal serupa. Ikrimah pun memberi jawaban yang sama. Khalid pun meminta Ikrimah merahasiakan pertemuan mereka. "Aku akan merahasiakannya," kata Ikrimah.

Khalid pun kembali ke rumahnya dan berangkat sendiri. Ia bertemu Utsman bin Thalhah r.a. Khalid pun ingin menceritakan niatnya pada utsman, tapi dia ingat bahwa banyak dari moyangnya yang terbunuh. Tetapi, Khalid memaksakan diri untuk bercerita padanya. "Sesungguhnya kita ini seperti musang di dalam lubang, jika disemprot air, maka keluarlah musang tersebut." Lalu ia menyampaikan niatnya pada Utsman. Ternyata, Utsman menyambut baik ajakan Khalid. "Sesungguhnya aku sudah bersiap berangkat," kata Khalid. Keduanya pun membuat janji untuk bertemu di Ya'juj, kurang lebih 8 mil dari Mekkah.

Keduanya bertemu di Ya'juj dan melanjutkan perjalanan. Setibanya di Haddah keduanya bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash. "Selamat datang, Wahai saudara," sambutnya.

Khalid dan Utsman pun mengucap salam juga.

"Kemana arah tujuan kalian?"

Khalid dan Utsman balik bertanya, "Apa yang menyebabkanmu keluar dari Mekkah?" tapi 'Amr juga membalas dengan pertanyaan yang sama.

"Untuk ikut Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam menjadi seorang muslim."

"Itulah yang membuatku sampai di sini," kata 'Amr bin 'Ash.

Ketiganya berangkat bersama-sama ke Madinah. Setibanya  di sana, bertepatan pada bulan Shafar tahun kedelapan hijrah, mereka meletakkan unta mereka di bagian luar Harrah. Khalid langsung menemui adiknya, Walid. "Bersegeralah menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Kedatangan kalian sudah disampaikan pada Beliau dan Rasulullah sangat gembira dengan kedatangan kalian. Beliau sedang menunggu kalian." Ketiganya mempercepat langkahnya. Khalid segera mendekati Rasulullah dan berhenti di hadapan Rasulullah.

Khalid memberi salam. "Assalamualaikum, Wahai Nabi Allah." Rasulullah menjawab salam Khalid dengan gembira.

Khalid bersyahadat di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam.

Kata Nabi pada Khalid, "Marilah. Segala puji bagi Allah yang telah memberimu hidayah. Aku melihat engkau adalah pria yang cerdas dan aku berharap kecerdasanmu membawamu pada kebaikan."

"Wahai Rasulullah, selama ini aku sangat menentang engkau dan islam, mohonkanlah ampunan buatku pada Allah."

"Ketika engkau masuk islam, seluruh dosamu yang lalu telah diampunkan Allah."

"Selain itu Ya Rasulullah?"

Rasulullah pun berdoa, "Ya Allah, berilah ampunan pada Khalid atas kekeliruan yang telah dilakukannya dahulu."

Utsman dan ‘Amr bin 'Ash juga mendekat pada Rasulullah dan masuk islam.

Khalid menyampaikan mimpinya pada Abu Bakar r.a. Kata Abu Bakar pada Khalid, "Negeri sempit yang tandus itu adalah tempat kamu berada sebelum masuk islam. Sedangkan negeri yang luas dan hijau itulah islam.”

*Mohon koreksi jika ada yang menemukan kekeliruan pada cerita 

Thariq bin Ziyad Penakluk Andalusia

Fathul Andalus bukanlah penjajahan Andalusia karena Islam tidak pernah menjajah. Tetapi Fathul Andalus merupakan pembukaan Andalusia, membuka dari belenggu derita karena kekejaman rajanya. Saat itu Andalusia dikuasai oleh raja kejam bernama Roderick. Diam-diam orang Andalusia meminta tolong kepada umat islam agar dibebaskan dari derita siksaan Raja Roderick.

Thariq bin Ziyad mendengar kabar tersebut dan melapor pada Musa bin nushair. Beliau pun juga melapor kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Syukurlah beliau setuju untuk menaklukkan Andalusia.

Diberangkatkanlah sebanyak 500 orang pasukan pada bulan Juli tahun 710 Masehi menyeberangi lautan dari Selat Gibraltar untuk mempelajari situasi medan perang di Andalusia. Setelah mereka berhasil mempelajari situasi medan perang, dan persiapan perang sudah cukup, Thariq bin Ziyad pun membawa 7000 pasukan.

Raja Roderick pun segera mendengar kabar kedatangan pasukan kaum muslimin. Ia pun mengalihkan perhatiannya untuk menghadapinya. Padahal ia sibuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan kecil di wilayah kekuasaannya. Segera Roderick kembali ke ibu kota Andalusia, Toledo, dan mengumpulkan 100.000 pasukan untuk menghadang pasukan kaum muslimin yang dipimpin Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad mengetahui jumlah pasukan Roderick yang begitu besar tersebut, ia pun minta pasukan tambahan pada Musa bin Nushair dan dikirimi pasukan tambahan 5000 orang.

Kedua pasukan bertemu pada 28 Ramadhan 92 Hijriyah atau 18 Juli tahun 711 Masehi di Medina Sidonia. Perang pun terjadi. Perang terjadi selama delapan hari dan dimenangkan oleh kaum muslimin. Perang tersebut disebut dengan Perang Sidonia.

Ada yang mengisahkan, untuk mengobarkan semangat pasukan kaum muslimin, Thariq bin Ziyad meminta untuk membakar semua kapal yang mereka tumpangi dan berkata, "Mau kembali menyeberang laut, akan berhadapan dengan maut. Menghadapi pasukan Visigoth juga berhadapan dengan maut, tapi syahid menanti." Tentu saja pasukan kaum muslimin memilih syahid meskipun jumlahnya tidak seimbang.

Rakyat Tak Mau Ganti Pemimpin


Pemimpin yang dicintai rakyat tak perlu berkampanye, tak perlu pencitraan, juga tak perlu mentogok rakyat agar terus bisa duduk di kursi kepemimpinan, contohnya, Muawiyah bin Abu Sufyan, beliau adalah sahabat Nabi Muhammad saw. yang diangkat sebagai gubernur di wilayah Syam. Wilayah tersebut meliputi Suriah, Libanon, Yordania, dan Palestina.

Dikisahkan bahwa beliau sangat dicintai rakyatnya hingga rakyatnya tidak mau ganti pemimpin. Namun, kata beliau kurang baik jika terlalu lama dalam kepemimpinan. Rupanya rakyat sudah terlalu cinta hingga mereka meminta keluarga Muawiyah saja yang menggantikannya.

Itulah potret pemimpinyang dicintai rakyat.

Di Saat Perang Pun Tetap Mengajar

Kisah Sahabat Ali, Sayyidina Ali Sahabat Nabi
Kisah perintah mengajar meskipun di medan perang ini saya dengar dari Mufti Ismail Ibn Musa Menk di salah satu videonya.

Beliau berkisah tentang peristiwa perang (Saya lupa namanya: Perang Khandaq atau Khaibar). Rasulullah saw. menunjuk Ali ra. sebagai panglima perang. Beliau berkata pada Ali ra., "Wahai Ali, jangan kamu pergi ke medan perang hanya membunuh musuh, ajarilah mereka tentang islam."
Bukankah orang berperang itu saling bunuh? Tetapi, Rasulullah saw. malah menyuruh sahabatnya mengajar di medan perang.

Kalau kita ingat film Ramayana dan Shinta, musuh mereka, Rahwana, punya saudara bernama Kumba Karna. Ia menjalani tapa tidur. Artinya ia orang suci yang kaya cinta. Tetapi saat ia diajak ke medan perang, ia habisi musuh. Orang-orang kaget dan menegurnya, tapi respon dia, "Tidak ada kasih sayang di medan perang, yang ada hanyalah kekejaman."

Musuh itu jahat pada kita. Tetapi, Rasulullah saw. ingin mengajari kita bahwa kemungkaran tak selalu diatasi dengan kekerasan. Melainkan dengan memahamkan mereka dengan pengajaran.

Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT